TEOLOGI PROSES MENANGGAPI KRISIS LINGKUNGAN HIDUP[1]

Oleh Yeremias Jena

Tugas akhir kuliah ini ditulis ketika kita baru saja menyaksikan sebuah perhelatan akbar Preparatory Commitee (PrepCom) IV di Bali dalam rangka mempersiapkan Eart Summit di Afrika Selatan pada bulan September nanti. Memang ada pro dan kontra atas perhelatan akbar yang menguras lebih dari 35 juta dolar uang negara itu, misalnya seputar keseriusan negara-negara dalam merancang program kerja yang realistis, workable, dan benar-benar siap dilaksanakan. Yang jelas, ada satu keprihatinan besar dan yang sejak konferensi bumi di Rio de Jenairo sepuluh tahun lalu belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Kehancuran bumi tidak menunjukkan tanda-tanda adanya perbaikan. Orang seakan-akan hidup dengan tidak mempedulikan keadaan bumi yang semakin parah ini.

Makalah ini hanyalah sebuah usaha kecil saya untuk mencoba mendialogkan keadaan real yang kita hadapi sekarang ini dengan pemikiran teologi proses dan pemikiran proses Whitehead. Harus diakui di sini bahwa gagasan yang saya ulas di sini jauh dari sempurna. Meskipun demikian, sebagai sebuah langkah awal pemikiran-pemikiran di sini kiranya cukup memiliki kemampuan untuk memicu kesadaran kita bagi studi-studi lebih lanjut dan lebih serius mengenai pemikiran proses dan lingkungan hidup. Tulisan ini akan berturut-turut memaparkan (1) fakta-fakta mengenai kerusakan lingkungan hidup; (2) ketidakcukupan kosmologi Barat dan Timur dalam memahami alam; (3) tempat manusia dalam alam; (4) kepekaan ekologis; dan (5) sebuah penutup singkat.

1.    Pembeberan Fakta

Sangat menggembirakan melihat bahwa media massa kita mulai rajin memberitakan dan mengulas masalah kerusakan lingkungan hidup. Pemberitaan semacam ini bukan saja penting, tetapi memang perlu bagi upaya meningkatkan kesadaran akan adanya krisis atau kerusakan lingkungan hidup yang semakin hari semakin parah. Harus diakui bahwa fakta yang dibeberkan mengenai kerusakan lingkungan hidup dalam tulisan ini jauh dari lengkap, karena hanya diolah dari beberapa koran dan majalah nasional. Meskipun demikian, dari fakta yang terbatas ini kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang mendebarkan, betapa bumi kita sedang menuju kehancuran jika kita bersikap cuek terhadap keselamatannya.

Sarono dalam sebuah tulisan opini di harian Suara Pembaruan membeberkan fakta mengenai kerusakan lingkungan hidup yang sangat memprihatinkan. Pada tingkat dunia disebutkan bahwa pertama, lapisan ozon yang melindungi bumi yang sangat padat penduduknya ini sedang mengalami penipisan dua kali lipat dari yang diperkirakan ilmuwan beberapa tahun sebelumnya. Dan ini didasarkan pada hasil penelitian Sandra Postel yang dibukukan dalam State of the World 1992. Kedua, diperkirakan sekitar 140 jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan sedang mengalami kepunahan setiap hari. Ketiga, tingkat karbondioksida di atmosfer yang merupakan perangkap panas sekarang 26 persen lebih tinggi dari konsentrasinya pada zaman pra-industri, dan keadaan ini akanterus meningkat. Keempat, permukaan bumi menjadi lebih panas dalam tahun 1990-an dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sejak pencatatan panas bumi mulai dilakukan sejak pertengan abad 19, tahun 1990-an tetap tercatat sebagai tahun paling panas sejak tahun 1980. Kelima, hutan mengalami pemusnahan dengan kecepatan sekitar 17 juta hektar per tahun. Keenam, penduduk bumi bertambah sekitar 92 juta per tahun, dan dari jumlah tersebut 88 juta jiwa merupakan penambahan penduduk yang terjadi di negara-negara berkembang.[2]

Keadaan bumi dan lingkungan hidup tidak menjadi lebih baik setelah sepuluh tahun sejak Sandra Postel menuliskan laporannya itu. Yang terjadi sekarang adalah semakin meningkatnya kerusakan hutan dan pemanasan global, pencemaran lingkungan, dan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia. Mengenai hal yang terakhir ini dicatat bahwa pada penghujung abad 20 penduduk dunia meningkat dari 6 – 7 miliar jiwa menjadi 10 – 14 miliar jiwa. Pada akhir abad 21 jumlah penduduk dunia diperkirakan meningkat 90 persen dari jumlah tersebut. Dan ironis bahwa sebagian besar penduduk tersebut tinggal di negara-negara dunia ketiga.

Kerusakan lingkungan hidup yang paling kasat mata terjadi di Indonesia adalah masalah deforestasi. Indonesia selama ini memang dikenal sebagai salah satu negara yang sangat kaya akan berbagai jenis spesies. Diperkirakan bahwa hutan hujan tropis yang dimiliki Indonesia mengandung sekitar 4000 jenis pohon (267 di antaranya adalah jenis kayu komersial). Selain itu, hutan hujan tropis di Indonesia juga menjadi tempat tinggal 500 jenis mamalia dan 1500 jenis mamalia.

