RAHASIA CINTA SEJATI

 

Cinta sejati, adakah cinta sejati itu? Menurut perspektif Kristiani sih ada. Entahlah.

 

Kata “cinta” muncul di banyak tempat dan dalam banyak bentuk. Kita jumpai kata ini dalam buku-buku, jurnal-jurnal, tabloid, puisi, dan lirik lagu. Kata “cinta” sering sekali muncul sehingga mengesankan seakan-akan manusia modern ingin menggunakannya dalam setip omongan mereka, bahwa mereka mencintai seseorang, atau bahwa mereka dicintai, dan semacamnya. Padahal mungkin saja tidak demikian kenyataan sebenarnya dalam kehidupan mereka. Di tengah kehidupan dunia dewasa ini yang sedang kehilangan cinta, dunia yang dipenuhi oleh ego (self), manusia menemukan dirinya seakan-akan menyebut atau mengungkapkan sesuatu mengenai cinta menjadi semacam langkah memperbaiki keadaan. Demikianlah, penggunaan kata “cinta” dalam berbagai bentuknya sekarang seakan-akan ingin memperbaiki cinta itu sendiri yang sebenarnya tidak ada dalam kehidupan. Karena itu, membicarakan rahasia cinta sejati sebenarnya tidak sekadar pengalihan nilai seperti yang sekarang ini terjadi dalam dunia modern.

Di era di mana begitu banyak kejahatan terjadi atas nama cinta, dan begitu banyak omongan mengenai cinta memenuhi kosa kata keseharian kita, ada baiknya kita memahami dengan baik makna sesungguhnya cinta sejati itu. Jika tidak, kita bisa terperangkap dalam cinta palsu atau paling tidak mengalami kegagalan dalam menghidupi pengharapan yang tinggi dari Dia yang namanya adalah cinta dan karena alasan cinta menjadi sama seperti kita dan yang kehendakNya yang tertinggi dan kesaksian sebelum Dia wafat adalah agar kita saling mengasihi sama seperti Dia telah mengasihi kita, dan agar kita benar-benar saling mengasihi. Jika kita melakukan ini, Dia akan mengasihi kita sekarang dan untuk selama-lamanya.

Mari kita mulai refleksi ini dengan mengidentifikasi rahasia cinta sejati dalam tiga kalimat, masing-masingnya didasarkan pada Pewahyuan Ilahi dan yang masing-masingnya dibangun di atas Cinta pendahulunya. Setelah mengutip ketiga kalimat itu satu persatu, dalam semangat doa kita akan mengevaluasi implikasi dari masing-masing ungkapan dari hukum ilahi tersebut.

Ketiga ungkapan yang adalah hukum ilahi itu adalah (1) cinta sejati berarti memberi daripada menerima; (2) cinta sejati berarti berkorban atau melakukan tindakan tertentu dan tidak sekadar dorongan afeksi atau hanya melalui kata-kata; dan (3) cinta sejati berarti memberi diri dan tidak sekadar memberikan suatu benda atau barang.

Memberi, tidak sekadar menerima

Ada alasan praktis yang mendalam mengapa refleksi ini dimulai dengan mengeksplorasi makna “cinta sejati” sebagai “memberi daripada menerima”. Manusia modern begitu terobsesi dan terarah ke dirinya sendiri sebegitu rupa sehingga dia mengira bahwa mengasihi seseorang sama artinya dengan menerima sesuatu dari orang itu, menerima sesuatu dari orang yang dia kira dia mengasihinya. “Saya mencintai engkau” yang keluar dari mulut kebanyakan orang dewasa ini sebetulnya berarti “kamu telah memuaskanku” atau “kamu telah memberikan apa yang aku butuhkan”, atau “kamu telah memenuhi hasratku”, atau “kamu memang baik bagiku”, atau “kamu adalah apa yang aku butuhkan”. Barangkali saja ada ukuran tertentu untuk menilai kalimat-kalimat ini, karena bahkan bentuk cinta yang paling murni dan paling dalam pun mengandung kepuasan-diri. Ada kepuasan tersendiri dalam mengasihi orang lain dan kenyataannya memang kepuasan terdalam dari hati manusia dialami oleh orang yang mencintai. Kita tidak bisa memungkiri hal yang sangat alamiah ini.

