Kuala Lumpur-Amsterdam-Leuven, an Inspiring Trip

Amsterdam-Leuven, 20 September 2010

Penerbangan satu setengah jam dari Bandara Soeta ke International Air Port KL sebenarnya sangat menyenangkan. Para awak kapal sangat ramah dan murah senyum. Mereka sibuk melayani tamu, siap membantu kapan saja jika diperlukan. Mungkin ini dilakukan dengan sengaja supaya sesuai dengan brand yang sedang mereka bangun: Malaysia Hospitality alias Keramahtamahan Malaysia. Pikir saya, apakah keramahtamahan bisa dilokalisir atau diklaim sebagai milik kaum tertentu saja? Apakah keramahtamahan Malaysia berbeda misalnya dengan keramahtamaan Indonesia? Tapi itulah trik bisnis, siapa pintar mengemas dagangannya, dia yang untung. Kita bayangkan saja, jika penumpang Indonesia yang bepergian ke luar negeri menggunakan pesawat MAS karena alasan lebih murah dari Garuda Indonesia, dan memang lebih murah, maka berapa keuntungan yang bisa diraih MAS? Hampir bisa dipastikan, setiap penerbangan MAS dari kota-kota di Indonesia seperti Yogyakarta dan Jakarta ke luar negeri melalui KL selalu dipenuhi penumpang.

Sewaktu masih di Jakarta, adik saya yang lama bekerja di Malaysia memberitahu saya bahwa terminal international KL bagus sekali. Ternyata betul. Bandara Internasional KL memang berbeda dan lebih modern dibandingkan dengan terminal kita di Jakarta. Karena saya pernah transit di Bandara Internasional Singapura, barangkali tidak salah kalau mengatakan kedua bandara itu mirip-miriplah, meskipun tentu yang di Singapura jauh lebih maju. Yang jelas tidak ada apa-apanya kalau disbanding dengan yang di Cengkareng, apalagi listrik sering padam belakangan ini.

Di Boarding Pass saya keberangkatan Kuala Lumpur ke Amsterdam itu dari terminal C. Jadi, begitu turun di bandara KL, aku mengikuti anak panah menuju terminal C. Di situ para penumpang ngantri menunggu, eh ternyata ke terminl C itu naik kereta, sepertinya tram. Kereta apinya canggih benar, dan tentu saja bersih. Tidak sampai 5 menit para penumpang sudah tiba di terminal C. Aku segera mencari pintu check in. Meskipun jalannya agak jauh dan memutar, rasa kagum saya pada terminal ini tidak pernah memudar. Pikir saya, andai pemerintahku bisa membangun terminal yang lebih canggih dari ini, betapa bangganya kita. Setelah menemukan pintu boarding, yakni Gate 24, aku duduk menunggu sampai pukul 22:00 waktu Malaysia ketika pintu dibuka dan penumpang boleh check-in. Yang menakjubkan, di ruang tunggu itu dilengkapi kursi panjang yang sangt empuk. Tampak banyak sekali bule dan turis Jepang yang memanfaatkannya untuk tidur sambil menunggu pesawat.

Tepat pukul 22:00 saya check-in. Melewati pintu pemeriksaan, seorang petugas bandara menahan saya sekejab dan hanya mengajukan satu pertanyaan yang menurut saya tidak perlu ditanyakan. “Anda mau kuliah bidang apa di Belgium?” Mungkin karena melihat di paspor saya menggunakan Visa tipe D alias student visa. Atau dia iri karena ada putra Indonesia yang bisa belajar ke Eropa karena beasiswa Uni Eropa. Kita bangsa serumpun, jangan begitulah kawan.

Penerbangan Kuala Lumpur – Amsterdam memakan waktu sekitar 12 jam. Sekali lagi pelayanan Malaysia Air Lines sangat bagus. Setiap pengumuman mereka tidak pernah lupa menggunakan Bahasa Melayu pertama, baru diikuti Bahasa Inggris. Kata rekan saya orang Yogya yang terbang bersama saya dari Jakarta ke KL, Malaysia Air Lines memang selalu menggunakan Bahasa Melayu dan Bahasa Inggirs, tidak seperti Garuda Indonesia yang hanya menggunakan Bahasa Inggris. Wah, jika itu benar, betapa rasa cinta dan kebanggaan pada budaya sendiri jauh lebih besar dalam dada seorang anak Malaysia dibandingkan dengan kita.

Sayang penerbangan malam hari jadi saya tidak begitu menikmati pemandangan alam di bumi selama jalur penerbangan. Yang jelas, peta penunjuk memperlihatkan penerbangan menyusuri sepanjang Laut Andaman, lalu mengitari wilayah Pakistan, Afghanistan, lalu sepanjang bekas wilayah Uni Soviet seperti Ukraina, bergerak terus ke dekat Polandia, lalu mulai berbelok menuju wilayah Jerman Timur, lalu perlahan-lahan menuju Amsterdam, turun melalui di atas permukaan laut. Para penumpang diperingatkan supaya waspada karena suhu udara di luar cukup dingin, sekitar 14 derajat Celcius.

