MENIKMATI MECHELEN

Kota Mechelen hari Jumat pagi, 29 Oktober 2010. Cuaca tampak bersahabat di awal musim dingin. Tidak seperti satu dua hari ke belakang, udara hari ini sangat menyenangkan, berkisar sekitar 10 derajat selsius. Mungkin karena itu warga kota ini terlihat menikmati kehangatan mentari yang hari-hari ini baru menampakkan wajahnya sekitar pukul delapan pagi. Keluar dari stasiun kereta api setelah menempu perjalanan hanya 20 menit dari Kota Leuven, kini aku sedang menikmati keindahan kota lain di negara ini. Seperti biasa, jalanan tampak ramai dengan kendaraan dan lalu lalang warga kota. Sementara di alun-alun kota tampak orang menikmati makan siang. O ya, sekarang sudah hampir jam 12.00, pantas saja perut terasa lapar.

Bagian altar utama Katedral St. Rumbold Mechelen-Brussel.

Sama seperti Leuven, tidak sulit menaklukkan kota seperti Mechelen, bukan karena kota ini terbilang kecil, tetapi karena desain kota-kota kuno di negara ini (mungkin juga di sebagian besar negara-negara Eropa) memiliki kemiripan. Begitu tiba di sebuah kota, segeralah mencari di mana alun-alun kota. Di sana pasti ada tanah lapang, ya semacam ruang publik tempat warga kota bersosialisasi. Tetapi tidak jauh dari situ pasti ada pasar, ada Gereja, dan ada kantor pemerintahan. Jika alun-alun berfungsi sebagai ruang publik tempat warga kota melepas kepenatan, bercakap-cakap sambil minum kopi atau bir di sepankang trotoar sepanjang alun-alun, eksistensi Gereja dan kantor pemerintahan mengingatkan kita tentang konsep kekuasaan zaman dahulu ketika negara dan agama masih sehidup-semati sebagai kekasih.

Bukti arkeologis memberitahu kita bahwa kota Mechelen mulai dihuni sejak zaman besi di Eropa, yakni sekitar tahun 450 SM. Zaman besi Eropa disebut juga zaman La Tene atau kebudayaan La Tene untuk mengingatkan kita bahwa bukti arkeologis inhabitasi kota ini dan kota-kota lainnya di Eropa (terutama di Prancis, Switzerland, Austria, barat daya Jerman, Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria sampai daerah segitiga Brussel-Leuven-Antwerp di Belgia di mana Mechelen persis berada di antaranya) ditemukan di sisi sebelah utara danau Neuchatel di Switzerland oleh Hansli Kopp tahun 1857. Okelah, itu sekadar catatan sejarah.

Begitulah kota ini dan kota-kota di sekitarnya mulai ramai dihuni, kebudayaan pun berkembang pesat sampai Kekaiseran Romawi menguasai seluruh wilayah Eropa sejak abad pertama masehi. Selama abad ketiga sampai abad keempat wilayah ini dikuasai oleh suku-suku Jerman, sebelum dikuasai dan dikristenkan oleh para misionaris Skotlandia. Tentang misionaris terkenal adalah St. Rumbold. Orang kudus yang satu ini tentu sangat terkenal. Setelah ditahbiskan sebagai uskup dengan wilayah kegembalaan simbolis di salah satu daerah di Roma, Beliah bekerja di bawah pengawasan St. Willibrordus di Belanda dan daerah Brabant (sekarang masuk wilayah Belgia). Orang Kudus ini mati sebagai martir di dekat kota Mechelen, dan namanya diabadikan sebagai pelindung Katedral Mechelen-Brussel.

Kota ini berkembang pesat sejak abad ke-14, terutama ketika Antwerpen kehilangan hak istimewa sebagai penguasa perdagangan wol,gandum, dan garam. Raja John II yang berkuasa di Brabant pada tahun 1303 memberikan kewenangan menguasai perdagangan ini kepada kota Mechelen, kebijakan politis yang memicu permusuhan antar Antwerpen dan Mechelen bahkan sampai abad ke-20. Di abad ke-15 kota Mechelen berada di bawah kekuasaan Adipati Burgundi yang de facto membawa kemajuan amat pesat bagi masyarakatnya. Sejak tahun 1473 Charles “si Botak” memindahkan beberapa badan dan kekuasaan politik ke kota ini, dan jadilah Mechelen sebagai kursi Mahkama Superior sampai Revolusi Prancis.

