IMAJINASI SURGA FILM “COWBOYS IN PARADISE”

Film dokumenter Cowboys in Paradise garapan Amit Virmani memicu beragam reaksi masyarakat. Kelompok pendukung fenomena gigolo atau pelacuran sebagai bagian dari gaya hidup popular culture mungkin tidak resah dengan pembuatan film ini. Apa yang diangkat Virmani hanyalah potret kecil gairah pariwisata Bali, meskipun masyarakat menolak kemasan seks sebagai bagian dari industri pariwisata. Sementara tokoh masyarakat yang memegang teguh budaya dan nilai-nilai agama mempersepsi film ini sebagai bagian dari kampanye negatif menghancurkan pariwisata Bali. Jika persepsi terakhir ini benar, serangan terhadap Amit Virmani sebagai “orang Singapura” yang ingin membunuh pariwisata Indonesia, khususnya Bali menemukan semacam titik pembenarannya.

Tetapi apakah tepat cara kita membaca gejala budaya pop semacam ini? Sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan Amit Virmani melalui film garapannya?

Memotret Realitas?

Bagi Amit Virmani mungkin saja film dokumenter garapannya adalah potret keresahan dia atas bergesernya nilai-nilai kultur dan agama di kalangan pemuda lokal. Terlepas dari apakah benar pengakuan Amit Virmani bahwa dia terkejut ketika seorang pemuda usia 12 tahun yang dia temui di Bali mau belajar Bahasa Inggris karena ingin menjadi gigolo (Kompas.com, 28 April 2010), pesona wisata Bali menyimpan misteri yang pantas dipahami secara lebih mendalam. Apakah wisata Bali memang bersih sama sekali dari hiburan yang mengumbar nafsu birahi?

Kiranya kita mafum mengapa para pemuka agama atau pemangku adat Bali menolak praktik gigolo sebagai “pemanis” pariwisata. Bali terlanjur dikenal sebagai surga (paradise). Pelabelan ini merangsang imajinasi kita untuk memahami pariwisata Bali sebagai representasi realitas surgawi dalam artinya yang sebenarnya. Imajinasi itu seakan merasuki setiap kesadaran, bahwa berwisata ke Bali sama artinya dengan menikmati surga di dunia. Dalam konteks demikian, kaum beragama mustahil menerima pandangan bahwa surga boleh mengakomodasi prostitusi, perjudian, dan semacamnya. Cara pandang ini lagi-lagi mempertegas imajinasi religius agama monoteis (Yahudi,Kristen, Islam) bahwa surga sebagai sebuah taman harmonis penuh kebajikan harus sungguh-sungguh dilindungi dari pengaruh busuk dosa. Bahwa praktik prostitusi atau gigolo menghancurkan taman surgawi sekaligus menyesatkan manusia dalam mencapai kebahagiaan kekalnya.

Ketika film Cowboys in Paradise menuai kritik dan kecaman, mungkin baik kalau kita mengingat bahwa konsep paradise dalam artinya yang paling asali—berasal dari kata bahasa Iran Kuno, yakni pairi.daêza—mengandung arti “membentengi atau melindungi sesuatu” (biasanya taman milik kerajaan atau para bangsawan). Konsep paradise dalam alam pikir dan budaya Iran Kuno dipakai untuk mendeskripsikan upaya melindungi keindahan taman istana dengan jalan memagarinya. Perlindungan itu dilakukan dengan maksud agar keindahan taman kerajaan tidak hancur atau musnah.

Di tangan agama-agama monoteis, surga dipahami sebagai sebuah tempat yang mengeksistensi dalam ruang dan waktu dengan berbagai karakteristik yang diberikan agama. Bahwa surga adalah “taman” di mana kebaikan atau kekudusan berkuasa penuh atas kejahatan merupakan salah satu pelabelan yang diberikan agama monoteis kepada konsep surga. Dalam arti itu kita mengerti bahwa imajinasi Bali sebagai surga sedikit banyak dipengaruhi oleh gagasan agama monoteis mengenai surga.

Semangat kebebasan mengkonstruksi realitas seharusnya membebaskan kita dari kolonialisasi makna sebagaimana yang sekarang terjadi, bahwa reaksi terhadap pembuatan film dokumenter Cowboys in Paradise hanya dilandasi oleh imajinasi agama monoteis mengenai surga. Atas nama pluralitas makna pula kita seharusnya bisa menafsir “surga” secara sosiologis sebagaimana dilakukan Kyle Vialli (The Fast Track to Paradise: 2008) yang menelanjangi surga dari karakter religiusnya dan memosisikannya sebagai semacam “tempat khayalan” atau tempat ideal yang mengangkat dan menyemangati manusia untuk mewujudkannya, sekarang dan di sini. Sebagai sebuah “tempat khayalan” ideal, surga menampakkan diri dalam realitas “kegembiraan, kepenuhan hidup, kegairahan dan kenikmatan, sensasi dan kebahagiaan, keharmonisan hidup manusia dalam hubungannya dengan dirinya dan alam semesta, dan seterusnya. Dalam arti itu, kenikmatan surga bagi seorang Kyle Vialli (2008) tidak dialami setelah kematian, tetapi ketika manusia mampu merealisasikan seluruh sifat surga yang dikhayalkannya tersebut.

Terpaksa Kompromi

Bali sebagai taman indah memesona (paradise) tentu harus dibentengi dan dilindungi. Nilai-nilai budaya dan religiusnya harus tetap terpelihara. Tetapi pembentengan itu tidak lantas berarti bahwa wisatawan yang ingin menikmati keindahan surgawi Bali dilarang memasuki tembok surgawi itu, termasuk ketika kenikmatan seksual dan sensasi gigolo menjadi salah satu tujuan kedatangan mereka. Memaksakan imajinasi religius-monoteistik mengenai surga sebagai bagian dari imajinasi kolektif yang harus direalisasikan, termasuk oleh para pelancong sangat tidak demokratis persis ketika kenikmatan seksual, sensasi gigolo dan semacamnya dilakukan dengan tidak melanggar hak privat individu lain. Bagi masyarakat Barat yang telah lama mendekonstruksi segala imajinasi religius mengenai surga, perilaku apapun yang dilakukan di ruang privat dan tidak melanggar hak orang lain dianggap sah-sah saja.

Karena itu kompromi tampaknya menjadi titik temu moderat yang “terpaksa” diterima. Di satu pihak mengalirnya dollar ke pundi-pundi kas negara “memaksa” kita membuka pagar surgawi kita, termasuk kepada mereka yang ingin menikmati petualangan seks. Tetapi di lain pihak menjadi tanggung jawab setiap keluarga untuk membentengi anak-anaknya dengan nilai dan norma moral agar mampu bertindak rasional dan etis, bahwa nilai dan norma yang diajarkan kepadanya sungguh-sungguh mampu membawa dia kepada kebahagiaan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s