Kursi Kosongnya Ayah

Katakan saja namanya Amanda. Putri tunggal Pak Wiryawan ini suatu hari datang minta tolong Romo Paroki supaya datang ke rumah mereka untuk menumpangkan tangan dan mendoakan sang ayah yang sedang sakit keras. Romo paroki pun menyetujuinya dan bergegaslah dia ke rumah Pak Wiryawan. Amanda sendiri tidak ikut pulang karena ada acara mendadak di rumah temannya. Ketika Romo Paroki tiba di rumah Pak Wiryawan dia mendapatkan laki-laki setengah baya itu sedang berbaring sakit di tempat tidurnya. Kepalanya diletakkan tak berdaya di atas dua bantal tua.

Sebuah kursi kosong ada di samping tempat tidur tua seusia Amanda, putrinya.

Melihat kursi kosong itu, Romo Paroki yakin jika kedatangannya memang telah ditunggu-tunggu Pak Wiryawan. “Pasti Anda sedang menunggu kedatanganku, kan?” kata Romo Paroki.

“Tidak!” “Siapa Anda?” tanya Pak Wiryawan.

Setelah memperkenalkan dirinya Romo Paroki melanjutkan, “Saya lihat ada sebuah kursi kosong di samping tempat tidurmu sehingga saya menyangka Anda memang sedang menunggu kedatanganku.”

“O ya, kursi kosong ini, “ kata Pak Wiryawan sambil tangan kanannya menunjuk ke arah kursi kosong. “Tolong tutup pintu!” pinta Wiryawan.

Sambil terheran-heran mengapa pintu kamar itu harus ditutup, Romo Paroki akhirnya menutup pintu juga.

“Saya tidak pernah memberitahu siapa pun juga, termasuk ke putriku sendiri,” kata Pak Wiryawan. “Sepanjang hidupku aku tidak pernah tahu bagaimana harus berdoa. Di gereja saya biasa mendengar Romo Paroki berbicara mengenai doa dan pentingnya berdoa, tetapi saya tidak pernah mempraktikkannya. Saya sengaja menolak setiap usaha apapun yang mendorong saya berdoa sampai suatu hari, empat tahun lalu, seorang sahabat karibku berkata kepadaku, ‘Wiryawan, doa sebenarnya adalah hal yang sangat sederhana dalam berbicara dan berkomunikasi dengan Yesus.’ Ketika saya masih ragu-ragu dan nyaris menolak pendapat sahabatku itu, dia justru mengusulkan saya mencoba jenis doa ini, katanya, ‘Wiryawan, duduklah di sebuah kursi. Tempatkan sebuah kursi kosong di hadapanmu, dan dengan iman pandanglah Yesus yang sedang duduk di kursi tersebut. Ini bukan sesuatu yang aneh atau lucu, karena Yesus sendiri berjanji, ‘Saya akan selalu ada bersamamu.’ Dan setelah itu mulailah berbicara dan berkomunikasi kepada Yesus seperti yang kamu lakukannya denganku,” demikian kata sahabatku itu.

“Saya menjalankan apa  yang diusulkan temanku itu, dan setelah beberapa lama melakukannya saya mulai menyenangi usulan sahabatku ini. Saya sangat berbahagia dengan cara berdoa seperti ini. Jika putriku melihat saya berbicara dengan kursi kosong, dia tentu sangat marah dan akan segera melempatkan kursi itu keluar dari kamar ini,” demikian Wiryawan menuturkan.

Romo Paroki sangat tersentuh mendengar kisah itu. Kepada Pak Wiryawan Romo menguatkan hati dan mendorongnya untuk terus melanjutkan peziarahan yang masih panjang dan lama. Setelah itu Romo Paroki berdoa bersama Wiryawan, mengurapinya dengan minyak, dan bergegas kembali ke paroki.

Dua malam kemudian Amanda menelpon Romo Paroki dan mengabarkan kalau ayahnya telah meninggal dunia tidak lama setelah Romo mengunjunginya.

“Apakah dia meninggal dunia dalam keadaan damai?” tanya Romo Paroki.

“Benar, Romo. Ketika saya meninggalkan rumah sekitar pukul dua sore, ayah memanggil saya ke kamarnya. Ketika aku sudah berada di sampingnya, ayah berkata kepadaku betapa dia sangat menyayangiku. Setelah mengatakan itu, ayah mencium pipiku. Ketika saya kembali dari berbelanja sejam kemudian, saya menemukan ayah telah tiada. Tetapi ada sesuatu yang aneh dengan kematiannya. Tampaknya beberapa saat sebelum meninggal dunia, ayah menyandarkan tubuhnya ke kursi kosong, meletakkan kepalanya di pegangan kursi yang ada di dekat tempat tidurnya dan kemudian meninggal dunia. Apa maknya semuanya ini?” tanya Amanda.

Sambil mengusap air matanya yang mulai membasahi pipinya, Romo Paroki menjawab, “Saya harap kita semua akan mati dalam cara yang sama seperti yang dilakukan ayahmu. (Diadaptasi dari Daddy’s Empty Chair di http://www.all-creatures.org/stories/daddys.html)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s