Mentari, Manja Sekali Kau

Pagi-pagi sekali,
Kuterpaku di balik jendela kaca kamarku.
Tirai yang sengaja kubiarkan tersingkap
Mendesakkan secercah cahaya,
Menembus dinginnya pagi,
Di kota Padua.

Cahaya itu mengusik lelapku,
Membakar birahiku.
Setengah terbangun, kau tarik manja tanganku:
“Kejarlah aku kalau kau bisa,” teriakmu.
Dan ketika mulai sanggup mengejarmu, 
Kau biarkanku terpaku,
di balik kaca bening di lantai empat.
Kutatap tubuh molekmu,
kau menggeliat perlahan.

Kau sibak beribu mega yang membedongmu.
Ah, aku bisa lihat dengan jelas sekarang.
Pagi ini kau tersenyum lagi!
Tetapi mengapa lebih menawan dari simpul senyummu kali lalu?
Dan ketika tahu hati bertanya, engkau malah balik bertanya,
“Kapan terakhir kali kau menatapku, sayang?”
Kau paksa aku berpikir, protesku.
Kau tahu kan, tak seorang pun ingin berpikir pagi-pagi.

Tetapi kapan ya terakhir kali kunikmati moleknya tubuhmu?
Ketika ku tatap wajahmu yang kekuning-kuningan itu?
Dan ketika kau balas senyum genitku dengan segumpal senyuman,
yang membuat hati semakin bergetar tak tentu?

Itukan?
Kau terus memaksaku berpikir,
sementara ragamu semakin kau rapatkan,
ke balik dinding kaca ini.
Lihatlah, pemancar itu, rumah, pekarangan, dan pepohonan.
Mereka menyapamu.
Menyambutmu laksana putri kayangan.

Sekadar mengusir rasa grogi dan hasrat cinta.
Aku pun ikut-ikutan menyapamu.
Engkau malah mendekat.
Kali ini dekat sekali sampai hawa panas tubuhmu bisa kurasakan.
Dan ketika pemancar, rumah, pekarangan, dan pepohonan yang tadinya menyapamu
tidak tampak lagi di pelopak mataku.

Itukah engkau yang merapat ke tubuhku?
Ataukah aku yang nakal menerjang ke ragamu?
Kau biarkanku terpaku dalam tanya,
Dan ketika kau cuek dengan ketiga pertanyaanku,
lonceng gereja menggemah tujuh kali, 
dari balik jalan di belakang apartemen ini

Ah, jam tujuh pagi
Setelah sejam kau pesonakanku dengan senyum manja,
dan gemulai tubuhmu.
Dan ketika kurelakan tubuhku dibirahi api cintamu,
aku tersadar bahwa aku kembali jatuh cinta padamu,

Edan….
Ternyata hampir enam bulan kita tak pernah bermanja-manja
di pagi buta seperti ini;
dan kau pun mengiyakan.
Dan di balik simpul senyummu itu,
aku tahu engkau menyapaku:
Selamat pagi, honey!

Ah, manja sekali kau!

Padua, 17 April 2011
Jeremias Jena

3 pemikiran pada “Mentari, Manja Sekali Kau

  1. Hmmm……..
    luar biasa
    Puisi yang hangat dan manis, membuat saya ingin tenggelam berlama – lama di sini. Menikmati tetes demi tetes kata yang sejuk dan indah. Siapakah yang mempunyai telaga prosa begini dalam dan bening, metaforanya menggoda hati bait demi bait. Oh my God ” selamat pagi honey” sapaan manja penutup yang indah, siapa sangka yang beruntung jadi pemilik puisi ini adalah sang bentara pagi yang menyingkap lansekap langit. PF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s