Yang mengejutkan adalah bahwa kawasan hutan asli yang masih tersisa di Indonesia hanya sekitar 53 juta hektar dengan kemampuan lestari hanya 220 juta meter kubik per tahun dengan tingkat eksploitasi sebesar 70 juta meter kubik per tahun. Laju deforestasi adalah 3 – 4 juta hektar per tahun atau sekitar 11.122 hektar per hari, atau 246, 9 hektar per jam. Sementara itu, kebakaran dan pembakaran hutan selama tahun 1997 – 1998 telah merusak 10 juta hektar hutan. Proyek lahan gambut di Kalimantan memusnahkan 500 ribu hektar hutan. Sekitar 104 jenis burung, 57 mamalia, 21 jenis reptil, 65 jenis ikan tawarm dan 218 jenis tumbuhan terancam punah.

Dengan otonomi daerah deforestasi menjadi semakin parah. Sebagaimana kita ketahui, dengan adanya otonomi daerah maka pengusahaan hutan sekarang dialihkan ke kabupaten. Para pejabat di daerah tingkat dua sekarang merasa seperti menjadi raja-raja kecil yang menguasai sepenuhnya sumber-sumber alam di sana. Yang terjadi di Kutai Barat, misalnya, hanya dalam hitungan bulan sudah ditandatangani 662 surat izin hak pengusahaan hutan (HPH) untuk areal hutan berskala 100 hektar. Bukan tidak mungkin bahwa kesenjangan antara kebutuhan akan pasokan kayu oleh industri-industri kayu dewasa ini dengan pemasokan kayu itu sendiri akan menguras habis hutan-hutan kita.[3]

Semua fakta yan dikemukakan di sini belum termasuk pemanasan global di Indonesia. Yang disinyalir mampu menenggelamkan pulau-pulau kecil dan mempersempit wilayah daratan[4] atau tingginya tingkat polusi udara di kota-kota besar yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti peningkatan kardiovaskular pada perokok serta peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorkan pada penderita asma dan bronkitis.[5]

Dalam rangka sumbangan teologi proses bagi “pengatasan” krisis lingkungan hidup kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai relevansi data-data tersebut di atas. “Semua data tersebut mau mengatakan apa?” Dengan mengulangi kata-kata para reporter Majalah TEMPO yang meliput perhelatan Preparatory Commitee (PrepCom) Ivm 27 Mei – 7 Juni 2002 di Bali dalam mempersiapkan Earth Summit pada bulan September nanti Johanesburg (Afrika Selatan), dapat dikatakan bahwa seluruh yang dibeberkan di atas hendak menyadarkan kita tentang keadaan bumi yang sedang menuju ke kehancuran. Saya mengutip para reporter TEMPO tersebut:

“Jika kita bayangkan bumi ini sebuah kapsul angkasa yang mengarungi waktu entaj sampai kapan, hari ini kapsul itu kian penuh sesak oleh penumpang, sedangkan volumenya tidak bisa bertambah. Rasa khawatir mulai menghinggapi [kita] karena makin lama kapsul ini terlihat makin kelelahan menanggung beban. Udara, tanah, dan air, semuanya terkurung polusi.”[6]

Sekarang saatnya kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar yang membantu kita masuk ke dalam posisi teologi proses itu sendiri. “Mengapa manusia seakan-akan bersikap ‘cuek’ dan membiarkan alam ini semakin rusak? “Mengapa manusia mau merusak alam?” Jika kerusakan alam ini dipahami sebagai sebuah krisis, mengapa krisis tersebut terjadi?” Dalam konteks teologi proses, John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin akan menjawab bahwa krisis lingkungan hidup terjadi karena pandangan dunia (kosmologi tradisional) yang tidak memadai baik di dunia Barat maupun di dunia Timur. Pandangan dunia yang tidak memadai dan pentingnya mengubah pandangan dunia akan menjadi fokus bagi uraian berikut ini.

2.    Ketidakcukupan Pandangan Dunia Barat dan Timur dan Sumbangan Kosmologi Saintifik

John B. Cobb, Jnr dan David Roy Griffin melihat bahwa kkrisis atau rusaknya lingkungan hidup terjadi karena perilaku manusia baik di Barat maupun di Timur yang mendasarkan diri pada paham mengenai dunia (kosmologi) yang tidak memadai atau yang tidak pro lingkungan hidup. Orang-orang Barat (Kristen) sampai dengan abad pertengahan memahami waktu secara sempit. Mereka percaya bahwa alam semesta diciptakan hanya beberapa ribu tahun sebelum Kristus, bahwa akhir dunia sudah dekat, dan bahwa bumi adalah pusat alam semesta sementara benda-benda langit lainnya bergerak mengelilinginya.

Apa yan salah dengan pandangan dunia semacam ini? Kosmologi semacam ini menjadi gambaran bagaimana orang-orang Kristen menghayati hidupnya di dunia. Dunia ini pertama-tama diciptakan oleh Allah dan dipercayakan pengelolaannya kepada manusia. Bahwa waktu yang diberikan Allah Sang Pencipta kepada manusia untuk hidup adalah sangat terbatas (sempit). Waktu selalu dipahami sebagai waktu suci, waktu yang telah ditebus Kristus demi menyelamatkan umat manusia. Jadi, manusia harus memanfaatkan waktu yang singkat tersebut secara baik demi keselamatannya. Apa yang diperbuat seseorang saat ini akan mendapat ganjaran pada waktu yang akan datang. Meminjam pemahaman Heidegger, orang-orang Kristen menghayati kehidupan mereka sebagai “ada menuju kematian”.