Begitu turun di Amsterdam, seperti biasa kita menuju ke pengambilan bagasi sesuai dengan petunjuk yang tercantum di papan pengumuman. Waktu antri di pemeriksaan imigrasi, di samping kiri tangan saya ada papan pengumuman elektronik yang menyatakan, antara lain, pengambilan bagasi Malaysia Air Lines di Gate 6. Sementara itu, penumpang antri untuk pemeriksaan di imigrasi. Petugas imigrasinya rada-rada tegas. Pertanyaan yang sama yang diajukan oleh petugas imigrasi Malaysia kini diajukan ke saya: ngapain ke Belgium, mau studi apa, ngapain studi bidang itu, dan sebagainya. Dalam hati, he….he…., petugas imigrasi bule ini masih sangat mudah, ganteng-ganteng, tapi kog galak, ya! Kalau kalian di Indonesia pasti sudah jadi bintang sinetron.

Begitu bagasi diambil, jika tidak ada duty free, ya langsung aja keluar terminal. Di ruang tunggu penumpang kedatangan itu ada banyak sekali petunjuk, termasuk di mana membeli tiket Kereta Api. Saya harus ke Leuven menggunakan Kereta Api, jadi saya segera mencari tempat penjualan tiket. Jalan saja ke arah pintu mau keluar bandara, di sebelah kiri dekat kedai kopi itu ada penjualan tiket kereta api. Saya mengantri di bagian jalur internasional. Bos saya, Wakil Dekan 1 saya di Fakultas Kedokteran mengusulkan agar saya mengambil jalur Schipol-Mechelen-Leuven. Menurut Beliau, lebih baik ganti kereta di kota Mechelen karena lebih sepi, daripada transit di Antwepen Inter City. Namanya juga stasiun antarkota besar di Eropa, pasti ramailah. Dan yang terpenting menurut  bos saya itu, di Antwerpen lebih banyak malingnya. Walah, orang bule kog pada maling juga ya. Memang betul, stasiun kota Mechelen itu rada kampungan gitu. Tidak jauh beda lah dengan stasiun kota di Jakarta, hanya di sini memang bersih sekali.

Selesai membeli tiket saya sempat salah masuk jalur kereta. Untung nanya sebelum baik, kalau tidak saya ngga tahu juga nanti nyampe di mana. Di sini saya sadar ternyata penting sekali menanyakan ulang ke penjual tiket bahwa saya naik kereta api spoor berapa? Di mana? Jalan ke sana lewat mana? Lalu, di tempat tunggu kereta api (di bawah), harus pastikan bahwa kereta yang dinaiki itu betul. Sebenarnya sih ngga perlu khawatir berlebihan, karena di sampul tiket KA dicetak juga stasiun-stasiun yang disinggahi, jadi mudah diikuti. Misalnya setelah Schipol (kereta sebelumnya datang dari Amsterdam) ada stasiun Rotterdam, lalu stasiun Antwerpen Inter City, dan sebagainya. Nah, sepertinya setelah Antwerpen itu kita nyampe di Mechelen, hanya saja Mechelen sendiri tidak ditulis di sampul tiket. Karena itu, saya mesti nanya dan tidak mau malu nanya karena takut salah turun.

Ketika KA mulai jalan kita akan menyaksikan bahwa orang Eropa itu tidak ngobrol satu sama lain. Tidak peduli apakah dia berdiri atau duduk, dia pasti membaca. Ada yang baca koran, buku, novel, dan lain-lain. Sepertinya jarang deh mereka facebookan seperti kita di Indonesia. Pikir saya, apakah mereka ini tidak suka facebookan? Atau mereka memang budayanya adalah membaca. Karena itu, rada sulit menanyakan sesuatu ke mereka. Pas di depan saya ada seorang pria lima puluhan tahun usianya, sedang membaca buku yang judulnya kira-kira bisa nyambung dengan minat saya. Dia sedang membaca buku Spritual Capital. Pikir saya, dengan latar belakang filsafat dan teologiku, mungkin kami bisa nyambung. Ya, benar saja. Saya menanyakan di mana stasiun Mechelen, dan dia menjawab bahwa nanti kalau sudah sampai di sana dia akan beritahu saya. Wah, baik banget orangnya. Namanya Ruud Baanders. Si Ruud (he..he..he, pasti orang Belanda, soalnya ada Ruud Gulit, ada juga Ruud van Nielsteroy, dua pemain bola hebat. Di Indonesia tidak ada Ruud, yang ada hanya Ruhut….waka…waka…waka!)

Om Ruud nanya ke aku, “Kamu orang baru ya?” “Baru kali ini ke Eropa?” Tanpa pikir panjang saya langsung jawab, “Ya om!” “Mau kemana?” “Ini mau ke Leuven, om!” “Aku mau belajar di sana.” “Wah, salah satu dosenku dulu juga lulusan Leuven! Kamu belajar apa?” “Ini om, aku akan belajar Bioetika?” “O ya, itu bidang yang sekarang sedang naik daun!” Dalam hati, wah orang ini tahu juga ya. Dia bilang lagi, “Saya harap kamu betah di sana. Leuven itu kota kecil dan enak untuk tinggal!” Katanya sih gitu, gumam aku dalam hati.

