MERINDU BUMI, SEBUAH REFLEKSI DI HARI ULANG TAHUNKU

Suatu hari, di bulan kedelapan, 41 tahun silam, hiduplah seorang anak laki-laki di negeri para malaikat. Ketika desa-desa di Pulau Lembata (Nusa Tenggara Timur) sedang dilanda kekeringan karena musim hujan yang pendek belum juga kunjung tiba, si anak kecil itu justru menikmati kebahagiaannya bersama para malaikat di surga; dan tampaknya dia sangat berbahagia. Warna-warna nan indah dan gemerlap mengelilinginya, gita dan puji para serafin senantiasa menaunginya.

Suatu hari, entah kenapa, awan-awan surgawi berpisah dan berserakan ke sana kemari. Ketika itu, si kecil itu melihat bumi dari balik awan, dan menemukan betapa banyaknya manusia tengah mendiami bumi yang hijau. Para penghuni bumi itu tampak begitu bahagia. Mereka yang dewasa dan tua tampak sedang giat bekerja, sementara yang muda dan anak-anak berlari ke sana kemari dalam permainan yang menghanyutkan. Tiba-tiba saja si kecil ingin menjadi bagian dari dunia anak-anak yang dilihatnya di bumi itu. ”Aku harus ke bumi,” tekad si kecil itu. Aku harus melihat sendiri apa yang sedang manusia kerjakan di sana.”

Kerinduan itu semakin menjadi-jadi ketika si kecil menikmati indahnya warna-warna pelangi bumi. Kerinduan itu menyesakkan kalbu ketika menyaksikan ribuan kupu-kupu menyinggahi setiap bunga dan ribuan burung aneka warna tak lelahnya terbang menembus angkasa. Ketika di kejauhan tampak ikan-ikan berenang dalam pusaran air nan bening dan damai, anak-anak berteriak dan bersorak-sorai sambil memanjat pohon, meloncat di atas rerumputan hijau, atau berjalan menyusuri pasir-pasir putih di pinggir pantai nan biru. ”Ah, indah sekali kau bumi,” gumam si kecil dalam hatinya.

Rindu akan bumi tidak pernah bisa menghentikan keinginannya untuk meninggalkan kenyamanannya di negeri para malaikat, yang mulai dirasakannya sebagai tidak mendamaikan lagi. Imajinasinya yang melayang jauh menembusi angkasa bumi dan impiannya mengantar dia dalam teriakan dan lompatan anak-anak tanah tiba-tiba saja dibangunkan oleh malaikat pelindungnya yang sehari-hari mengikuti kemana pun dia pergi.

”Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” tanya malaikat itu.

”Bolehkah aku pergi ke bumi sekarang?” tanya si kecil.

Dengan tatapan penuh kasih, malaikat itu menjawab, ”Jangan sekarang. Waktunya terlalu cepat saat ini. Kamu harus bersabar menunggu beberapa saat lagi.”

Keterangan malaikat pelindung sejenak menenangkan hati si kecil itu. Hatinya sekarang sedikit tenang dan bisa menerima keadaan. Tetapi akankah kerinduannya pada bumi akan sirna dan menghilang? Yang pasti, setelah bumi ”menampakkan” diri itu, negeri para malaikat itu pun seakan tak kuasa membendung keinginan si kecil itu. Gulungan awan yang kemarin berhasil menutupi tirai yang menghadap ke bumi, pagi itu sekali lagi tersingkap, dan keindahan bumi kembali terpampang di hadapan si kecil. Kali ini dia menyaksikan sendiri sekelompok suami istri sedang bekerja. Dia juga melihat bagaimana manusia menggeluti aneka profesi. Ada tukang besi, ada petani, sopir, industriwan, penulis. Sementara itu, di rumah-rumah tampak para ibu sedang mengemong dan merawat bayi-bayi mereka.

Si kecil pun sekali lagi bertanya kepada malaikat pelindungnya, ”Bolehkah aku pergi ke bumi sekarang?” Jawab malaikat itu, ”Kamu bisa pergi ke sana, tetapi kamu harus pertama-tama melewati tanah penuh mimpi dan harapan.”

Anak itu pun tertidur tanpa mengerti apa pun yang dikatakan malaikat itu sampai sebuah mimpi menghampirinya. Malam itu si kecil bermimpi menemukan dirinya sedang berjalan menghampiri seorang ibu muda. Tampak sang ibu membuka tangannya lebar-lebar dan mengajak si kecil menghampirinya, sembari berkata, ”Kemarilah anakku! Datanglah kemari! Datanglah dalam dekapku, peluklah hidupmu dalam hidupku!”

Si kecil itu segera tersadar dan bangun dari mimpinya. Segera dia berlari menghampiri malaikat pelindungnya dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya dalam mimpinya. Tanya si kecil lagi, ”Bolehkah aku pergi ke bumi sekarang?”

”Ya, kamu boleh pergi sekarang. Tetapi kami harus menemukan ayahmu terlebih dahulu,” jawab malaikat itu penuh kasih.

Malaikat pelindung itu pun segera mencari siapa ayah si kecil itu di antara ribuan ayah di bumi. Setelah menemukan siapa ayah bagi si kecil itu, malaikat itu pun menghampiri si kecil dan berkata, ”Aku telah menemukan ayahmu, tetapi kamu harus ingat satu hal. Kamu akan memiliki dua ayah.”

Terheran-heran, si kecil balik bertanya, ”Dua ayah? Mengapa aku harus memiliki dua ayah? Siapakah mereka?”

“Ya, kamu memiliki dua ayah,” jawab malaikat itu. “Ayah yang pertama adalah Dia yang pertama kali meniupkan kehidupan kepadamu. Dia juga yang menyingkapkan awan penutup bumi dan menampakkan keindahan bumi kepadamu. Dialah yang membangun awan pelangi dan menjadikannya sebagai jembatan bagimu menuju bumi. Meskipun begitu berjasa, ayahmu yang pertama ini tidak mampu memberi kamu cinta dan bimbingan yang kamu butuhkan dalam kehidupanmu sehari-hari. Itulah sebabnya mengapa kamu harus memiliki ayah kedua.”

Tidak sabaran, si kecil itu langsung menyela, tanyanya, ”Siapakah ayah kedua bagiku? Siapa namanya? Apakah dia seorang yang ganteng dan gagah berani? Mendengar itu, malaikat itu pun tersenyum dan berkata, “Ayah kedua bagimu bernama ALOYSIUS. Dia sudah menungguh kedatanganmu beberapa tahun ini, dan saya pastikan kamu bisa bertemu dengannya sembilan bulan lagi.”

Si kecil itu pun langsung memotong kata-kata malaikat pelindung dengan pertanyaan yang sama, ”Jadi aku bisa pergi ke bumi sekarang?” ”Kamu akan mengalaminya tidak lama lagi,” jawab malaikat itu.

3 pemikiran pada “MERINDU BUMI, SEBUAH REFLEKSI DI HARI ULANG TAHUNKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s