EPICURUS MERENUNGKAN KEMATIAN

Pengantar

Kuliah hari ini (19 Oktober 2010) di Fakultas Filsafat, Katholieke Universiteit Leuven (KUL) sangat spesial karena 3 alasan. Pertama, Profesor Rudi Visker yang membawakan kuliah ini sangat ahli di bidangnya dan memiliki reputasi internasional. Publikasinya tersebar di berbagai jurnal filsafat seantero dunia. Sang professor pun menjadi pembicara di mana-mana. Kedua, ahli pemikiran Martin Heidegger dan Emmanuel Levinas ini membawakan tema kuliah kematian, bukan dengan mempertanyakan “Is there life after death?” tetapi “is there death after life?” Menurut saya, tema ini menarik karena kemampuan sang professor mensintesakan pemikiran Epicurus, Socrates, Heidegger, Levinas, Hinduisme, dan Kekristenan mengenai kematian. Ketiga, dari sudut pandang para peserta kuliah yang berasal dari institusi kedokteran dan kesehatan, secara tidak langsung sang professor membuka pemahaman mengenai kematian yang sangat berbeda. Ketika okupasi seluruh profesi kedokteran adalah merawat, menjaga, dan memperpanjang kehidupan, jangan-jangan upaya dan teknologi memperpanjang kehidupan adalah bagian dari ketakutan (anxiety) menghadapi kematian. Ketika apa yang dijalankan dokter selama ini seakan-akan klop dengan pandangan masyarakat modern tentang imortalitas kehidupan (menghindari kematian), pertanyaan sang profesor dan jawabannya yang diberikan dalam kuliah menjadi bermakna: “Is there death after life?”

Setelah kuliah saya berusaha memahami pemikiran Profesor Visker tersebut; dan saya kira salah satu cara supaya bisa menangkap seluruh argumentasinya adalah membaca secara terpisah pemikiran para filsuf yang dia sebutkan dan pandangan mereka mengenai kematian. Itulah yang saya lakukan dengan menuliskan pandangan Epikurus mengenai kematian sebagaimana tersaji di blog ini. Saya tidak yakin apakah ada waktu untuk menuliskan pandangan filsuf-filsuf lain mengenai kematian. Saya ada satu makalah khusus membahas pandangan Heidegger tentang kematian tetapi tidak saya bawa ke Eropa, jadi tidak bisa saya upload di blog ini. Ketika kembali nanti akan saya upload dan bagikan itu ke pembaca. Filsuf-filsuf lainnya? Insya Allah, jika ada waktu akan dituliskan kemudian. So, selamat membaca!

***

Paragraf ketiga Surat (Letter) kepada Menoeceus, Epicurus menulis, “Biasakan dirimu untuk meyakini bahwa kematian tidak berpengaruh apa-apa pada kita, karena yang baik (good) dan yang buruk (evil) mengandaikan adanya kemampuan kita untuk merasakan sesuatu, padahal kematian adalah ketiadaan semua perasaan demikian. Karena itu, pemahaman yang tepat bahwa kematian tidak berpengaruh apa-apa pada kita membuat kehidupan yang fana (mortality of life) ini menjadi bisa dinikmati, bukan dengan menambahkan pada kehidupan waktu yang tak-berbatas, tetapi dengan menyingkirkan hasrat akan kekekalan (immortality). “

Mengap Epicurus memiliki pandangan demikian mengenai kematian? Mengapa dia menekankan pentingnya membebaskan diri dari perasaan takut akan kematian? Apakah perasaan takut akan kematian akan lenyap jika bukan sesuatu yang eksis? Jika kematian diposisikan sebagai salah satu dari seluruh rangkaian peristiwa eksistensial kehidupan manusia, tampaknya pemahaman Epicurus mengenai kematian harus ditempatkan dalam keseluruhan pemahamannya mengenai kehidupan. Kehidupan itu sesuatu yang alamiah (natural thing), memiliki berbagai peristiwa (event), ada kelahiran, ada kematian, ada pertumbuhan dan perkembangan, ada yang mengalami perubahan dari kecil menjadi besar, dari muda menjadi tua. Kenyataan alamiah ini harus diterima sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri, dan sebagai salah satu peristiwa dari kehidupan, kematian memang akan datang; dia akan dialami. Tetapi mengapa manusia merasa takut menghadapi kematiannya?

Di zaman Epicurus, orang Yunani sangat takut akan kematian. Mereka takut akan jenis kehidupan yang akan mereka alami atau masuki setelah kematian dan hukuman Hades, dewa kematian dalam mitologi Yunani. Dewa Hades (Άδης atau ΐδας; dari kata Bahasa Yunani δης, Hadēs, yang artinya “yang tak kelihatan”) dipercaya sebagai penguasa langit dan bumi, termasuk dunia di bawah bumi, penguasa atas udara dan lautan. Kematian membuat seseorang meninggalkan kehidupannya dan berpindah ke dunia orang mati (selain berarti penguasaan akan suatu wilayah/dominion, Hades juga menunjukkan lokalitas/tempat), sebuah dunia (realm) orang mati  yang gelap dan menakutkan, di mana semua orang mati akan “diadili” dan diganjar dengan kutukan (curse) atau hadiah (reward).

Bagi Epicurus, mengapa harus takut pada kematian? Ketakutan pada kematian adalah kebodohan (foolishness). Yang penting adalah kehidupan dan dan yang terpenting adalah bagaimana mengisi kehidupan, dan bukan menyia-nyiakan waktu untuk tidak melakukan sesuatu apapun karena takut akan kematian. Bagi dia, kehidupan itu lebih berharga karena hanya dalam kehidupanlah manusia memiliki kemampuan menginderai, kemampuan merasakan sesuatu. Dan hanya melalui kemampuan menginderai (sensation) manusia sanggup membedakan manakah hal yang baik yang harus dia lakukan dan manakah hal yang buruk yang tidak boleh dilakukan. Sebagai peristiwa (event) atau salah satu rangkaian kehidupan, kematian menurut Epicurus adalah “the privation of all sentience”. Kematian memang akan datang dan menghampiri setiap manusia, tetapi dia tidak boleh ditakuti, karena keadaan kematian membebaskan kita dari kemampuan membedakan manakah yang baik dan manakah yang buruk. Takut akan hukuman Hades adalah kebodohan. Bagaimana mungkin seseorang menghadapi dan merasakan hukuman Hades ketika kematiannya adalah sebuah keadaan tanpa kemampuan menginderai?

Menurut Epicurus, membebaskan diri dari ketakutan akan kematian akan membuat manusia fokus pada bagaimana mengisi kehidupan. Dalam kata-kata Epicurus sendiri, “… a correct understanding that death is nothing to us makes the mortality of life enjoyable, not by adding to life a limitless time, but by taking away the yearning after immortality.” Jelas bagi dia, kehidupan itu sendiri sesuatu yang fana (mortal), keadaan (state of affair) yang harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan (enjoyable), bukan dengan mendambakan semacam kehidupan tanpa batas waktu (kekekalan)—imajinasi ini muncul karena ketakutan akan hukuman Hades—tetapi dengan menyingkirkan jauh-jauh perasaan kekekalan semacam itu. Dalam bahasa sehari-hari tampaknya Epicurus mau mengatakan, “Dari pada menyiksa diri dalam ketakutan akan kematian dan hukuman setelah kematian, lebih baik kita menjalankan kehidupan sekarang yang lebih menyenangkan.”

Bagi Epicurus, pandangan mengenai kematian dan sikap yang tepat dalam menghadapi kematian inilah yang kemudian menjadi dasar filosofis membangun, mengatur, mengelola, dan mengisi kehidupan. Seperti halnya filsuf Yunani lainnya, Epicurus pun mewarisi pandangan bahwa tujuan tertinggi yang ingin dicapai manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan.

