JAKARTA–KUALA LUMPUR

Jakarta, 19 September 2010

Perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya membawaku ke Leuven, kota tempat saya akan menuntut ilmu. Dari rumah mertuaku di Tajung Duren, Jakarta Barat, saya dan istri menyewa sebuah angkot—he…he…he, hanya angkot toh—menuju Bandara Soekarno-Hatta, pukul 15:00 WIB. Ternyata yang ikut mengantarkan banyak juga. Ada adikku sendiri (si Thomas), ada juga adik ipar (si Peni). Tentu ada istriku tercinta, si Vero dan putri kami, Cecil. Di antara yang ikut pasti ada Ayah mertuaku, Bapa Yohanes Koban, lalu ada 4 keponakan (Si Gery, Kristo, Giovanni, dan Rey). Seru juga sih, perjalanan mengendarai angkot ke Bandara Soeta.

Butuh waktu tidak lebih dari 45 menit ke bandara Soekarno-Hatta, maklumlah rumah mertuaku yang di Tanjung Duren cukup dekat dengan Bandara. Sore itu, 19 September 2010, Terminal 2 Internasional ramai sekali. Ada ribuan orang yang pergi dan datang menggunakan jasa penerbangan. Seperti biasa, keponakan-keponakan kami sangat heran melihat keadaan ini. Pertama-tama karena mereka belum pernah bepergian menggunakan pesawat. Tetapi juga karena melihat sesuatu yang baru. Ada banyak sekali pesawat terbang yang sedang parkir, dan itu bisa dilihat dari jalan. Kami kemudian segera menuju ruangan D2, tempat di mana saya akan check-in menggunakan Malaysia Airlines.

Tampak di terminal D2 sudah sibuk ketika kami tiba. Orang mulai antri masuk. Entah mengapa, perut saya mulai mulas—sebenarnya juga sudah mulas sebelum meninggalkan rumah—jadi saya minta istri dan yang lainnya menunggui barang dan saya “mengunjungi” rest room sebentar. Saya hanya bisa buang air kecil lalu kembali lagi menemui keluargaku. Saya bilang kepada mereka bahwa saya sangat tegang. Ini mungkin pengalaman sangat manusiawi ketika orang akan bepergian jauh, tapi rasanya ketegangan ini tiada bandingnya. Saya rasa ini karena saya harus meninggalkan istri dan putri kami, hal yang sama sekali belum pernah ku lakukan selama 10 tahun perkawinan kami. Istriku mengelus-elus kepalaku sambil menghibur untuk tetap bersemangat. Berkali-kali dia meyakinkan aku bahwa mereka tidak apa-apa. Mereka sanggup menjalankan tugas dan tanggung jawab sehari-hari, meskipun harus jauh dari saya selama satu tahun ke depan. Tampaknya keputusan istri untuk pindah sementara dari rumah kami di Bekasi ke rumah mertuaku di Tanjung Duren ada maknanya. Istri lebih siap berpisah denganku karena ada ayahnya sendiri di sampingnya. Sementara putri kami tidak tampak gugup atau sedih. Dia mungkin belum mengerti apa arti perpisahan. Lucunya, dia hanya berpesan supaya ketika aku pulang nanti harus membawa jacket Manchester United dari Eropa. Dasar anak-anak, ada-ada saja.

Waktu menunjukkan pukul 16:00 WIB, itu artinya saya harus segera check-in. Kepada istri dan keluarga kuberitahu agar mereka bertahan menunggu sampai aku selesai mengurus segala sesuatunya dan siap menuju ruang tunggu pesawat melewati imigrasi Indonesia. Pertama-tama tentu aku harus melewati pintu penjagaan di mana barang-barang terlebih dahulu dipindai. Karena masuk agak terburu-buru melalui pintu sensor, petugas sempat menyuruh aku mengulanginya. Dari situ aku langsung ke konter Malaysia Airlines, dengan name tag yang sangat keren, Malaysia Hospitality alias MH. Disambut dengan ramah oleh pegawai (asli Indonesia), aku segera menunjukkan print-out tiket elektronik saya. Ketika melihat bahwa aku akan terbang menuju Amsterdam, dia lalu bertanya di mana visa Belandaku. Aku katakan bahwa aku akan pergi ke Belgia, dan di Amsterdam hanya lewat saja, karena saya langsung membeli tiket kereta api dan berangkat. Selain itu, aku kan menggunakan visa schengen, jadi bisa masuk ke negara mana pun di Eropa yang menjadi anggota Uni Eropa asal saya punya visa  masuk di salah satu negara tersebut. Dan aku saat ini memang punya visa masuk ke Belgia. Setelah berkonsultasi dengan atasannya dan menanyakan mengapa saya mau studi di Belgia, dan dalam bidang apa, petugas itu akhirnya mengizinkan saya pergi dengan terlebih dahulu meminta saya membayar air port tax sebesar 150 ribu rupiah. Petugas pun segera memberikan boarding pass ke saya (2 lembar, untuk Jakarta – Kuala Lumpur dan KL – Amsterdam. Tas saya yang akan masuk bagasi segera di dorong masuk ke lorong pengiriman bagasi, sementara aku sendiri haru antri di konter bea cukai. Belum banyak orang yang antri di sini. Karena saya memiliki kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) tiga tahun terakhir ini—ya, kalau ngga bayar pajak apa kata Gayus—urusannya menjadi begitu cepat. Di sini saya tidak bayar apa-apa, dan segera boleh ke konter imigrasi.

