MERAYAKAN PASKAH 2011 DI VATICAN, WAH… SUNGGUH MENAKJUBKAN

Merayakan Paskah di Vatican? Uhh, ngga nyangka tuh!!! Tapi itulah yang aku alami. Sebagai seorang biasa, bukan imam atau biarawan, bukan juga orang yang berkecukupan secara ekonomi, berziarah ke Vatican bisa saja menjadi impian, tetapi bahwa itu terwujud sekarang, tahun 2011, ketika aku bisa mengikuti misa Minggu Paskah di Lapangan Santo Petrus, sungguh sebuah pengalaman tak-terkatakan. Meskipun tidak gampang, seorang imam bisa lebih mudah dan lebih punya akses mengunjungi Vatican. Kalau dia seorang imam projo, mungkin dia menjadi pembimbing rohani para peziarah, ya nyampe deh si Romo ke Vatican. Kalau dia seorang biarawan dan pintar secara akademis, ada kemungkinan bisa dikirim studi ke Roma, dan dengan begitu akan mudahlah mengunjungi Vatican. Atau, setelah berkarya beberapa tahun, sang imam bisa minta pembesarnya untuk sabatikal atau ziarah rohani, atau apa pun programnya, kesempatan mengunjungi Vatican sekali lagi lebih besar dibandingkan dengan seorang awam.

Dua hal yang aku inginkan dalam hidupku—selain studi lanjut di luar negri—adalah mengunjungi Vatican dan Turino. Mengapa Vatican? Sebagai seorangg Katolik aku adalah bagian dari gereja Universal dengan Sri Paus sebagai Kepala Gereja. “Pergilah ke seluruh dunia dan jadikanlah semua bangsa murid-KU,” itulah pesan yang disampaikan Yesus kepada para rasul. Dan mereka pun berangkat ke seluruh dunia. Ketika Paulus “sibuk” menyebarkan agama Kristiani ke dunia Romawi dan di kalangan orang kafir (ad gentes), Petrus mengambil peran khusus dan krusial. Roma menjadi pusat Gereja yang di tangannya kunci Kerajaan Surga di dunia diserahkan. Dari Yerusalem ke Roma, dan dari Roma di jantung kekuasaan kekaiseran Romawi inilah Injil Yesus diwartakan, ke seluruh dunia.

Maka, ketika aku bisa mengunjungi, berada di pelataran Rumah Tuhan di Vatican, sambil berdoa dan mengucap syukur, pada waktu itulah aku merasakan sungguh nyata kebersatuanku dengan Gereja Semesta, dengan seluruh Tubuh Mistik Kristus, Sang Guru yang dalam Perjamuan Malam terakhir memecah-mecahkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur, membagikannya kepada semua orang untuk dimakan dan diminum. Maka, kebersatuanku dengan seluruh gereja semesta, adalah keesaanku karena diikat dan disatukan oleh Roti da Anggur yang sama, diperkuat oleh air pembaptisan dan Roh, dan ikut diutus untuk mewartakan “kabar baik kebangkitan Sang Guru”, dengan caraku yang khas dan mulia.

Aku masih ingat apa yang dikatakan Santo Yohanes Bosco kepada para pengikutnya, dan aku yakin bahwa itu juga ditujukan kepada semua orang Katolik. Bahwa bersatu dalam iman dan pelayanan dengan Wakil Kristus di dunia adalah jaminan keselamatan dan kehidupan kekal. Don Bosco yakin, bahwa Gereja Kristus akan selalu berada dalam cobaan, bahaya, masa sulit, ancaman, tetapi semuanya akan dilewati dalam kesetiaan kepada Dia, dan hanya Dia, Sang Kepala Agung Gereja. Bahwa kebersatuan dengan Sri Paus diwujudkan dalam doa, devosi, bakti, dan kerelaan menjalankan seluruh aktivitas dan kerja duniawi sebagai bagian dari kerasulan mewujudkan Kerajaan Allah.

Keinginan lain yang ingin aku wujudkan sembari punya kesempatan belajar di Italia tentulah mengunjungi Turino, berziarah ke rumah Don Bosco di Valdocco. Mengapa? Rasanya hampir sepuluh tahun kuhabiskan bersama para Salesian (1989-1998) dengan seluruh kenangan indah yang sulit terlupakan itu akan menjadi semakin lengkap jika aku berkesempatan mengunjungi dan berada sendiri di rumah Don Bosco. Sentimental banget, tetapi setidak-tidaknya itulah yang ingin aku wujudkan. Rasa kagum dan baktiku pada orang kudus yang satu ini sudah aku wujudkan dengan menulis sebuah buku mengenainya, dan perasaan itu akan terus memompa semangat pengabdian pada kerja, keluarga, dan gereja lokal mana kala bisa diizinkan mengunjungi Rumah Don Bosco. Semoga terwujud, harapku.