Kehidupan lebih berharga dari kematian, karena dalam kehidupanlah kita bisa merasakan sesuatu dengan panca indera kita. Menurut Epicurus, hal atau dorongan yang paling alamiah dari kehidupan manusia adalah perasaan nikmat (pleasure) dan sakit (pain). Berbeda dengan kematian, secara alamiah manusia tidak hanya mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit, tetapi juga berusaha memaksimalkan kenikmatan dan meminimalkan atau menghilangkan rasa sakit. Ditempatkan dalam konteks usaha manusia mencapai kebahagiaan melalui melakukan yang baik dan menghindari yang buruk, kenikmatan dan maksimalisasi kenikmatan adalah “baik” (good) dan sakit adalah sesuatu yang buruk.

Pertanyaannya, apakah yang Epucurus maksudkan dengan mengusahakan dan memaksimalisasikan kenikmatan (pleasure) serta mengurangi atau meminimalisasi rasa sakit (pain)? Apakah kenikmatan yang dia maksudkan sama dengan kenikmatan sebagaimana dipahami manusia sehari-hari? Merenungkan sekali lagi surat Epicurus kepada Menoeceus, tampak jelas bahwa manusia tidak sekadar mengejar kenikmatan demi alasan kenikmatan itu sendiri. Tulis Epicurus, …since pleasure is our first and native good, for that reason we do not choose every pleasure whatsoever, but will often pass over many pleasures when a greater annoyance ensues from them.” Ambil sebagai contoh, minum alkohol memang bisa mendatangkan kenikmatan bagi seseorang, tetapi apakah karena alasan itu seseorang harus minum beralkohol? Epicurus jelas mengatakan bahwa dalam hal tertentu kita bahkan bisa menunda kenikmatan demi suatu kenikmatan yang lebih besar. Dalam contoh di atas, menunda kenikmatan alkohol karena ingin menabung demi membeli rumah baru akan mendatangkan kenikmatan yang jauh lebih besar. Mekanisme menimbang kenikmatan yang jauh lebih besar ini akan terus berulang bahkan bisa mencapai alasan yang sangat tidak material. Misalnya, seorang ksatria berani bertarung melawan musuh di hadapan publik demi kehormatan dan harga diri (dalam tradisi kerajaan, misalnya). Jelas, harga diri” sesuatu yang sangat immaterial.

Sekali lagi kita mengutip Epicurus, “When we say, then, that pleasure is the end and aim, we do not mean the pleasures of the prodigal or the pleasures of sensuality, as we are understood to do by some through ignorance, prejudice, or willful misrepresentation. By pleasure we mean the absence of pain in the body and of trouble in the soul. It is not an unbroken succession of drinking-bouts and of revelry, not sexual lust, not the enjoyment of the fish and other delicacies of a luxurious table, which produce a pleasant life; it is sober reasoning, searching out the grounds of every choice and avoidance, and banishing those beliefs through which the greatest tumults take possession of the soul.”

Mempraktikkan ajaran Epicurus, seseorang dituntut memiliki kebijaksanaan (wisdom) untuk membedakan manakah yang baik dan manakah yang buruk. Kembali ke konsep di atas, yang baik adalah yang mendatangkan kenikmatan, tidak dalam arti memenuhi seluruh kenikmatan, karena ada kenikmatan yang justru menghasilkan ketidaknikmatan. Sementara yang buruk atau yang mendatangkan rasa sakit tidak seluruhnya buruk, karena membiarkan diri mengalami sakit justru dapat menghasilkan kenikmatan yang jauh lebih besar. Di sinilah kebijaksanaan (wisdom) sangat dibutuhkan, terutama dalam menimbang dan memutuskan tegangan antara yang baik dan yang buruk. Di awal suratnya Epicurus mengatakan, “Let no one be slow to seek wisdom when he is young nor weary in the search of it when he has grown old. For no age is too early or too late for the health of the soul. And to say that the season for studying philosophy has not yet come, or that it is past and gone, is like saying that the season for happiness is not yet or that it is now no more.” Hanya dengan tak henti-hentinya belajar seseorang akan dapat menjadi filsuf dalam arti menjadi orang yang selalu tidak puas dengan berbagai jawaban dan terus mencari jawaban terdalam dari berbagai pertanyaan dan persoalan hidup. Hanya orang dengan karakter seperti inilah yang sanggup mencapai kebahagiaan, karena mampu membedakan antara perbuatan yang baik yang mendatangkan kenikmatan dan perbuatan buruk yang menimbulkan rasa sakit.

