HIBURAN MALAM KOTA LEUVEN

Rabu, 10 November 2010. Seuasai kuliah pukul 17:00 seperti biasa teman-teman tawarkan rencana hang-out malam nanti. Apalagi keesokan harinya adalah hari libur nasional Belgia, menikmati malam akan terasa seperti malam minggu. Saya tidak punya gambaran atau rencana untuk datang, apalagi merasa agak lelah. Suhu udara pun terlalu dingin di luar, jadi mungkin lebih baik mengurung diri di kamar, berselancar di dunia maya, mendengar radio, atau sekadar menghabiskan malam dengan bacaan-bacaan ringan.  Tetapi sebenarnya baik juga kalau datang, selain melepas kelehan karena beban kuliah, sharing pengalaman dengan teman-teman dari negara yang berbeda akan selalu menambah wawasan. Sambil berjalan meninggalkan ruang kelas nan dingin di Rumah Sakit St. Petrus, Cyntia Chen, salah satu teman akrabku berkewarganegaraan Inggris kelahiran Malaysia berjalan di sampingku. Dan ketika aku tanya apakah dia kembali ke apartemennya, dia mengatakan bahwa kalau saya mau jalan kaki, dia pun demikian. Akhirnya kita berjalan kaki, ya tidak terlalu jauh, paling sekitar 3 kilometer. Apartemen kami pun saling dekat.

Di perjalanan itulah kami memutuskan untuk menghadiri acara hang-out bareng teman-teman nanti malam. Tanya Cyntia, bagaimana kalau kita bergabung dengan teman-teman nanti malam? Ayolah, jangan terlalu menekuni buku, sekali-kali keluar itu baik. Okelah, kata saya. Sepakat untuk tunggu di halte bis tidak jauh dari apartemen, kami pun meluncur mula-mula ke Pangaea, nama tempat nongrong mahasiswa internasional di KU Leuven. Kami terlambat satu jam, dan ketika tiba, teman-teman nyaris meninggalkan Pangea. Mereka tampak sudah berada di luar gedung.

Bergabung dengan mereka, kami akhirnya memutuskan ke sebuah pub di daerah Grote Markt, tidak jauh dari kampus. Tidak semua teman ikut karena ada yang merasa sudah ngantuk. Maklumlah, sudah pukul 22:00. Kafe itu tampak mulai dipadati mahasiswa. Masing-masing kami mengorder sendiri-sendiri bir atau anggur yang dikehendaki. Hukumnya sudah jelas, bayar sendiri-sendiri. Karena tidak ahli membedakan mana bir yang enak dan mana yang tidak—maklumlah di Indonesia kenalnya cuma Bir Bintang atau Bir Angker—Cyntia mengusulkan saya mencoba sebuah bir lokal, yang ternyata memang enak. Harganya termasuk murah, Cuma 2,8 Euro per gelas (ya, sekitar 30 ribu Rupiah). Enak juga nich, pikirku dalam hati.

Suasana bar sangat hiruk pikuk dan ramai. Suara musik menggemah, bau alkohol tercium di seluruh ruangan. Orang ngobrol dan berteriak seenaknya. Pikirku mungkin karena pengaruh alkohol. Teman-temanku pun demikian. Ketika bir di gelasku belum sempat habis, beberapa teman sudah mengorder gelas kedua, lalu gelas ketiga, lalu campur dengan anggur, lalu jenis minuman lain yang hampir semuanya asing bagi saya. Keadaan makin ramai saja karena kehadiran teman mahasiswa dari Amerika Serikat bersama istrinya dan dua teman suami istri mereka dari negeri Paman Sam. Seperti biasa, orang Amerika tampak dominan menguasai obrolan, dan mungkin itu sudah menjadi semacam etos mereka.

Malam semakin larut ketika dua teman mahasiswa lainnya asal Afrika bergabung. Saya tidak tahu sudah berapa gelas alkohol sudah dikonsumsi teman-teman. Yang aku tahu, gelas di tanganku ini adalah gelas kedua dari dua jenis bir lokal berbeda merek. Ketika semakin banyak mahasiswa datang ke bar itu dan ruangan terasa sangat sumpek, beberapa teman tampak berbicara tidak proporsional, jalan pikiran sudah tidak waras lagi, bahkan ada yang ngomong dengan suara lantang. Saya kira alkohol memang sudah mulai menguasai kami.

