MENERIMA TANPA SYARAT

Menjadi kehangatan bagi orang lain.

Mungkin terlalu sering kita berbicara mengenai menerima orang lain apa adanya sampai kita sendiri lupa bagaimana mempraktikkan apa yang kita omongkan. Ternyata tidak mudah menerima orang lain apa adanya, apalagi keadaan orang lain itu jauh dari yang kita bayangkan. Apakah kita sanggup menerima orang yang dikelompokkan sebagai miskin, gelandangan, pengemis, ketika de facto mereka berada di hadapan kita? Ketika de facto mereka mengetuk hati kita, menatap mata kita dan meminta belas kasihan? Seorang ibu memiliki pengalaman amat unik yang ingin dia bagikan ke kita. Saya menerjemahkannya secara bebas untuk rekan-rekan pembaca.

Aku seorang ibu dari tiga orang anak. Panggil saja aku Lea. Selain sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keperluan sehari-hari suamiku Toni, putra tertuaku Kevin (14 tahun), Sander (12 tahun), dan putriku Charlote (3 tahun), aku diizinkan suamiku untuk melanjutkan kuliah S-1 yang nyaris selesai sebelum kami menikah. Syukur kepada Tuhan, baru beberapa bulan lalu aku menyelesaikan studi Strata Satu Sosiologi di sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini.

Bagiku pengalaman selama kuliah selalu menjadi momen pembelajaran yang sungguh luar biasa. Saya selalu mengenang tantangan yang diberikan dosen sosiologi, Bapak Patrick, yang pada masa saya kuliah Beliau sedang mengembangkan apa yang disebutnya sebagai “proyek senyum”. Apakah proyek ini sebenarnya? Suatu hari Pak Patrick menugaskan kami sekelas untuk menjalankan proyek ini dengan instruksi bahwa kami harus bertemu dengan paling kurang tiga orang, memberikan senyuman kepada mereka, dan kemudian mencatat apa reaksi mereka terhadap senyuman kami. Karena saya seorang yang ramah dan murah senyum, saya pikir tugas ini tidak akan sulit saya laksanakan.

Segera setelah kuliah usai, saya bergegas menuju ke rumah kami yang jaraknya tidak lebih dari 30 menit naik kendaraan umum dari depan kampus. Keesokan harinya, ketika saya, suami dan ketiga anak-anak kami sedang berjalan santai ke salah satu pusat perbelanjaan, saya pikir bagus juga kalau hari itu saya merealisasikan “proyek senyum” tersebut. Ketika saya menanyakan hal itu ke suamiku, dia mengiyakan, bahkan suami bersedia merekam apa reaksi orang terhadap senyumanku kepada mereka. Kami memutuskan untuk merealisasikan “proyek senyum” ini ketika kami akan makan siang di sebuah restoran cepat saji di ujung jalan itu.

Kami sekeluarga segera memasuki restoran asal negeri Paman Sam tersebut dan langsung antri. Ternyata sudah banyak orang yang mengantri menunggu giliran dilayani. Ketika kami mulai mendekati tempat pelayan restoran, tiba-tiba saya melihat orang-orang yang berbaris di belakangku, termasuk suamiku, berbalik badan dan bergerak menjauhi antrian. “Ada apa sih? Koq pada bubar semua?” Tiba-tiba saja ketika mata saya mengamati pergerakan orang-orang yang meninggalkan antrian, saya mencium bau badan yang sangat tajam, seperti bau orang yang lama tidak mandi. “Huum, bau apakah itu?” selidikku dalam hati. Betapa terkejutnya saya ketika melihat persis di belakangku dua anak jalanan dengan pakaian yang sangat kotor dan menjijikkan. Rupanya bau badan kedua bocah ini yang telah “mengusir” sebagian pengunjung restoran cepat saji itu.

Ketika mataku menatap bocah yang lebih pendek dan yang paling dekat denganku, anak laki-laki itu tersenyum kepadaku. Aku melihat betapa matanya yang bening dan bersih itu seakan-akan bersinar penuh kedamaian. Mata itu begitu indah, jauh dari perasaan takut atau kegelisahan. Tampaknya hanya satu hal yang ingin dicari mata itu, agar dia diterima. Eh, tiba-tiba perkataannya membuyarkan pikiranku, katanya, “Hari yang baik, Bu!” Sambil berkata begitu, tangannya terus memainkan beberapa keping koin yang dia genggam, sepertinya dia menghitung koin-koin tersebut. Anak muda yang masih remaja itu membawa serta seorang sahabatnya, sesama anak jalanan yang tampaknya menderita keterbelakangan mental. Praktis temannya yang sehat telah menjadi semacam penyelamat bagi hidupnya. Ke mana pun mereka selalu berdua.

Menyadari kehadiran kedua bocah jalanan itu, pelayan restoran segera menanyakan apa yang mereka inginkan. Bocah yang sehat itu berkata, “Dua gelas kopi sudah cukup bagi kami, Nona!” Hanya itu yang bisa mereka beli sekaligus mendapat kesempatan untuk menghangatkan diri dalam restoran tersebut, mengingat suhu udara sangat dingin di luar. Menyaksikan hal ini, tiba-tiba perasaan bingung dan rasa belaskasihan berkecamuk kuat dalam diriku. Hampir saja saya meraih dan memeluk kedua bocah itu ketika saya melihat reaksi ketidaksenangan orang-orang yang ada di restoran tersebut. Mereka semua sedang menatapku seakan-akan mengatakan kepada saya untuk tidak melakukan hal yang mereka anggap konyol, yakni memeluk atau sekadar membantu kedua anak jalanan ini.

