KETIKA MUSIM BERGANTI

Kedua foto dengan setting yang sama ini saya ambil dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Foto pertama saya ambil pada akhir bulan Oktober 2010 dan yang kedua pada tanggal 29 November 2010. Tentu perbedaannya tidak terlalu kentara, tetapi kita sebetulnya bisa menyimpulkan bahwa sebelum pembuatan foto pertama, pohon-pohon yang tumbuh di halaman ini daunnya sangat hijau. Sementara “evolusi” foto pertama dan kedua memberikan sedikit gambaran peralihan dari musim panas ke musim dingin. Di Belgia, misalnya, waktu standar musim dingin dimulai pada tanggal 31 Oktober malam di mana waktu GMT secara otomatis ditambahkan (plus) 1 jam.

Naluri manusiawi kita mengatakan bahwa musim memang mengalami perubahan. Peralihan warna dedaunan dari hijau ke kekuning-kuningan kemudian gugur meninggalkan dahan menggambarkan secara sangat indah perubahan itu. Sebagai makhluk hidup dan menjadi bagian dari jaringan kehidupan di kosmos ini, tubuh kita pun menyesuaikan dirinya. Rasa dingin yang kita alami memberitahu kita bahwa musim telah berubah, karena itu lindungilah tubuhmu. Sebagai makhluk beradab, kita melindungi tubuh menggunakan jaket, pakaian khas musim dingin dan sebagainya. Sementara makhluk hidup lainnya pun memiliki mekanisme pertahanan diri yang sama. Jatuhnya daun-daun ke bumi menjadi cara jitu bagi tumbuh-tumbuhan untuk bertahan hidup selama musim dingin.

Itulah naluri kehidupan. Kita mengadaptasi diri dengan perubahan alam demi mempertahankan hidup. Siklus dan hukum ilmiah adaptasi dan seleksi alam pun dengan jitu menjelaskan ini semua. Manusia, satu-satunya makhluk berbudaya memiliki cara jitu mempertahankan kehidupannya. Perhatikan bagaimana orang-orang yang menghuni rumah-rumah di sekitar taman itu. Mereka membangun rumah dengan tembok teramat kokoh, memiliki jendela dan pintu-pintu yang tidak terlalu lebar seperti rumah-rumah di daerah tropis. Ruangan pun diperlengkapi dengan pemanas ruangan yang sanggup mempertahankan suhu kamar sesuai keinginan penghuni, meskipun di luar suhu udara bisa mencapai minus nol derajat. Manusia juga mendesain pakaian khas musim dingin, mulai dari penutup kepala, penutup leher, jeket, kaos tangan, sampai celana khusus atau sepatu khas musim dingin.

Apakah dengan begitu manusia menunjukkan superioritasnya melampaui kemampuan makhluk lain, karena kemampuannya mengkreasi kebudayaan khas manusiawi? Saya rasa tidak. Apa yang kita lakukan demi mempertahankan kehidupan kita berhadapan dengan “ganasnya” perubahan alam menunjukkan kerentanan (vulnerability) kita. Kita ini makhluk hidup yang paling rentan terhadap berbagai perubahan alam, apa yang dalam bahasa kaum religius disebut sebagai kefanaan. Karena kesadaran akan kerentanan itulah kita memaksimalkan senjata terandal yang kita punya, namanya akal budi. Dengan akal budi kita menciptakan kebudayaan, dan dengan akal budi pula kita menjamin keberlangsungan hidup kita di bumi ini. Begitulah, ketika burung-burung gagal di taman samping gereja yang tak jauh dari kamarku melompat ke sana-kemari di tengah dinginnya musim, manusia yang lalu lalang di jalan itu membungkus badan mereka rapat-rapat.

