Si Lelaki Penakluk Wanita dalam Film Solitary Man

Pemeran:Michael Douglas (Ben Kalmen), Mary-Louise Parker (Jordan Karsch), Jenna Fischer (Susan Porter), Jesse Eisenberg (Daniel Cheston), Imogen Poots (Allyson Karsch), Susan Sarandon (Nancy Kalmen), David Costabile (Gary Porter), dan Danny DeVito (Jimmy Marino).

Sutradara: David Levien dan Brian Koppelman

Penulis naskah: Mr. Koppelman

Jika Anda berencana menonton film di hari-hari mendatang, cobalah mempertimbangkan film SOLITARY MAN. Sebuah film separuh komedi tentang perilaku tidak terpuji dari seorang pria setengah baya bernama Ben Kalmen (diperankan oleh Michael Douglas) cukup mencuri perhatian penonton, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia. Film yang memulai syuting tahun lalu dan mulai dirilis di bioskop-bioskop Amerika sejak 22 Mei tahun ini cukup merepresentasikan kepiawaian David Levien and Brian Koppelman selaku sutradara dan ko-sutradara.

Cobalah sebelum menonton, tantang diri Anda dengan mengimajinasikan kata solitary (diterjemahkan sebagai sendiri atau seorang diri). Kalau Anda mengklik www.dictionary.com kemudian mengetik kata ”solitary”, maka Anda akan menemukan bahwa kata ini antara lain berarti (1) sendiri, seorang diri, tanpa pendamping, hidup sendiri, yang semuanya menunjuk ke kata sifat; atau (2) seseorang yang hidup sendiri atau menghindari hidup bersama orang lain, yang menunjuk ke kata benda. Pertanyaannya, mengapa seseorang mau hidup sendiri, tidak ingin diurus dan diatur oleh orang lain? Dalam hubungannya dengan film Solitary Man, apakah menjadi seorang diri, hidup tanpa bantuan dan pertolongan orang lain sungguh sebuah pilihan hidup yang secara sadar dipilih sendiri oleh Ben Kalmen? Atau jangan-jangan kehidupan semacam ini terpaksa diterima oleh Kalmen karena faktor-faktor pribadi atau sosial tertentu? Biarkan pertanyaan-pertanyaan semacam ini menghantui pikiran Anda sebelum Anda memulai menonton film ini. Coba kemudian diperhatikan, apakah Anda sendiri menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan Anda setelah menonton film yang berdurasi hampir satu setengah jam itu?

Dengan reknik flash back yang apik, awal film diperlihatkan siapa Ben Kalem. Sekitar enam setengah tahun lalu, Ben Kalmen bukan orang biasa-biasa. Dia sangat terkenal sebagai pemilik dealer mobil yang sangat sukses, mapan, dan kaya. Tetapi kesuksesan itu ternyata tidak berumur panjang. Jalan kesuksesan dan kemapanannya terbendung dan tertutup, sementara hubungannya dengan istrinya, Nancy Kalmen (diperankan Susan Sarandon) berujung perceraian.

Ben Kalmen adalah seorang ayah, kakek, mantan suami, dan seorang kekasih dari perempuan kaya raya bernama Jordan (Mary-Louise Parker). Sehari-hari Kalmen dikenal sebagai penjual mobil terkemuka yang sukses dan penakluk perempuan segala usia.

Suatu hari, dokter menyatakan ada sesuatu di jantungnya yang perlu diperiksa lebih lanjut. Bukannya menjalani tes lanjutan, Kalmen memutuskan untuk menekan gas dalam kehidupannya yang selama ini dianggap terlalu stabil dan mudah ditebak. Dia mencari kegairahan dan kegilaan. Kalmen bermain perempuan; menghabis-habiskan uangnya hingga terpaksa terus-menerus meminjam duit kepada anaknya, Susan (Jenna Fischer). Dalam situasi yang sudah terpuruk, Kalmen tetap merasa dirinya masih lelaki sukses yang mampu menaklukkan perempuan. Dalam perjalanan menuju ke almamater kampusnya untuk menemani anak dari Jordan, kekasihnya, Kalmen seperti menyusuri sebuah masa lalu ketika dia masih muda, berkilat-kilat, dan lelaki penakluk perempuan.

Itu pula yang kemudian mendorong Kalmen merayu anak kekasihnya, Allyson (Imogen Poots), hingga ke tempat tidur. Skandal ini yang akhirnya betul-betul menjatuhkan dia ke lapisan paling bawah dari kemanusiaan. Seorang lelaki tidur dengan anak dari kekasihnya?

Harus dikatakan, Kalmen mungkin bukan seorang lelaki atau ayah yang ideal. Meskipun demikian, Douglas dalam film ini menampilkan karakter keartisan yang luar biasa—sama seperti yang biasa dia perankan dalam film-filmnya yang lain. Selain ketengilan, kegilaan, kemauan keras untuk memenangkan apa yang dimauinya, citra penggemar dan penakluk perempuan tidak bisa dilepaskan dari dirinya. Agresivitas dalam menaklukkan perempuan dan membawa mereka ke ranjang dapat diparalelkan dengan perannya dalam film-film lain, taruhlah Fatal Attraction (Adrian Lyne, 1987); Wall Street (Oliver Stone, 1987); Basic Instinct (Paul Verhoeven, 1993); Disclosure (Barry Levinson, 1994); atau Falling Down (Joel Schumacher, 1992); atau Traffic (Steven Soderbergh, 2000).

Kalmen mewakili para lelaki yang menolak keterbatasan manusia. Menolak usia yang semakin senja (betapa lucu adegan Kalmen yang dengan cerewet menolak dipanggil “kakek” oleh cucunya, karena ada gadis cantik lewat) dan menolak kenyataan bahwa hidupnya sudah hancur lebur. Duo sutradara Brian Koppelman dan David Levien telah berhasil membawa Michael Douglas pada sebuah titik puncak seni peran dia selama kariernya. Ketika akhirnya ada juga seorang mahasiswi cantik yang dirayunya berani menolak Kalmen ini jarang sekali terjadi barulah Kalmen ditabrak kenyataan: tak semua orang sebejat dia.

Adegan akhir, ketika mantan istrinya, Nancy (diperankan dengan sangat manis dan mulus oleh Susan Sarandon), menawarkan untuk mengantar dia ke dokter, kita kemudian cepat sekali tersentuh. Sang lelaki akhirnya tahu, dia harus berdiri menerima bahwa hari sudah senja dan matahari akan tenggelam.

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s