Teologi proses melihat bahwa pandangan dunia semacam ini tidak dapat diandalkan untuk mengatasi krisis lingkungan hidup atau bahkan justru melanggengkan praktik-praktik pengrusakanalam itu sendiri. Pertama, konsep mengenai waktu yang sifatnya singkat dan harus diisi sebaik-baiknya demi keselamatan manusia harus diakui telah membawa masyarakat Barat kepada program-program yang sifatnya mendesak (crash programmes) dalam mengatasi masalah-masalah yang sifatnya mendesak, misalnya pengatasan kemiskinan dan kelaparan dunia. Bagi teologi proses, program yang tampaknya baik ini sebetulnya tidak lebih dari tindakan pragmatis tanpa pertimbangan-pertimbangan yang lebih luas atau tanpa menimbang konsekuensi-konsekuensi jangka panjang apa yang akan timbil karena tindakan-tindakan tersebut.

Kedua, teologi proses juga melihat bahwa pemahaman tentang waktu seperti ini telah memunculkan model pembangunan ekonomi lima tahunan yang buta terhadap konsekuensi-konsekuensi yang mungkin akan timbul di kemudian hari, bahkan dalam rentang waktu lima puluh tahun sekalipun. Yang lebih para adalah model pembangaun ini tidak hanya menutup mata terhadap konsekuensi yang akan timbul, tetapi juga semakin mengeruk sumber-sumber bumi kita.

Peringatan (warning) ini sungguh-sungguh dirasakan gaungnya sekarang ini. Di Indonesia misalnya, pembangaun yang dilakukan selama ini memang bersifat sangat pragmatis dan tidak ramah lingkungan. Belum lama berselang Jakarta ditimpah musibah banjir, dan salah satu sebabnya adalah hilangnya daerah penyerapan air karena pembangunan di daerah Pantai Indah Kapuk. Mengenai hal ini, Emil Salim berpendapat bahwa pada tahun 1980-an ketika proyek tersebut mulai digagas, sudah ada peringatan dari Kementrian Lingkungan Hidup bahwa akan terjadi banjir pada 10 – 20 tahun mendatang jika daerah tersebut jadi dibangun. Dan orang tidak percaya ini karena anggapan bahwa ramalan itu adalah sesuatu yang masih terlalu jauh, hal yang tidak real.[7] Tentang sikap yang pragmatis ini John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin menulis, “The sense of urgency is justified, but it must not be translated into crah programmes to solve loca and temporary needs. It must find form in a breakthrough in a completely new way of living that can make possible a decent for  the human species in a rich and supportive biological context.”[8]

Sementara itu, kosmologi dunia Timur (India) juga dikritik oleh teologi proses sebagai yang tidak mampu mengatasi krisis lingkungan hidup. Kosmolofgi India memahami skala ruang dan waktu sebagai sesuatu yang sangat luas. Menurut pemikiran India, dunia ini tidak memiliki awal dan akhir, misalnya awal menuju titik akhir tertentu atau ada menuju kematian dan kebangkitan jiwa menurut paham kekristenan. Bagi pemikiran India, awal semacam ini tidak dapat dibayangkan. Bagi pemikiran India, paham mengenai dunia yang memiliki awal dan akhir hanya menegaskan adanya dimensi pluralitas, di mana dunia ini tidak lain sebagai kumpulan dunia-dunia yang banyak jumlahnya. Pemikiran India menolak kosmologi semacam ini karena hanya akan memperpanjang rantai lahir dan mati seseorang. Pluralitas itu menyesatkan dan tidak membantu dalam proses kelahiran kembali menuju wujud yang semakin baik.

Satu hal dari kosmologi India yang sangat dikritik teologi proses adalah paham mengenai ketenangan jiwa dan ketidaklekatan pada dunia. Bagi teologi proses, semangat seperti ini justru menutup mata terhadap bencana-bencana yang sedang dihadapi manusia di dunia, bencana-bencana yang sebenarnya tidak hanya mengancam kehidupan pada umumnya, tetapi juga keberlangsungan hidup spesies manusia itu sendiri. Masalah-masalah serius sebagaimana telah dikemukakan di atas tidak akan atau akan sulit sekali diatasi dengan menanamkan pikiran yang tenang dan pengambilan jarak dari realitas.[9] Teologi proses melihat bahwa tragedi-tragedi yang menimpah bumi seperti peracunan nuklir atas  bumi atau pengrusakan lapisan ozon tidak dapat ditampung dalam kosmologi India.

Jika teologi proses menawarkan sebuah kosmologi baru atau kosmologi saintifik yang dapat menjadi acuan pemikiran yang proporsional dalam memahami dan/atau mengatasi krisis lingkungan hidup, pemikiran semacam ini tentu saja didasarkan pada pemikiran-pemikiran Whitehead sendiri mengenai alam dunia (kosmologi). Kritik terhadap kosmologi Barat (Kristen) sampai dengan abad pertengahan jelas diasalkan pada kritik Whitehead mengenai cara berpikir yang substansial. Kosmologi Barat tradisional mewariskan pengaruh kosmologi lama yang dikembangkan sejak Aristoteles yang melihat adanya substansi di bawah pengada-pengada yang sedang mengada. Substansi itulah yang menjadi dasar bagi keberadaan pengada-pengada lainnya. Adanya manusia dan pengada-pengada lainnya harus menyesuaikan diri dengan kehendak dari substansi (prima principium) tersebut.[10]