Saya lalu bertanya, “Wah, om baca buku Spiritual Capital nich!” Dari sini dia lalu bercerita banyak mengenai ketertarikannya pada pengembangan Meditasi dan Spiritualitas untuk perkembangan diri. Konsepnya sederhana, setiap orang yang memiliki kesadaran prima atas diri dan nilai-nilainya dan kemudian mempraktikkan dalam hidupnya sehari-hari, dia akan memiliki pola hidup yang berdasarkan nilai-nilai luhur itu. Dan itu menguntungkan tidak hanya dirinya, tetapi juga masyarakat. Dan profesi om Ruud ini adalah melatih orang untuk bermeditasi dan olah batin supaya memiliki kesadaran dan kepekaan akan nilai-nilai luhurnya itu. Sementar teknik meditasinya diambil dari cara-cara meditasi Zen Budhisme. Wah menarik juga bicara dengan om Ruud. Tapi karena KA sudah tiba di Mechelen, om Ruud bilang aku siap-siap turun. Om Ruud beri saya kartu nama, tapi saya belum sempat kontak dia. Mudah-mudahan nanti bisa kontak.

Begitu turun di Mechelen saya langsung bergerak mencari tempat penjualan tiket ke Leuven. Jalannya menurun, tidak pakai lift, jadi tas harus angkat sendiri. Kasihan kalau penumpanggnya perempuan, pakai sepatu hak tinggi, misalnya. Kalau tiket Amsterdam (Schipol) ke Mechelen hanya berharga 37 Euro, tiket Mechelen-Leuven berharga hanya 5 Euro. Tiket langsung didapatkan dan langsung menuju ke Spoor 5 sesuai yang tertera di tiket. Sekali lagi dari konter tiket ke spoor 5 harus naik tangga (tidak ada lift), jadi tas harus angkat sendiri.

Katanya si Leuven sudah dekat. Pas sedang nunggu KA, saya tanya sekali lagi sepasang suami istri, apakah memang kereta ke Leuven tunggunya di sini. Dengan ramah mereka menjawab ya. Tidak lama kemudian KA tiba dan kami segera naik. Penumpang sangat sepi waktu itu, maklumlah jam 10-an sudah bukan merupakan jam kantor. Kereta apinya bagus sekali. Duduk di kursi empuk, ada sandarannya, dan penumpang saling berhadapan begitu. Dalam gerbongnya ada semacam kamar-kamar yang di dalamnya berisi  6 penumpang. Kalau penuh, ada juga yang berdiri tapi tidak sepadat Jakarta-Bogor.  Jarak ke Leuven tidak jauh. Sepertinya melewati 4 stasiun. Setiap stasiun itu ada papan namanya, di kiri atau di kanan, jadi tidak usah khawatir. Stasiun Leuven agak besar dengan berapa spoor, jadi mudah diidentifikasi.

Akhirnya sampai juga di Leuven. Stasiun ini memang rada besar tapi tidak sebesar stasiun Kota di Jakarta. Begitu sampai kami bergerak keluar ke bawah, lalu jalan ke arah kiri untuk keluar stasiun. Di situ ada stasiun bis ke berbagai arah di dalam kota Leuven. Karena membawa satu koper gede, satu koper kecil, dan satu tas ransel berisi laptop, saya memutuskan untuk naik taksi saja. Pas aku nanya ke om sopir kalau ke Heverlee 129 bayar berapa, dia bilang tergantung meteran dong! Baru aku ingat, o ya, meskipun dekat tetap pake meteran. Soalnya sopir taksi di Jakarta (armada tertentu) jika terlalu dekat dia akan bilang pakai borongan saja, dan dia akan menyebut angka tertentu dan kita menawar. Taksi segera cabut. Taksinya bersih banget, mobilnya BMW, jadi aku pikir, wah sekarang pertama kali aku naik BMW, disopiri oleh seorang bule. He…he…he…., keren juga, seperti orang kaya saja. Tidak sampai 20 menit om sopir sudah berhenti di depan kos yang saya sewa. Katanya, meneer, sudah nyampe tuh. Saya lihat ke kiri, o benar juga. Om sopir segera mencet satu mesin di car boardnya dan segera keluarlah struk tagihan. Aku lihat, bayarnya 11,4 Euro. Weleh…weleh…weleh, hebat juga nich, pake struk sehala.

Dengan bantuan seorang mahasiswa asal Vietnam, aku akhirnya tiba di tempat kosku, lantai 2, kamar nomor 01. Di pintu depan sudah ada papan nama daftr mahasiswa yang nyewa kos tersebut, semuanya ada 10 orang. Sebuah perjalanan panjang dan cukup melelahkan. Here I am!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s