Sila Sahin, Artis Muslim Berpose Nyaris Bugil untuk Majalah Playboy

Di tanah air, nama Sila Sahin mungkin belum setenar Maria Osawa, Tera Patrick, Sora Aoi, atau Sasha Grey. Maklum, bintang-bintang film biru ini sudah main film di Indonesia dank arena itu mulai dikenal luas masyarakat (hmmm, para pencinta film biru mungkin sudah lebih dahulu mengenal mereka jauh sebelum mereka main film di Indonesia). Tapi kalau menyebut nama Sila Sahin, siapa sih dia? Jangan-jangan dia seorang bintang film porno yang akan diajak main film di Indonesia. Ya, siapa tahu aja jadi pemeran utama Pocong Beranak di Dahan Kering, atau judul-judul aneh lainnya.

Tapi jangan salah dulu. Sila Sahin hari-hari ini ramai sekali diperbincangkan, tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di masyarakat. Gadis kelahiran Berlin tanggal 3 Desember 1985 ini berpose nyaris telanjang untuk Majalah Playboy edisi Jerman yang akan terbit bulan Mei 2011. Di Jerman Sila Sahin memang dikenal sebagai seorang artis sedang mekar dengan masa depan cukup menjanjikan. Opera sabun berjudul Gute Zeiten, schlechte Zeiten (good times, bad times) yang diperankan Sila Sahin cukup meraih sukses di masyarakat Jerman. Gadis yang berayahkan seorang aktor ini adalah warga negara Jerman keturunan Turki, yang tentunya beragama Islam. Nah, hal terakhir ini yang menjadi masalah. Sebagaimana kita ketahui, agama yang dia anut melarang keras perempuan memperlihatkan auratnya. Karena itu, keputusannya berpose berani di majalah pria dewasa ini menuai kritik dan kecaman. Media-media asing menyebutnya sebagai kecaman dari kelompok Muslim radikal.

Sebagaimana bisa diikuti dari komentar dan tanggapan pembaca di berita-berita online, banyak sekali orang yang menyayangkan aksi nekad Sila Sahin ini. Ada yang bilang bahwa namanya saja kedengaran Muslim, dia sendiri tidak mempraktikkan ajaran Islam. Ada yang mengatakan bahwa apa yang diperbuat Sila Sahin tidak hanya mempermalukan keluarganya, tetapi juga menampar muka pemeluk Islam lainnya. Tetapi tidak banyak juga orang yang mendukungnya sebagai ungkapan kebebasan dan pilihan keartisannya. Ketika ditanya media mengapa memutuskan untuk menjadi sampul majalah Playboy edisi Jerman, Sila Sahin berpendapat bahwa tindakannya itu adalah ekspresi kebebasan dengan tujuan untuk membebaskan dirinya. Tidak hanya itu, tindakannya bahkan juga untuk membebaskan gadis-gadis Turki lainnya dari kekangan dan kerasnya disiplin yang diterapkan orang tua mereka.

Apa yang dikisahkan Sila Sahin tentang masa kecil dan remajanya di Jerman yang nota bene adalah masyarakat liberal sedikit banyak memberikan gambaran kepada kita tentang kefrustrasian Sila Sahin menghadapi kekangan dan kerasnya didikan orang tua atas nama ajaran agama dan kesetiaan pada tradisi. Sila Sahin berkisah demikian, “Hidup dan masa pertumbuhanku adalah konservatif. Orangtua saya selalu mengatakan kepada saya, kamu tidak boleh keluyuran keluar rumah, kamu tidak boleh berdandan dan tidak boleh kelihatan menarik, kamu tidak boleh punya pacar. Saya selalu diikat oleh apa yang dikatakan kaum laki-laki. Sebagai akibat, saya membangun hasrat yang ekstrem akan kebebasan. Saya merasa seperti Che Guevara. Saya harus melakukan segala sesuatu yang saya inginkan, karena kalau tidak maka saya akan merasa seperti telah mati.”

Siapa pun orangtua tentu mengharapkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Apa yang dialami Sila Sahin mungkin menjadi pengalaman bagi ribuan bahkan jutaan orang di dunia. Dalam kerangka ini, “pemberontakan” yang diperlihatkan Sila Sahin dapat dipahami. Para orangtua mungkin bisa mengkritik diri, apakah terlalu kolot dan tradisional dalam mendidik anak, atau bahkan mungkin terlalu maju dan modern. Yang kita tahu, terlalu ekstrem kiri itu tidak baik, dan terlalu ekstrem kanan pun tidak bijaksana. Ya, seimbanglah, alias di tengah-tengah.

Masalah menjadi ruwet dan rawan karena apa yang diperlihatkan Sila Sahin ini dibumbui predikat “perempuan Muslim” atau “orang Turki pertama” yang berpose berani. Kalau ini dilakukan oleh seorang ateis, mungkin tidak akan seheboh ini. Sementara itu, cara Sila Sahin memosisikan diri sebagai Che Guevara pun mungkin berlebihan. Bisa jadi itu cara dia menjustifikasi tindakannya berhadapan dengan gelombang protes dan ancaman terhadap keselamatan hidupnya. Yang jelas, bayaran yang diberikan Majalah Playboy tidak main-main.

Seperti gadis-gadis Turki dan Timur Tengah pada umumnya, Sila Sahin memang cantik. Kalau kuperhatikan, dia nyaris mirip Asmah, teman kuliahku di Italia berkebangsaan Tunisia. Kalau saja Sila Sahin tidak memutuskan berpose nyaris telanjang pun saya yakin dia akan terkenal dan menuai kesuksesan di dunia artis. Di Jerman sendiri dia dipuja dan memiliki banyak fans. Kaum imigran banyak yang mengidolakannya sebagai bukti kesuksesan, sama seperti para pemuda Jerman keturunan Turki mengiodalakan Mesut Ozil. Tapi sekarang apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah diambil Sila Sahin, dan dia sendiri harus berani menanggung berbagai konsekuensinya.

Nah, setelah terlanjur basah begini mungkin Sila Sahin berpikir untuk melanjutkan saja dunia peran yang nyerempet-nyerempet dan berani mengumbar aurat. Mungkin dia juga berpikir untuk pindah ke Hollywood agar lebih aman di sana. Dan siapa tahu dia akan menjadi salah satu bintang film biru, sama seperti Sasha Grey atau Tera Patrick. Dan beberapa tahun ke depan, mungkin saja diundang main film di Indonesia, memerankan serial pocong dan kuntilanak.[]

About these ads
Explore posts in the same categories: Film

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 618 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: