Pelajaran Sederhana Dari Anakku (4)

“JANGAN DENGAN TONGKAT DI TANGAN”

Pengantar

4 November 2010, aku baru saja selesai ngobrol dengan anakku melalui chatting yahoo messenger. Ternyata sudah hampir dua bulan saya meninggalkan istri dan putriku, melanjutkan studi setahun di Eropa. Dan seperti biasa, mendidik anak seorang diri dan mendidik anak berdua lengkap sebagai suami istri pasti berbeda, paling tidak dalam hal pilihan pendekatan. Di militer dikenal istilah pendekatan soft power dan hard power. Mungkin istilah ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan pendekatan dalam mendidik dan mendampingi anak-anak kita.

Layaknya anak pada umumnya, anak kami ini juga complain atau mengeluh kalau mamanya terlalu keras dalam mendidik. Saya sangat paham ini, karena istriku seorang guru SD yang dalam mendidik anak kadang lupa kalau dia sedang menghadapi anak sendiri, bukan siswa-siswinya di kelas. Tuntutan seorang guru dengan target yang begitu tinggi, jika diterapkan begitu saja di rumah bisa menimbulkan reaksi kurang senang dari anak-anak sendiri. Dalam arti itulah saya menaruh konteks protes anak kami atas beberapa pendekatan hard power yang diterapkan ibunya.

Ketidaksenangan putri kami tersebut mendorong saya untuk mengemukakan pemikiran saya ini, lebih dalam bentuk sebuah surat. Mudah-mudahan rekan-rekan orang tua lainnya bisa membaca, memberi masukan, bahkan sharing pengalaman di forum ini.

Hindari Hukuman Secara Fisik

Istriku, setelah aku tanya perkembangan sekolahnya, dua hal positif terungkap dari mulut anak kita. Pertama, putrid kita mengakui bahwa sekarang dia sudah lebih baik dalam pelajaran matematika. Katanya dia sudah mengalami kemajuan, matematika mulai dia rasakan bukan sebagai bidang studi yang sulit. Kalau ini benar demikian, saya kira ini kemajuan luar biasa. Paling tidak, ini adalah berita gembira dan optimisme kita, bahwa akhirnya anak kita bisa menemukan caranya sendiri menaklukkan bidang studi yang terasa sulit. Untuk itu saya sangat berterima kasih kepadamu, betapa usaha dan kerja kerasmu—kadang-kadang memang dengan ketegasan melebihi batas—kini mulai menunjukkan hasil. Tentu ini memacu kita untuk terus berjuang, mendidik dan mempersiapkan putri kita lebih baik lagi.

Bagi saya, berita gembira ini semoga benar adanya. Artinya, dari segi ilmu sosial putri kita tidak menemukan kendala berarti. Kita tinggal memperdalam bidang yang sangat dia kuasai ini. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membantu dia berkembang di bidang yang di mana dia mengalami kesulitan, ya tentu di tempat pertama adalah matematika, tetapi saya rasa juga ilmu-ilmu alam non-hafalan lainnya. Dengan begitu pekerjaan besar terus dan sedang menunggu kita.

Kedua, berita gembira lainnya adalah keterlibatan dan kesenangan putrid kita ikut dalam latihan paduan suara. Saya bisa rasakan dari kalimat yang dia ucapkan, tentu dengan ekspresi wajah lugunya dia memberitahu bapanya kalau dia senang sekali ikut paduan suara. Itu katanya untuk persiapan perayaan misa di Gereja Santo Andreas Kedoya, dan ketika aku tanya dia apakah suaranya mulai terbentuk dan mulai bagus, putrid kita mengiyakannya. Dia mengakui kalau suaranya mulai bagus. Ha…ha…ha, siapa sih yang mau mengakui kalau suaranya jelek?

Nah, meskipun saya memberitahu anak kita bahwa tahun depan dia boleh mulai kursus musik, yang ada dalam benakku bukan menjadikan dia seorang artis atau ahli musik. Yang ingin saya katakana adalah mari kita mulai dengan sesuatu yang dia sukai. Kita berpegang teguh pada keyakinan tradisional, bahwa apa yang disukai akan mendorong seseorang untuk terus maju, mengembangkan diri, dan menjadi sangat ahli di bidangnya. Inilah konsep pengembangan profesionalitas berbasiskan bakat. Ini poin-poin positif yang kiranya membuka mata kita untuk melihat hal positif dan amat berharga dalam diri putrid kita.

Tentu hal negatif ada juga, dan itu sudah saya antisipasi karena laporanmu ke aku cukup intensif dan menyeluruh. Berdasarkan laporanmu itu saya lalu menanyakan putrid kita, mengapa belakangan ini dia malas mempersiapkan ulangan. Tanpa memberi alasan, anak kita justru mengakui kesalahannya dan minta maaf. Bagi saya, inilah hal positif yang harus kita kembangkan, bahwa putri kita menyesali hal buruk yang telah dilakukannya. Berulang kali dia minta maaf dan katakan ke saya bahwa dia tidak akan lakukan lagi. Tentu ini tidak berarti bahwa di masa depan anak kita sama sekali tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Omong kosong, karena dia akan melakukan lagi. Tetapi yang penting sekarang dia memiliki kesadaran bahwa apa yang diperbuatnya kemarin tidak kita senangi dan dia meminta maaf. Poin positif inilah yang harus kita kembangkan. Kita mulai memotivasi dia lagi dan terus menerus kita motivasi dia ketika dia tidak suka sama sekali belajar, ketika dia tidak menuruti perintah orang tuanya. Anak usia 9 tahun mulai memiliki karakter pembangkang, tidak disiplin, dan itu poin negatifnya. Tetapi poin positifnya adalah anak usia 9 tahun memiliki komitmen tinggi atas apa yang mereka janjikan dan memiliki rasa malu kalau gagal. Coba minta dia untuk mengingat sekali lagi apa yang sudah dijanjikannya dan mengingatkan dia akan betapa tidak enaknya jika gagal.

