Biaya hidup di Leuven mahal?

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk makan, biaya kos, dan keperluan lainnya di kota kecil nan maju seperti Leuven? Wah, pertanyaan ini tentu tidak mudah dijawab. Sebagai pendatang baru berstatus mahasiswa, tentu tidak mudah membawa seluruh barang kebutuhan dari Indonesia, apalagi jumlah barang masuk bagasi pesawat sangat dibatasi. Itu artinya kita harus berhitung alias membawa cukup uang agar bisa membeli berbagai keperluan, terutama di minggu-minggu pertama. So, apa yang sebenarnya dibutuhkan seorang mahasiswa di minggu-minggu awal tinggal di Leuven?

Kalau Anda datang ke kota ini sekitar bulan Agustus—tahun akademiknya dimulai minggu ketiga atau keempat September—tentu membutuhkan biaya yang lebih besar karena tahun kuliah belum dimulai. Ini perhitungan dari perspektif seorang penerima beasiswa. Biasanya beasiswa baru akan dibayarkan pada bulan September, itu artinya Anda harus bisa menghidupi diri sendiri selama bulan Agustus tersebut. Kalau Anda menyewa studio yang harga sewanya berkisar antara 400-600 Euro, maka untuk pemondokan saja Anda nyaris menyedot hampir seluruh dana beasiswa. Untuk diingat, beasiswa dari lembaga mana pun di Eropa biasanya untuk program Master berkisar antara 750-1000 Euro per bulan, sementara untuk program doktor berkisar antara 1000-1300 Euro per bulan. Jadi, bisa dihitung sendiri sisanya, dan sisa itulah yang harus dipakai untuk membeli dan membiayai hidup selama sebulan.

Contoh uang recehan Euro 5 sen, 10 sen, 20 sen, 50 sen, 1 Euro atau 2 Euro.

Biasanya ada dua jenis pemondokan mahasiswa di kota Leuven, yakni kamar dan studio. Kamar biasanya berukuran rata-rata 6-10 meter persegi. Ada yang dilengkapi dengan kulkas, kompor listrik, microwave, kamar mandi dalam, tetapi ada yang kamar mandi dan dapur bareng-bareng. Ini saja sudah membedakan harga, meskipun kisarannya tidak lebih dari 400 Euro. Sementara studi tentu lebih mewah, ibarat apartemenlah. Segalanya sudah disediakan.

Bagi yang menyewa kamar tentu segera harus berhitung, bahwa biasanya pemilik kamar hanya menyediakan tempat tidur dan kasur. Jelas kita harus membeli seprei, selimut, bantal, dan sarung bantal (jarang orang Eropa tidur pakai bantal guling, karena itu susah didapatkan di toko-toko di Leuven). Berapa harga barang-barang tersebut? Sebuah seprei sederhana dijual seharga 6-14 Euro. Selimut bisa mencapai 17 Euro, sementara bantal paling mahal berharga 18 Euro. Ya, sarung bantal murahan berharga di bawah10 Euro. Untuk keperluan tempat tidur aja sudah mahal, bukan? Belum lagi seorang mahasiswa harus membeli tambahan jaket (masa pakai hanya satu atau dua jaket sih??) yang harganya bervariasi antara 25-80 Euro. Ya, jaket mahal sekali di atas 100 Euro juga ada sih. Jika belum punya sepatu tambahan khusus untuk musim dingin, penutup leher, penutup kepala, sarung tangan, payung, jas hujan, dan sebagainya, ya tentu biayanya lebih besar lagi.

Contoh kamar yang aku sewa, kisarannya 350 Euro per bulan. Tampak sudut yang aku gunakan untuk memasak.

Sekali lagi membeli dan membawa barang-barang tersebut dari Indonesia tidaklah mudah. Lebih praktis memang membeli di Leuven, tapi dengan catatan mempertimbangkan harga barang yang tidak terlalu murah untuk ukuran orang berpenghasilan pas-pasan. Nah, jika beasiswa baru cair pada bulan September, maka seorang mahasiswa harus membelanjakan uangnya terlebih dahulu dari kantongnya sendiri. Taruhlah seorang mahasiswa datang di pertengahan bulan Agustus, dia harus mengalokasikan dana untuk membayar kos, membeli perlengkapan tidur, mandi, masak, dan makan. Untuk makan sendiri sebenarnya cukup terjangkau. Di Leuven nyaris tidak ada restoran Thailand, apalagi Indonesia. Kalau mau makan makanan Asia, paling banter ke Restoran Cina atau India yang sebenarnya cukup banyak. Harganya pun bersaing dengan restoran lokal yang umumnya menjual makanan lokal atau paling banyak juga adalah Pizza dengan berbagai varian dan nama. Kalau sarapan pagi taruhlah tidak lebih dari 5 Euro, maka makan siang bisa mencapai 7 Euro, demikian juga makan malam. Untuk menghemat, biasakan makan di kantin mahasiswa, harganya murah meriah (tidak lebih dari 4 Euro).

Nah, dari seluruh gambaran biaya itu tentu seorang mahasiswa menjadi paham berapa dana yang dia butuhkan untuk hidup di Leuven. Itu artinya ketika datang ke Leuven, seorang mahasiswa paling minim membawa uang saku 500 Euro tetapi paling aman adalah 700-1.000 Euro. Ya, hitung sendiri jika satu Euro jika dikurskan akan menjadi hampir 12.300 Rupiah.

“Wah, jika begitu, ternyata sekali makan di restoran di Leuven itu habisnya hampir 100 ribu ya?,” seorang rekan mahasiswa asal Filipina sekali berkata. Ya menurut saya sih sewaktu berbelanja di Leuven atau di Eropa, sebaiknya jangan memikirkan berapa jumlahnya dalam Rupiah, bikin pusing sendiri. Setuju?????

4 pemikiran pada “Biaya hidup di Leuven mahal?

    1. Harga studio bisa sampai 600 EUR. Bukan studio pun sebenarnya sudah bagus. Yang penting pemanas ruangannya bekerja dengan bagus. TEtapi untuk Leuven sebenarnya bagus sih rata2 kamar memiliki heater yang bekerja maksimal. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s