Papan Penunjuk Fakultas-fakultas

Papan penunjuk

Kalau Anda berada di sebuah perguruan tinggi, Anda akan menemukan banyak sekali fakultas dan program studi di sana. Mungkin Anda akan bingung mencari di mana fakultas tertentu atau program studi tertentu. Untuk membantu Anda dan rekan-rekan lainnya, biasanya dipasang papan penunjuk yang bisa mengarahkan Anda ke tempat yang sedang Anda cari.

Demikianlah, di sebuah perguruan tinggi terdapat beberapa papan penunjuk dengan tulisan-tulisan seperti berikut.

Jangan MELIHAT ke suatu hal apa pun di laboratorium fisika.

Jangan MENCECAP suatu hal apa pun di laboratorium kimia.

Jangan MENCIUM (MEMBAUI) suatu hal apa pun di laboratorium biologi.

Jangan MENYENTUH suatu hal apa pun di laboratorium medis.

Dan, yang paling penting dari semuanya itu adalah:

Jangan MENDENGAR ke satu hal apapun di departemen filsafat.

***

Setelah membaca ini, seorang filsuf menyerang balik dengan mengirim komentarnya berikut:

Saya seorang filsuf yang tidak nyaman membaca olok-olokan tersebut. Saya tidak tahu dari mana olok-olokan itu berasal, tetapi saya merasa perlu menyampaikan pikiran saya  mengenai hal itu. Terus terang saya mendengar pertama kali ejekan semacam itu dari seorang teman karib saya, dan sekarang saya membacanya secara online.

Apa sih sebenarnya disiplin ilmu filsafat itu sehingga mengesankan dirinya sebagai ilmu yang seakan-akan tidak bermanfaat? Bagi saya, para filsuf dengan serius menghargai hakikat terdalam dari kehidupan itu sendiri. Mereka sungguh memahami kedalamannya. Konsekuensinya, mereka pada akhirnya menemukan dirinya selalu berada pada taraf selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang barangkali bagi kebanyakan orang sudah jelas dengan sendirinya. Mereka termasuk orang-orang yang selalu tidak puas dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, dan barangkali aspek ini yang kurang mendapat simpati para ilmuwan. Anda tahu, para ilmuwan berusaha menemukan jawaban terakhir dari seluruh pencarian dan penelitian mereka. Meskipun bersifat sementara, kesementaraan atau sifat kontingen ilmu relatif bertahan lama dibandingkan dengan preokupasi filsafat. Lagi pula, para ilmuwan umumnya tidak memiliki cukup kesabaran untuk menghadapi berbagai pertanyaan kritis sebagaimana dialami para filsuf.

Misalnya saja mengenai sebuah pertanyaan klasik ini: Jika sebatang pohon tumbang di hutan belantara dan di sana tidak ada orang yang mendengar atau menyaksikannya, apakah kejadian jatuhnya pohon itu tetap menimbulkan bunyi?

Pertanyaan ini diajukan oleh para filsuf kuno—zaman dulu banget—dan tampaknya para filsuf tidak menyetujui satu jawaban definitif terhadap pertanyaan itu. Para filsuf tidak merasa sebagai sebuah kewajiban untuk memiliki jawaban tunggal atas pertanyaan tersebut. Keesaan jawaban justru mengebiri hakikat filsafat itu sendiri yang selalu mau mempertanyakan segala sesuatu.

Tetapi coba pertanyaan yang sama ditanyakan kepada para ilmuwan, apa kira-kira jawaban yang mereka berikan? Mereka akan pergi ke hutan untuk menyelidiki perkara tersebut, dan berapa lama kemudian kembali sambil berkata, ”Okelah, pertanyaan itu menarik, tetapi maaf karena kami masih berkonsentrasi pada kasus-kasus yang lebih umum ketimbang membicarakan hal sespesifik itu.”

Bukankah ilmuwan juga pantas diperolok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s