Pemikiran substantif menegaskan bahwa hanya substansi yang independen sementara yang lainnya bersifat dependen. Padahal, menurut Whitehead, segala sesuatu yang ada (benda, tumbuhan, binatang, manusia, Tuhan) merupakan satuan-satuan aktual yang terus bergerak secara dinamis, saling berelasi (interconected). Dan bahwa dalam relasi yang dinamis tersebut mereka menentukan identitas diri masing-masing, tetapi bukan identitas diri yang statis-substantif, tetapi identitas diri yang terus menjadi secara dinamis. Di sini tampak bahwa bahkan Tuhan pun tidak berhak menentukan identitas diri orang lain dalam consequent nature of God-nya. Manusia dan pengada-pengada lain berhak menentukan lingkungannya (ruang dan waktu) sendiri serta bagaimana menghidupi ruang dan waktu tersebut. “The organism can create their own environment,” demikian Whitehead.[11]

Pandangan Whitehead dan teologi proses seperti ini akan sangat membantu dalam mengatasi krisis lingkungan hidup dewasa ini. Menurut Whitehead, merusak lingkungan hidup, bahkan mahkluk yang paling rendah tingkay enjoyment-nya seperti atom dan molekul sekalipun sama saja  dengan melakukan tindakan bunuh diri sendiri. “Any phisical object which by its influence deteriorates its environment, commits suicide.”[12] Kita hanya dapat mengada dan menjadi dalam sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai macam mahkluk, mulai dari yang paling rendah enjoyment-nya sampai kepada manusia. Dan bahwa enjoyment setiap mahkluk diperoleh karena relasi dan proses menjadi dengan dirinya sendiri (mahkluk memiliki nilai-nilai intrinsik) maupun dengan mahkluk-mahkluk lainnya (mahluk memiliki nilai-nilai ekstrinsik). Ini juga yang menjadi alasan mengapa teologi proses sangat mengeritik crash programmes sebagai buah dari pemikiran ruang dan waktu a la Barat yang sempit. Setiap crash programme jatuh ke dalam memperlakukan orang lain semata-mata sebagai alat dan bukan tujuan pada dirinya sendiri. Dengan menggarisbawahi Kant, John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin menulis kritik yang sangat tajam mengenai hal ini:

“….we should treat other human being as ends in themselves, not merely as means to our own ends. Accordingly, if all actualities, not simply human ones, are constituted by the enjoyment of experience, and hence are to some degree ends in themselves, then we should, to the appropriate degree, treat them as ends and not merely as means to our ends.”[13]

Sementara itu, kiranya kritik terhadap kosmologi Barat diasalkan pada pemahaman Whitehead mengenai pluralitas dan eksistensi manusia di alam. Berbeda dengan pandangan India yang memusuhi pluralitas, whitehead justru “mempertahankan adanya pluralitas atau kemajemukan realitas.”[14] Pertama-tama setiap satuan aktual penting pada dirinya, tetapi yang menghayati individualitasnya hanya melalui relasinya dengan satuan-satuan aktual lainnya. Berdasarkan cita-cita diri yang bersumber pada Tuhan setiap satuan aktual menentukan dirinya sendiri, tetapi dalam relasinya dengan satuan-satuan aktual lainnya. Sikap dingin dan mengambil jarak terhadap alam semesta (dunia) serta tidak peduli terhadap harapan dan kecemasan dunia justru bertentangan dengan kodrayt manusia itu sendiri. Mengenai hal ini, John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin menulis:

“…we exist for all in community and establish relative independence within it… . Participation and individuality are polar, so that the more we participate with others in community the more we can become individuals, and the mor we become individuals, the more richly we participate in community.”[15]

3.    Manusia dan Alam

Teologi proses berpendapat bahwa subordinasi alam (lingkungan) di bawah sejarah berakar dari paham kitab suci—terutama Perjanjian Baru—yang sangat kecil menaruh perhatian pada alam. Sejauh pemahaman saya mengenai teologi proses cukup akurat, saya mengalami kesulitan untuk menemukan alasan mengapa dikatakan bahwa Perjanjian Baru memberi sedikit sekali perhatian mengenai alam. Meskipun demikian, kesimpulan semacam ini bukan merupakan gagasan yang baru sama sekali. Von Rad dalam bukunya Old Testament Theology[16] juga berpendapat bahwa Perjanjian Baru memang tidak berbicara mengenai alam sebagai realitas yang independen pada dirinya. Alam selalu dihubungkan dengan gagasan mengenai ruang tempat di mana Injil diwartakan. Alam bagi Perjanjian Baru adalah tempat tinggal manusia, tempat Tuhan bertindak dan manusia melakukan sesuatu secara bertanggung jawab. Dunia tidak bernilai pada dirinya sendri. Dunia bersifat antroposentris, dalam arti mengalami perubahan sejalan dengan perubahan sejarah manusia.

Pada Paulus misalnya, alam dilihat sebagai penciptaan yang berdimensi Kristosentris. Alam dan sejarah berada di bawah kuasa tindakan penciptaan dan penyelamatan Ilahi. Alam diciptakan oleh Tuhan (Kis 17:24; 4:24). Seluruh penciptaan bersifat Kristosentris (Kol 1:15-17). Tidak ada satu halpun di dunia ini yang terpisah dari Kristus. Tuhan telah menciptakan dunia di dalam Kristus Sang Alfa dan Omega (Why 1:8). Kenyataan ini yang menyebabkan ahli teologi seperti von Rad berpendapat bahwa alam terus-menerus dilalui dan diresapi oleh kebaikan ilahi yang selalu menang. Dunia tidak dapat dipandang dalam kekuatannya sendiri, namun selalu terkait dengan hubungan asalnya yang dinamis dengan Tuhan. “Kristosentrisme alam semesta menegaskan kebenaran mutlak alam semesta, yang tidak terbatas hanya pada fungsi-fungsi seperti ilmu-ilmu pengetahuan lain. Tuhan berkarya dalam kedalaman tenaga-tenaga alam dan tersembunyi dalamkeputusan-keputusanmanusia.”[17]