Kembali ke perayaan Paskah di Vatican! Hari Sabtu pagi-pagi, pukul 12:45 (menjelang jam enam pagi waktu Indonesia Barat), berangkatlah aku dan dua teman lainnya (satu dari India dan satu dari Belgia) berangkatah kami meninggalkan Kota Padua menuju Roma. Kereta api yang kamu tumpangi melaju dengan kencangnya melewati malam-malam gelap selepas peringatan dan penyembahan Salib Tuhan. Enam jam kemudian kami sudah tiba di kota Roma. Dari stasiun kami dijemput Pastor Helio Cabral, SDB, mantan muridku di SMA Seninari Don Bosco Timor Leste, 17 tahun silam. Kami menginap di salah satu komunitas Don Bosco di Roma, di tempat di mana Pater Helio tinggal. Senang sekali kembali menginap di komunitas Salesian, apalagi komunitas yang satu ini bagian dari komunitas Universitas Pontifikal Salesian (UPS) yang beken dan keren habis, yang menjadi tujuan dan cita-cita setiap Salesian terdidik, melanjutkan studi ke jenjang Master dan Doktor di sini. Aku dan kedua temanku menginap di komunitas ini, mendapat kesempatan untuk makan pagi bersama Pater Helio sebelum memulai aktivitas kunjungan kami ke Roma.

Mengunjungi Colosseum

Hari Sabtu, 23 April 2011 kami habiskan untuk jalan-jalan dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Colosseum. Tentu ini sebuah pengalaman yang menarik juga. Ternyata sisa bangunan yang berusia sudah lebih dari dua ribu tahun ini menyimpan pesona luar biasa. Siapa pun tidak akan pernah bisa menyembunyikan kekagumannya pada kecerdasan dan kemampuan arsitektural orang Romawi. Begitu pula dengan kejeniusan pandangan, desain politik, dan pola kekuasaan. Semuanya bisa dilihat di sini. Coba bayangkan betapa panggung seluas 400-an meter per segi yang menjadi saksi adu kekuatan singa dan manusia. Atau, duel maut para petarung dan tentara Romawi dengan gesekan dan percikan api dari pedang para ksatria. Dan ketika itu, tribun empat tingkat yang terisi penuh itu menggemahkan suara dan pekik dukungan, cemohan, atau teriakan memberi semangat. Atau, masifnya bangunan istana sang kaisar yang diperkirakan dihuni oleh nyaris tiga ribu orang. Tentu sebuah peninggalan sejarah amat menakjubkan.

Rasa capek dan ngantuk membawa kami kembali ke penginapan lebih cepat dari rencana semula. Jam 9.00 malam kami bertiga sudah bobo semua, juga karena ingin menghadiri misa Minggu Paskah esok hari dengan tenaga prima. Rencana berangkat ke Vatican pukul 9.00 pagi tidak molor. Meskipun demikian, kami harus berjuang dengan ribuan penumpang lainnya di stasiun Metro Termini. Ribuan pengunjung dan umat Katolik sudah ada dan memenuhi Lapangan Santo Petrus sejak pagi, dan ribuan lainnya masih terus berdatangan. Kami tiba di Vatican sekitar pukul 10:30 pagi, misa sudah dimulai, tetapi belum memasuki Liturgi Sabda. Seperti biasa, pengawan super ketat diberlakukan. Seluruh barang bawaan dan pengunjung harus melewati pintu metal detector.

Misa Minggu Paskah

Cuaca cerah sekali, meskipun agak panas. Kami bertiga berdiri persis di belakang kursi-kursi para umat, ya tidak dekat-dekat banget dengan altar tetapi juga tidak jauh sekali. Sri Paus masih bisa dilihat dengan jelas. Misa berlangsung sangat meriah dan agung. Lapangan Santo Petrus yang begitu luas dipenuhi umat dan pengunjung, mungkin lebih dari seratus ribu orang. Di mana-mana nampak sekali semangat dan antusiasme. Berbagai bendera dari negara-negara pun tidak kalah dipancangkan atau dikibarkan, sementara berbagai kelompok berbicara atau bertutur dalam bahasa mereka sendiri. Salah satu daya tarik kedatangan umat dan peziarah adalah mendengar sendiri ucapan Selamat Paskah dari mulut Sri Paus sendiri, dalam berbagai bahasa.