Tetapi, dengan mengatakan hal ini bukanlah apa yang umumnya orang maksudkan ketika mereka mengatakan bahwa mereka mencintai seseorang. Sebaliknya, bagaimana menjelaskan keadaan kacau dan menyakitkan dari cinta perkawinan yang dialami jutaan orang dewasa ini? Pengadilan sipil kita telah mendefinisikan cinta antara suami dan istri dalam arti bahwa mereka saling mengasihi sejauh mereka mendapatkan dari pasangannya apa yang tidak mereka miliki atau yang mereka cari. Jika hasrat egoistik ini tidak terpenuhi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak saling mencintai lagi, bahwa mereka sudah tidak cocok lagi, dan seterusnya. Betapa terjadi pendangkalan pengertian atas kata cinta yang sesungguhnya bermakna mulia ini.

Salah pengertian yang sama juga tampak dalam kehidupan para imam dan religius yang ketika memasuki hidup bakti mengaku kalau pilihan hidup mereka itu digerakkan oleh cinta akan Allah. Tetapi dalam perjalanan waktu, ketika tuntutan yang menyertai panggilan hidup mereka menjadi semakin berat, mereka justru menjadi semakin tidak jelas mengenai cinta kasih Allah itu. Mereka berharap semoga bisa menerima penghiburan dari Allah atau pengalaman rohani yang sanggup meneguhkan cinta mereka. Mereka pun terus mencari dan menemukan manifestasi dari afeksi Tuhan, dan ketika pengalaman atau hasrat ini tidak menjadi pengalaman nyata, mereka mulai yakin bahwa sesuatu yang salah tengah terjadi. Konsekuensinya, ada dari mereka yang meninggalkan pilihan hidup bakti, atau kalau tidak, ada yang menjadi lemah dan kendor dalam panggilan hidup bakti. Mereka tidak mendapatkan apa yang mereka kira harus mereka dapatkan, yakni bahwa mencintai Allah artinya menerima sesuatu dari Allah. Tidak berlebihan untuk dikatakan di sini bahwa ternyata banyak kaum religious, biarawan dan biarawati yang hidup dalam ilusi semacam ini; dalam artian “mencintai berarti mendapatkan atau menerima sesuatu.” Akibatnya jelas, jika Anda tidak mendapat atau menerima sesuatu, maka pasti tidak ada cinta.

Di sini kita lupa bahwa esensi dari cinta sejati adalah memberi (to give). Bahwa kita mencintai seseorang bukan karena mengharapkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi karena kita ingin memberikan dan membagikan cinta. Ini bukan sekadar ungkapan tak-bermakna. Kata-kata ini memiliki sejarahnya yang tertulis dengan darah. Ukuran cinta sejati adalah kesediaan untuk memberi. Tentu kita juga pada gilirannya akan menerima dari cinta kita, dan itu hanyalah ungkapan terima kasih. Kita tidak menawar cinta kita dengan cinta dari orang yang kita cintai, bahwa kita hanya memberi jika kita juga menerima, atau menerima sebanyak yang kita berikan. Jalan pikiran semacam ini adalah bisnis dan bukan cinta. Kita mencintai pada tahap di mana kita siap memberi dan memberi. Jika kita siap untuk memberi sedikit, itu menunjukkan kecilnya cinta kita. Sebaliknya, jika kita sanggup memberi banyak, sebanyak atau sebesar itu pula cinta kita. Kemurahan hati adalah standar cinta. Inilah norma cinta. Inilah kondisi Ilahi yang Tuhan sendiri tanamkan dalam hati setiap manusia.

