BEATIFIKASI YOHANES PAULUS II ROMA DIPADATI PENGUNJUNG

Kota Roma benar-benar sibuk menjelang beatifikasi mendiang Paus Yohanes Paulus II. Diperkirakan lebih dari 300 ribu orang memadati lapangan Santo Petrus di hari Minggu pagi, 1 Mei 2011. Dua layar raksasa dan beberapa monitor TV raksasa siap menayangkan jalannya misa yang dipimpin langsung Paus Benediktus XVI. Sudah bisa dipastikan gemuruh, tepuk tangan, dan suka ria meliputi wajah sebagian besar umat yang hadir setiap kali nama almarhum Yohanes Paulus II disebut.

Jauh-jauh hari wali kota Roma, Gianni Alemanno sudah menyiapkan orang-orangnya untuk menyukseskan pesta akbar ini. Betapa tidak, sekitar 3000 polisi dan petugas pengatur lalu lintas telah siap siaga mengendalikan kelancaran upacara. Belum lagi ditambah ribuan sukarelawan dan petugas keamanan internal Vatican yang sudah siap membantu.

Seminggu yang lalu ketika merayakan Paskah di Vatican, tampak jelas Roma siap menyukseskan upacara beatifikasi ini. Pengakuan Gianni bahwa pemerintah kota telah mencetak dan memasang sekitar 30 ribu poster Yohanes Paulus II tampak benar adanya. Di stasius kereta api Termini, misalnya, poster Yohanes Paulus II bisa dijumpai di mana-mana. Belum lagi di bis-bis kota, kedai kopi, tempat-tempat umum, dan tentunya ratusan pintu gereja seantero kota Roma. Lampu-lampu jalan pun dihiasai pernak-pernik Yohanes Paulus II.

“Paus Wojtyla benar-benar seorang sahabat, tidak hanya bagi orang beriman, tetapi bagi semua orang Roma,” demikian Gianni Alemanno. Pengakuan ini tampak tidak berlebihan mengingat popularitas Yohanes Paulus II. Ribuan penduduk kota Roma tentu masih ingat 33 tahun silam ketika pertama kalinya Yohanes Paulus II tampil menyalami penduduk kota Roma setelah dipilih sebagai Paus menggantikan Yohanes Paulus I. Orang tidak mengenal dia bukan saja karena namanya terdengar asing di telinga, tetapi juga karena Paus selama 455 tahun selalu orang Italia. Kata-katanya kepada ribuan umat yang memadati lapangan Santo Petrus tetap teringiang di telinga, “Saudara-saudaraku semua, kita semua masih bersedih karena kematian Paus yang kita cintai, Yohanes Paulus I, dan karena itu para cardinal telah memilih seorang uskup Roma yang baru. Mereka memanggil dia dari sebuah tempat yang jauh – jauh tetapi yang selalu dekat karena kesatuan iman dan tradisi Kristiani kita.” Kata-katanya yang tegas namun lembut dan meyakinkan berhasil memenangkan hati orang-orang Roma.

Ya, Yohanes Paulus II sungguh dicintai di Roma, di Italia dan seantero dunia. Dalam tiga hari terakhir menjelang misa beatifikasi, kota Roma mengalami tambahan penduduk sekitar 1 juta orang. Hotel-hotel di seluruh kota telah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Ribuan peziarah dari negara-negara mayoritas Katolik seperti Polandia, Spanyol, dan Portugis akan memadati lapangan Santo Petrus. Beberapa kepala negara dan pemerintahan seperti Presiden Polandia, Bronislaw Komorowski, Raja Belgia, Albert II, Presiden Meksiko, Felipe Calderon,dan Perdana Menteri Prancis, Francois Fillon dipastikan menghadiri misa di lapangan Santo Petrus.

Dana sekitar 3,5 juta telah dikucurkan pemerintah Kota Roma untuk menyukseskan acara akbar ini. Petugas keamanan pun siaga penuh hampir di seluruh pusat kota. Metal detektor difungsikan menjelang memasuki lapangan Santo Petrus. Sementara itu, sejak pukul 5:00 – 16:00 pesawat terbang dilarang melewati wilayah udara sekitar kota Vatican. Ribuan peziarah yang memadati kota Roma pun diminta berpartisipasi menghindari kekacauan dan turut menjaga keamanan. Hotel-hotel pun tidak ketinggalan disteril atau dibekukan izinnya jika ketahuan tidak sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Ya, dia yang telah menjadi bagian dari kehidupan orang Roma selama 27 tahun itu segera akan diproklamasikan sebagai “beato”, hamba Allah yang melaluinya doa dan permohonan kepada Tuhan semesta alam dapat dipanjatkan.

Beatifikasi

Berasal dari kata Bahasa Latin, beatifikasi (Latin: beatus) berarti “terberkati” (blessed). Dengan menyatakan seseorang sebagai “terberkati”, gereja Katolik mengakui seseorang yang meninggal dunia sebagai hamba Allah yang telah masuk Surga dan melalui perantaraannya orang Katolik bisa mengungkapkan doa dan permohonan mereka kepada Allah.