Saya berbisik kepada salah satu teman dari Malawi (Afrika) yang juga tidak banyak minum, “Lihat, teman-teman kita sudah mulai mabuk. Ada yang di kelas biasanya diam-diam, tiba-tiba menjadi orang yang sangat rajin berbicara. Logika mereka pun mulai ngawur.” Temanku ini hanya tersenyum. Ia mengiyakan kata-kataku. Tiba-tiba saja, teman mahasiswa lain dari Nigeria mengusulkan ide gila, paling tidak bagi saya, sementara bagi mereka itu sudah biasa. Kata dia, “Bagaimana kalau kita pergi disko . Teman disko kan ada di sebelah bar ini!” Belum selesai ngomong, istri-istri dari dua teman Amerika langsung mengiyakan. Mereka begitu antusias. “Hore, kita akan ke disko sekarang,” sahut mereka. Salah seorang teman bertanya kepadaku, “Kamu ikut juga kan?” “Wah, aku tidak bisa berjoget atau berdisko dan hal semacamnya,” jawabku. “Masa kamu tidak pernah berdansa sama sekali dalam hidupmu? Sekali pun tidak pernah?” timpal temanku dari Nigeria itu. “Ya, saya pernah berjoget dan berdansa, dan itu sewaktu saya menikah. Setelah itu atau sebelum itu memang tidak pernah.” Cyntia tampak kaget dan sepertinya tidak percaya pada kata-kataku. “Ayo, ikut saja. Saya harus ajarin kamu berdansa.” “Not a big deal, then, “jawabku sekenanya.

Menjelang tengah malam ketika udara kota Leuven semakin dingin menusuk ke tulang. Puluhan mahasiswa dan masyarakat semakin banyak saja memadati beberapa kedai kopi dan kedai bir di sekitar kawasan itu. Sementara gedung di balik kedai bir tempat kami menikmati minuman malam itu terdengar gemuruh dentuman musik. Dan ketika rombongan teman-teman memasuki diskotek itu, suasana benar-benar panas dan padat. Orang tidak mudah bergerak karena padatnya pengunjung. Musik terus bergemuruh, lantai diskotek terhentak-hentak. Orang bergoyang ke sana kemari, sepertinya mereka menikmati betul suasana semacam ini. Sambil ikut melantunkan syair lagu, mereka melompat atau berputar badan sambil menunduk ke tanah, atau meninju-ninju tangan ke atas.

Teman-teman menemukan sedikit ruangan kosong di sudut diskotek itu, dan di situlah kami memosisikan diri dan ikut bergoyang. Dalam hatiku, edan juga ya. Seperti orang-orang tidak waras, menggoyang badan, melompat, menunduk, menggoyangkan kepala, mengikuti irama musik. Di tengah himpitan dan padatnya pengunjung itulah aku menemukan diriku ikut menggoyang badan dan berdisko. He..he…he, mainkan saja Bung, mungkin teman-temanku dari Flores akan berkata begitu kalau melihat. Bisik Cyntia, nikmati aja. Ngga usah dipikirkan, karena kalau kau memikirkannya, kau mengambil jarak. Distansia menyulitkan kebersatuan, sementara menikmati musik, tarian, atau karya seni lainnya mensyaratkan bebersatuan. Gila juga ini perempuan beridentitas tidak jelas ini, pikirku dalam hati. Dalam suasana seperti ini masih juga berfilsafat.

Kalau dibilang menikmati benar keadaan itu, saya pikir tidak sepenuhnya benar, karena memang saya tidak bisa menikmati berjoget atau berdisko atau apapun namanya. Malam itu Cyntia memang tidak mengajarkan saya joget atau disko, karena padatnya pengunjung tentu tidak memungkinkan.  Tetapi apakah ketika saya sudah diajarkan, apakah saya akan fasih berdisko dan menikmatinya? Saya kira di sinilah letak masalahnya. Saya kira apa yang dikatakan Cyntia benar, bahwa untuk menikmati karya seni atau menari, distansia harus lebur dalam kebersatuan antara pikiran dan emosi. Distansi sama saja dengan mengobjekkan, memosisikan objek yang dipikirkan sebagai sesuatu di luar pikiran, realitas yang dapat dipahami karena subjek atau si pemikir mengoperasikan berbagai kategori dalam pikiran subjek. Persis di situlah saya kira keterbatasan filsafat yang murni rasionalistis ketika sang filsuf mau meletakan segala realitas yang dihadapi di bawah kategori-kategori pikirannya. Selama mungkin seorang filsuf mempertahankan cara berpikir seperti ini, selama itu pula dia tidak akan menikmati puisi, tarian, disko, atau bahkan obrolan sehari-hari.

Sayup-sayup jarum jam dinding di tembok diskotek itu menunjukkan angka 2:30 pagi, sementara ratusan mahasiswa dan pengunjuk diskotek ini tidak juga beranjak pergi. Ketika beberapa teman sudah tidak tahan lagi karena mabuk, kami pun memutuskan pulang. Pukul tiga lewat dua puluh menit pagi hari, aku baru saja tiba di kamarku setelah mengantar Cyntia ke apartemennya. Kembali kubenamkan diriku di balik selimut yang sudah terlanjur dingin ditinggal sang pemiliknya. Selamat pagi Leuven, malammu ternyata belum berhasil kutaklukkan. Entah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s