Saya melihat bahwa pemahaman mengenai alam seperti ini menempatkan “kekuasaan” yang terlalu besar pada pihak Allah. Allah di sini dilihat sebahai yang memiliki kuasa penciptaan dan penyelamatan, sementara alam dan sejarah berada di bawah kuasa penciptaan dan penyelamatan tersebut. Pandangan seperti ini mau tidak mau menempatkan Allah sebagai actus purus, yakni Allah yang sejak awal telah mengaktualkan atau mewujudkan semua nilai yang mungkin. Dalam konteks teologi proses, pandangan semacam ini sangat menekankan independensi total Allah. Teologi proses berpendapat bahwa “Although the possible values will subsit in God, they subsist as merely posible values, not as actualized. They are posible values for finite realization. They are in God only conceptually, or in the mode of appetion, not phisically, or in the mode of enjoyment.”[18]

Jika kita menyimak pandangan Whitehead sendiri mengenai siapa Yesus, maka jelas bahwa pandangan bahwa alam semesta dan segala isinya harus diletakkan di bawah kuasa total Allah atau pun Yesus memang harus ditolak. Meskipun dunia diciptakan dan dipersatukan di dalam diri Sang Putra, Yesus sendiri tidak bermaksud menunjukkan atau menjalankan kekuasaannya atas alam semesta. Dalam Religion in the Making Whitehead menulis, “The life of Christ is not an exhibition of over-ruling power. His glory is for those who can discern it, and not for the world. Its power lies in its absence of force. It has the decisiveness of a supreme idea.”[19]

Inilah pandangan Whitehead mengenai Yesus Kristus, ia yang meskipun memiliki kekuasaan karena telah diserahkan Allah kepadanya, kekuasaanya itu tidak dalam arti controling power atau dalam level primordial nature of God, tetapi kekuasaan pada level consequent nature of God. Sebagaimana menjadi penekanan teologi proses, kekuasaan Yesus tidak bersifat koersif tetapi persuasif. Dengan menampilkan kekuasaan di dalam ketidakberadayaan dan pengosongan diri atau cinta kasih kepada semua mahkluk, Yesus justru menampilkan kekuasaannya yang persuasif tersebut. Setiap satuan aktual akan menemukan cita-cita diri (subjective aims) dalam kekuasaan semacam ini dan menentukan identitas dan perilaku hidupnya, sama seperti Yesus sendiri yang hanya mampu menemukan identitas dirinya di dunia dan dalam relasinya dengan manusia dan seluruh isi alam semesta.

Konsekuensinya jelas, orang Kristen yang mendasarkan hidupnya pada diri Yesus tetapi bersikap despotik terhadap alam sebetulnya memiliki pemahaman mengenai Yesus pada tahap yang paling tradisional. Mereka barangkali mengenal ajaran Yesus sebagaimana diwartakan oleh Kitab Suci atau para bapa gereja, tetapi mereka belum bertemu dengan Yesus sebagai pribadi. Yesus sebagai prtbadi adalah dia yang mengosongkan dirinya, dia yang memiliki kekuasaan dalam ketiadaan kekuasaan, dia yang mengajarkan cinta kasih yang sama untuk semua mahkluk.

4.    Kepekaan Ekologis

Setelah mempertimbangkan beberapa butir pemikiran teologi proses mengenai alam (lingkungan hidup) berhadapan dengan pemahaman yang tidak proporsional dari kosmologi Barat dan Timur, kita sekarang hendak menjawab pertanyaan ini, “Berhadapan dengan krisis lingkungan hidup yang akut tersebut dan dengan mempertimbangkan posisi teologi proses, sikap apa yang harus diambil?” Dalam teks yang saya analisa John B. Cobb dan David Ray Griffin mengusulkan sikap kepekaan ekologis. Bagaimana sikap ini dapat dipahami?

Pemahaman mengenai apa itu ekologi memang sangat dekat bahkan menggarisbawahi baik pandangan Whitehead maupun teologi proses. Ernest Haeckel, seorang biolog berkebangsaan Jerman memahami ekologi sebagai “the body of knowledge concerning the economy of nature – the investigation of the total relation of the animal both to its inorganic and to its organic environment.” Di sini tampak bahwa ekologi tidak lain sebagai ilmu yang mempelajari mengenai ekosistem, yakni sistem rumah (tempat tinggal). Sementara ada juga yang berpendapat bahwa ekologi tidak lain sebagai ilmu mengenai komunitas. Dari pemahaman mengenai ekologi semacam inilah para ahli ekologi mengenai manusia lalu berpendapat bahwa ekologi manusia “is attempt to articulate ecological theory to encompass humanity while at the same time attempting to give a place to the distinctive cgaracteristics of humans.[20]

Kesadaran ekologis hanya akan berjalan jika kita sudah menolak pandangan kosmologi tradisional, sempit, unilinear dan yang tidak pro lingkungan. Dan ini sudah dilakukan oleh teologi proses. Kesadaran ini akan membawa kita kepada pemahaman bahwa setiap kejadian di alam muncul dari berbagai macam peristiwa yang saling mempengaruhi, bahwa segala sesuatu yang ada di alam, mulai dari yang paling rendah tingkat enjoymentnya sampai manusia berada di dalam satu sistem yang saling mempengaruhi, dan bahwa merusak atau bahkan merekayasa ekologi demi kepentingan kapitalisme tidak hanya akan merusak keseimbangan alam tetapi juga membunuh diri sendiri. Sama seperti Whitehead menolak paham mengenai alam yang bersifat materialistis dan mekanistis,[21] ekologi juga menolak hal yang sama. Arran Gare mengutip pendapat von Humboldt yang tepat sekali menggambarkan hal ini, “All the organisms and forces of nature may be seen as one living, active whole, animated by one sole impulse.” Kesadaran eologis akan membawa kita kepada pemahaman bahwa

