Ketika Perjalanan Itu Mengasingkan

Senin sore, 17 Januari 2011 di stasiun Kereta Api Mechelen (Belgium). Jarum jam panjang butuh waktu dua puluh menit lagi untuk menarik jarum pendek ke angka empat pas. Aku baru saja turun dari kereta api jalur internasional yang membawaku dari Nijmegen, Belanda. Sekali lagi dalam perjalanan ke Leuven, kota pelajar yang baru saja kutinggalkan tiga minggu lalu. Ah, stasiun Mechelen tidak ada yang berubah. Tentu, baru tiga mingguan lalu aku meninggalkan kota ini pula dan sekarang aku kembali duduk lagi di stasiun ini. Meja di pojok warung kopi di depan loket penjualan tiket itu kembali panas oleh pantatku. Rasanya seperti baru kemarin, padahal terakhir kali aku meneguk kopi di warung kopi orang Timur Tengah itu hampir dua bulan lalu. Kursi yang sekarang kududuki pun sama seperti yang kududuki dua bulan lalu. Bedanya, waktu itu aku datang ke kota Mechelen bersama teman-teman, sekarang aku sendiri. Jika waktu itu kami sengaja berjalan-jalan ke kota ini, sore ini beda. Aku dalam perjalanan ke Leuven, dan warung kopi ini hanya jadi persinggahan sementara. Sebelum kereta api pukul 16:22 lewat nanti, aku harus cepat-cepat meninggalkan warung kopi ini, juga si Aisyah, gadis manis asal Siria, penjual kopi itu yang selalu tersenyum rama kepada setiap tamu yang datang.

Aku ingat betul pertama kali datang ke Leuven dan harus ganti kereta api di Mechelen. Itu tanggal 20 September 2010, beberapa bulan yang lalu. Sebelum berangkat dari Jakarta, wakil dekanku tidak hanya berpesan, tetapi juga menulis di secarik kertas. Katanya, kalau kamu naik kereta api dari Schipol (Bandara Udara Amsterdam), turunlah di Mechelen. Kata bosku itu, lebih nyaman turun di Mechelen, karena selain sudah sangat dekat dengan Leuven, stasiunnya pun tidak seramai Antwerpen. Ya, stasiun Antwerpen memang sangat ramai. Aku menuruti apa kata wakil dekanku itu, dan jika sekarang aku kembali ke Leuven, formula yang sama yang kupraktikkan tempo itu, kuulangi sekarang.

Lewat jendela kaca warung kopi itu aku bisa melihat sendiri bis kota lalu lalang meninggalkan kota kecil ini, atau menurunkan mereka yang hendak bepergian dengan kereta api. Tidak ada perasaan terasing sama sekali, seakan-akan aku sudah mengenal lama kota ini. Rasanya beda banget dengan apa yang aku alami ketika pertama kali tiba di sini. Maklumlah, sebagai orang asing yang belum mengenal sama sekali kota ini, kedatanganku seperti mengunjungi sebuah daerah yang sama sekali asing. Ya, memang terasing. Aku ingat betul bagaimana berpindah dari kereta api jalur internasional ke jalur domestik. Dan ketika harus berpindah dari spur yang satu ke spur lain, aku harus menuruni tangga cukup terjal, menarik koper coklatku yang cukup berat itu, sambil tangan kiriku menenteng sebuah koper kecil dengan sebuah tas ransel di punggungku. Dan yang terasa teramat mengasingkan adalah bahwa aku pergi ke sebuah tempat yang sama sekali belum kukenal. Rasa menjadi bagian dari sebuah ruang, sebuah tempat, entah itu bernama rumah atau kota sama sekali absen dalam pengalamanku waktu itu. Aku tak tahu kemana harus pergi, meskipun sudah memiliki sebuah kamar yang aku sewa dan sudah kubayar sebelum datang ke kota Leuven. Begitulah, pengalaman terasing, takut, kesepian dan kesendirian bercampur menjadi satu dengan kesedihan ketika tak seorang pun yang datang menyapa dan menjemputmu di stasiun.

Apakah perasaan seperti itu hilang lenyap sekarang gara-gara aku sudah mengenal kota yang aku kunjungi sekarang? Apakah tidak ada lagi perasaan aneh dan terasing? Jujur kukatakan, perasaan itu masih ada di sana. Kalau sekarang aku kembali ke Leuven, ke rumah atau kamar siapakah akan kutuju? Aku kembali ke kota ini hanya karena urusan pribadi, bukan untuk studi. Program kuliah di Leuven sudah berakhir dan sekarang dilanjutkan di Nijmegen, Belanda. Karena ada masalah dengan kartu ATM di mana aku tidak bisa menggunakannya di Belanda, aku terpaksa kembali ke Leuven. Besok, 18 Januari 2011, aku harus mengurus kartu ATMku yang ternyata diblokir di salah satu bank yang mengeluarkannya. Karena janji ketemuan dengan petugas bank jam 10 pagi, aku terpaksa menginap di Leuven.

