GADIS-GADIS MOLEK DI BALIK KACA BENING ITU

Meskipun sudah mau masuk empat bulan tinggal di Belanda dan pernah jalan-jalan ke Amsterdam, saya tidak pernah mengunjungi atau sekadar muter-muter di areal lampu merah (red district area). Daerah itu terkenal ke seantero dunia. Minggu lalu seorang teman pulang dari jalan-jalan ke Amsterdam bersama rekan-rekan senegaranya, dan dia berkisah bahwa tempat itu memang menarik. Saya kira juga begitu. Beberapa kali saya brows internet dan membaca artikel tentang pusat prostitusi di Amsterdam itu, saya mendapat kesan bahwa tempat itu tidak hanya menarik tetapi dikelola pemerintah kota secara sangat profesional.

Yang menarik, ketika pertama kali ngetik “red light district” pake googlenya Netherland, langsung muncul pilihan “red light district” di (hampir) semua kota besar di negara yang pernah menjajah negeri kita ini. Pikir saya, wah, berarti setiap kota besar di Belanda punya pusat prostitusi. Berarti di kota tempat tinggal saya ini ada juga dong! Saya tinggal di Nijmegen, salah satu kota tua di Eropa dan kota tertua di Netherlands. Dulunya kota ini hampir seratus persennya beragama Katolik, beda sama orang Belanda yang mayoritas beragama Protestan. Tetapi sekarang tinggal gedung-gedung gereja yang sudah tua dan hampir kosong setiap hari Minggu.

Kembali ke soal “kawasan lampu merah” tadi, saya akhirnya bisa brows dan menemukan bahwa memang Kota Nijmegen punya kawasan semacam itu. Begitu mengklik website yang berisi informasi itu, di sebelah kanannya langsung tercantum peta lokasi red light district. Wow, ternyata tidak jauh dari terminal pusat. Wajarlah, terminal kereta api antarkota di Amsterdam dan terminal bis dalam kota ini selalu ramai dengan ribuan penumpang setiap harinya. Letak pusat prostitusi yang dekat dipikir bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Suatu saat, di akhir bulan Februari 2011, saya mencoba menjelajahi daerah itu. Ada banyak sekali restoran, kafe, dan kasino yang terletak di sekitar daerah tersebut. Tentu berbeda dengan di Amsterdam yang saya lihat di Youtube atau baca di internet, kawasan prostitusi di Nijmegen sangat kecil, kalau tidak bisa dibilang terlalu kecil. Saya hitung-hitung dari luar, gedung yang ditempati para perempuan nyaris telanjang itu hanya terdiri dari tiga lantai, dan 5 blok. Tidak tahu ada kamar berapa di dalamnya, tapi kalau diasumsikan satu lantai dihuni oleh sekitar 15 orang, itu artinya keseluruhan gedung (hanya) hanya terdapat kurang dari lima puluh kaum hawa berprofesi penghibur.

Tidak tampak banyak pengunjung yang datang malam itu. Saya berdiri bersama sekitar 10 orang laki-laki lainnya di jalan di depan gedung itu yang memang sengaja dibuat remang-remang (nyaris gelap). Cahaya hanya datang dari kamar-kamar yang dihuni para perempuan penghibur. Saya seperti yang bisa saya lihat di Youtube, para perempuan itu berdiri di jendela, mengenakan hanya celana dalam dan kutang, dan pakaian mereka yang minim itu bersinar atau bercahaya. Ha ha ha, mungkin pakaian mereka itu ada kabel yang dihubungkan ke arus listrik, ya? Atau, ada unsur tertentu yang kalau kena cahaya lampu dia juga ikut menyala, kayak jaketnya polisi lalu lintas.

Orang Belanda mengklaim bahwa para perempuan pekerja seks komersial di negeri ini sekitar 80 persennya berasal dari negara lain. Jumlah terbesar berasal dari Eropa Timur, seperti Republik Ceko, Rumania, Polandia, dan lainnya. Ada juga dari Asia, terutama Thailand dan Filipina, dan dari Amerika Latin seperti Kolumbia, dan sekitarnya. Saya tidak bisa membedakan para perempuan yang memajangkan diri di bagian paling depan gedung itu, dari manakah asal mereka. Habis, semuanya berkulit putih. Entahlah, dari mana mereka berasal toh tidak penting.

Saya perhatikan baik-baik bagaimana mereka berusaha menarik minat para lelaki pengunjung. Kita seperti berada di depan aguarium, melihat-lihat “ikan” yang sedang berenang di air dari balik kaca yang bening. Ya, seperti itulah. Para gadis itu berdiri sambil sesekali menggerak-gerakan badan mereka. Ada juga yang super canggih dan gaul. Sambil duduk, mereka mengakses dunia melalui laptop atau netbook mereka. Dan ketika ada laki-laki yang mau dengan mereka, lalu terjadilah kontak dan isyarat. Laki-laki itu pun segera masuk ke dalam gedung, menuju ke kamar di mana ada perempuan yang dia incar. Lalu berikutnya, tirai kaca jendela yang bening itu langsung ditutup. Sepertinya mereka mulai berlayar menuju negeri impian.

Iseng-iseng kutanyai seorang pemuda seumuranku di sampingku, “Mas, berapa sih kita harus membayar pada perempuan-perempuan itu?” Jawab dia, “50 Euro!” Wah, lima puluh Euro itu sama saja dengan 600 ribu rupiah lebih. Untuk ukuran kantong mahasiswa sepertiku, itu bisa untuk makan seminggu lebih. Ha ha ha, mahal juga ya! Emangnya kalo harganya murah dan terjangkau, Anda mau masuk? tanya suara dalam hatiku! Ah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s