“The forms of life are not ‘finished work’ but always forms becoming, and their ‘potency to be otherwise’ is an immediate aspect of their internal constitution — i.e. of their representative function – and not something to be added to them. Their ‘potency’ is ‘self-derived,’ in that it is inherent in their identity with the whole. The becoming that belongs to this constitution is not a process that finishes when it reaches a certain goal but a condition of existence – a necessity in order to remain the same.[22]

Memang teologi proses mendeskripsikan secara tepat bahwa pandangan dunia yang tidak proporsional dalam kosmologi Barat dan Timur telah membawa dunia kepada kehancuran. Dan bahwa kalau kita memiliki kepedulian kepada keselamatan dunia maka mau tidak mau cara pandangan yang lama tersebut harus ditinggalkan. Kalau kita membaca trend-trend teologi lingkungan hidup dewasa ini juga menggarisbawahi hal yang kurang lebih sama. Jadi dapat dikatakan bahwa hal ini telah menjadi kesadaran yang cukup umum dalam gereja. Kita tidak boleh lupa bahwa upaya untuk memahami kitab suci secara proporsional, misalnya yang pro lingkungan hidup, pun terus dilakukan. Pemahaman yang sempit atas Kitab Kejadian 1 dan 2 misalnya, sudah mulai berubah.

Tantangan bagi keselamatan lingkungan hidup sekarang tampaknya tidak lagi datang dari pandangan agama atau kitab suci yang tidak pro lingkungan tetapi justru datang dari para ekonom. Arran Gare berpendapat bahwa para ekonom sekarang menggantikan peran yang dulu pernah dimainkan oleh para imam dan biarawan di abad pertengahan. Artinya bahwa apa yang mereka katakan sudah pasti diikuti. Yang fatal adalah ketika mereka memutuskan sesuatu yang pelaksaannya  selalu didukung oleh kekuasaan politik ternyata membawa dampak negatif bagi kelangsungan hidup di muka bumi. Oleh karena itu, perang terhadap upaya pengrusakan lingkungan hidup sekarang ini harus diarahkan kepada upaya keras kita dalam menolak pemikiran-pemikiran para ekonom yang seringkali pragmatis dan tidak holistik itu. Filsatat ataupun teologi proses dapat memainkan peran yang besar di sini.

5.    Penutup: Tanggung Jawab dan Pengharapan

Dewasa ini kita melihat semakin banyak muncul tuntutan akan perubahan kehidupan yang layak dan semakin diperkaya. Pola-pola produksi kita yang destruktif serta konsumsi sudah sangat parah. Jika kita benar-benar peduli pada masa depan planet kita, maka kita bisa saja menjadi putus asa berhadapan dengan kebobrokan yang ada. Masalahnya adalah jika mereka yang putus asa itu adalah orang-orang yang paling memiliki kepedulian dan pemahaman yang baik mengenai lingkungan hidup atau alam kita, maka akan ada sedikit sekali pengharapan. Karena jika kita putus asa, kita tidak mengambil bagian secara bertanggung jawab di dalam apa yang harus dikerjakan.

Semua ajaran kekristenan menolak dengan tegas keputusasaan ini. Dan kebanyakan ajaran kekristenan bermaksud untuk mendorong terjadinya partisipasi yang bertanggung jawab di dalam apa yang harus dikerjakan. Meskipun demikian, ajaran kekristenan seringkali gagal memenuhi maksudnya, sehingga kritik-kritik kekristenan seringkali difitna sebagai  yang tidak mendorong tindakan yang bertanggung jawab ini. Orang seringkali mengatakan bahwa pertama, ajaran kekristenan dapat tidak mendukung tindakan yang bertanggung jawab dengan menawarkan keyakinan (confidence) sebagai pengganti harapan (hope). Jika kita bertindak sekarang di dalam sebuah situasi yang urgen, kita perlu percaya bahwa ada kemungkinan-kemungkinan di masa depan yang terus terbuka yang dapat mengatasi krisis lingkungan hidup yang sedang kita hadapi sekarang ini. Akan tetapi, jika kita diajarkan bahw tidak ada  bahaya yang nyata yang perlu ditakuti, dan bahwa segalanya akan beres, maka ini hanya mau mengatakan bahwa kita boleh melakukan apa yang harus dilakukan tetapi menghindari tanggung jawab. Kita tidak perlu bertanggung jawab karena Tuhanlah yang menentukan segala-galanya, termasuk hasil akhir apa yang mau dicapai. Konsekuensi dari gagasan ini adalah bahwa kita hanya melakukan tanggung jawab yang kecil, sementara tanggung jawab yang besar diserahkan saja kepada Tuhan.

