Tuhan Tega Membiarkan Rumahnya Kosong

Leuven, 23 September 2010

Inilah Gereja Santo Lambertus yang tidak jauh dari kos saya. Megah tapi sering kosong.

Dari tempat kos saya ke kampus jaraknya tidak terlalu jauh. Saya kuliah di Leuven, di pusat kota, sementara tinggal agak di luar lingkaran kota. Daerah itu namanya Heverlee, sebuah daerah pebukitan yang sebenarnya sangat indah. Sama seperti cara para biarawan mencari tempat untuk di mendirikan biara dan pertapaan, daerah ini pun banyak dijumpai biara dan pertapaan. Selain itu, tentu saja ada beberapa puri (castle) yang sangat indah memesona. Rumah-rumah kaum bangsawan zaman dahulu pun masih tampak sana-sini.

Minggu-minggu pertama ini saya biasanya jalan kaki ke kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh, barangkali sekitar 3-4 km. Pikir-pikir, buat olah tubuhlah, siapa tahu agak sedikit langsing kalau sudah pulang ke Indonesia. Lagi pula dulu sewaktu masih SMP dan SMA sering saya berjalan kaki ke sekolah, dan itu menempuh jarak yang kurang lebih sama. So, kenapa mesti takut. He…he…he, memang bangun pagi betis agak pegel juga sih, tapi perlahan-lahan jadi kebal. Saya belum mau sewa sepeda, karena saya pikir kalau pulang kuliah kan perjalanannya mendaki, tanahnya agak miring sekitar 5-7 derajat gitu. Wah, kalau dayung sepeda sepertinya keringat dan capek juga, sama seperti jalan kaki kan? Ya udah, jalan kaki aja sekalian.

O ya, daerah sini selalu menakjubkan. Perjalanan dari kos saya ke kampus itu melewati sekitar 5 gereja yang begitu megah. Bangunannya indah sekali. Itulah gereja-gereja semasa abad pertengahan yang sebelumnya hanya bisa aku saksikan di gambar-gambar. Sekitar 50 meter dari kos saya ada Gereja St. Lambertus. Gereja itu terletak di Sint Lambertusstraat alias Jalan Santo Lambertus. Keren kan, namanya jalannya makai nama orang kudus. Waktu pertama kali di disi, pada jam 18:00 (waktu sini lah), saya dengar bunyi lonceng gereja. Wah, ada angelus nich, hebat  juga. Tapi kalau dilihat, koq ngga ada yang sembayang angelus? Gereja itu pun tampak sepi. Saya sebenarnya ingin sekali masuk dan melihat-lihat apa sih yang sedang dilakukan dalam gereja St. Lambertus itu, tapi kog ditutup melulu ya? Pikir saya, kalau gereja selalu ditutup lalu bagaimana umat bisa digerakkan untuk berdoa? Ya, sore-sore sekitar jam 16:00 ke atas sampai waktu angelus jam 18:00 baru tampak satu dua kelompok yang memasuki gereja. Itu pun golongan kakek dan nenek.

Kemarin, 23 September 2010, saya menyempatkan diri mengunjungi Gereja St. Petrus. Ini sebenarnya sebuah katedral monumental yang persis terletak di jantung kota (Lain waktu saya akan eksplor lagi katedral yang satu ini, ya, soalnya menarik dan historis banget). Menurut saya, posisi katedral itu merepresentasikan (cah ilah, pakai kata yang agak akademis nich) pemikiran teologis tertentu. Pintu gerbang katedral itu menghadap ke arah kota, dan bagi saya ini sepertinya menjadi symbol bagaimana manusia harus berziarah menuju surga. Selama hidup di dunia, manusia memang berjuang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hidup manusia ada dalam dunia dengan seluruh kesibukan dan kekotorannya, dan itu dilambangkan oleh pasar (fora) yang memang dari dulu juga ada di dekat katedral. Dan tidak jauh dari katedral (100 meteran) terletak kampus Katholieke Universiteit Leuven (KUL). Bagi ini saya antara lain mau mengatakan bahwa melalui pendidikan, kaum cerdas dan terdidik akan memberitahu kepada masyarkat umum yang ada di pasar (baca: dunia) untuk merencanakan hidupnya sebegitu rupa, mengubah tingkah lakunya dan berziaralah ke surga. Pintu surga selalu terbuka. Sedalam dan sekotor apa seseorang melibatkan diri di pasar alias di dunia, dia akan bisa diterima di dalam kerajaan Tuhan kalau kesadaran akan kedosaannya mendorong dia untuk bertobat. Tentu kaum biarawan dan biarawati yang karena pendidikannya, memiliki semacam tanggung jawab moral untuk mengatakan kepada masyarakat akan pentingnya kembali ke kerajaan Tuhan tersebut (sori ya, agak ngaco. Apakah refleksi ini karya Roh Kudus dan inspirasi Biblis atau ngga, aku sendiri ngga tahu. Pokoknya ngomong aja lah).

