APA SIH KESAMAAN KOTA JAKARTA DENGAN KOTA PADUA (ITALIA)?

Perhatikan bagaimana tiga orang ini menyebrang jalan ketika lampu lalu lintas masih berwarna merah. Hal semacam ini sering terjadi di kota Padua (Foto: Yeremias Jena, 8 April 2011).

Setelah satu minggu tinggal di kota Padua, Italia, hal apa yang kira-kira bisa dikatakan sama dengan Indonesia? Sepertinya pertanyaan bodoh, karena kota Padua misalnya, sulit disamakan dengan Jakarta atau Bandung. Yang jelas, kota yang satu ini begitu antik, memiliki peninggalan historis yang menakjubkan semenjak zaman purba kala, bangunan-bangunannya sangat masif, bangunan gereja bisa ditemukan di mana-mana di seantero kota, dan sebagainya.Jakarta atau Bandung termasuk kota modern dari segi kebudayaan material, berusia kurang dari seribu tahun, dan tentunya juga lebih padat penduduknya.

Lalu, apa yang sama? Setelah berpikir beberapa saat, terpikir juga ide nakal untuk menyamakan hal yang buruk yang dimiliki Padua dan Jakarta, misalnya. Apakah itu? Menurut saya, ada empat hal yang menunjukkan kesamaan, yakni ketidakdisiplinan menyeberang lampu merah, ada pedagangan asongan di lampu merah,  ada tukang minta-minta, dan punya tulisan jorok dan coret-coretan tidak sopan di WC umum. Kog bisa?

Sangat sering bisa dijumpai kurangnya disiplin menyeberang lampu merah, baik di Padua maupun di Jakarta. Kebetulan tiga bulan saya tinggal di Leuven (Belgia) dan tiga bulan di Nijmegen (Belanda), dan saya kira kedua tempat ini memiliki disiplin menyeberang jalan yang sangat tinggi. Sulit—untuk tidak mengatakan tidak—menemukan orang menyeberang jalan sembarangan di kedua kota ini ketika lampu lalu lintas belum hijau. Sementara di Padua (dan saya berharap semoga hanya di Padua, tidak di kota-kota lain di Italia), hampir tiap hari saya bisa menyaksikan orang menyeberang jalan sembarangan, meskipun lampu lalu lintas masih merah.

Pedagang asongan dan tukang minta-minta pun bisa ditemukan di kota Padua. Di Jakarta tentu bukan pemandangan yang aneh menemukan pedagangan asongan di lampu merah. Semula saya berpikir tidak akan menemukan hal yang sama di Italia, tetapi perkiraanku meleset. Biasanya para pedagang asongan itu datang dari Timur Tengah atau Afrika. Umumnya mereka menjual bunga, tetapi kadang ada juga majalah. Tidak jelas apakah mereka pendatang haram atau bukan. Yang jelas, sangat banyak pendatang di Padua, dan katanya juga di kota-kota lainnya di Italia.

Pemandangan di salah satu alun-alun kota Padua di siang bolong, 3 April 2011. Belum banyak orang memenuhi ruang terbuka ini. Biasanya sore menjelang malam alun-alun ini dipenuhi pengunjung. Meskipun demikian, live music mampu menarik ribuan pengunjung, terutama menjelang malam.(Foto: Yeremias Jena, 3 April 2011).

Bagaimana dengan tukang minta-minta alias pengemis. Memang di Leuven dan di Nijmegen juga ada sih, tetapi tidak sebanyak di Padua. Herannya, umumnya para pengemis ini berwajah Timur Tengah. Ada juga ibu-ibu tua berwajah Eropa Timur. Tidak tahu persis apakah ada organisasi tertentu yang mengatur para pengemis, yang jelas jumlah mereka cukup banyak dan bisa ditemukan di tempat-tempat strategis, misalnya di sekitar gereja yang banyak dikunjungi para peziarah.

Soal tulisan tidak sopan di dinding WC umum ternyata cukup unik. Sekali lagi, pemandangan seperti ini sulit dijumpai di kedua tempat di Belgium dan Belanda yang saya sebutkan di atas. Di Padua menjadi hal yang sepertinya lumrah. Yang membuat saya tidak habis pikir, bahkan di tembok WC di kampus tempat saya kuliah pun ada coret-coret dan tulisan jorok di dinding WC. Nah, kalau bukan mahasiswa yang menulisnya, lalu siapa lagi? Kalau kita berpendapat bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang seharusnya berperilaku baik, apakah menulis kata-kata jorok di dinding WC umum dapat dikatakan wujud dari perilaku kurang terpuji yang seharusnya tidak dilakukan para mahasiswa? Mungkin!

Ketika saya mengungkapkan pengamatan singkat saya ini ke seorang teman dari Indonesia juga, dia bilang bahwa saya harus menambah satu lagi unsure kesamaan. Apa sih kesamaan kelima? Dia bilang bahwa bau pesing termasuk hal yang sama dijumpai di Padua dan di Jakarta. Ha…ha….ha, mungkin bisa dibenarkan juga. Yang jelas, di Padua ini bau pesing bisa dicium terutama di sekitar Kafe. Kenapa begitu? Maklumlah, orang-orang di kota ini, termasuk mahasiswa, setiap malam suka minum bir atau anggur di kafe-kafe yang letaknya berdekatan satu sama lain di seantero kota. Anda tahu sendiri kan, minuman beralkohol suka bikin orang cepat kencing. Kalau sudah kebelet, mau kemana lagi kalau bukan kencing sembarangan? Apalagi itu pada malam hari, lebih gampang dan mudah dilakukan.

Ya, mungkin ada kesamaan-kesamaan lain yag belum bisa saya kemukakan sekarang. Semoga lain waktu bisa saya ceritakan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s