17. BAGAIMANA CARA MELOMPATI RINTANGAN?

Saya kenal seorang juara lompat gawang yang memperoleh banyak medali di universitas saya. Sangat jarang yang dapat mengalahkan dia. Dia menjadi lambang rahmat, kegesitan dan cara mengatur kaki secara cepat. Dia mempunyai banyak teman yang mengaguminya karena kecakapan atletisnya, dan seorang dari Amerika telah memberinya sebuah pekerjaan sebagai seorang salesman pada perusahaan asuransinya.

Tahun-tahun berlalu. Ia menikah dan sekarang mempunyai anak laki-laki berusia 5 tahun. Namun ia, entah mengapa, tidak pernah mengalami kemajuan dalam bidangnya sebagai seorang salesman. Ia menyenangkan, mudah berteman, tetapi hanya dapat menjual sejumlah kecil asuransi selama setahun. Tampaknya ia tak mempunyai keberanian, pertahanan atau hasrat yang lebih besar untuk meraih “kesempurnaan” seperti yang penah ia capai saat lomba lompat gawang.

Ketakutan bahwa ia tidak akan menjadi salesman yang sempurna menguasai dirinya, mengubah citra dirinya. Ia menjadi mudah frustasi ketika ditolak oleh pelanggannya. Ia lupa bahwa ia telah mengatasi kesalahan-kesalahan dalam gawang rintangan dengan berlatih dalam ketekunan saat di univeReitas. Suatu hari pada saat reuni kelas di perguruan tinggi, ia bertemu dengan teman sekelasnya dulu. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama di halaman. Beberapa mahasiswa sedang berlatih melompati gawang –gawang rintangan. Teman-temannya membujuk dia untuk melihat bagaimana ia dulu tertinggal. Ia minum satu atau dua teguk dari gelasnya, membawa sepasang sepatu karet dan buru-buru melompati gawang-gawang rintangan sambil mengingat betapa hebatnya ia dulu. Ia tergelincir dan kakinya keseleo. Selama 1 bulan ia digips dan hal tersebut membuatnya berpikir, berintrospeksi diri.

Ia mengingat-ingat kembali bahwa ia dulu menjadi juara karena latihan yang terus menerus, dengan mengatasi kegagalan-kegagalan. Sekarang ia sadar dirinya telah tua untuk lomba lompat gawang. Namun ia ingat ketika masih mahasiswa ia memiliki percaya diri dan tahu betul kemampuannya. Ia juga ingat keberanian, harga diri, penerimaan dirinya. Ia ingat bahwa ia punya  “panduan batin” (sense of direction) yang jelas ketika melompati gawang-gawang rintangan menuju cita-cita.

Tiba-tiba ia sadar bahwa tak ada alasan di bumi ini yang membuatnya tak bisa lagi menjadi seorang juara salesman. Mengapa ia tidak melompati rintangan-rintangan  dalam pekerjaannya, mengapa ia tidak dapat berbuat lebih baik? Ia tahu bahwa ketakutan dan rasa kurang percaya diri mengalahkannya dari menjadi seorang juara. Ketika ia sudah lebih baik, ia mendekati penjualan asuransi dengan pengertian yang sama, kegigihan yang sama sebagaimana ia pernah terapkan ketika lompat gawang rintangan.  Ia melatih dalam pikirannya bagaimana mendekati pelanggan dan mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin. Dalam waktu kurang dari 1 tahun ia menjadi salesman “top-flight”, menambah gengsi kemampuan pendapatannya dan dia sangat bahagia.

Kita juga dapat melompati rintangan-rintangan ketegangan dan stress dengan mencegah kegagalan-kegagalan yang menghambat kita, kita harus mendekati cita-cita kita sekarang dengan kepercayaan pada diri sendiri sehingga kita dapat bangkit mengatasi kegagalan-kegagalan karena tahu kita dapat mengatasi problema hidup.  “Kegagalan-kegagalan ternyata mengajarkan sukses”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s