Hanya memberi, titik!

Aneh meskipun tidak mengejutkan, bahwa secara kodrati manusia tergoda untuk melakukan kesalahan demi kesalahan ketika mempraktikkan cintainya. Bahkan ketika kita sudah siap memberikan cinta kepada yang dicintai dan tidak sekadar menerima dari mereka yang kita cintai, tendensi kodrati manusia muncul, bahwa kita mencintai karena ingin mendapatkan sesuatu sebagai imbalan. Mari kita kembali ke pengalaman umum dan lumrah, di mana begitu banyak orang muda selama pacaran mengatakan kepada pasangannya bahwa dia sangat mencintai pasangannya, bahwa pasangannya itu adalah satu-satunya yang dia cintai dalam hidupnya. Demikianlah, pria yang sedang dimabuk cintai akan mengatakan kepada belahan jiwanya, bahwa dia sangat mencintainya. Sang pria menggunakan bahasa-bahasa pengungkap cinta yang tidak biasa digunakan dalam hidup sehari-hari. Sang perempuan pun merasa disanjung ketika si laki-laki mengatakan bahwa dia tidak sanggup hidup sendiri tanpa kekasih, bahwa kekasihnya itu begitu berharga, teramat manis, dan satu-satunya yang dikasihi. Dan jika si laki-laki itu memiliki sedikit kemampuan berpuisi dan mereka tinggal berjauhan, maka dia mungkin saja menulis surut kepada belahan jiwanya itu, bukan setiap bulan atau setiap minggu, tetapi dua kali dalam sehari hanya untuk menyatakan cintanya yang terus bergelorah.

Setiap laki-laki adalah puisiwan (penyair) dunia, sementara para perempuan adalah kaum realis. Demikianlah ketika kaum perempuan memilih untuk menikah, mereka meyakini bahwa sesuatu yang menakjubkan terjadi dalam kehidupan cinta dan perkawinan mereka. Bagi perempuan, tidak ada waktu yang dipilah-pilah menjadi waktu romansa dan waktu biasa. Bagi mereka seluruh hidup mereka adalah cinta dan romansa yang telah bercampur menjadi kenyataan hidup. Romantisme bagi kaum perempuan haruslah sebuah kenyataan dan bukan sekadar kata-kata. Demikianlah kaum perempuan akan merasa aman dan nyaman dengan pilihan hidup perkawinan mereka ketika mereka menemukan bahwa cinta yang sejati sesungguhnya adalah cinta yang dialami melebihi kata-kata dan perasaan. Pada tahap ini kaum perempuan biasanya tidak berbicara lagi mengenai cinta atau romantisme tetapi mempraktikkannya dalam hidup. Cinta dan romantisme sudah menjadi kenyataan, bagian dari hidup mereka. Kecuali ada sesuatu yang masuk dan mengganggu atau merampas cinta dan romantisme itu dari hidup mereka, pengalaman cinta dan romansa yang dialami kaum perempuan dengan pasangan ini akan tetap menjadi nyata dan tak berkesudahan.

Demikian pula halnya dengan para imam dan kaum religius. Mereka telah melewati proses pendidikan dan pelatihan yang panjang dan mereka juga telah mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka mencintai-Nya. Buku-buku doa dari kehidupan spiritual mereka kini telah diisi penuh dengan tindakan-tindakan indah-menyenangkan sebagai ungkapan dari cinta yang tulus dan murni kepada Allah. Tetapi harus diingat selalu bahwa sejauh para imam dan kaum religius itu dididik secara benar dan dilatih secara baik untuk membedakan cinta yang sejati dan cinta dengan kata-kata (ngomong doing), mereka akan mampu mempertahankan cinta mereka kepada Tuhan. Di luar itu, mereka akan mengalami bahwa ada sesuatu yang salah dengan pilihan hidup mereka. Sama seperti pasangan perkawinan yang masih mudah, para imam dan kaum relijius pun harus senantiasa diingatkan bahwa ketika kita mencintai seseorang kita tentunya memiliki pengalaman internal dari afeksi cinta kita, dan dari afeksi inilah cinta berasal. Dari afeksi ini pulalah berasal segala tindakan ekspresi cinta, baik dan kata-kata maupun dalam perbuatan. Kata-kata dan perbuatan sebagai ekspresi dari afeksi kita akan menunjukkan kesejatian cinta kita itu sendiri.