Beberapa hari sebelum berangkat kucoba menghubungi beberapa teman dan kenalan yang aku kenal (baik). Tentu aku punya pilihan, atau tinggal di hotel atau di rumah sahabat. Ongkos hotel semalam tentu tidak terlalu mahal, tetapi jika dikurskan ke mata uang Rupiah, ternyata mahal juga. Ya, biaya menginap di sebuah hotel sederhana di kota ini mencapai 40 Euro. Kalau dikalikan dengan dua belas ribu Rupiah per satu Euro, tampaknya cukup mahal. Pilihan terakhir adalah menginap di kamar teman. Syukurlah, Bastian, seorang imam Serikat Sabda Allah asal Flore Timur bersedia “meminjamkan” kamarnya kepadaku. “Kaka bisa tidur saja di kamar saya,” begitu kata Bastian. “Kepastian” ini yang membuat rasa was-was, takut, atau terasing sedikit terurai, meski tidak hilang seratus persen.

Pukul 16:22, kereta api menuju Leuven pun siap meluncur. Butuh waktu tidak lebih dari 20 menit mencapai kota itu. Benar saja, jam lima kurang aku sudah menuruni tanga berjalan stasiun kota Leuven. Seperti biasa, kota ini dipadati ribuan mahasiswa. Tidak jauh dari stasiun tampak bis-bis kota sibuk mengantar dan menjemput penumpang. Kaki ini perlahan kuayunkan, semula ke toko buku favoritku. Pikirku, lebih baik agak malam ke biara tempat Bastian tinggal. Setelah membeli dua buku filsafat aku pun menelpon Bastian untuk menjemputku; toh waktu sudah medicatie pukul 6 sore.

Sekali lagi, rasa sepi dan terasing tidak pernah bisa dihapus. Meskipun mendapatkan sebuah kamar tempat meletakkan kepala selama semalam, aku tetap memahami diriku sebagai seorang asing. Ya, orang asing (foreigner) itu identik dengan “orang lain”, “orang luar”, “bukan kalangan kita”, “tidak ada hubungan dengan kita”, dan sebagainya. Orang asing juga adalah “orang luar” atau “orang yang tidak dilahirkan di sini” alias “non-native”. Keterasinganku lebih disebabkan oleh pemahaman akan eksistensiku, saat ini, bahwa aku bukan bagian dari kamu, aku adalah orang luar. Bahwa eksistensiku kuhayati sebagai “seorang pengunjung”, “tamu”, “seseorang yang dikenal tetapi yang tidak diketahui secara rinci dan mendalam.” Eksistensikan kumaknakan sebagai “sahabat” yang relasi antarsubjek belum memiliki akar yang kuat, rapuh, dan mungkin juga dangkal. Kehadiranku mungkin bisa dimaknakan sebagai berkat atau pembawa kebaikan dalam arti religius, tetapi bisa juga membebani. Dan rasa itu tidak akan pernah jelas dan distingtif persis ketika relasi antarsubjek itu belum mencapai apa yang disebut realitas ke-kita-an.

Bagiku, rasa terasing dan tidak menjadi bagian dari sesuatu atau dari siapa-siapa, pada momen tertentu itu baik. Pada titik itulah seseorang dipaksa memikirkan sekali lagi eksistensi dirinya. Aku merenung dan mengajukan pertanyaan yang bagi kebanyakan orang adalah lumrah. “Pada simpul manakah aku terikat?” “Pada batang manakah ranting ini menempelkan raganya?” “Di titik manakah bagian dari bumi ini yang boleh kuklaim sebagai punyaku?” Atau, mungkin lebih absurd lagi, “Adakah sesuatu di ruang ini yang menjadi bagian dariku?” Dan ketakutan serta keterasingan semakin menjadi-jadi ketika kesadaran mendarat pada ruang ingat, bahwa aku pun bisa menjadi terasing dari pikiranku sendiri.

Ah!!

2 pemikiran pada “Ketika Perjalanan Itu Mengasingkan

  1. He he he, thanks. Yeah, I think so. Apa yang disebut sisa-sisa berpikir berdasarkan budaya, customs, atau sudut pandang tertentu tidak akan pernah bisa dibebaskan dari diri seseorang. Dibutuhkan sebuah seni mengelola…. Salam!

  2. Perasaan terasing muncul karena konsep “kami” dan “mereka” – “orang dalam” dan “orang luar” direkonstruksi oleh budaya kita, dan mempengaruhi nilai-nilai kemanusiaan kita. Mungkin ini menjadi saat yang tepat untuk merekonstruksi konsep berpikir kita dan mengembangkan humanitas kita. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s