Setelah menerima kopi dua gelas dan membayar dengan uang recehan yang mungkin mereka dapatkan dari mengamen atau meminta-minta, kedua bocah itu segera duduk di meja paling ujung dan mulai menikmati hangatnya kopi. Ketika giliran saya tiba untuk dilayani petugas restoran, saya meminta mereka untuk menambah dua porsi lagi di tempat terpisah selain lima porsi yang saya pesan untuk aku, suami, dan anak-anakku. Saya meminta suami membawa lima porsi untuk kami ke meja yang telah disediakan, sementara saya membawa dua porsi ekstra, berjalan perlahan ke meja di mana kedua bocah jalanan itu duduk. Setelah meletakkan dua porsi makan pagi di atas meja, saya meraih tangan bocah yang tadi menatapku, menyapanya dengan salah satu senyuman terindah dari bibirku. Kopi hangat yang nyaris selesai mereka minum ternyata tidak sanggup menghangatkan tangan kotor itu begitu dingin. Sekali lagi anak muda itu menatapku, tetapi kali ini dengan air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya. Dengan suara terbata-bata dia berkata kepadaku, “Mum, terima kasih!” Saya mendekatkan tubuhku ke arahnya, menggenggam erat kedua tangannya dan berkata, “Saya tidak melakukan ini untukmu…. Tuhan sedang hadir di restoran ini, dan melalui saya Dia ingin memberikan sebuah pengarapan kepada kamu.” Setelah berkata demikian, saya tidak mampu lagi menahan air mataku, dan mulai menangis. Saya pun berbalik ke meja di mana suami dan anak-anakku tidak sabaran menunggu.

Ketika saya mulai duduk di meja tempat suami dan anak-anakku berada, suamiku tersenyum kepadaku dan berkata, “Sekarang saya tahu mengapa Tuhan menghadiahkan kamu kepadaku, sayangku, supaya kamu memberi aku sebuah pengharapan.” Saya masih menghela nafas karena menahan tangis ketika suamiku mulai menggenggam tanganku. Tiba-tiba saja keheningan dan ketenangan menghampiri kami. Saat itulah aku mengerti dengan baik, bahwa Rahmat Tuhan sungguh berlimpah. Dia sudah memberikan Rahmat itu kepadaku dan keluargaku, dan kini melalui kamilah Rahmat dan pengharapan itu harus dibagikan. Itulah pengalaman cinta yang paling menawan yang boleh aku alami, yakni ketika aku melihat kehadiran-Nya dalam sorot mata dan senyum yang diberikan bocah pengemis itu. Tuhan telah menunjukkan aku jalan dan terang-Nya untuk semakin mengasihi keluarga dan orang lain sama seperti aku mengasihi diriku sendiri.

Bagaimana dengan “proyek senyum” yang diberikan dosen sosiologi kepadaku? Saya kembali keesokan harinya, dan menyerahkan kisah yang aku alami ini sebagai hasil “temuanku”. Ketika membaca kisah pengalamanku ini, dosen bertanya, “Apakah saya bisa membagikan kisah ini juga kepada teman-temanmu?” Saya mengangguk perlahan, dan dosen pun mulai membacakan apa yang saya kisahkan. Tentu teman-temanku sangat takjub dengan kisah yang saya tulis tersebut. Tetapi lebih dari itu, saya semakin mengerti bahwa sebagai manusia dan mitra Tuhan, kita semua harus berani membagikan pengalaman-pengalaman ketika kita disentuh dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dan bahwa pengalaman-pengalaman itu tidak saja menguatkan iman, tetapi juga menyembuhkan, dan memberi pengharapan akan hidup yang lebih baik. Melalui saya, Tuhan telah mengunjungi suamiku, anak-anakku, dan anak-anak jalanan yang saya jumpai di restoran cepat saji itu.

Saya lulus dengan nilai yang memuaskan, tetapi lebih dari itu, saya telah memahami sebuah “mata kuliah” yang sangat besar yang tidak akan pernah saya lupakan dalam hidupku: MENERIMA SIAPA PUN JUGA TANPA SYARAT.

8 pemikiran pada “MENERIMA TANPA SYARAT

  1. oow….sungguh luar biasa…sangat menyentuh, mudah2an sentuhan-sentuhan semacam ini bukan hanya bisa menetesan air mataku tapi lebih dari itu semoga aku juga bisa “menerima tanpa syarat” secara konkrit, memang sulit sih, tp ketika seseorang bisa melakukan hal seperti itu, itu adalah karunia yang luarbiasa dari Tuhan kita yang juga luar biasa…!!! syalom GBU

  2. tks pa jeremi..belum lagi saya membacanya hingga selesai, air mata langsung menetes dipipi.. sangat menyentuh..mudah2 an saya bisa menjadi orang yang bisa menerima orang apa adanya dan tanpa syarat apapun..karena Tuhan pun menerima kita tanpa syarat apapun dan mengasihi kita.. JBU

  3. Ya, setuju dengan dirimu…. Memang amat sangat sulit memiliki kerendahan hati. Contoh paling nyata apakah saya memiliki kerendahan hati atau tidak adalah ketika saya mau ngga memaafkan orang yang melakukan kesalahan kepadaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s