Sekelompok turis intens mendengar keterangan tourist guide tentang Gereja St. Petrus.

Maka, datanglah aku ke katedral itu. Sungguh menakjubkan ketika memasuki gedung ini. Memang tampaknya masih dipakai untuk menyelenggarakan perayaan ekaristi kudus, tetapi tampaknya lebih banyak kesempatan dibuka sebagai museum. Ada banyak sekali turis dari manca negara yang datang dan berkunjung ke sana. Beberapa pengunjung dari Spanyol tampak berlutut menyembang tabernakel sambil membuat tanda salib sebelum mengelilingi katedral ini. Tapi kebanyakan mereka sepertinya tidak peduli mereka ada di mana. Pikir saya, wah katedral ini dalamnya luas sekali. Salah satu sayapnya barangkali seluas Katedral kita di Jakarta. Sementara masih ada tiga saya lainnya. Dalam hati saya berpikir, wah kalau misa hari minggu dipenuhi umat, mungkin bisa menampung 2000-an umat kali ya. Pikir saya lagi, kalau misanya di Jakarta, pasti pas bubaran macet sekali karena orang-orang kaya pada bawa mobil sendiri. Tapi tidak untuk di Leuven ini. Ketika saya masuk, gereja tampak sepi (nanti hari Minggu saya observasi supaya bisa bercerita lagi).

Sebagai orang Katolik yang lahir di kampung dan kemudian hampir sebagian hidup saya dihabiskan di Jakarta, terus terang saya kagum dengan nilai historis Gereja ini. Pikir saya, kalau Tuhan itu tidak ada atau kalau Tuhan itu ada atau tidak ada tidak berpengaruh pada hidup seseorang (prinsip sekularisme yang sekarang dihidupi di Eropa sini), maka tampaknya apa yang capeh-capeh dibangun Gereja dan kaum biarawan tempo dulu sia-sia. Yang tersisa hanyalah warisan gedung. Maka aku kemudian bertanya, di manakah Engkau Tuhan? Kalau saja saat ini Engkau menunjukkan dirimu kepada umatMu yang tampaknya lebih senang menikmati lezatnya pizza hut dan sebotol bir di pelataran gerejaMu ketimbang meluangkan sedetik saja waktu mereka untuk berdoa, mungkin mereka mau bertobat. Tetapi mengapa tidak Kau lakukan itu? Tuhan, apakah Engkau sudah bosan menyapa manusia? Ya, semoga saja selama belajar di sini aku semakin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku ini!***

2 pemikiran pada “Tuhan Tega Membiarkan Rumahnya Kosong

  1. Terimakasih untuk sharingnya pak Jere. Saya yakin, Tuhan tidak pernah membiarkan “Rumah-Nya” kosong karena selalu ada tempat bagi setiap orang yang mau datang dan menjumpai-Nya. Mungkin Tuhan sedang berada di jalan, dan menemani Bapak ketika Bapak berjalan menuju tempat kuliah. Atau mungkin sedang berada di taman, di pertokoan dan di tempat-tempat lainnya – karena Dia lebih senang berada dalam keseharian hidup manusia. Monumen Gereja yang sangat indah – yang Bapak saksikan itu – mungkin mau berbicara dan menyapa orang-orang Indonesia – yang katanya sangat religius tetapi masih miskin spiritualitasnya, karena kehadiran Tuhan dibatasi hanya ada di gereja. Sedangkan di kantor di sekolah, di pasar, di jalan … mereka pikir Tuhan tidak hadir di sana. Karena itu, tidak ada rem yang mampu menghentikan kekerdilan hati dan jiwa, dalam tindak korupsi, manipulasi, rasisme, dll.
    Bapak sungguh sangat beruntung karena di sana Tuhan mau memperlihatkan kepada Bapak, bahwa “”you’re not alone and you never alone.” Selamat berziarah pak😀 Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s