Pandangan mengenai kematian dan tawaran Epicurus untuk fokus pada kehidupan sangat jelas. Bahwa kematian sebagai sebuah “event” memang bagian dari kehidupan manusia. Tetapi keadaan itu tidak perlu ditakuti karena tidak mendatangkan atau menimbulkan kenikmatan dan rasa sakit apapun. Tubuh yang mati adalah tubuh yang dingin dan kaku, tubuh yang telah berubah dari “seseorang” (person) menjadi “sesuatu” (thing). Orang bijak (wise man) akan menyibukkan diri dengan bagaimana membedakan yang baik (pleasurable) dan yang buruk (painful) dan bertingkah laku menurut pertimbangan moralnya itu. Hanya dengan cara demikian seseorang akan mencapai kebahagiaan.[]

 

Paragraf ketiga Surat (Letter) kepada Menoeceus, Epicurus menulis, “Biasakan dirimu untuk meyakini bahwa kematian tidak berpengaruh apa-apa pada kita, karena yang baik (good) dan yang buruk (evil) mengandaikan adanya kemampuan kita untuk merasakan sesuatu, padahal kematian adalah ketiadaan semua perasaan demikian. Karena itu, pemahaman yang tepat bahwa kematian tidak berpengaruh apa-apa pada kita membuat kehidupan yang fana (mortality of life) ini menjadi bisa dinikmati, bukan dengan menambahkan pada kehidupan waktu yang tak-berbatas, tetapi dengan menyingkirkan hasrat akan kekekalan (immortality). “

Mengap Epicurus memiliki pandangan demikian mengenai kematian? Mengapa dia menekankan pentingnya membebaskan diri dari perasaan takut akan kematian? Apakah perasaan takut akan kematian akan lenyap jika bukan sesuatu yang eksis? Jika kematian diposisikan sebagai salah satu dari seluruh rangkaian peristiwa eksistensial kehidupan manusia, tampaknya pemahaman Epicurus mengenai kematian harus ditempatkan dalam keseluruhan pemahamannya mengenai kehidupan. Kehidupan itu sesuatu yang alamiah (natural thing), memiliki berbagai peristiwa (event), ada kelahiran, ada kematian, ada pertumbuhan dan perkembangan, ada yang mengalami perubahan dari kecil menjadi besar, dari muda menjadi tua. Kenyataan alamiah ini harus diterima sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri, dan sebagai salah satu peristiwa dari kehidupan, kematian memang akan datang; dia akan dialami. Tetapi mengapa manusia merasa takut menghadapi kematiannya?

Di zaman Epicurus, orang Yunani sangat takut akan kematian. Mereka takut akan jenis kehidupan yang akan mereka alami atau masuki setelah kematian dan hukuman Hades, dewa kematian dalam mitologi Yunani. Dewa Hades (Άδης atau ΐδας; dari kata Bahasa Yunani δης, Hadēs, yang artinya “yang tak kelihatan”) dipercaya sebagai penguasa langit dan bumi, termasuk dunia di bawah bumi, penguasa atas udara dan lautan. Kematian membuat seseorang meninggalkan kehidupannya dan berpindah ke dunia orang mati (selain berarti penguasaan akan suatu wilayah/dominion, Hades juga menunjukkan lokalitas/tempat), sebuah dunia (realm) orang mati  yang gelap dan menakutkan, di mana semua orang mati akan “diadili” dan diganjar dengan kutukan (curse) atau hadiah (reward).

