Terbanglah Tinggi Rajawaliku

Terbanglah tinggi rajawaliku
Terbanglah tinggi rajawaliku

RENUNGAN TAHUN BARU 2011

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN
mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali
yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;
mereka berlari dan tidak menjadi lesu,
mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)

Tahun Baru sekali lagi menghampiri kita. Tahun Baru bagi sebagian besar dari antara kita (untuk tidak mengatakan semua orang) biasanya berarti kita ingin memulai sesuatu dari awal lagi dan mudah-mudahan melakukan sesuatu yang berbeda tahun ini. Masih ingat apa yang kita lakukan ketika masih anak-anak temp doeloe? Sudah sejak Natal atau mungkin juga sejak awal bulan Desember kita mulai menghitung berapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru. Dan detik-detik menjelang pergantian Tahun Baru, kita menghitung mundur, mungkin mulai dari angka sepuluh atau mungkin juga dua puluh sampai angka satu sebelum akhirnya jarum jam panjang dan pendek saling berpelukan di angka 12. Kita pun bertepuk tangan dan berteriak, “Selamat Tahun Baru!”

Ketika beranjak dewasa, bagaimana sikap kita menghadapi Tahun Baru? Tepuk tangan dan sorak-sorai mungkin masih ada. Tetapi kita umumnya menghitung mundur ke suatu masa di waktu lampau ketika kita begitu bersemangat, saat kita penuh percaya diri menghadapi berbagai tantangan dalam hidup. Atau, ketika kita amat bersedih dan jatuh ketika tidak sanggup memikul beban. Ketika kita masih bersama orang-orang yang kita kasihi dan yang sekarang sudah tidak bersama lagi. Ketika canda tawa berubah menjadi tangisan, atau ketika kegagalan beralih menjadi kesuksesan. Dan kalau kita mengingatnya kembali dim omen pergantian tahun ini, rasanya seperti baru kemarin. Atau, bahkan seperti semuanya dihadirkan dalam sebuah momen sekarang, ketika sekat-sekat waktu melebur dalam sebuah ruang, tanpa waktu. Ketika tidak ada lagi dinding pembatas kemarin, hari ini, dan esok.

Tetapi kita segera sadar bahwa waktu tanpa sekat yang hadir dalam momen refleksi penuh syukur itu segera berlalu, kembali ke asalnya. Dan dengan begitu kita pun termangu menatap kesendirian, sesekali menarik nafas lalu bertanya, “Adakah yang kuharapkan dari waktu yang mengalihkan kemarin menjadi kini dan esok itu?” Dan jika ada sesuatu yang entahlah di balik peralihan itu, apakah sosok atau wujud, atau bentuk itukah yang aku nantikan? Dan ketika yang dinantikan tidak mewujud atau ketika dia enggan mewujudkan dirinya, apakah pantas aku menanti?

Ah, ilusif. Tetapi mengapa orang-orang Kristen itu menyambut kehadiran hari baru dalam suka cita dan kegembiraan? Lihatlah, mereka berkumpul, mengucap syukur dan berdoa. Mereka seperti menyadarkanku, betapa penantian itu tidak sia-sia. Yang ditunggu bukan ilusi, yang didamba bukan maya. Mereka merindu Sang Guru, Tuhan yang empunya semesta ini. Dan ketika Sang Guru itu datang melawat, mereka seperti mendapatkan kekuatan baru. Lawatan Penguasa Semesta Alam membawa kekuatan baru. Dan ketika itu pula mereka menjadi seperti rajawali yang siap merentangkan sayap, terbang gagah perkasa menembus awan. Mereka terus berlari mencapai keabadian. Mereka tidak menjadi lelah. Dan ketika waktu kembali menyatu tanpa sekat dalam ruang yang sama, kekuatan itu kembali menjadi milik mereka, untuk selamanya.

Nabi Yesaya, tampaknya engkau benar ketika menubuatkan hal ini. Engkau menunjukkan kepada kami bahwa jika kami memiliki iman dan harapan dalam Tuhan maka kami akan memiliki kekuatan dan kedamaian dalam persekutuan dengan Allah, Sang Pemilik waktu. Tahun baru seharusnya menjadi momen di mana Allah sendiri meleburkan diri-Nya di dalam waktu tak-berbatas, ketika Dia menopang kami dengan kekuatan maha dasyat, dan menegakkan sayap kami untuk terbang menyongsong hari baru, penuh damai dan suka cita. Dari sini, kalau pun hari-hari kembali ke peraduannya seperti kemarin, kini, dan nanti, kami tetap merasa bahwa keabadian bersama-Mu bisa terjadi kapan saja. Itulah optimisme kami menutup hari kemarin dan menatap terbitnya mentari baru.

Kepak sayap rajawali ini akan terus kami rentangkan, terbang menembus batas, menuju keabadian. Maka dalam sujud dan kerendahan hati kami menyambut peralihan tahun ini dengan seuntai doa: Terima kasih, Tuhan. Engkau mengingatkan kami bahwa setiap saat seharusnya menjadi awal yang baru, bukan hanya pada awal dari tahun baru yang Engkau izinkan menghampiri kami setelah tiga ratus enam puluh lima hari. Dan ketika kami menyadari setiap momen sebagai awal yang baru, kami pun Engkau kuatkan untuk terbang menyambut hari baru, pengalaman baru, teman baru, dan hidup baru. Dalam-mu setiap saat akan selalu menjadi peleburan waktu tanpa sekat pembatas, dalam keabadiaan kekal kemarin, kini, dan esok. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s