2. JALANLAH TERUS!

"Berjalanlah terus, jangan menengok ke belakangmu!"

Ketika Colombus menyeberangi lautan Atlantik yang sukar dan membahayakan, belumlah ada peta. Ia tidak tahu ke mana sedang berlayar. “Hari ini kami berlayar pada lintasan WSW,” tulisnya pada buku hariannya. Colombus pastilah dipenuhi harapan dan keyakinan saat memimpin agar tepat pada tujuan yang akan dicapai.

Tentu ia juga mempunyai pikiran akan keputusasaan bahwa ia tidak akan sampai tujuan; bahwa ia tiada hentinya terombang-ambing di tengah lautan yang menggelora; mungkin ia juga kehilangan dunia ini selama-lamanya. Hal-hal lain juga mungkin terjadi lebih buruk. Kapalnya rusak dan para awak kapal yang sedang ketakutan memberontak. Apakah Colombus kadang-kadang kehilangan harapan dan keyakinan, juga kepercayaan? Tentulah ia mengalami.

Namun pada saat-saat putus asa, frustasi, dan krisis itu Colombus membiarkan keberaniannya “berbicara”. Ia tahu ia harus tepat dan jalan terus. Bagaimana ia menjadi berani? Karena ia memiliki integritas dari dalam.

Apakah Anda memiliki integritas diri ketika Anda ada dalam keadaan-keadaan sulit? Punyakah Anda rasa harga diri selama krisis? Apakah Anda mengundang kepercayaan Anda di saat-saat kehilangan harapan? Kegagalan? Waktu panik? Ketika Anda tenggelam dalam lautan frustasi? Ketika tak dapat sampai pada pelabuhan? Ketika diri sendiri memberontak?

Diri yang besar terbentuk ketika Anda mencoba menjadi besar. Kapan itu? Pada saat-saat krisis, ragu-ragu, distres, dan putus harapan. Maukah Anda menuliskan kata-kata Colombus pada selembar kertas: “Hari ini aku berjalan terus!” Kemudian yakinilah kata-kata itu merupakan tanggung jawab moral yang perlu Anda buat juga.

4 pemikiran pada “2. JALANLAH TERUS!

  1. “Saat ini ada untuk kita coret dengan rangkaian cerita yang indah untuk di kenang setelah saat ini, menjadi bagian dari ilmu yang sangat berharga.”
    Meninggalkan jejak langkah yang ku pijakkan saat ini, di sini yaa…🙂

    Salam,

    1. He he he, setuju sekali. Dari pada meracuni diri dengan hal-hal yang negatif dan merugikan spirit, lebih baik memfokus pada hal-hal yang positif. Thanks atas komentarmu ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s