Jadikan hidup sedikit lebih liar?

Nikmati saja hidup ini?
Seorang rekan menulis email minggu kemarin, menanyakakabarku dan apa aktivitasku minggu-minggu ini. Ya, aku bilang saja sedang baik-baik saja. Kesehatan baik, kegiatan kuliah berjalan normal, seluruh tugas kuliah dikerjakan dengan baik, kuliahnya sangat padat dan melelahkan, tetapi masih bisa dinikmati, dan yang terpenting juga adalah bisa menikmati keindahan kota Padua. Senag ya, kata temanku itu, bisa jalan-jalan dan menikmati keindahan kota. Apakah menikmati juga kehidupan malam atau kebebasan sebebas-bebasnya di kota Padua?
Aku paham apa yang ditanyakan temanku itu. Soal kehidupan malam, sejauh ini belum pernah aku nikmati di kota ini. Keluar malam atau sekadar jalan-jalan di malam hari, ya pernahlah. Tapi menikmati kehidupan malam dalam arti ke disko atau melihat-lihat kawasan lampu merah seperti di Amsterdam, Netherlands, ya tidak pernah. Mungkin secara tersembunyi kota ini memiliki hal semacam itu, tetapi sejauh yang aku tahu, ya tidak adalah.
Menjawab pertanyaan temanku itu, kehidupan malam yang bisa dinikmati di kota ini ya sekadar hang out dan menikmati bir atau anggur. By the way, kota Padua bukanlah kota yang cukup besar. Kota yang terletak di regio Venesia ini tergolong kota pelajar. Lebih kurang terdapat 65 ribu mahasiswa yang datang dari seluruh dunia menuntut ilmu di sini. Menurut orang-orang setempat, kota Padua semakin menjadi kota internasional.
Kembali ke kenikmatan minum bir bersama rekan-rekan di cafe. Kafe-kafe yang menyediakan bir, anggur, kopi, soft drink, dan minuman lainnya menyebar di seluruh kota. Jaraknya pun sangat berdekatan, mungkin seratusan meter terdapat 3-5 kafe. Sebagai kota pelajar, mereka yang mampir dan minum-minum di kafe pun sudah bisa dipastikan adalah pelajar.
Soal pelajar dan mahasiswa yang suka minum di kafe, aku pernah berpikir, kalau setiap malam mereka minum dan berada dalam keadaan sadar dan setengah sadar, apakah mereka punya waktu untuk membaca dan mempersiapkan kuliah keesokan harinya? Pertanyaan ini mungkin saja sebuah proyeksi diriku sendiri. Maklumlah, malam sebelum kuliah biasanya aku menghabiskan waktuku untuk membaca materi-materi (umumnya artikel dari jurnal ilmiah) yang dituntut profesor. Kisarannya 3-5 artikel. Para mahasiswa itu mungkin saja tingkat sarjana, jadi tidak perlu repot-repot membaca materi kuliah.Bagi saya, minum bir atau anggur di kafe sungguh sebuah kenikmatan, meskipun tidak pernah bisa minum banyak. Segelas bir gelas gede paling dihagai 3 Euro, sementara segelas anggur harganya hanya 1 Euro. Bandingkan dengan harga soft drink yang segelasnya mencapai hampir 3 Euro atau air putih yang sebotol kecilnya hampir 1 Euro. Itu dari segi harga. Dari segi pengunjung dan keramaian, lain lagi kisahnya. Orang Italia termasuk tipe orang yang tidak bisa diam. Tahu kan, kalau mereka bicara, tangannya pasti bergerak ke sana-kemari, suaranya pun keras-keras. Jadi, bisa dibayangkan seperti apa keramaian kafe-kafe.
