“Teroris” Itu Tinggal di Rumah Kita

Mungkin agak berlebihan kalau ledakan tabung gas di berbagai tempat di Indonesia dan telah menelan puluhan korban jiwa serta kerugian material ratusan juta rupiah dikategorikan sebagai terorisme. Meskipun demikian, tayangan televisi yang menyorot keadaan korban secara close up dan laporan kerugian material menciptakan ketakutan yang semakin meningkat. Ketakutan kini berubah menjadi teror persis ketika tabung gas sebagai biang ketakutan ada di setiap rumah kita. Tabung gas sebagai teroris sungguh-sungguh tinggal di rumah kita.

Berbeda dengan terorisme pada umumnya (John Deuth, Terrorism: 1997), teror tabung gas jauh lebih menakutkan karena dua hal. Pertama, senjata perenggut nyawa itu teridentifikasi, tetapi belum diketahui kapan meledak. Ketegangan yang ditimbulkan sama seperti yang dihadapi polisi penjinak bom ketika beraksi.

Betapa tidak! Setiap kita tahu bahwa di dapur rumah kita ada tabung gas yang sewaktu-waktu dapat meledak, tetapi kita tidak tahu kapan. Mungkin akan meledak sebelum tidur, ketika bangun, atau ketika meninggalkan rumah. Benarlah kiranya pendapat Brian Jenkins, bahwa “terorisme adalah teater” (dalam William F. Shughart II, An Analytic of Terrorism, 2006: 7). Kapan drama teror ini mencapai klimaks (baca: meledak) susah diprediksi. Karena itu, kita sebagai pengguna tabung gas mau tidak mau melengkapi diri dengan kewaspadaan yang tinggi. Kita berada dalam ketakutan jangan-jangan tabung gas di rumah kita segera akan meledak. Ketakutan ini semakin meningkat dan menegangkan persis ketika pemerintah, dalam hal ini Pertamina tidak bisa menjamin apakah tabung gas yang ada di rumah kita aman. Semula mungkin pengguna tabung gas dua belas kilogram merasa aman karena kebanyakan yang meledak adalah tiga kilogram, tetapi sekarang tidak lagi demikian. Pengguna tabung gas 12 kilogram sama waspada dan takutnya dengan pengguna 3 kilogram.

Kedua, jika teror tabung gas adalah human error, belum teridentifikasi siapa master mind di belakang teror tabung gas ini. Menurut F Shughart II (2006: 10), setiap tindakan terorisme pasti memiliki empat karakter utama, yakni (1) bermotif politik; (2) merupakan tindakan yang sistematis karena terencana dan terukur; (3) para pelakunya tidak mau tunduk pada aturan moral atau norma hukum positif tertentu; (4) dan dirancang untuk mendapatkan reperkusi psikologis yang luar biasa, tidak hanya pada diri para korban, tetapi juga masyarakat pada umumnya.

Kapan Berakhir?

Keempat karakter ini masuk akal jika ada orang dan/atau kelompok yang mengklaim sebagai yang bertanggung jawab. Jika Pertamina mengaku lalai dalam menjamin mutu dan keselamatan, apa motifnya? Toh sejauh ini Pertamina belum pernah mengakui tragedi ini sebagai kelalaiannya. Pemerintah pun setali tiga uang. Tindakan “pembiaran” yang dilakukan pemerintah dengan tidak menarik produk tabung gas 3 kilogram dari masyarakat dapat dinilai sebagai bagian dari menghindari tanggung jawab. Ketiadaan master mind justru menyebabkan teror tabung gas tidak hanya semakin masif, tetapi juga semakin tidak bisa diprediksi kapan berakhir.

Kalau ledakan tabung gas kita sepakati sebagai alat pemusnah massal, seperti halnya terorisme, tampaknya kita harus sepakat dengan para teorisi terorisme mengenai dua hal. Pertama, terorisme telah merampas kebebasan sipil warga negara (John Deutch, 1997: 13). Terorisme politik dengan master mind yang jelas, terkoordinasi, dan terkalkulasi merampas sebagian kebebasan warga negara persis ketika kita harus membuka diri untuk antri di pelabuhan atau bandara, bersedia diperiksa barang-barang bawaan, mobil kita harus diperiksa ketika memasuki mal, hotel, tempat-tempat rekreasi, dan sebagainya. Bahkan, kita pun harus bersedia merinci dan mengklarifikasi identitas kita, latar belakang budaya, suku, agama, pandangan politik, dan sebagainya. Di hadapan teror tabung gas pun kebebasan kita dirampas nyaris tak berbekas. Hidup dalam ketakutan dan kewaspadaan setiap saat justru mendegradasikan kita sebagai makhluk yang secara kodrati harus bebas dari setiap rasa takut (freedom from fear).

Kedua, terorisme pada umumnya maupun terorisme tabung gas sama-sama tidak peduli pada korban yang tak bersalah—seleksi korban menurut teori terorisme adalah sesuatu yang tidak relevan. Sejauh tabung gas ada di rumah kita, sejauh itu pula kita “merelakan” diri menjadi korban ledakannya, tidak peduli apakah kita adalah orang miskin atau kaya, berpandangan politik liberal atau tradisional, pendukung partai politik pemerintah atau oposisi.

Teror dan ketakutan itu harus dihentikan segera. Kita lelah dengan berbagai diskusi dan wacana tentang siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab. Kita bosan dengan berbagai janji dan omong kosong mengenai standardisasi tabung gas.

Kita muak dengan manuver politik yang menggiring musibah ini ke ranah politik. Kita butuh tindakan konkret pemerintah menghentikan teror ini agar ketakutan masif yang ditimbulkan tidak terus merampas hak hidup masyarakat, khususnya rakyat yang kecil. Kita ingin hidup aman dan bebas dari rasa takut supaya bisa menjalankan roda kehidupan ekonomi yang semakin lama semakin berat ini.

Catatan:Artikel ini sudah dimuat di harian Suara Pembaruan, 7 Agustus 2010. Versi on-line koran Suara Pembaruan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s