Naluri kehidupan atau dorongan mempertahankan kehidupan memiliki lembar sebaliknya yang tidak suka kita ingat. Dialah ancaman kematian. Mempertahankan kehidupan sama artinya dengan menegaskan diri bahwa kehidupanku mengalahkan kematian. Bahkan dunia modern kita berusaha menghalau jauh-jauh eksistensi kematian itu dengan berbagai cara dan metodenya. Tetapi apakah betul bahwa kita sungguh-sungguh membebaskan diri dari keresahan akan hadirnya kematian itu? Orang Kristen memiliki kebijaksanaan yang sangat dalam. Injil Lukas 21:25-33 menggunakan setting perubahan alam untuk menggambarkan eksistensi kematian. Yesus mengatakan dengan jelas, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja” (ayat 29). Dan Dia melanjutkan, kata-Nya, “Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat” (ayat 30). “Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat” (ayat 31).

Saya kira gambaran peralihan ini dipilih dengan jitu untuk menggambarkan tidak sekadar peralihan perubahan alam, tetapi juga untuk mengingatkan manusia akan sisi lain dari dorongan mempertahankan kehidupan, bahwa karena kerentanan dan kefanaan kita, sisi kematian itu menjadi begitu dekat, bagian utuh tak terpisahkan dari sisi kehidupan yang kita pertahankan mati-matian itu. Persis di situlah saya kira orang Kristen harus berbangga, bahwa setelah kata-kata Sang Guru itu, mereka kini menjadi semakin kuat menghadapi kehidupannya, bahwa di tengah usahanya mempertahankan hidupnya, eksistensi kematian tidak bisa dia abaikan begitu saja. Bahwa sisi kematian itu begitu dekat, menyatu dalam sisi kehidupannya itu sendiri. Dan sebagai pengikut Sang Guru, orang-orang Kristen pun yakin, bahwa kalaupun kematian itu menyatakan dirinya, mereka tidak pernah akan takut menyambutnya.

Ketika naluri kehidupan mendorong manusia mempertahankan dirinya dari serangan musim dingin, kematian yang datang seperti pencuri di malam hari itu pun disiasati orang Kristen dengan iman teguh pada Dia yang memanggil. “Berjaga-jagalah, dan berdoalah selalu supaya kalian kuat mengatasi semua hal yang bakal terjadi dan kalian dapat menghadap Anak Manusia” (ayat 36).

Sayangnya kebijaksanaan hidup ini telah lama sirna dari kehidupan orang-orang yang mendiami rumah-rumah megah nan tertutup di sekitar taman ini. Hanya satu yang mengisi hidup mereka, yakni kehidupan ini harus dipertahankan dan diperpanjang selama mungkin. Dan selama itu pula akan mereka isi dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari “ketakutan” akan kematian. Akankah angkatan ini benar-benar memerdekakan diri dari kematiannya?

Tentu sebuah pertanyaan yang tidak ingin dihadapi orang-orang zaman sekarang, apalagi oleh orang-orang Eropa yang menghayati kehidupannya dalam kenyamanan teramat sangat. Entahlah! Tetapi sebuah kisah imajiner bisa menggambarkan ketidaksanggupan mereka mengelak dari kematian. Konon seorang bapa di salah satu rumah di dekat taman itu memberitahu pembantunya sebelum tidur malam. Katanya, “Bibi, besok pagi jam delapan bangunkan bapa menggunakan kata-kata ini: Tuan, ini aku hambamu. Waktumu berakhir!” Dan pembantu itu pun terbiasa membangunkan majikannya setiap hari, mengulangi kata-kata yang sama. Sampai suatu ketika, saat sang pembantu kembali membangunkan sang tuan, tampak tidak ada reaksi. Sang pembantu pun terus memanggil dan mengulang kata-kata secara cepat, berpuluh-puluh dan beratus-ratus kali sebegitu rupa sehingga kata-kata itu berubah menjadi, “Hamba-Ku, ini aku Tuanmu. Waktumu berakhir!

Ya, waktunya berakhir dan dia tidak sanggup mengelaknya.

Satu pemikiran pada “KETIKA MUSIM BERGANTI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s