Bagaimana pun, harus diingat, semua yang dikatakan di sini belumlah memadai. Kristus sendiri jelas mengatakan, “Siapa pun yang menerima perintah-perintahKu dan menjalankannya dia mengasihi Aku.” Perhatikan penekanan pada kata-kata “menjalankannya”, dalam artian kita menerima kata-kata tersebut dan mempraktikkannya dalam hidup. Di sini kita tidak hanya mendengar kata-kata, kita juga tidak sekadar mengatakan, “Tuhan, aku mengasihi Engkau!” Kita sungguh-sungguh melaksanakannya. Karena cinta pertama-tama adalah memberi, kita bertanya kepada diri kita masing-masing, sejauh mana kita mempraktikkan imperatif cinta sebagai memberi atau menyerahkan diri? Sejauh mana kita mempraktikkan cinta sebagai memberi atau mengorbankan diri dalam perasaan kita? Dalam kata-kata dan perbuatan kita? Kalau mau jujur, siapa dari antara kita yang mengatakan “aku mengasihi engkau” tetapi berhenti di situ, dan siapa di antara kita yang mengatkannya dan membuktikannya dalam tingkah laku dan perbuatannya?

Kapankah Allah mulai mengasihi kita? Baru kemarin, tahun lalu, atau kapan? Ternyata Allah tidak pernah memulai mengasihi kita. Cinta Allah kepada kita tidak ada permulaan dan tidak ada batas akhir. Bagi Dia, tidak ada titik permulaan ketika Dia memutuskan untuk mengasihi kita. Dia adalah cinta, dan cintanya tidak ada awal dan tidak ada akhir. Dialah cinta tak-berkesudahan. Dia mengasihi kita sejak dari permulaan. Bayangkan karena suatu kebetulan kita berkesempatan bertemu Tuhan, lalu kita mengajukan pertanyaan ini, “Tuhan, aku tahu Engkau sungguh mencintai aku, dan aku sangat menghargai hal tersebut. Tetapi dapatkah Engkau membuktikan cintaMu itu?” Di situ Tuhan pasti menjawab, katanya, “Seperti apa Aku harus membuktikannya?” Lalu kita memperjelas pertanyaan kita, “Maafkan aku, Tuhan, karena lancing mengusulkan hal ini, misalnya Engkau membuktikan bahwa Engkau menjadikan aku ada.” Tuhan akan menjawab sekali lagi, katanya, “Cintaku akan selamanya dan telah menjadi penuh dalam keberadaanmu.” Ya, hanya karena cinta Allahlah kita boleh mengalami keberadaan kita sebagai manusia.