Bagi Epicurus, mengapa harus takut pada kematian? Ketakutan pada kematian adalah kebodohan (foolishness). Yang penting adalah kehidupan dan dan yang terpenting adalah bagaimana mengisi kehidupan, dan bukan menyia-nyiakan waktu untuk tidak melakukan sesuatu apapun karena takut akan kematian. Bagi dia, kehidupan itu lebih berharga karena hanya dalam kehidupanlah manusia memiliki kemampuan menginderai, kemampuan merasakan sesuatu. Dan hanya melalui kemampuan menginderai (sensation) manusia sanggup membedakan manakah hal yang baik yang harus dia lakukan dan manakah hal yang buruk yang tidak boleh dilakukan. Sebagai peristiwa (event) atau salah satu rangkaian kehidupan, kematian menurut Epicurus adalah “the privation of all sentience”. Kematian memang akan datang dan menghampiri setiap manusia, tetapi dia tidak boleh ditakuti, karena keadaan kematian membebaskan kita dari kemampuan membedakan manakah yang baik dan manakah yang buruk. Takut akan hukuman Hades adalah kebodohan. Bagaimana mungkin seseorang menghadapi dan merasakan hukuman Hades ketika kematiannya adalah sebuah keadaan tanpa kemampuan menginderai?

Menurut Epicurus, membebaskan diri dari ketakutan akan kematian akan membuat manusia fokus pada bagaimana mengisi kehidupan. Dalam kata-kata Epicurus sendiri, “… a correct understanding that death is nothing to us makes the mortality of life enjoyable, not by adding to life a limitless time, but by taking away the yearning after immortality.” Jelas bagi dia, kehidupan itu sendiri sesuatu yang fana (mortal), keadaan (state of affair) yang harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan (enjoyable), bukan dengan mendambakan semacam kehidupan tanpa batas waktu (kekekalan)—imajinasi ini muncul karena ketakutan akan hukuman Hades—tetapi dengan menyingkirkan jauh-jauh perasaan kekekalan semacam itu. Dalam bahasa sehari-hari tampaknya Epicurus mau mengatakan, “Dari pada menyiksa diri dalam ketakutan akan kematian dan hukuman setelah kematian, lebih baik kita menjalankan kehidupan sekarang yang lebih menyenangkan.”

Bagi Epicurus, pandangan mengenai kematian dan sikap yang tepat dalam menghadapi kematian inilah yang kemudian menjadi dasar filosofis membangun, mengatur, mengelola, dan mengisi kehidupan. Seperti halnya filsuf Yunani lainnya, Epicurus pun mewarisi pandangan bahwa tujuan tertinggi yang ingin dicapai manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan.

Kehidupan lebih berharga dari kematian, karena dalam kehidupanlah kita bisa merasakan sesuatu dengan panca indera kita. Menurut Epicurus, hal atau dorongan yang paling alamiah dari kehidupan manusia adalah perasaan nikmat (pleasure) dan sakit (pain). Berbeda dengan kematian, secara alamiah manusia tidak hanya mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit, tetapi juga berusaha memaksimalkan kenikmatan dan meminimalkan atau menghilangkan rasa sakit. Ditempatkan dalam konteks usaha manusia mencapai kebahagiaan melalui melakukan yang baik dan menghindari yang buruk, kenikmatan dan maksimalisasi kenikmatan adalah “baik” (good) dan sakit adalah sesuatu yang buruk.

