JANGAN MENYERAH

Harus kita akui, kalah, menyerah, tidak mau melanjutkan perjalanan hidup, hilang harapan adalah bagian dari pengalaman eksistensial manusia. Disebut eksistensial karena pengalaman ini bagian dari eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia. Kisah perjalanan manusia tidak melulu diwarnai keberhasilan, atau semata-mata kegagalan. Kadang-kadang keberhasilan mewarnai hidup manusia, tetapi dia tidak kehilangan kewaspadaan, bahwa kegagalan tidak berdiam jauh darinya. Di dalam keberhasilan tersimpan kegagalan, demikian pula sebaliknya. Keberhasilan dan kegagalan menjadi satu kesatuan yang membentuk kehidupan manusia. Dialah “yin” dan “yang” diri manusia dalam keutuhannya.

Terlalu banyak kisah hidup kita diwarnai kesuksesan. Sekadar membolak-balik diari tua milik kita ketika masih di bangku SLTA dan membentangkannya jauh ke masa kini, di sini. Perjalanan hidup itu sungguh mengagumkan, kita bergumam dalam hati. Di sepanjang perjalanan itulah kita melihat dengan jelas betapa keberuntungan dan kesuksesan menghiasi hidup kita. Kesuksesan mengangkat hidup kita, mendorongnya jauh ke awan, memosisikan kita dari “nothing” menjadi “something”. Keberhasilan dalam belajar, bisnis, keluarga, membangun jaringan sosial, politik, dan seterusnya. Saat merenungkannya, kita bisa menjadi sangat sentimental. Ah, siapakah aku ini sehingga keberhasilan dan keberuntungan terus menghampiri dan menghiasi hidupku? Apakah semuanya ini sebuah kisah sempurna yang bakal berakhir bahagia? Sementara seorang beriman memeluk keberuntungannya dalam dekapan penuh syukur. Tak ada kata terungkap. Tatapan mata bahagia mengungkapkan seribu kata syukur. “Thank you Lord for everything you have granted to me!”

Keberhasilan dan kisah sukses selalu kita renungkan setelah sekian jauh melangkah dalam hidup. Maka ketika merefleksikannya, kita seakan mendapatkan diri kita berada di penghujung sebuah senja, ketika mentari hendak menyelinap masuk di balik awan. Ketika itu pula, sebelum kesuksesan dan keberhasilan menghipnotis dan menakjubkan kita, malam pun perlahan menghampiri. Dan ketika senja semakin pekat dan menghilang dalam peluk malam, hati dihantui kegalauan dan ketidaknyamanan. Keberhasilan dan kesuksesan yang memesona, di manakah dirimu? Ah, dia beranjak pergi bahkan kita ketika belum sempat menikmatinya.

Bila kegagalan adalah malam yang pekat tanpa bulan, maka dia sedang datang menjemput. Dia tidak menunggu sampai mentari kesuksesan ditelan seluruhnya oleh malam kegagalan. Kesuksesan bahkan bercanda ria dengan kegagalan ketika kita terpaku dalam keberhasilan di kala senja. Dan kegagalan akan menertawai kita ketika kegagalan menjumpai kita masih terpaku meratapi perginya mentari kesuksesan. “Mengapa engkau ingin mempertahankan mentari itu pergi dan berdiri meratapi nasibmu di senja nan kelabu?” “Kakimu berpijak di titik bumi yang tidak ingin mempertahankan jaraknya yang sama dari mentari.” “Pijakanmu bergerak dan berputar, dan ketika pijakanmu menjauhi sang mentari, kamu seakan lupa bahwa gerakan itu akan kembali.” Ya, mentari kesuksesan akan kau songsong lagi. Malam-malammu tidak pernah menjadi kesepian seribu tahun, dan ketika hatimu galau akan kesepian itu, dia tidak akan pernah mau pergi, bahkan ketika mentarimu sedang bersinar terang.

Terlalu banyak contoh betapa orang-orang besar dan tersohor pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Orang Kristiani akan mengingat dengan baik betapa Paulus semula adalah seorang yang gagal. Misinya memberangus dan membinasakan orang-orang Kristen dari tanah Palestina berakhir dengan kisah dramatis pertobatan. Kegagalannya justru menjadi keberhasilannya, ketika Tuhan mengubah hidupnya menjadi “something”, alat, sarana, tugas, perutusan, misi: “Mewartakan Sang Guru yang pernah dibencinya.” Setali tiga uang dengan Si Petrus, si nelayan di Danau Galilea itu yang diangkap Tuhan sebagai pemimpin kawanan rasul setelah kesaksiannya yang menganggumkan mengenai “siapa Sang Guru”, tampak tak berdaya mempertahankan komitmen dan cintanya yang agung kepada Dia. “Bukankah engkau bersama Dia di taman itu?” “Tidak, sama sekali tidak!”

Ah, kegagalan dan keberhasilan begitu dekat. Sangat biasa dan wajar saat keberhasilan merajai hidup ini, kita bersyukur dan berterima kasih. Kita melambungkan doa dan syukur kepada Dia sang junjungan kita. Tetapi ketika kita gagal? Inilah pengalaman yang tidak semua orang bisa menyambutnya dengan suka cita iman. Kemampuan menghadapi kegagalan itulah yang sesungguhnya menakar kedalaman iman dan pengharapan kita. Iman dan pengharapan diuji bukan ketika kita sedang berhasil dan menikmati keberhasilan kita, tetapi ketika kita berada pada titik terendah dan etape gelap hidup ini.

Sama seperti kita “menikmati” dan merayakan kegembiraan dan suka cita bersama teman-teman dan keluarga, seharusnya begitu pula kita bersolider dengan rekan, sesama, atau keluarga yang mengalami kegagalan, yang malam-malam hidupnya terasa panjang dan melelahkan. Doa, pengharapan, dorongan, dan bantuan selayaknya kita persembahkan buat mereka. Pada titik inilah alunan nada nan lembut seorang Josh Groban dalam lagu Don’t Give Up memberi pengharapan itu. Lagu ini “Jangan Menyerah” mencerahkan kita untuk tidak menyerah, tidak semata-mata karena akan segera datang mentari kesuksesan, tetapi kalaupun ketika mentari itu tak kunjung terbit juga, janganlah kita lupa, bahwa “kita dicintai” (you are loved). Benarlah demikian, dan inilah iman terdalam kita, bahwa ketika Bapa sendiri seakan meninggalkan Sang Putra (Eloy Eloy Lama Sabatani!) tergantung di antara langit dan bumi, saat itulah terbit pengharapan kita. Bahwa dalam penderitaan Dia yang tergantung di kayu salib kita beroleh keselamatan.

Suara merdu Josh Groban mengalun perlahan: Don’t give up/It’s just the weight of the world/When your heart’s heavy, I/I will lift it for you/Don’t give up/Because you want to be heard/If silence keeps you, I/I will break it for you/Everybody wants to be understood/Well I can hear you/Everybody wants to be loved/Don’t give up/Because you are loved/Don’t give up
It’s just the hurt/That you hide/When you’re lost inside, I/I’ll be there to find you/Don’t give up/Because you want to burn bright/If darkness blinds you I/I will shine to guide you/Everybody wants to be understood/Well I can hear you/Everybody wants to be loved/Don’t give up/Because you are loved/You are loved/Don’t give up/It’s just the weight of the world/
Don’t give up/Everyone needs to be heard/You are loved
(Sumber: http://www.sing365.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s