Lebih jauh lagi, sebagaimana kita sendiri menyadarinya dengan baik, perasaan cinta sering dapat menipu karena bercampur dengan kepentingan-diri. Bahkan kata-kata yang kedengaran sangat intim dan mesra pun dapat menjadi sesuatu yang dangkal, jika tidak mau disebut membingungkan, terutama jika tidak didukung suatu perbuatan nyata. Saya sangat menyenangi kutipan kata-kata dari St. Vinsensius de Paul, rasul agung cinta. Katanya, “Marilah kita mencintai Tuhan, saudara-saudariku, marilah kita mencintai Dia. Tetapi marilah kita menunjukkan cinta itu dengan seluruh tindakan dan perbuatan kita. Karena sering banyak tindakan cinta yang kita ekspresikan sebagai cinta kepada Allah, entah itu perbuatan baik kita, tindakan menolong orang, atau tindakan-tindakan lainnya yang berasal dari ungkapan cinta dari dalam hati kita, dan kita praktikkan itu dengan kelembutan cinta, di mana semuanya tampak sangat agung dan mulia. Tetapi seringkali pula dapat dicurigai jika itu tidak pernah kita praktikkan sebagai sebuah kenyataan hidup.” Kata kuncinya adalah efektif, artinya apa yang dikatakan dan dilakukan telah sejalan. Cinta yang murni dan tulus adalah aktif, dia melakukan sesuatu dan bukan mengatakan sesuatu. Cinta yang benar bersifat inventif, dia menemukan cara untuk menunjukkan afeksinya kepada dia yang dicintai. Cinta yang sejati juga bersifat kreatif, di mana imajinasi selalu dalam keadaan siap sedia untuk memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh mereka yang dicintai. Sebagaimana Allah sendiri menunjukkan cintaNya kepada manusia: memberikan apa yang dibutuhkan umat-Nya.

Memberikan diri

Masih ada satu unsur lagi yang bisa menjelaskan apa itu cinta sejati. Unsur ini juga termasuk penyanggah utama cinta sejati. Cinta sejati tidak pernah berhenti hanya dengan memberi atau mungkin bahkan memberi dalam bentuk tindakan nyata. Perbuatan cinta hanya bisa dikatakan sebagai cinta sejati jika orang yang mencintai itu berani memberikan dirinya sendiri. Pemberian diri atau pengorbanan diri adalah jantung atau inti cinta sejati, sebab hanya kalau saya memberikan diriku sendiri seutuhnya, saya tidak akan mempertahankan atau menawar sesuatu bagi diriku sendiri. Karena jika tidak demikian maka pengakuan saya bahwa saya mencintai seseorang sebenarnya tidak lebih dari ungkapan cinta saya kepada diriku sendiri. Perintah Kristus sendiri, bahwa seseorang “harus menyangkal dirinya sendiri” menggambarkan dengan tepat kenyataan ini. Kristus ingin kita melaksanakan perintah ini secara harfiah. Jika kita mengasihi Allah maka kita juga harus merelakan kehendak-diri untuk melaksanakan kehendak-Nya. Sesederhana itu, tetapi sebagaimana semua kita menyadarinya, tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Kita semua umumnya memberikan segala sesuatu kecuali kehendak kita sendiri.

Menurut St. Agustinus, umat manusia dapat dibagi menjadi dua kota. Dua cinta, menurut dia, telah menjadikan atau membentuk kedua kota ini, yakni cinta-diri (self-love) bahkan dengan menghina Allah di satu sisi dan cinta kepada Allah, bahkan dengan menghina diri sendiri di lain sisi. Di antara kedua jenis cinta inilah seluruh umat manusia terbagi. Tidak mudah membedakan kedua sisi itu untuk menentukan di mana manusia berpijak, tetapi baik untuk diingat bahwa cinta sejati dapat dibedakan dengan melihat buah-buah yang dihasilkan oleh tindakan cinta itu sendiri. Dalam kehidupan nyata, cinta dengan pengorbanan diri kepada Allah umumnya dipraktikan melalui cinta kepada orang lain. Allah tidak membutuhkan kita. Dia bahkan tidak menginginkan cinta kita. Bukankah begitu? Allah yang telah sempurna pada diriNya, bagaimana mungkin masih menginginkan sesuatu dari kita? Meskipun demikian, dia menginginkan cinta kita dan menginginkan agar kita menunjukkan itu dengan mengasihi orang lain yang Dia percayakan kepada kita. Demikianlah, Allah memiliki rencana cinta agung nan mulia, bahwa kita menunjukkan cinta kita yang tak berkesudahan kepadaNya dengan mengasihi orang lain tanpa batas. Inilah rahasia cinta sejati Allah kepada manusia dan balasan cinta sejati manusia kepada PenciptaNya sendiri.