Karena setelah melewati imigrasi seorang penumpang tidak diizinkan kembali atau keluar lagi, maka aku terlebih dahulu balik ke pintu masuk, tempat di mana keluargaku masih setia berdiri di sana. Begitu melihat saya, istri, anak, dan keluarga lainnya segera melambaikan tangan. Aku pun melambaikan tangan tanda segala urusan administrasi sudah beres dan segera akan masuk ke ruang tunggu. Tidak sulit melewati pintu menuju konter imigrasi karena mereka hanya mengecek boarding pass. Yang agak lama tentu di imigrasinya sendiri, karena ada banyak orang yang mengantri. Aku segera mengantri di bagian yang bertuliskan Warga Negara Indonesia. Di situ hanya ada dua kategori, WNI atau WNA. Ketika giliranku tiba, petugas mengecek pasportku dan segera mengecap paspor tersebut. Urusannya sangat cepat. Dan kini, dengan satu tas dorong kecil di tangan dan ransel laptop di punggung, aku berjalan menuju Gate D7, tempat saya dan penumpang lainnya akan naik pesawat.

Pintu D7 baru dibuka pukul 17:00, jadi aku dan penumpang lainnya duduk di luar dulu. Sambil nyantai untuk menghilangkan ketegangan, kuhabiskan waktuku dengan membaca novel yang baru ku beli kemarin di Plaza Semanggi. Ya, ini novel terbarunya Ayu Utami berjudul Cakrabirawa. Baru sesaat membacanya tiba-tiba aku melihat televisi menyiarkan lomba balap MotoGP. Ya, tentu aku berhenti membaca dan segera mengalihkan seluruh perhatian pada balapan motor yang kali ini dilaksanakan di Aragon, Spanyol.

Tidak terasa sudah saatnya harus masuk ke ruang tunggu. Setelah mengecek sebentar boarding passku, petugas mempersilakanku masuk ke ruang tunggu. Di pintu ruang tunggu pun masih ada petugas lagi yang memastikan bahwa penumpang selain tidak bermasalah dengan urusan administratif, juga tidak salah masuk. Akhirnya aku dan penumpang lainnya dipersilakan menunggu di ruang tunggu di mana pergerakan berbagai pesawat terbang bisa dipantau dengan mudah. Lagi-lagi di ruang ini pun aku kembali menonton jalannya balapan. Sayang sampai berangkat aku tidak sempat menonton giliran Dani Pedrosa dkk unjuk kebolehan MotoGP, karena yang disiarkan baru Moto2 dan kelas 125 CC.

Kurang dua puluh menit ke jam 18:00 WIB, tampak Pesawat Malaysia Airlines mendekati ruang di mana aku menunggu. Nah, itulah pesawat yang akan aku tumpangi ke KL. Benar juga, badan pesawat bergerak perlahan menuju pintu tempat para penumpang akan masuk, dan segera menempelkan badannya di sana. Tampak jelas petugas mempersiapkan segala sesuatunya. Dalam hati aku berharap dan berdoa, semoga koperku sudah ikut diangkut masuk ke badan pesawat bersama tas dan koper lainnya. Waktunya memang sangat tepat. Pukul 18:00 WIB kami dipersilakan memasuki pesawat dan duduk di kursi yang telah ditentukan. Dengan ramah para awak pesawat menyambut penumpang dan memberi petunjuk di mana mendapatkan kursi, ya tentu dengan logak Melayu Malaysia yang kental. Kursi nomor 12K akhirnya menjadi milik sementaraku selama penerbangan satu setengah jam ke Kuala Lumpur.

Pukul 18:00 WIB pesawat Malaysia Airlines segera bergerak perlahan menuju landasan pacu dan bergegas meninggalkan bumi Jakarta, terbang menuju KL. Dalam hatiku segera mengucapkan mantra rohani yang sudah lama menjadi andalanku kalau bepergian naik pesawat, itulah doa tiga kali Salam Maria. Kali ini aku pun tidak terlalu khawatir karena pesawat yang aku tumpangi kelihatannya cukup bagus. Syukurlah, take off berjalan sangat mulus. Pesawat yang semula moncongnya bergerak ke arah timur di landasan pacu, pada ketinggian yang cukup aman mulai bergerak ke selatan kemudian bergerak perlahan ke arah Barat, tentu menuju KL dengan melewati seluruh wilayah Sumatera. Peta petunjuk memperlihatkan pesawat jelas-jelas melewati langit Padang, langit Palembang sebelum membelokkan moncongnya ke langit Singapura dan akhirnya mendarat di Bandara Internasional KL. Dalam hati saya berpikir, wah kalau ini kapal laut dan melewati wilayah Indonesia, mungkin sudah ditangkap oleh Polisi Air Indonesia!

Catatan: Berikutnya aku akan bercerita mengenai penerbangan Kuala Lumpur – Amsterdam lalu perjalanan ke Leuven, Belgia.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s