BARTOLOMEUS GARELLI, SI BOCAH MISKIN DAN DON BOSCO

Ilustrasi bagaimana perjumpaan awal Don Bosco dengan Bartolomeus Gareli di Sakristi Gereja Santo Fransiskus Asisi, di Turin, 8 Desember 1841.
Ilustrasi bagaimana perjumpaan awal Don Bosco dengan Bartolomeus Gareli di Sakristi Gereja Santo Fransiskus Asisi, di Turin, 8 Desember 1841.

 

Hari Rabu pagi, 8 Desember 1841. Musim dingin di bulan ketiga tahun itu benar-benar mengurung orang untuk bepergian ke luar rumah. Pagi itu liturgy Gereja Katolik memperingati hari raya Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda. Sebagai imam muda, Don Bosco yang kala itu masih tinggal di Convitto, bergegas menuju sakristi di Gereja Santo Fransiskus Asisi, menyiapkan diri untuk mempersembahkan Sakramen Ekaristi kudus.

Ketika sedang khusuk mempersiapkan diri, terdengar suara Joseph Comotti, petugas sakristi. “Apakah yang dilakukan Comotti?” Don Bosco berpikir dalam hati. Semakin lama suara Comotti semakin jelas terdengar. Rupaya Comotti melihat beberapa anak kecil di dekat sakristi dan dia memanggil mereka untuk melayani misa, menjadi putra altar. Salah seorang anak muda—menurut Don Bosco berusia sekitar 14–15 tahun—yang berdiri di sudut sakristi langsung menjadi target Comotti.

—“Kemari kamu,” kata Comotti. “Kamu harus bersiap dan membantu imam sebagai putra altar.”

—Anak muda yang tampak masih lugu dengan wajah lusuh dan kedinginan segera menolak, katanya, “Tidak! Tidak bisa!”

—Comotti mendesaknya lagi, katanya, “Kamu harus melayani misa!”

—Saya tidak bisa, “jawab anak muda itu.” “Saya tidak pernah menjadi putra altar sebelumnya.”

—Kurang ajar kamu, umpat Comotti. “Kalau kamu tidak bisa melayani misa, mengapa masuk ke sakristi sini?”

Diayunkan sapu yang ada ditangannya kepada anak muda miskin itu dan mengenai kepala dan bahunya. Sementara anak-anak lainnya kabur menyelamatkan diri masing-masing.

Don Bosco segera menghampiri Comotti untuk mengecek apa yang sedang terjadi. Melihat anak muda itu sangat ketakutan karena dipukul Comotti, Don Bosco segera menghentikan cara kekerasan semacam itu.

—Don Bosco pun bertanya kepada Comotti, “Mengapa kamu memukul anak muda itu?”

—“Wajar saya memukul dia, Romo. Disuruh melayani misa, katanya dia tidak bisa melayani misa. Kalau tidak bisa melayani misa, kenapa ada di sakristi sini?”

—“Ya, tapi kamu tidak bisa semena-mena begitu,” jawab Don Bosco. “Mengapa kamu harus memukul dia?”

— “Ah, peduli amat,” jawab Comotti ketus. “Siapa dia sih!”

— “Panggil anak itu kemari, aku mau berbicara dengannya!” minta Don Bosco.

—“Hei bocah, Romo memanggil Anda!” seru Comotti.

Anak muda itu tampak sangat ketakutan di hadapan Don Bosco.

—“Siapa namamu, nak,” tanya Don Bosco.

—“Bartolomeus Garelli.”

—“Dari mana asalmu?”

—“Aku dari Asti.”

—“Apa yang kamu kerjakan di Turin?”

—“Tukang batu bata.”

—“Ayahmu masih hidup?”

—“Dia sudah meninggal dunia.”

—“Ibumu?”

—“Sama.”

—“Berapa usiamu?”

—“Enam belas tahun.”

—“Kamu bisa membaca dan menulis?”

—“Tidak bisa.”

—“Bisa menyanyi?”

Anak muda itu tampak terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Don Bosco. Dia pun menjawab singkat, katanya, “Tidak bisa!” — “Tapi kamu bisa bersiul, kan?” tanya Don Bosco kembali. Anak muda itu pun segera tersenyum. Don Bosco tampak senang karena anak muda itu sudah bisa tersenyum. Bagi Don Bosco, itu pertanda anak muda itu mulai merasa nyaman berada di sana. Don Bosco pun melanjutkan obrolannya dengan Garelli.

—“O ya, kamu sudah menerima komuni pertama atau belum?”

—“Belum.”

—“Apakah pernah mengaku dosa?”

—“Ya, pernah. Itu waktu aku masih kecil.”

—“Apa kamu juga ikut pelajaran agama?”

—“Tidak! Aku tidak berani ikut.”

—“Kenapa tidak berani ikut?”

—“Ya, habisnya anak-anak yang lebih kecil dariku sudah pada bisa semua pelajaran agamanya. Jadi, aku malu.”

—“Kalau saya yang ajarin kamu pelajaran agama, apa kamu mau belajar? Bahkan di tempat ini?”

—“Ya, asal jangan memukul aku.”

—“Jangan takut. Tidak ada orang yang melakukan kekerasan kepadamu lagi. Dari sekarang kita adalah sahabat. Kamu hanya akan berurusan dengan saya, bukan dengan orang lain. O ya, kapan kamu siap ikut pelajaran agama?”

—“Kapan saja kamu mau,” jawab Garelli.

—Tanya Don Bosco, “Bagaimana kalau malam ini?”

—“Oke, tidak masalah!”

—“Bagaimana kalau sekarang?” tanya Don Bosco.

—“Dengan senang hati saya mengikutinya,” jawab Garelli.

Pelajaran pertama yang diajarkan Don Bosco kepada Garelli adalah bagaimana membuat tanda salib. Don Bosco juga memperkenalkan Tuhan kepada Garelli, mengapa Dia menciptakan manusia dan alam semesta, dan mengapa Dia mau menyelamatkan manusia. Setelah beberapa lama Don Bosco pun menyudahi katekismus pertamanya kepada anak muda yang miskin itu, dan Garelli pun meninggalkan sakristi. Sebagai tanda persahabatan dan pertemuan pertama mereka, Don Bosco memberi Garelli sebuah medali Bunda Maria. Anak itu pun berjanji untuk datang lagi ke tempat itu pada hari minggu.

Pertemuan pertama, sentuhan pastoral ala Don Bosco dan pelajaran agama yang begitu sederhana untuk anak seusia Garelli menjadi tonggak baru perjalanan imamat Don Bosco. Itulah hari pertama dan momentum paling awal dimulainya Oratorio. Pada hari itulah, ketika Gereja Katolik merayakan pesta Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda, Don Bosco memulai karya agungnya, melayani anak muda yang miskin dan terlantar. Halaman samping Gereja Santo Fransiskus Asisi beberapa minggu dan bulan ke depan akan dipenuhi anak-anak muda, pulihan, ratusan, dan nanti ribuan. Ya, Don Bosco yakin Bunda Maria telah memulai misi ini dan kepadanyalah Bunda mempercayakan anak-anak muda yang miskin dan terlantar itu.

Seratus enam puluh Sembilan tahun telah berlalu dan karya agung itu masih dilanjutkan oleh ribuan murid Don Bosco di seluruh dunia, imam, bruder, frater, suster, awam, dan jutaan murid-murid di Sekolah Salesian di seluruh dunia.

Selamat mengenang momen agung ini. Da Mihi Animas Cetera Tolle!

2 pemikiran pada “BARTOLOMEUS GARELLI, SI BOCAH MISKIN DAN DON BOSCO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s