Kedua, banyak ajaran kekristenan juga yang melemahkan tindakan yang bertanggung jawab ketika menempatkan tanggung jawab yang penuh ke atas umat manusia. Kita diberitahu bahwa Allah menyerahkan dunia ini kepada kita. Jenis pandangan ini memahami Allah secara deistis sebagai yang menciptakan dunia dan prinsip-prinsip yang melaluinya kita harus bertindak dan kemudian menempatkan kita sebagai pelaku-pelaku yang bebas di dunia. Di sini seluruh beban ditanggungkan kepada kita dan tidak ada sama sekali bantuan Allah. Di sini tidak ada alasan bagi kita untuk mengharapkan masa depan tindakanmanusia yang berbeda secara radikal dari masa lampau. Di sini juga kita tidak dapat meletakkan pengharapan. Di mana tidak ada pengharapan barangkali masih ada tanggung jawab. Akan tetapi, tanggung jawab yang dilaksanakan tanpa pengharapan adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul. Ini tidak memotivasi perubahan sikap dan praktik yang diperlukan.

Kedua pandangan yang sempit ini harus ditolak jika kita mau membangun tanggung jawab dalam membangun dunia yang manusiawi dan yang membawa kepada kebaikan semua mahkluk hidup. Tindakan-tindakan orang kristen harus mengandung dua hal sekaligus. Di satu pihak ada kebebasan sementara di lain pihak ada tanggung jawab. Keduanya ini tidak dapat dipisahkan. Teologi proses berpendapat bahwa semakin manusia bebas dan bertanggung jawab maka tindakan manusia akan semakin mampu membedakan (discern) tindakan-tindakan Allah dari tindakan-tindakan manusia.

Bagi teologi proses, masa depan memang sungguh-sungguh terbuka, dan ini berarti tidak ada jaminan bahwa manusia akan menghindari semua sarana yang tersedia sekarang yang dapat dipakai untuk menghancurkan kehidupannya sendiri. Bahaya ini bersifat nyata, dan sikap yakin bahwa Allah akan mencegah horor yang paling buruk justru merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab. Allah yang mengizinkan Auschwitz akan mengizinkan juga segala sesuatu kepada ciptaannya. Allah bertindak di dalam mereka dan memalui mereka.

Akan tetapi, kenyataan bahwa masa depan sungguh-sungguh terbuka juga berarti penghancuran-diri bukan tidak dapat dihindari. Allah bertindak di dalam dan melalui ciptaannya. Keterbukaan kepada masa depan tidak berarti bahwa masa depan tersebut sekarang ini tidak dapat diramalkan karena kompleksnya faktor-faktor atau karena satu unsur perubahan yang masuk ke dalamnya. Masa depan terbuka secara jauh lebih radikal. Apa yang telah terjadi sampai sekarang tidak melenyapkan realitas kemungkinan, dan karena Allah maka beberapa dari hal tersebut merupakan kemungkinan-kemungkinan yang belum disadari. Dan ini berproses sebagai daya tarik yang efektif (effective lures) bagi pengejawantahan mereka. Allah menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk memutuskan kebiasaan-kebiasaan, untuk melihat segalanya secara berbeda, dan untuk membayangkan apa yang belum pernah diimpikan. Allah berkarya untuk membuka orang lain supa tanggap kepada visi-visi baru dan untuk mewujudkannya. Sejauh kita membolehkan Allah untuk melaksanakan hal ini, maka Allah akan membuat segalanya baru. Demikianlah, Allah lalu menjadi dasar pengharapan kita.

Ini berarti bahwa kita harus percaya pada Allah. Mempercayai Allah bukan menjadi jaminan bahwa apapun juga yang kita lakukan semuanya akan terjadi dengan baik. Ini hanyalah keyakinan bahwa panggilan Allah adalah bijak dan baik. Kita membuat diri kita menjadi peka atas panggilannya supaya dapat dibimbing oleh dia. Ini adalah kesediaan yang diperbarui untuk menaggalkan kemapanan yang kita alami dalam gagasan-gagasan yang kita telah terbiasa dan kebiasaan-kebiasaan serta masuk ke dalam petualangan dari kehidupan kita, bahkan ketika kita tidak dapat melihat terlebih dahulu hasil akhir yang kita cita-citakan. Kepercayaan (trust) lalu menjadi tanggung jawab yang otentik, yakni kemampuan untuk menanggapi situasi konkret dan panggilan Allah yang cukup spesifik di dalam situasi kongkret tersebut.

Allah menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang membawa kita kepada hidup baru uang kita kehendaki. Allah menarik (lures), mendorong, dan mempengaruhi. Kita yang kemudian memutuskan. Kita memilih hidup jika kita memutuskan untuk masuk ke dalam realitas yang di dalamnya Allah memanggil kita. Kita memilih kematian jika kita menolak tawaran Allah, dan dengan demikian masuk ke dalam kematian yang terus-menerus dalam hidup dan turut menyumbang bagi kematian planet bumi. Pilihan atas hidup yang adalah pilihan atas panggilan Allah merupakan kebebasan tertinggi dalam dirinya dan menyediakan dasara bagi penyebaran kebebasan. Penolakan atas kehidupan mengungkapkan perhambaan dari masa lalu dan perhambaan bagi diri kita sendiri; dan ini mengurangi secara progresif kemampuan kita untuk hidup dalam kebebasan. Pengharapan bertumbuh sejalan dengan kemampuan kita dalam menanggapi panggilan Allah dan keputusasaan muncul ketika pilihan kita memilih untuk menutup diri dari horizon-horizon.