Sisa-sisa kejayaan politis dan pusat niaga masih tampak di sana-sini. Pasar yang tidak jauh dari alun-alun kota dijejali toko-toko yang sekarang umumnya berjualan pakaian, makanan, toko buku, alat-alat elektronik, dan sebagainya. Tentu ini tidak terlepas dari peran yang diemban Kota Mechelen selama akhir abad pertengahan di mana kota ini menjadi ibu kota dari “negara-negara rendah” (low countries), yakni Belanda, Belgia, dan Luksemburg.

Perkembangannya mulai menurun sejak abad ke-16 ketika pusat kekuasaan mulai dipindahkan ke Brussel, kecuali pengaruh dan “kekuasaannya” di bidang agama (Katolik). Tentang hal terakhir ini juga menimbulkan konflik di kemudian hari. Sebagai catatan, tahun 1559 Tahta Suci Vatican mengumumkan status Keuskupan Agung bagi Mechelen. Konflik terjadi bahkan sampai tahun 1961 ketika pusat kekuasaan politik ada di Brussel, sementara Keusukupan Agung disandang oleh sebuah kota yang bukan ibu kota negara. Sebagai jalan tengah, diputuskan untuk memakai nama Keuskupan Agung Mechelen-Brussel, dengan pusat tetap di Kota Mechelen. Katedral Santo Rumbold tetap megah berdiri di jantung kota, kokoh dan sombong seakan tak mau dipindahkan ke Brussel hanya karena sebuah alasan politis semata.

Kota Mechelen memasuki zaman industri pada abad ke-19. Stasiun kereta dan rel-relnya yang menawan menjadi penanda zaman industri ketika kota ini melengkapi diri dengan industri  pembuatan rel kereta api, gerbong, dan industri-industri besi-baja lainnya. Sekarang stasiun Mechelen termasuk stasiun internasional karena dapat menghubungkan berbagai kota besar di Eropa.

Mari kita tinggalkan sejenak uraian historis teramat kaku itu. Bagaimana bisa menikmati kota Mechelen? Gampang! Pergilah ke alun-alun kota, jalan kaki dari stasiun tidak apa-apa. Jaraknya tidak lebih dari 2 kilo meter. Di salah satu sudut alun-alun itu ada kantor turis di mana kita bisa membeli map pariwisata kota dan meminta berbagai keterangan yang dibutuhkan. Di kantor ini petugas dengan ramah menyambut setiap tamu yang datang—tentu harus antri alias jangan nyerobot seperti di daerah kita. Peta seharga 40 Euro bisa dibeli di sini selain kita bisa ambil berapa pun brousur yang kita mau. Yang menarik adalah peta pariwisata itu tidak hanya menunjukkan tempat-tempat pelesiran yang bisa dikunjungi, tetapi memberi prioritas tempat-tempat mana saja yang sebaiknya dikunjungi. Top ten priority, demikianlah kita bisa memutuskan mengunjungi dulu 10 situs pariwisata.

O ya, belum sempat ke kantor turis, saya dan teman saya mampir sebentar, cari makan siang. Kami coba mengecek beberapa restoran sambil membandingkan harga. Maklumlah, di Leuven yang adalah kota pelajar selalu ada menu mahasiswa dengan harga yang berbeda dari menu umum. Di Mechelen tidak kami temukan itu. Ya, tidak apa-apa, sekali-sekali makan siang sampai 15 Euro kan tidak apa-apa. Menu siang setengah ekor ayam panggang dan kentang ternyata membuat perut penuh juga. Karena masih harus mengunjungi tempat-tempat wisata ya tahan diri untuk tidak menikmati bir yang ternyata jauh lebih enak dibandingkan dengan Bir Anker atau Bintang di Indonesia.