Inilah alasan cinta Tuhan dan cinta kita kepadaNya itu, bahwa kita harus menunjukkan cinta kita kepadaNya dengan memberikan diri kita sendiri kepada sesama yang tidak hanya kita kenal, tetapi juga kita hidup bersama. Tentu dalam hidup bersama ada saja masa suka dan dukanya. Akan ada saat di mana kita memiliki pikiran dan perasaan yang sama. Tetapi ada saatnya juga di mana orang yang kita hidup bersama dan yang harus kita cintai itu menyebalkan, terlalu penuntut, tidak mengerti kita, dan sebaliknya. Apakah dengan demikian cinta kita seutuhnya kepada mereka harus diakhiri? Dalam suasana demikianlah kita harus menyadari bahwa di balik sosok-sosok orang yang kita sedang belajar mencintai itu berdiri sosok-sosok lain, pribadi Agung nan luhur yang terus mengharapkan cinta kita yang tak berkondisi kepada sesama.

Cinta dalam pengertian pemberian diri atau pengorbanan diri ini seharusnya bukanlah sesuatu yang misterius. Meskipun demikian, banyak orang masih mengalami kesulitan untuk melaksanakannya dapat hidup sehari-hari. Menyadari hal ini, mari kita ingat kata-kata Santo Paulus, bahwa kita harus selalu sabar. Kata Paulus, hendaklah kita selalu sabar dan lemah lembut, tidak pernah cemburu, tidak pernah memegahkan diri. Paulus menggunakan kata “tidk pernah” atau “jangan sekali-kali” (never). Tidak pernah? Ya, tidak pernah! Tidak pernah atau jangan sekali-kali kasar atau egois, agar kita tidak dimusuhi.

Demikianlah cinta sejati yang Tuhan kehendaki dari kita agar kita mewujudkannya dalam memberikan cinta seutuhnya kepada orang yang telah Allah percayakan kepada kita: istri, anak-anak, orang terdekat, dan umat manusia seluruhnya.

Disadur dari karya P. John A. Hardon, S.J. Copyright © 2008 Inter Mirifica

6 pemikiran pada “RAHASIA CINTA SEJATI

  1. Saya kadang juga berpikir demikian…. Apakah benar demikian seperti yang digambarkan di tulisan ini? Atau, mungkin saja karena ini pemikiran seorang pastor Katolik yang nota bene tidak menikah, jadi kurang down to earth… Atau, mungkin juga penilaian saya ini saya…. Entahlah, tetapi cinta sejati mungkin harus dipikirkan ulang kalau itu bukan sebuah idea kosong belaka.

    1. Pastor Jeremias yang sangat dikasihi TUHAN YESUS,..yang saya tau adalah cinta sejati hanya satu yaitu cinta seseorang yg rela memberi nyawanya bagi sahabat2nya Yohanes 15:13-14,..selain cinta itu,..adalah cinta yang hanya 99,99999999999999…% sejati,..
      menurut saya sih begitu,…YHBU

      1. Terima kasih, Debbie atas tanggapanmu. Saya pun setuju dengan kamu. Dari dia kita belajar untuk mengasihi. Cinta kita pun dapat disebut cinta sejati, meskipun tentu tidak sejati jika dibandingkan dengan cinta-Nya. Salam!

  2. tidak ada cinta sejati melainkan ego sejati. semakin tinggi bentuk cinta sejati samakin menunjukkan tingginya tingkat ego orang tsb. karena dalam dimensi jiwa, ruh cinta yang sejati adalah kepuasan rasa yang positif dalam jiwa yang teraktualisasikan dalam sikap dan prilaku. sehingga apapun yang dilakukan dalam realita bertujuan untuk menambah rasa positif dalam dirinya, walaupun yang dilakukan akan menghancurkan unsur material yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s