MERINDUKAN SANG PEMIMPIN SEJATI DI LEMBATA

Masyarakat sederhana seperti ini yang akan dilayani bupati dan wakilnya. Akankah kepentingan dan kebahagiaan mereka diutamakan? Sumber foto: http://ansel-boto.blogspot.com/2010_05_01_archive.html

Pemilukada di Kabupaten Lembata memang sudah di depan mata. Ketika sebagian masyarakat bersiap-siap menyambut pesta demokrasi lima tahunan itu, kita dikejutkan oleh peristiwa kekerasan politik sekelompok orang terhadap KPUD Lembata. Dilaporkan beberapa petugas KPUD menjadi korban, selain kerusakan material bangunan (Kompas, 21/3/2011, Pos Kupang, 21/3/2011).

Aksi premanisme politik semacam ini dan aksi-aksi teror non-kekerasan lainnya menjelang dan selama pemilukada tidak bisa dianggap sepele. Saya yakin berbagai kalangan di Lembata mengutuk habis tindakan kekerasan politik semacam ini. Kita lalu bertanya, mengapa tindakan brutal dan bodoh ini harus terjadi di kabupaten yang nyaris tidak dikenal di republik ini? Jika laporan di harian ini benar adanya, bahwa massa pasangan tertentu merasa dirugikan karena hasil pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Umum Prof. WZ Johannes Kupang berpeluang mendiskualifikasi pencalonan pasangan yang mereka usung, motif semacam ini harus dikatakan barbarik dan tidak beradab. Bagaimana mungkin bakal calon pasangan bupati dan wakil bupati yang nota bene kaum terdidik “menghalalkan” ancaman, teror, dan kekerasan sebagai senjata politik demi meraih cita-cita politiknya? Menurut saya, calon pemimpin semacam ini seharusnya didiskualifikasi atau dicoret langsung dari bursa pencalonan, karena cacad secara moral.

Tiga syarat jadi pemimpin

Lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu Aristoteles, sang filsuf agung dari Yunani memberitahu kita sifat-sifat apa saja yang dikehendaki masyarakat dari seorang pemimpin. Ada tiga sifat utama, sebut saja etos (ethos), bela-rasa (pathos), dan kecerdasan (logos). Pertama, sifat etos dimaksudkan sebagai kemampuan menjadi diri sendiri, tidak munafik, tidak suka menjilat demi kekuasaan, satu antara apa yang diucapkan dan tindakan, dan semacamnya. Untuk konteks orang Lembata yang seluruh penduduknya adalah orang beragama (74 persen beragama Katolik dan 28 persen Islam), etos harus merupakan wujud dari kehidupan beragama yang mendalam.

Kedua, sifat dan karakter bela-rasa. Bahasa kerennya empati. Jika sulit menangkap makna sejati kata ini, mungkin baik kalau dikaitkan dengan nilai dan tradisi Kristiani. Yesus tergerak hatinya atau merasa tidak tahan melihat sekitar lima ribu orang mengikuti Dia dari pagi dan mereka belum makan. Rasa ibah inilah yang mendorong Yesus menyuruh murid-murid menyediakan lima roti dan dua ikan yang kemudian digandakan dan dibagikan kepada mereka. Pemimpin dengan sifat bela-rasa seharusnya tidak tahan dengan berbagai penderitaan dan kemiskinan yang ternyata belum berhasil dientaskan setelah 12 tahun otonomi daerah.

Ketiga, pemimpin yang baik haruslah orang yang punya kecerdasan memadai. Kita jangan tertipu dan mereduksikan pengertian ini ke pemimpin yang sekadar punya ijasah sarjana, master, atau doktor. Pemimpin yang pintar secara akademis itu baik, tetapi tidak cukup. Dia harus cerdas. Orang cerdas tidak hanya tahu apa yang baik secara moral, tetapi sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupannya. Pemimpin yang perkataan dan perbuatannya adalah satu bukan hanya pintar tetapi juga cerdas. Dia memiliki keseimbangan antara pengetahuan (akademis), integritas moral, keutuhan rohani, dan semacamnya.