Menjadi bertanggung jawab di dalam konteks teologi proses tidak berarti bahwa kita memikul semua beban yang tidak terpikulkan. Yang dimaksud adalah berbagi di dalam petualangan ilahi di dunia. Meskipun hasil akhirnya tidak pernah kita pastikan, dan meskipun ini menuntut pengorbanan dari banyak bentuk enjoyment di masa lampau, di dalam dirinya sendiri ini sudah merupakan suatu yang menggembirakan. Dia yang mengalami kegembiraan berkat partisipasi di dalam kehidupan ilahi ini berharap untuk mencapai kesuksesan, tetapi menerima risiko bahwa satu-satunya ganjaran ada di dalam kegembiraan itu sendiri.

***


DAFTAR PUSTAKA

Cobb, Jnr., John B., dan David Ray Griffin, Process Theology: An Introdutory Exposition, Christian Journal Limited Belfast, Westminster Press, UK, 1976.

Chang, William, Moral Lingkungan Hidup, Kanisius, Yogyakarta, 2001.

Whitehead, Alfred North, Science and The Modern World, The Macmillan Company, England, 1925.

Sudarminta, J., Filsafat Proses. Sebuah Pengantar Sistematik Filsafat Alfred North Whitehead, Kanisius, Yogyakarta, 1991.

Australasian Journal of Process Thought. Vol 1 dan 2. Dalam: www.alfred.north.whitehead.com

Harian Umum Suara Pembaruan, 24 dan 25 April 2002)

Majalah TEMPO, edisi 2 Juni 2002.


[1] Makalah akhir untuk mata kuliah Filsafat Kontemporer (Teologi Proses) pada Program Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, 2002 di bawah asuhan Prof. Dr. J. Sudarminta, SJ.

[2] Harian Umum Suara Pembaruan, 26 April 2002

[3] Majalah TEMPO edisi 2 Juni 2002. Industri-industri kayu di Indonesia mampu melahap 56 juta meter kubik kayu per tahun, sementara pasokan kayu baru mencapai 20 juta meter kubik. Dengan demikian, industri kayu di Indonesia benar-benar sedang dalam keadaan lapar.

[4] Harian Umum Suara Pembaruan, 25 April 2002.

[5] Data Bapedal tahun 2002 misalnya, menyebutkan bahwa udara Jakarta baik untuk dihirup hanya dalam 10 hari per tahun, sementara Pontianak yang sering mengalami kebakaran hutan memiliki 4 hari setahun sebagai kategori berbahaya dan 1 hari sebagai yang sangat tidak sehat. Majalah TEMPO, edisi 2 Juni 2002, h. 104.

[6] Ibid, h. 100.

[7] Majalah TEMPO, edisi 2 Juni 2002, h. 109.

[8] John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin, Process Theology: An Introductory Exposition, Christian Journal Limited Belfast, UK, 1977, h. 147.

[9] Ibid, h. 145.

[10] Bdk J. Sudarminta, Filsafat Proses. Sebuah Pengantar Sistematik Filsafat Alfred North Whitehead, Kanisius, Yogyakarta, 1991, h. 55-56.

[11] Whitehead, Science and The Modern World, Op.cit., h. 114.

[12] Ibid, h. 112.

[13] John B. Cobb dan David Ray Griffin, op.cit., h. 77.

[14] J. Sudarminta, Op.cit., h. 51.

[15] John B. Conbbs dan David Ray Griffin, Op.cit, h. 83.

[16] Dikutip dari Dr. William Chang, OFMCap, Moral Lingkungan Hidup, Kanisius,Yogyakarta, 2001, h. 51-57.

[17] Ibid, h. 53.

[18] John B. Cobb dan David Ray Griffin, Op.cit., h. 63.

[19] Dikutip dari John B. Cobb, Jnr dan David Ray Griffin, Op.cit., h. 97.

[20] Semua pandangan yang saya kutip di bagian ini diambil dari karya Arran Gare, Human Ecology, Process Philosophy and The Global Ecological Crisis. Dalam: Australasian Journal of Process Thought, Vol. I, June 2000. Naskah ini saya download dari www.alfred.north.whitehead.com.

[21] Lih. J. Sudarminta, Op.cit., h. 51

[22] Ibid

2 pemikiran pada “TEOLOGI PROSES MENANGGAPI KRISIS LINGKUNGAN HIDUP[1]

  1. Sangat menarik mengupas perspektif Barat dan perspektif Timur dalam menghadapi krisis lingkungan hidup saat ini, untuk kemudian merefleksikannya dalam konteks kekinian. Perspektif Barat yang didominasi oleh budaya patriarkhi, dan dijustifikasikan dengan pemahaman teologis (ala Barat) hanya mengeksploitasi sebanyak-banyaknya, dan akibatnya sangat mengerikan (seperti yang kita rasakan saat ini). Sedangkan perspektif Timur, khususnya Asia, sebenarnya menawarkan harmonisasi antara “yin dan yang” sehingga lingkungan alam sekitar tidak boleh hanya dieksploitasi, tapi juga dijaga dan dipelihara demi kelangsungan hidup manusia. Menurut saya, kita dapat menggali kearifan lokal – yang menempatkan bumi dan alam sekitar sebagai seorang ibu yang harus dijaga dan dipelihara kelangsungan hidupnya – karena dia adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya. Misalnya pemahaman orang Papua tentang alam sekitar dan lingkungan. Terimakasih atas sharingnya.

    1. Terima kasih, ya. Sungguh bagus dan tepat tanggapannya. Well, makalah ini adalah tugas kuliah waktu S-2 dulu, sudah lama banget, dan sekarang saya tidak mendalami (lagi) masalah etika atau teologi lingkungan, teologi feminis, ekoteologi, dan semacamnya, jadi tidak punya gambaran lainnya. Tetapi apa yang Maryati katakan di sini saya kira tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s