Berbekal peta di tangan kami mulai menyusuri kota ini. Mula-mula kami ke Katedral Santo Rumbold. Begitu memasuki katedral ini perasaan tidak bisa lain selain kagum sekagum-kagumnya. Indah sekali katedral ini. Luas bagian dalamnya mungkin 2 setengah kali luas bagian dalam katedral Jakarta. Dihiasi berbagai lukisan di dinding dan di plafon serta beraneka patung orang kudus di tiang-tiang, katedral ini sungguh agung. Seharusnya kita betah beribadah dalam rumah Tuhan ini, aku bergumam. Sementara rekanku yang Muslimah pun tidak kalah kagumnya. Indah sekali, ya, kata temanku. Emang!

Kompleks Beguinages atau Begijnhof.

Berdua menyusuri jalan-jalan di kota ini. Tempat lain yang menakjubkan tentunya adalah bekas “biara” para religius awam yang dikenal dengan nama Beguinages atau begijnhof. Nama ini dihubungkan dengan sebuah gerakan keagamaan yang muncul dan menguat sejak abad ke-12. Sejarawan Belgia, Henri Pirenne menduga bahwa gerakan ini berhubungan dengan terlalu banyaknya kaum perempuan dibandingkan dengan kaum laki-laki yang harus berangkat perang atau mati di medan tempur. Kaum perempuan yang tinggal saja di rumah, dari pada tidak ngapa-ngapain ya berkumpul bersama-sama dan berdoa. Karena mereka adalah orang-orang kaya, mereka mengumpulkan kekayaan mereka, membentuk sebuah kehidupan bersama seperti kehiudupan komunitas di biara, lalu berusaha mengabdi kepada Tuhan dan sesama. Meskipun demikian, kelompok perempuan saleh ini bukanlah biarawati. Mereka boleh meninggalkan kehidupan bersama kapan pun mereka mau.

Ya, kelompok perempuan ini pasti golongan kaum kaya berpunya. Lihatlah saja rumah-rumah yang mereka bangun, memusat di satu tempat seperti layaknya biara-biara. Di kompleks rumah-rumah yang zaman itu pasti sangat elit, selalu saja ada sebuah gereja, tempat mereka berdoa dan memuji Tuhan. Ketika kami masuk ke gereja ini pemandangan tidak kalah indahnya dengan yang di Katedral. Hanya saja gereja ini sedang direnovasi bagian luarnya, jadi agak berantakan. Sementara rumah-rumah yang dulu dihuni para perempuan saleh, kini dihuni oleh keturuan atau keluarga mereka.

Hari sudah semakin sore padahal masih ada banyak situs yang bisa dikunjungi. Ya sudahlah, lain waktu aja. Berjalanlah kami menyusuri jalan meninggalkan gereja tua itu menuju ke ring road. Di sana ada pabrik pembuatan bir Anker. Dari jauh kami sudah mencium bauh anggur. Tempat ini pun cukup menarik karena nilai historisitasnya. Sayang, kami tidak bisa masuk ke pabrik. Kami pun meninggalkan pabrik ini menuju Green Canal alias Kali Hijau. Kenapa namanya begitu, ya? Tampaknya karena air kali ini selalu tampak hijau. Memang airnya tidak sekotor kali-kali di Jakarta sih. Yang menarik, di sepanjang kali ini digunakan sebagai tempat rekreasi, dan bisa dilalui kapal-kapal pesiar. Tidak sempat menyusuri kali ini, kami pun memutuskan pulang kea rah stasiun. Senja perlahan menjemput.

Stasiun Mechelen sore itu semakin padat saja. Maklumlah, hari Jumat sore, jam bubaran kantor dan waktu akhir pekan para mahasiswa pulang ke kota ini setelah belajar seminggu di Leuven. Kata temanku, wah orang lain pulang ke Mechelen, ke rumah mereka, kita justru pulang ke Leuven. Ya, kita harus pulang ke Leuven. Dua puluh menit kemudian berdirilah kami di tepi stasiun Kota Leuven, tempat yang mulai tidak asing lagi bagi kami. Dari sini kami pun mulai menatap kota-kota lain. Sekadar melepas lelah dan pening setelah sepekan berjibaku dengan buku dan komputer.

Thank you, Mechelen. We shall return!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s