Kekerasan politik yang terjadi di Lembata seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk mempertanyakan sosok pemimpin seperti apa yang kita inginkan? Menurut saya, tiga syarat yang dikemukakan Aristoteles di atas langsung menggugurkan calon yang menghalalkan kekerasan demi meraih tujuan politik. Calon semacam itu tidak pantas memimpin Lembata karena cacad secara moral. Dia tidak punya etos, bela-rasa, dan kecerdasan. Kalau selama ini dia seorang beragama, praktik keagamaannya sekadar formalitas saja. Karena mayoritas orang Lembata beragama Kristiani, saya kira peringatan Yesus patut direnungkan, ketika Sang Guru Agung berkata bahwa kita harus berhati-hati terhadap kubur yang dicat putih tetapi di dalamnya penuh tulang-belulang dan kebusukan. Dia juga mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap serigala berbulu domba. Menjelang pemilukada ini saya kira kita semua harus berhati-hati dan memilih pemimpin yang sungguh-sungguh mau membangun Lembata, dan bukan preman, tukang pukul, pencuri, pembohong, dan semacamnya. Melewatkan lima tahun ke depan tanpa perubahan sama saja dengan menunda kesuksesan yang sebetulnya sudah di depan mata.

Politik hanya alat

Bagi saya, menggunakan teror dan kekerasan untuk mencapai tujuan politik sama artinya dengan mempersempit makna politik sebagai kekuasaan semata. Saya tidak setuju dengan anggapan umum, bahwa politik itu kotor. Politik harus diposisikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan demi melayani rakyat. Dalam arti itu politik sebagai alat sangat dekat dengan pikiran orang Kristiani mengenai kekuasaan. Orang yang punya kekuasaan adalah dia yang sanggup melayani, dia yang tidak tahan dengan penderitaan rakyatnya, peduli pada kemiskinan dan keterbelakangan, tidak tega melihat lebih dari 74 persen petani berpenghasilan kurang dari satu juta per tahun (per kapita Kabupaten Lembata tahun 2008 adalah Rp502.684), dan bersedia berpeluh-keringat, berdiri di barisan paling depan memimpin rakyatnya memasuki tanah terjanji.

Setelah dua belas tahun otonomi, kenangan saya kembali ke Gedung Nusantara IV DPR-RI, 12 Oktober 1999. Ketika pimpinan sidang DPR-RI membacakan keputusan bahwa Lembata sah menjadi kabupaten otonom terpisah dari Flores Timur, rasa haru dan bangga memenuhi rongga dada. Mata berkaca-kaca, pikiran dan imajinasi menerbangkanku sesaat ke pulau nun jauh di sana. Seketika perasaan inferior dan kurang percaya diri sirnah. Rasanya sebuah kemenangan telah diraih. Kesempatan emas membentang di hadapan mata. Ajakan menuju tanah terjanji ternyata bukan impian. Otonomi membuka pintu gerbang menuju kesejahteraan.

Nyatanya kesempatan itu lenyap tak berbekas setelah itu. Sudah dua periode terjadi pergantian pemimpin secara demokratis, dan selama itu pula para pemimpinnya bersaing merebut dan mempertahankan kekuasaan. Memang benar, kekuasaan bisa menyilaukan. Kekuasaan menumpulkan akal sehat, membutakan hati yang ibah dan berbela-rasa pada kemiskinan dan keterbelakangan. Kekuasaan melucuti sang pemimpin dari integritas moralnya. Mereka tidak lagi peduli dengan pelayanan.

Mereka yang telah memimpin Lembata lupa akan kewajiban mengentaskan kemiskinan. Mereka ingin meninggalkan rakyatnya di gurun tandus dan lembah derita dan memasuki tanah terjanji sendirian. Mereka berpesta pora dan mabuk ketika rakyatnya mencangkul di kebun atau melempar jala dengan perut keroncongan. Lima tahun ke depan haruslah menjadi masa mengakhiri khayal dan imajinasi membangun Lembata menjadi sebuah kenyataan. Pilihannya ada di hadapan kita semua orang Lembata. Sanggupkah kita membedakan “serigala berbulu domba” dari pemimpin sejati? Sekali lagi, pemimpin sejati punya etos, punya sifat bela-rasa, dan utuh secara moral. Pemimpin sejati tidak mengumbar teror dan kekerasan. Pemimpin sejati “mengenal domba-dombanya, dan domba-dombanya mengenal dia”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s