Profesor Roger Burggraeve, SDB: PASTOR SALESIAN AHLI LEVINAS DI KUL

 

Foto bersama Profesor Roger Burggraeve seusai kuliah.

 

Seperti biasa kekagumanku pada para professor yang mengajar di program MA Bioetika di Katholieke Universiteit Leuven (KUL) (Belgia) tidak pernah pudar. Pertama karena mereka mempraktikkan cara mengajar yang mungkin bagi kebanyakan orang tampakny terlalu tradisional, tetapi justru menampakkan peran mereka sebagai “guru” dalam artinya yang sesungguhnya. Para professor selalu menurunkan level mereka sesuai tingkat pengetahuan dan pengalaman. Sebagai bayangan, program Master of Bioethics diikuti oleh mahasiswa dari berbagai negara dengan latar belakang pendidikan dan jenis pekerjaan yang sangat berbeda. Ini menimbulkan kesulitan tersendiri, misalnya berhadapan dengan materi kuliah yang sangat filosofis. Saya kira para professor sangat menyadari keanekaragaman ini dan bersedia dengan senang hati selalu mengulang berbagai konsep filosofis dan etis yang kebanyakan terdengar aneh. Kedua, para professor di sini mengajar menggunakan materi hasil penelitian dan publikasi mereka sendiri yang tersebar, baik di berbagai buku maupun jurnal internasional. Dari segi ini, keahlian dan penguasaan mereka di bidang yang mereka ajarkan tidak bisa diragukan.

Demikianlah, kuliah pagi ini (Selasa, 12 Oktober 2010), akan dibawakan oleh Prof. Roger Burggraeve, seorang guru besar teologi moral dari Fakultas Teologi KUL. Ketika mengetahui materi yang dibawakan adalah teori etika menurut Emmanuel Levinas, aku lalu berpikir, masa seorang teolog akan membawakan kuliah filsafat? Apakah dia memang memiliki spesialisasi dalam pemikiran Levinas? Menjawab keinginan tahuku, aku coba browsing internet dan tanya pada om google. Eh, ternyata professor yang satu ini memang ahli Levinas. Publikasinya seabrek.

Aku datang ke kelas dengan optimisme, bahwa sang professor akan memperkenalkan pemikiran etika Levinas dan itu akan membuka perspektif dan wawasan bagi mahasiswa dalm memikirkan dan kemudian mengembangkan etika di bidang medis. Benar adanya! Kuliah dibuka dengan kisah yang menimbulkan kekaguman tersendiri. Ternyata Profesor Roger Burggraeve bukan hanya ahli Levinas. Sejak masih sebagai dosen muda di KUL dia sudah berkenalan dengan Levinas. Dia bahkan berkorespondensi dengan sang filsuf, dan diundang ke Paris. Telah puluhan kali sang professor mengunjungi Levinas, terlibat dalam debat dan diskusi intens dengan sang filsuf, dan meneliti seluruh pemikirannya. Tampak betul sang professor sangat ahli dan menguasai Levinas.

Tetapi saya memiliki feeling yang lain. Cara Profesor Roger Burggraeve mengajar agak berbeda dengan professor lainnya. Profesor yang satu ini memiliki pembawaan layaknya seorang guru SMA. Meskipun handouts yang diberikan sangat filosofikal, cara membawakannya sangat populer dan membumi. Tidak segan-segan Beliau menyisip cerita dan kisah filosofis, dan itu memiliki inspirasi tersendiri. Saya lalu berpikir, sepertinya sang professor seorang pastor. Itu feelingku saja, tetapi ternyata benar adanya. Jika professor lainnya yang meskipun pastor tidak menyebut diri mereka sebagai pastor, Profesor Roger Burggraeve mengatakan dengan tegas bahwa dia memang seorang imam Katolik. Pikirku, mungkin baik juga dengan menyatakan identitas mahasiswa bisa memahami mengapa seseorang memiliki framework berpikir tertentu. Dalam arti itu ya aku pikir positif-positif saja.

Tetapi yang kemudian mengejutkanku adalah ketika aku diberitahu oleh seorang teman dari Filipina bahwa Profesor Roger Burggraeve adalah seorang Pastor Salesian Don Bosco. Kata temanku itu, “Hey, coba kamu berkenalan dengan sang professor, dia kan seorang Salesian. Karena kamu dulu seorang Salesian, siapa tahu bisa nyambung dan ngobrol.” Benar juga, ketika istirahat aku mendekati podium, sambil agak membungkuk, aku bertanya, “Prof, katanya Anda seorang imam Salesian.” Sang professor langsung mengiyakan, katanya, “Ya, aku seorang imam Salesian.” Dalam hati aku sangat bangga bertemu seorang professor dan imam Salesian, hal yang selama aku masih bersama ordo yang satu ini tidak pernah aku temukan. Dalam hatiku berkata, “Hebat juga ya, pasti Beliau benar-benar mengabdikan dirinya bagi pengembangan filsafat, terutama pemikiran Levinas.”

Tetapi dari perjumpaan ini aku juga mengerti mengapa Profesor Roger Burggraeve memiliki cara mengajar seperti seorang guru SMA. Para imam Salesian memang dari sononya dididik untuk menjadi guru bagi kaum muda. Karena itu, mereka dibina untuk memiliki cara mengajar dengan pendekatan pedagogia Salesiana yang memang membumi, masuk ke level peserta didik, memosisikan diri sebagai kawan atau sahabat bagi mereka, bermain, bernyanyi, melompat bahkan berteriak bersama peserta didik, asal kemudian membawa mereka dekat kepada Tuhan. Saya rasa dari perspektif ini Profesor Roger Burggraeve mampu memadukan bidang keilmuannya dengan metode pengajaran berdasarkan pedagogia Salesiana yang dia wariskan dari serikatnya.

Tentu perkenalan ini membuka wawasan dan kekayaan pemikiran, betapa ketekunan dalam mendalami sesuatu ilmu, apapun juga ilmunya, akan sangat bermanfaat, pertama-tama bagi kebaikan dan pengembangan diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Seperti Profesor Roger Burggraeve katakana waktu kuliah, perjumpaan dengan wajah orang lain tidak bisa tidak selain “memaksaku” untuk terlibat, peduli, bertanggung jawab bagi orang itu.” Thanks Profesor Roger Burggraeve, Da Mihi Animas, Cetera Tolle.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s