MERINDU DOKTER SANG ABDI KEMANUSIAAN

Melayani dengan sabar setiap pasien yang datang kepadanya. Itulah panggilan seorang dokter.

Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) menetapkan tanggal 11 Februari sebagai hari orang sakit sedunia. Melalui sebuah surat kepada para pelayan kesehatan sedunia, Paus Benediktus XVI menekankan pentingnya semangat dan spiritualitas keagamaan menjiwai para dokter dan tenaga medis dalam melayani orang sakit. Semangat bela rasa, empati, mengutamakan kepentingan pasien, serta meneguhkan dan menguatkan mereka yang putus asa dan hilang pengharapan sebagaimana ditonjolkan agama hendaknya menjadi roh yang menggerakkan para dokter dalam melayani pasien. Ketika melayani pasien, para dokter tidak sekadar merealisasikan sumpah dokter, tetapi juga membuka kesadaran kepada keagungan Yang Ilahi.

Ditempatkan dalam konteks Indonesia, perayaan hari orang sakit sedunia memiliki makna penting. Pertama, para pasien seharusnya tidak dipandang sebagai komoditas yang mendatangkan laba bagi rumah sakit atau sekadar objek bagi tujuan penelitian tertentu. Mereka adalah sesama yang harus disapa dan didorong untuk sabar melewati hari-harinya yang menyakitkan sekaligus didorong untuk mengusahakan hidup sehat pasca perawatan. Kedua, melalui pelayanan kepada orang sakitlah para dokter menghayati profesinya sebagai abdi kemanusiaan. Apa relevansi kedua makna ini bagi pelayanan kesehatan di negara kita?

Dokter adalah Pelayan

Seorang dokter mengucapkan sumpah profesi untuk selali mengutamakan kesehatan pasien. Janji ini bermakna amat mendalam ketika sang dokter menyadari betapa “medicine is not just a job but a call to service, a call to help their fellow man, a vocation (Richard Colgan, Advice to Young Physician on the Art of Art of Medicine, Springer, 2009: 132). Pasien akan menjadi sekadar barang atau komoditas jika sang dokter memandang profesinya sebagai sebuah pekerjaan. Relasi pasien–dokter tidak lebih dari hubungan penyedia jasa layanan kesehatan (produsen) dengan pengguna (konsumen).

Di lain pihak, jika dihayati sebagai sebuah panggilan, profesi kedokteran justru menggemakan Kode Etik Kedokteran Indonesia di mana setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas menerapkan seluruh ilmu dan keterampilannya demi kepentingan pasien  (pasal 11). Meminjam mulut Don Quixote dalam karya penulis Spanyol Miquel de Cervantes Saavedra (1547–1616), seorang dokter adalah pangeran sejati yang memimpikan sesuatu yang tampaknya mustahil dan berusaha mewujudkan mimpi itu. Dia adalah seorang pejuang gagah berani yang menaklukkan setiap musuh yang keras kepala alias penyakit (Richard Colgan, 2009: 130). Seorang dokter tidak pertama-tama mengejar materi atau imbalan (Pasal 23 ayat 4 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan), tetapi kesembuhan pasiennya. Seorang dokter menghayati betul kata “dokter” dalam makna leksikalnya, yakni “mengajarkan pasien” (dokter dari kata bahasa Latin docere yang artinya mengajar). Ini beralasan, karena dokter bukanlah perpanjangan tangan perusahaan obat-obatan. Dokter juga bukan “alat” yang dipakai rumah sakit untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Seorang dokter menghayati profesinya sebagai tenaga profesional yang mendeteksi penyakit yang diderita, menjelaskannya kepada pasien, mengusahakan pengobatannya, dan menegaskan pentingnya hidup sehat pasca perawatan.

Sang Abdi Kemanusiaan

Edmund D. Pelegrino, seorang dokter, filsuf (ahli bioetika), dan mantan ketua Komisi Nasional Etika Amerika Serikat pemerintahan Presiden George W. Bush berpendapat bahwa tantangan terbesar menjadi dokter dewasa ini panggilan menjadi abdi kemanusiaan dan godaan menjadi dokter-penghasil-uang (money-making-physician). Berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai dokter dan pendidik para calon dokter, Pelegrino melihat tantangan ini sungguh riil ketika banyak dokter menjadi sekadar entitas ekonomi rumah sakit atau pabrik obat-obatan (Richard Colgan, 2009: 69-70). Kepada para calon dokter yang dididiknya Pelegrino selalu menekankan pentingnya menghayati profesi dokter bukan sebagai “gate-keeper” atau “provider of health” tetapi sebagai “pelayan” yang mendahulukan keselamatan orang sakit.

Profesi dokter bagi Pelegrino adalah abdi kemanusiaan. Ini menuntut seorang dokter tidak hanya menjadi ahli di bidang medis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Tidak cukup seorang dokter mengetahui yang baik dan buruk secara moral. Dia harus berkarakter sebagai orang yang baik secara moral. Seorang dokter harus memiliki keutamaan moral (virtues) yang memampukan dia mengutamakan tidak hanya kepentingan pasien, tetapi berani mengatakan tidak ketika kepentingan-kepentingan pasien dirugikan, entah oleh kebijakan rumah sakit atau kekuasaan tertentu (Richard Colgan, 2009: 72).

Dalam konteks inilah kita pantas bersedih ketika 67 persen pasien miskin pemegang Kartu Jaminan Kesehatan Masyaakat (Jamkesmas) atau Kartu Keluarga Miskin (Gakin) di 23 rumah sakit di Jabodetabek belum mendapat pelayanan kesehatan memadai. Temuan ICW yang dirilis tanggal 21 Desember 2009 menunjukkan betapa profesi ideal dokter sebagai abdi kemanusiaan masih jauh dari kenyataan ketika banyak rumah sakit yang belum pro pasien miskin. Bagaimana kita memahami profesi dokter sebagai pelayan kesehatan masyarakat ketika ada sekitar 28,4 persen pasien yang dipersulit pengurusan administrasi rumah sakit, harus mengantri ketika berobat (46,9 persen), atau jarang dikunjungi dokter jika rawat inap serta menghadapi sikap perawat yang tidak ramah (65,4 persen)?

Praktik kesehatan yang merugikan pasien miskin sebagaimana dilansir ICW itu seharusnya tidak terjadi jika setiap dokter dan rumah sakit mentaati UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (lihat misalnya pasal 4 dan 5). Jika UU saja tidak digubris, lantas apa yang salah dengan pelayanan kesehatan di negri ini? Sebagaimana ditekankan Pelegrino, UU dan kebijakan pemerintah tetap penting dan perlu. Tetapi yang lebih urgen adalah mendidik calon dokter berhati mulia, berwatak baik, dan berkeutamaan moral. Hanya di tangan merekalah praktik-praktik medis yang merugikan pasien bisa diakhiri. Tentu diandaikan seorang dokter yang tidak menjadi money-maker physician, tetapi seorang ksatria yang berani bertarung mengalahkan segala penyakit dan tantangan demi keselamatan pasien-pasiennya. Selamat merayakan Hari Pasien Sedunia!

Satu pemikiran pada “MERINDU DOKTER SANG ABDI KEMANUSIAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s