Dengan ini lalu saya mau menegaskan sekali lagi, bahwa kita tidak boleh mendidik putri kita dengan kekerasan fisik (hard power). Apa yang sudah terjadi kemarin biarkan itu menjadi masa lampau, dan mari kita sekali lagi berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan fisik. Air mata saya terurai ketika Sisil mengatakan, “Pak, emangnya tidak sakit kalau mama menampar aku!” Saya seakan merasakan juga kesakitan itu (lebai). Saya tahu bahwa kamu mulau menyadari kekeliruan itu dan bertekad untuk tidak mengulanginya, dan saya kira ini kesadaran yang baik. Saya ingin katakana, sikap, tindakan dan apapun yang akan kita ambil terhadap anak kita, mari kita usahakan supaya kita tidak terpengaruh oleh hujatan, masukan, atau informasi dari orang lain. Mari kita coba bangun dialog yang sehat dengan anak kita.

Hindari Rasa Balas Dendam

Hari ini putrid kita juga menceritakan pengalamannya saat berada di Kampus Atma Jaya, Jakarta di mana dia mengatakan bahwa kampus sekarang terasa sumpek karena arena kantin sudah dikelilingi pagar tembok. Saya kira ini bukan isu penting yang mau dia sampaikan karena dia tahu pagar itu sudah dibangun ketika bapanya masih di situ. Karena itu, ketika saya katakana kepada dia bahwa saya sudah tahu itu, dia lalu mengatakan hal lain yang sebenarnya ingin dia katakana. Dan lagi-lagi apa yang dikatakannya itu mencemaskanku.

Dia bilang bahwa dia tidak senang dengan orang-orang di kampus—entah siapa mereka—dan dia ingin sekali memarahi atau bahkan meninju mereka. Tentu saya terkejut karena anak kita menggunakan kata-kata yang mengandung kekerasan atau agresivitas. Ketika aku tanya, dia bilang bahwa orang-orang mengejek dia atau semacam tidak menghargai dia. Agak sulit mengklarifikasi hal ini ke anak kecil, apalagi lingkungan yang dihadapinya adalah lingkungan mahasiswa. Tetapi satu hal saya kira jelas, bahwa ada ketidaksenangan tertentu jika ada orang memperlakukannya secara tidak terhormat. Dan saya pikir ini khas untuk setiap anak-anak seusia anak kita. Saya memberitahu anak kita baik-baik, bahwa tidak baik mengatakan akan menonjok atau membalas dendam kepada orang; dan sepertinya dia mengakui dan berjanji untuk tidak melakukannya.

Tetapi masalahnya kan bukan sekadar itu. Sebagai pendidik (kamu guru dan aku dosen), kita tahu dengan jelas bahwa ada kesadaran baru yang sekarang masuk dalam kehidupan anak kita. Pertama adalah kesadaran akan identitas diri, bahwa dia dengan seluruh keadaannya, tubuhnya, warna kulitnya, kepandaiannya, keterampilannya, adalah sesuatu yang baik. Dan bahwa keadaan itu membuat dia menjadi senang dan bahagia. Ketika ada orang mengatakan hal yang sebaliknya mengenai keadaan dirinya, dia langsung bereaksi karena itu tidak hanya menyakitkan, tetapi menyangkal apa yang dia banggakan.

Kedua, kesadaran balas dendam dan menggunakan kekerasan masuk dalam pikiran anak kita. Apakah ini sesuatu yang buruk? Saya kira harus dipahami bahwa pada usia anak kita ini, konflik dan persaingan dalam diri mereka, termasuk membalas perlakuan buruk orang, sudah ada dan ini sangat alamiah. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak kita tidak boleh memiliki perasaan semacam itu. Yang penting bagi kita sekarang adalah membantu dia untuk perlahan-lahan menyadari betapa balas dendam dengan kekerasan bisa diubah dengan hal yang lebih positif. Dan itulah tugas kita untuk menemukan formula yang tepat bagaimana menyalurkan rasa dendam dan balas dendam itu.

Inilah beberapa pokok pikiran yang bisa saya bagikan kali ini. Saya tidak ingin menjejali kamu dengan berbagai pikiran yang mungkin di sana sini agak membingungkan. Mungkin juga mengabstraksi apa yang kelihatannya sepele. Tetapi harapanku, semoga sharing saya kali ini bisa menginspirasi dan memicu kita semua untuk menemukan trik-trik jitu mendidik dan membina anak kita. Trik tersebut, jika berhasil kan bisa menjadi trik jitu juga untuk membina anak-anakmu di sekolah. Semoga suatu saat nanti kamu setuju dengan pikiran-pikiran suamimu ini. Thank you. I love you full!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s