Misa berakhir, dan umat belum mau juga beranjak. Itu karena Sri Paus belum menyampaikan Selamat Paskah dalam berbagai bahasa. Beberapa saat kemudian ribuan mata diarahkan ke balkon tempat Sri Paus akan menyampaikan selamat Paskah. Sekitar 20 menit kemudian, Sri Paus muncul di balkon. Ketika tongkatnya baru kelihatan ujung atasnya, ribuan umat sudah histeris dan berteriak keras-keras: Viva Papa, Papa…. Papa! Aduh, bikin buluh kuduk berdiri. Luar biasa. Dalam hati kecilku berkata, “Sungguh, kalau ini bukan sebuah peristiwa iman, lalu apakah ini?” Ketika dunia menjadi semakin sekular dan kebencian kepada Gereja semakin menjadi-jadi, ratusan ribu orang masih terpaku di lapangan Santo Petrus, berteriak histeris kepada Wakil Kristus.

Sebelum menyampaikan pesan Selamat Paskah, Sri Paus terlebih dahulu menyampaikan Pesan Perdamaian kepada dunia. Seperti yang diberitakan berbagai media massa di seluruh dunia, Sri Paus menyeruhkan dihentikannya kekerasan di Libya, lalu juga di Pantai Gading, dan beberapa negara lainnya di Afrika. Presiden juga menghimbau pentingnya terus menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak dasar manusia. Dan setelah menyampaikan pesan-pesan singkatnya, Bapa Suci menyampaikan Selamat Paskah dalam berbagai bahasa.

Tentu Selamat Paskah pertama disampaikan dalam Bahasa Italia, bukan pertama-tama karena Vatican ada di Italia tetapi lebih karena Sri Paus juga adalah Uskup Roma. Selanjutnya pesan dalam Bahasa Prancis, Inggris, Spanyol, Portugis, dan seterusnya. Dan ketika pesan Selamat Paskah terdengar dalam bahasa tertentu, kelompok umat dan pengunjung yang hadir dan menjadi bagian dari bahasa tersebut segera menyambutnya dengan teriakan histeris dan ucapan Selamat Paskah juga, sambil terus menggemahkan Viva Papa, Viva Il Papa. Tidak ketinggalan pula ucapan selamat Paskah dalam Bahasa Indonesia: “Selamat Paskah!” Dalam hati saya juga berkata kepada Sri Paus dan Gereja semesta, “Selamat Paskah!”

Ketika menyampaikan Pesan Perdamaian, Sri Paus Benediktus XVI mengutip kata-kata Malaikat di hari minggu pagi kepada para wanita yang datang ke kubur Yesus, katanya, “Mengapa kalian mencari yang hidup dari antara orang mati? Dia tidak ada di sini; Dia sudah bangkit. Ingatlah apa yang pernah Dia katakana sewaktu masih di Galilea, bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke tangan orang-orang berdosa, disalibkan dan akan bangkit lagi pada hari ketiga. Dan mereka ingat kata-kata [yang Dia ucapkan waktu masih di Galilea] itu” (Lukas 25: 6-8). Bagiku inilah pesan Paskah tahun ini yang bisa menjadi pegangan bagi hidupku, tahun ini. Kesibukan atau kekurangpercayaan bisa saja membawaku kepada pengalaman para perempuan yang pagi-pagi datang ke makam Yesus. Dia kan sudah bangkit, mengapa masih saja mencari Dia? Kalau saja aku mengingat apa yang pernah dikatakan-Nya [sewaktu masih di Galilea], aku tidak akan lagi mencari Dia yang bangkit. Aku harus mulai kehidupan ke depan dengan iman dan keyakinan, bahwa Dia telah bangkit. Dan kebangkitan itulah yang menjadi fondamen seluruh proyek, kerja, kehidupan, dan pelayanan, apa pun bentuknya. Tanpa itu, seluruhnya akan menjadi sia-sia, seperti apa yang dikatakan Santo Paulus. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita.”

Dari Jakarta ke Padua, dan dari Padua ke Roma. Paskah tahun 2011 ini sungguh berkesan. Terima kasih Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan yang boleh aku alami, dan semoga bisa menjadi berkat bagi diriku, keluargaku (istriku dan putriku), seluruh pekerjaanku, dan orang-orang di sekitarku yang aku layani. Semoga aku pun sanggup mendengar kata-katanya sewaktu masih di Galiela, bahwa anak manusia memang harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa, disalibkan, dan kemudian bangkit dari antara orang mati. Selamat Paskah 2011.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s