Musim semi menuju musim panas begini, suhu udara memang sangat enak dan nyaman. Orang sudah berani keluar dengan pakaian tipis alias tanpa jaket. Tahu sendiri, kalau orang Eropa berpakaian tipis itu kayak apa. Ya benar-benar tipis, dengan rok yang sangat pendek, atau baju yang belahan dadanya begitu terbuka. Orang yang normal imajinasinya pasti tergoda berpikir yang bukan-bukan. Nah, jika terlalu banyak minum dan kesadaran mulai kacau, mereka bisa berperilaku aneh. Mereka yang datang bersama pacar, ya mulai saling berpelukan, atau bahkan duduk saling memangku. Mereka yang datang tidak bawa pasangan, ya asal dapat seseorang yang bisa menemani malam itu, ya sudahlah untuk malam itu. Orang-orang ini pun tidak pernah merasa canggung dan risih. Kalau mereka ingin berciuman, ya berciuman saja tanpa peduli apa tanggapan orang di sekitar mereka. Tentu orang dari daerah atau kebudayaan yang punya nilai dan cara pandang berbeda akan merasa sangat risih, tetapi Anda kan di negeri orang. Hebohnya lagi, ketika mereka berciuman dan pas Anda duduk di dekat mereka, dan ciuman itu saking hotnya sampai menimbulkan bunyi, apa yang bisa Anda katakan? Ya, sudahlah, pasrah saja. Ngga usah macam-macam, ngga usah sok-sokan jadi orang bermoral, atau coba-coba menegur. Ya, kalau ngga tahan ya tinggalkan kafe itu–ya dengan perasaan ngga karuan atau diliputi imajinasi liar.
Apakah itu yang aku sebut kenikmatan? Ya, minum bir atau minuman berakohol memang mendatangkan kenikmatan. Aku rasa berada dalam keadaan sadar dan tidak sadar dan berperilaku sedikit melampau batas kewajaran termasuk keadaan yang mendatangkan kenikmatan. Itu sensasi yang efeknya bisa luar biasa dan bertahan beberapa saat. Aku kira hal yang sama juga terjadi pada kenikmatan seks atau ciuman. Aktivitas di seputar keintiman memang menimbulkan imajinasi dan sensasi luar biasa. Bagi orang-orang di kota ini, aktivitas semacam itu–minum bir, anggur, atau bercinta–yang tidak usah dibumbuh-bumbuhi ajaran moral atau norma agama. Dan aku kira cara pikir semacam ini masuk akal. Bagaimana bisa menikmati semua itu kalau dalam hari masih berpikir kalau yang dilakukan melanggar norma moral dan agama. Dalam arti itu saya juga mengerti mengapa orang mengatakan bahwa norma-norma sosial hanya membatasi kebebasan manusia.
Meskipun demikian, aku kira kota Padua termasuk salah satu kota di Italia yang nilai-nilai keagamaannya masih dijunjung tinggi. Tidak hanya gereja bisa ditemukan di seluruh sudut kota ini, cara hidup orang-orang ini pun masih menunjukkan sisa-sisa kekatolikan. Tidak seperti di Leuven, Belgium atau Belanda misalnya, gereja-gereja di kota Padua pada hari minggu masih cukup ramai dikunjungi umat (untuk misa hari minggu). Dalam arti itu, kalaupun orang-orang Padua tampak begitu menikmati minum bir atau bercinta, pemandangan yang bisa kita lihat secara kasat mata tidak seliar yang bisa disaksikan di kawasan Lampu Merah di kota Amsterdam, misalnya. Meskipun demikian, untuk ukuran orang Indonesia, cara menikmati hidup di kota Padua sudah termasuk liar.
Kalau kemudian keliaran adalah sebuah konstruksi sosial, jangan-jangan statusnya sama seperti eksistensi norma agama atau moralitas dalam kehidupan manusia. Kalau paralelisme ini demikian adanya, yang konstruksi sosial soal keliaran bisa saja membatasi kenikmatan itu sendiri. Dalam arti ini, kalau mau menikmati kehidupan di kota ini, tanggalkan seluruh konstruksi sosial yang bertendensi membatasi kenikmatan itu sendiri. Sanggupkan aku?

Satu pemikiran pada “Jadikan hidup sedikit lebih liar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s