SELAMAT DATANG MUSIM PANAS

Ketika ribuan orang Padua membanjiri jalan-jalan di kota lama, menikmati teriknya mentari sambil makan dan minum. (Foto: Yeremias Jena, 2 April 2011)

Apa yang berbeda dalam kehidupan orang Eropa antara musim dingin (winter) dan musim panas (summer)? Nenek-nenek juga tahu kale! Orang Eropa tentu mendambakan datangnya musim panas. Mereka tidak ingin menyiksa diri berlama-lama hidup dalam musim dingin. Begitulah yang terjadi! Buktinya, ketika sekarang belum benar-benar musim panas, di sana-sini tampak mereka bersemangat menikmati cahaya mentari. Ya, memang sekarang belum benar-benar musim panas. Sekarang kan masih musim semi (spring).Meskipun udara masih terasa cukup dingin (di Belanda misalnya, pada siang hari suhu udara mencapai 10-14 derajat Celsius), orang mulai keluar rumah tanpa jake musim dingin.

Yang menarik, orang Eropa mulai tampak banyak senyum dan ramah. Musim dingin seakan menjadikan mereka jarang tersenyum dan kurang ramah. Setidak-tidaknya ini pengalamanku selama musim dingin di Belanda. Tetapi ketika ada cahaya matahari, mereka langsung keluar rumah, jalan-jalan ke pusat kota menikmati terik dan cerahnya cuaca. Sudah barang tentu mereka pergi ke pusat kota untuk menikmati makanan lezat, musim kopi dan bir sambil duduk di luar restoran. Kursi-kursi yang selama musim dingin tidak dipasang di halaman restoran, kini kembali digelar. Pokoknya heboh banget deh melihat kelakuan mereka.

Bisa Anda bayangkan, hari Sabtu kemarin (2 April 2011) diperkirakan suhu udara di Nijmegen mencapai nyaris 30 derajat Celsius. Saya dengar dari salah satu keluarga Indonesia, orang-orang akan berduyun-duyun kel tempat rekreasi. Umumnya mereka pergi ke apa yang disebut green house, melihat bagaimana orang menanam dan memelihara tanaman, dan sebagainya. Sayang, saya tidak bisa menikmati hal ini karena sudah meninggalkan Kota Nijmegen sejak tanggal 31 Maret.

Bagaimana dengan Italia, terutama di Padua, kota yang akan saya diami selama tiga bulan ke depan? Sebelum ke kota ini saya sudah banyak dengar dari mahasiswa lain, termasuk mahasiswa Indonesia, bahwa suhu udara di Italia tidak sedingin di Belanda. Selain itu, makanan di Italia jauh lebih bervariasi. Saya kira benar, setidaknya untuk minggu pertama ini. Begitu tiba di kota tua ini, teman-teman serombongan yang dari Eropa langsung bergaya pakai pakaian tipis musim panas. Memang di malam hari agak dingin, bisa mencapai 15 derajat Celsius, tetapi itu kan tidak sedingin di negara Eropa lainnya.

Dua hal ini yang tampak nyata dan dialami selama seminggu ini. Orang berbondong-bondong ke pusat kota, terutama pada akhir pekan. Di mana-mana mereka duduk sambil makan, minum dan menikmati terik matahari. Tentu mereka mulai berani pakai pakaian minim alias sangat seksi. Maaf tapi kaum perempuan berani mengenakan pakaian yang hampir memperlihatkan seluruh isi dada mereka. Tentu tidak semuanya begitu, tetapi cukup mencoloklah pemandangan seperti itu. Dan yang tak kalah nikmat, makanan di sini enak-enak. Kalau di Indonesia kita tidak terlalu peduli dengan jenis pizza mana yang kita makan, mungkin karena semuanya dianggap sama, tidak demikian halnya di sini. Terlalu banyak jenis pizza sampai saya tidak mengerti dan tidak tahu jenis mana yang harus saya pilih.

Kembali ke bagaimana orang-orang Eropa, terutama di kota tempat saya tinggal sekarang (Padua) menyambut kedatangan musim panas. Sekali lagi, mereka benar-benar menikmati sinar matahari. Sekarang siang hari menjadi lebih panjang. Jam delapan malam masih terasa seperti jam empat sore di Indonesia. Matahari tidak mau terbenam, dan ini yang sungguh dinikmati oleh mereka. Tentu saja kaum muda-mudi pun tidak ketinggalan. Mereka tidak segan-segan berciuman (maaf) di tempat terbuka tanpa risih dan malu. Tampak sekali mereka menikmatinya, apalagi itu dilakukan dalam waktu beberapa menit, kalau bukan kenikmatan lalu apa namanya?

Saya lalu merenung, untung juga ya saya berasal dari negara tropis. Tidak mengenal empat musim. Meskipun sangat panas, misalnya di Jakarta tempat saya hidup sejak tahun 1991, saya merasa sangat mensyukuri tempat asalku. Sementara orang Eropa harus benar-benar berjuang menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan alam. Tentu kenikmatan musim panas ini tidak selamanya menyenangkan, karena akan datang waktu di mana musim panas dirasa terlalu panas. Kalau sudah begitu, lalu apa yang bisa dinikmati oleh mereka? Musim dinginkah? Musim semikah? Atau, musim panaskah? Jangankan orang Eropa, saya rasa siapa pun kita pasti akan mengatakan bahwa kita menginginkan suhu udara yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Tetapi keadaan ideal ini tidak selamanya demikian. Apalagi ketika terjadi perubahan iklim karena pemanasan global, menikmati musim semi dan/atau musim panas mungkin akan menjadi sesuatu yang langkah ke depan.

Selamat datang musim panas! Semoga musim panas tahun ini tidak menjadi terlalu panas sehingga benar-benar bisa dinikmati, baik oleh orang Eropa sendiri maupun oleh saya yang datang dari negeri nun jauh di Timur sana.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s