Pertanyaannya, apakah yang Epucurus maksudkan dengan mengusahakan dan memaksimalisasikan kenikmatan (pleasure) serta mengurangi atau meminimalisasi rasa sakit (pain)? Apakah kenikmatan yang dia maksudkan sama dengan kenikmatan sebagaimana dipahami manusia sehari-hari? Merenungkan sekali lagi surat Epicurus kepada Menoeceus, tampak jelas bahwa manusia tidak sekadar mengejar kenikmatan demi alasan kenikmatan itu sendiri. Tulis Epicurus, …since pleasure is our first and native good, for that reason we do not choose every pleasure whatsoever, but will often pass over many pleasures when a greater annoyance ensues from them.” Ambil sebagai contoh, minum alkohol memang bisa mendatangkan kenikmatan bagi seseorang, tetapi apakah karena alasan itu seseorang harus minum beralkohol? Epicurus jelas mengatakan bahwa dalam hal tertentu kita bahkan bisa menunda kenikmatan demi suatu kenikmatan yang lebih besar. Dalam contoh di atas, menunda kenikmatan alkohol karena ingin menabung demi membeli rumah baru akan mendatangkan kenikmatan yang jauh lebih besar. Mekanisme menimbang kenikmatan yang jauh lebih besar ini akan terus berulang bahkan bisa mencapai alasan yang sangat tidak material. Misalnya, seorang ksatria berani bertarung melawan musuh di hadapan publik demi kehormatan dan harga diri (dalam tradisi kerajaan, misalnya). Jelas, harga diri” sesuatu yang sangat immaterial.

Sekali lagi kita mengutip Epicurus, “When we say, then, that pleasure is the end and aim, we do not mean the pleasures of the prodigal or the pleasures of sensuality, as we are understood to do by some through ignorance, prejudice, or willful misrepresentation. By pleasure we mean the absence of pain in the body and of trouble in the soul. It is not an unbroken succession of drinking-bouts and of revelry, not sexual lust, not the enjoyment of the fish and other delicacies of a luxurious table, which produce a pleasant life; it is sober reasoning, searching out the grounds of every choice and avoidance, and banishing those beliefs through which the greatest tumults take possession of the soul.”

Mempraktikkan ajaran Epicurus, seseorang dituntut memiliki kebijaksanaan (wisdom) untuk membedakan manakah yang baik dan manakah yang buruk. Kembali ke konsep di atas, yang baik adalah yang mendatangkan kenikmatan, tidak dalam arti memenuhi seluruh kenikmatan, karena ada kenikmatan yang justru menghasilkan ketidaknikmatan. Sementara yang buruk atau yang mendatangkan rasa sakit tidak seluruhnya buruk, karena membiarkan diri mengalami sakit justru dapat menghasilkan kenikmatan yang jauh lebih besar. Di sinilah kebijaksanaan (wisdom) sangat dibutuhkan, terutama dalam menimbang dan memutuskan tegangan antara yang baik dan yang buruk. Di awal suratnya Epicurus mengatakan, “Let no one be slow to seek wisdom when he is young nor weary in the search of it when he has grown old. For no age is too early or too late for the health of the soul. And to say that the season for studying philosophy has not yet come, or that it is past and gone, is like saying that the season for happiness is not yet or that it is now no more.” Hanya dengan tak henti-hentinya belajar seseorang akan dapat menjadi filsuf dalam arti menjadi orang yang selalu tidak puas dengan berbagai jawaban dan terus mencari jawaban terdalam dari berbagai pertanyaan dan persoalan hidup. Hanya orang dengan karakter seperti inilah yang sanggup mencapai kebahagiaan, karena mampu membedakan antara perbuatan yang baik yang mendatangkan kenikmatan dan perbuatan buruk yang menimbulkan rasa sakit.

Pandangan mengenai kematian dan tawaran Epicurus untuk fokus pada kehidupan sangat jelas. Bahwa kematian sebagai sebuah “event” memang bagian dari kehidupan manusia. Tetapi keadaan itu tidak perlu ditakuti karena tidak mendatangkan atau menimbulkan kenikmatan dan rasa sakit apapun. Tubuh yang mati adalah tubuh yang dingin dan kaku, tubuh yang telah berubah dari “seseorang” (person) menjadi “sesuatu” (thing). Orang bijak (wise man) akan menyibukkan diri dengan bagaimana membedakan yang baik (pleasurable) dan yang buruk (painful) dan bertingkah laku menurut pertimbangan moralnya itu. Hanya dengan cara demikian seseorang akan mencapai kebahagiaan.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s