Bisa jadi Benediktus XVI terinspirasi oleh teriakan ribuan orang yang memadati lapangan Santo Petrus saat upacara pemakaman Yohanes Paulus II ketika mereka berteriak, “Orang Kudus secepatnya!” Benediktus XVI pun memerintahkan proses beatifikasi pendahulunya lebih cepat dari waktu minimal lima tahun yang biasanya dibutuhkan seseorang setelah kematian sebelum diproses menjadi “beato” (untuk laki-laki) atau “beata” (untuk perempuan) dan “santo” ((untuk laki-laki) dan “santa” (untuk perempuan).

Hanya saja, menurut ketentuan Gereja Katolik, dibutuhkan sekurang-kurangnya satu mukjizat atas namanya sebelum seseorang dapat dibeatifikasi. Pada tanggal 13 Mei 2005 pihak Vatican mengumumkan secara resmi bahwa proses beatifikasi Yohanes Paulus II dimulai. Bagi orang Katolik, pengumuman ini sekaligus pemberitahuan bahwa Yohanes Paulus II dapat dijadikan sebagai “perantara” dalam menyampaikan doa dan permohonan kepada Tuhan. Dan jika ada orang Katolik yang mengalami mukjizat karena berdoa melalui perantaraan Yohanes Paulus II, mereka bisa memberitahu pejabat gereja lokal untuk selanjutnya bisa diteruskan ke Vatican.

Adalah Suster Marie Simon-Pierre dari Prancis yang mengalami mukjizart kesembuhan dari penyakit Parkinson yang dideritanya setelah berdoa kepada Tuhan melalui perantaraan Yohanes Paulus II. “Saya sembuh secara total setelah saya dan komunitas saya berdoa melalui perantaraan Yohanes Paulus II,” demikian Suster Marie bersaksi. “Saya telah sembuh dari penyakitku, tetapi itu terserah Gereja Katolik, apakah mau menerimanya sebagai mukjizat atau tidak,” lanjut suster yang kembali bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit setelah dua tahun menderita Parkinson. Setelah menyelidiki kasus kesembuhan Suster Marie secara ilmiah, tim dokter dan ilmuwan pun menyatakan bahwa kesembuhan biarawati ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Mukjizat yang dibutuhkan pun akhirnya terjadi. Tanggal 14 Januari 2011, Paus Benediktus XVI mengumumkan secara resmi pengakuan gereja atas mukjizat yang terjadi atas diri Suster Marie. Vatican kemudian menetapkan tanggal 1 Mei 2011 sebagai hari beatifikasi bagi Yohanes Paulus II. Sejak hari itu sampai sebelum diakui sebagai “santo”, Yohanes Paulus II akan disebut “beato”, dan kepadanya ribuan umat Katolik bisa memohon perantaraan berkat dan mukjizat dari Allah.

Sekilas Mengenai Yohanes Paulus II

16 Oktober 1978            :    Kardinal Karol Wojtyla dari Krakow diangkat sebagai Paus non-Italia pertama setelah 455 tahun.

2-10 Juni 1979               :    Kembali ke tanah kelahirannya yang dikuasai rezim komunis, perjalanan kembali yang oleh banyak pengamat dilihat sebagai penyebab lahirnya gerakan Solidaritas.

13 Mei 1981                   :    ditembak oleh seorang pria Turki bernama Ali Agca di Lapangan Santo Petrus. Nyawanya tertolong.

13 April 1986                 :    Paus pertama sejak zaman para murid Yesus yang mengunjungi Sinagoga. Pertama kalinya pula seorang pejabat gereja Katolik menyapa orang Yahudi sebagai “Saudara tercinta dan saudara tua kami”.

1 Desember 1989           :    Pemimpin Rusia Mikhail Gorbachev berkunjung ke Roma dan mengundang Yohanes Paulus II untuk berkunjung ke Uni Soviet. Tawaran ini tidak pernah terlaksana karena Gereja Ortodoks Rusia melarang kunjungan Yohanes Paulus II.

31 April 1990                 :    Terbang ke Cekoslowakia dan menyaksikan runtuhnya komunisme bersama Presiden Vaclav Havel.

31 Oktober 1992            :    Setelah 359 tahun, Paus merehabilitasi Galileo yang dikecam dan dikucilkan Gereja Katolik karena mendukung teori heliosentrisme.

7 Desember 1992           :    Menerbitkan Katekismus universal bagi Gereja Katolik Roma, pertama kali setelah hampir lima abad.

28 Desember 1993         :    Vatican menjalin hubungan diplomatik denan Israel setelah dua ribu tahun ketegangan Kristen-Yahudi.

31 Oktober 1997            :    Menyatakan bahwa orang Kristen lalai selama Holokaus.

13 Maret 2000                :    Meminta maaf atas kesalahan Gereja melawan Yahudi, heresia, kaum perempuan dan minoritas.

20-26 Maret 2000          :    Mengunjungi Tanah Suci dan menyeruhkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

8 Mei 2001                     :    Di Siria, menjadi Paus pertama yang masuk Masjid.

22 November 2001        :    Meminta maaf atas skandal pelecehan seksual yang dilakukan para pastor.

Agustus 2002                 :    Terakhir kalinya mengunjungi Polandia.

Januari-Maret 2003        :    Mengkampanyekan penghentian invasi Amerika Serikat ke Irak.

2 April 2005                   :    Meninggal dunia.

8 April 2005                   :    Penguburan yang diliput media internasional secara luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s