Keheningan Jangan Kau Pergi

Oh keheningan, kemarilah, kuasailah hidupku!

Malam belum terlalu pekat di Bekasi. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit tetapi mata ini sudah tidak bisa diadak berkompromi lagi. Akhirnya kuputuskan untuk tidur saja biar bisa bangun pagi lebih awal. Semoga saja esok pagi aku bisa bangun dengan tubuh yang lebih segar. Apalagi besok kan hari Senin, lalu lintas pasti padat sekali.

Baru saja badan yang lelah setelah seharian beraktivitas sosial-keagamaan ini menyentuh tempat tidur. Bunyi tit..tit…tit…tit dari hapeku mengagetkan aku. Sebuah SMS dari teman lama, menyuruhku menonton sebuah tayang di TV One. Jam segini kan sedang ada acaranya om Farhan? Mengapa temanku menyarankan aku menontonnya? Entah karena ingin menghargai usul temanku itu, aku urungkan niatku untuk tidur.

Layar televisi tuaku kembali memantulkan cahaya. Ternyata Om Farhan sedang mewawancarai Gede Prama, seorang motivator dan penulis produktif berbagai buku mengenai kehidupan. Seingatku dia seorang cendekiawan Hindu yang mengajarkan nilai-nilai universal tentang kehidupan. Lalu pikiranku bisa menebak, o ya, dua hari lagi kan hari Raya Nyepi, wajar dong Om Farhan mengangkat tema ini.

Begitulah saya mencoba tune in dan berusaha menyenangi acara itu. Di luar dugaan atau kecurigaanku, dialog ini sungguh luar biasa karena begitu menginspirasi. Dari sekian banyak hal yang dikemukakan, saya senang dengan apa yang dikatakan Gede Prama mengenai pentingnya keheningan, pentingnya kadang-kadang berdiam tanpa kata, karena itulah momen istimewa ketika seseorang menyadari keterbatasan dan ketakkuasaanya. Itulah momen ketika seseorang bisa menemukan dan menjalin relasi yang mendalam dengan Sang Pemilik Kehidupan.

Gede Prama memang benar. Kesibukan sehari-hari sering membuatku lupa betapa keheningan yang dulu pernah menjadi bagian intim keseharianku nyaris hilang tak-berbekas. Keheningan–per definisi–adalah “keadaan tenang” (www.answer.com/topic/stillness). Keadaan tenang bisa melukiskan keadaan badan atau tubuh yang tak bergerak (duduk, berdiri, atau tidur tak-bergerak). Lebih mendalam, “tenang” menggambarkan keadaan tidak ada suara, atau keadaan kedamaian hati dan pikiran.

Ketika berbagai agama atau kebudayaan membicarakan hal ini, aku tersadar betapa ketenangan atau keheningan harus menjadi bagian dari cara manusia memaknakan eksistensinya. Yang aku tahu, keheningan memang menjadi bagian dari hakikat manusia. Ketika bayi seluruh eksistensi manusia adalah keheningan dan kepasrahan total. Karena itu, jika sekarang aku tersadar betapa kehidupan mulai menjadi bagian dari hiruk-pikuk pencarian nafkah dan pemenuhan kebutuhan, aku perlu mengasah kembali keheningan itu yang kini masih tersisa. Kutekadkan diriku untuk membangkitkan kembali kesadaran akan pentingnya keheningan itu.

Ku biarkan diriku menikmati seuntai puisi yang ditulis Rabindranath Tagore berjudul STILLNESS  berikut.

STILLNESS

Stillness soars as a mountain peak,

Seeking its greatness in height.

Movement stops in a silent lake,

Seeking in depth its limit.

~

The fish in the water is silent,

the animals on the earth is noisy,

the bird in the air is singing.

But man has in him the silence of the sea,

the noise of the earth

and the music of the air.

~

There is a point where in the mystery of

existence contradictions meet;

where movement is not all movement

and stillness is not all stillness;

where the idea and the form,

the within and the without, are united;

where infinite becomes finite,

yet not losing its infinity.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s