PELAJARAN SEDERHANA DARI ANAKKU-2

Ketika Anakku Mengalami Stres

Pertengkaran orangtua bisa memicu stres. Sumber Gambar: http://www.ksl.com/index.php?nid=450&sid=4353443

Dunia anak-anak memang sangat menyenangkan. Karena itu, mungkin kita mengira atau berpikir bahwa anak-anak jarang atau hamper tidak pernah mengalami kesulitan atau stres. Tetapi, pernahkah kamu menghadapi kenyataan bahwa anak-anakmu sama sekali tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan ibu dan bapak gurunya? Padahal hari-hari sebelumnya mereka mau mengerjakannya? Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sikap dan perilaku semacam ini?

Menurut para psikolog perkembangan anak, apa yang dihadapi anak-anak kita ini—menolak untuk mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya—adalah salah satu contoh stres. Ketika membaca atau mendengar apa yang dikatakan para psikolog ini, eh ternyata saya menjadi sadar dan mengerti dengan beberapa perubahan perilaku dalam diri anak saya, tidak hanya ketika menolak pekerjaan rumah, tetapi juga pada gejala-gejala stes lainnya. Jadi, anak-anak bisa mengalami stres? Ya, bisa sekali. Jika demikian, apa saja sumber stres pada anak-anak?

Sumber Stres

Tekanan yang menyebabkan stres pada anak-anak ternyata bisa datang dari dua sumber, yakni dari luar dan dari dalam diri anak sendiri. Sumber stres dari luar misalnya dari keluarga sendiri (orang tua dan keluarganya), dari sekolah, atau dari teman-teman bermain. Sumber stres bisa juga berasal dari dalam diri anak sendiri. Stres yang disebabkan oleh faktor dari dalam diri anak sendiri terjadi terutama ketika ada atau terdapat diskrepansi antara apa yang anak pikirka seharusnya ada atau seharusnya dilakukan dengan apa yang senyatanya ada dan dialaminya. Misalnya, ketika anak mengerti bahwa orang tuanya tidak seharusnya bertengkar atau rebut, tetapi yang dia hadapi adalah kenyataan bahwa orang tuanya terus bertengkar. Faktor eksternal ini memicu semacam pikiran atau idealisme yang ada dalam diri anak mengenal sesuatu yang seharusnya ada atau terjadinya. Nah, kesenjangan atau diskrepansi nilai semacam inilah yang memicu stres secara internal.

Rasa terbebani juga dapat memicu terjadinya stres. Pada anak-anak TK, misalnya, kenyamanan dan ketenangan hidup yang dia rasakan di rumah dengan orang tua yang tiba-tiba hilang karena dia harus masuk sekolah—berarti terpisah dari orang tua—dapat menjadi beban psikologis tersendiri. Dan ini bisa menyebabkan stres. Sementara itu, beban pekerjaan rumah atau les yang terlalu banyak juga dapat memicu terjadinya stres. Mengapa demikian? Umumnya yang didambakan anak-anak setelah sekolah adalah memiliki waktu yang cukup untuk bermain bersama teman-teman sebayanya. Ketika dibebani dengan pekerjaan rumah yang terlalu banyak atau les seabrek (music, tari, matematika, bahasa inggris, dan sebagainya), anak-anak akan menjadi gampang dan mudah mengalami stres.

Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai orang tua dalam menghadapi keadaan seperti ini? Lagi-lagi para psikolog menasihati kita supaya kita jujur dan bicara apa adanya dengan anak-anak kita. Sebaiknya kita mengajak mereka untuk membicrakan perasaan-perasaan mereka, apa yang mereka rasakan saat itu. Nah, jika mereka mengatakan bahwa mereka merasa terlalu dibebani dengan pekerjaan rumah atau les-les lainnya, apakah dengan demikian kita langsung menyetop semua aktivitas itu? Di sini tentu kita sebagai orang tua tidak semuanya langsung setuju. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Saya juga setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya kita jangan langsung menyetop aktivitas yang anak kita anggap mendtangkan stres itu. Mungkin lebih baik jika kita mencari alternatif atau solusi yang lebih baik. Istri saya, misalnya, biasanya tidak melanjutkan memaksa anak mengerjakan PR atau mempersiapkan pelajaran untuk esok hari jika anak kami sudah menunjukkan wajah atau keadaan “bête”. Dia biasanya menghentikan apa pun kegiatan yang melibatkan anak kami. Jika itu pada malam hari, istriku biasanya menyuruh anak kami tidur lebih awal, tetapi meminta persetujuannya untuk bisa bangun pagi-pagi, misalnya pada jam subuh. Pada jam seperti inilah anak bisa mengerjakan PR atau mempersiapkan pelajaran untuk hari ini. Jika itu pada siang hari di mana dia ingin bermain dengan teman-temannya, kami biasanya berkompromi dan melakukan deal-deal tertentu dengan dia. Misalnya, dia boleh bermain tetapi tidak lebih dari 1 jam. Setelah itu harus beristirahat jika terlalu lelah dan ngantuk. Atau, jika dia mau karena cukup stamina, dia bisa mengerjakan PR atau mempersiapkan pelajaran-pelajarannya. Bagaimana dengan les-les lainnya? Ini sangat bergantung pada jenis les dan waktu. Lagi-lagi deal dan kompromi dengan anak menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan les apapun. Adalah sangat menyengsarakan dan membebani jika anak-anak kita “dipaksa” untuk mengikuti seluruh hal yang kita orang tua kehendaki. Tentu tidak semua anak bisa demikian, tetapi dalam kasus kami, hal semacam ini berjalan dengan baik dan menguntungkan.

Keadaan dalam rumah atau lingkungan sekitar juga dapat menyebabkan stres. Perhatikan bagaimana anak-anak kita menceritakan kekecewaannya terhadap teman-teman tertentu ketika pulang bermain dengan mereka. Misalnya, temannya berlaku curang, tidak terbuka, tidak mau bermain dengan dia, menolak kehadirannya, dan sebagainya. Atau, ketika ada anggot keluarga yang sakit, orang tua yang terus bertengkar dan berencana untuk bercerai, orang tua yang sedang menghadapi masalah keuangan, dan sebagainya. Tentu sebagai orang tua kita berusaha untuk tidak bertengkar di hadapan anak-anak kita. Atau, kita berusaha menutup apa yang sedang kita alami supaya anak-anak kita tidak mengetahuinya. Apakah ini cara terbaik untuk mencegah stres pada anak-anak? Saya rasa, meskipun kita menutupinya, bahasa tubuh atau gesture kita tidak bisa menipu. Cara berkomunikasi nonverbal kita justru dapat mengesankan kepada anak-anak kita bahwa kita sedang ada masalah. Akan lebih menekan dan membebani lagi jika anak-anak kita diliputi tanda tanya dan teka-teki akan apa yang sedang dialami para orang tuanya.

Selain itu, jangan anggap sepeleh masalah berita atau jenis tontonan di rumah. Ada anak-anak tertentu yang justru mengalami stres jika menonton terlalu banyak berita mengenai pembunuhan, perang, bencana alam, terorisme, atau bahkan sinetron-sinetron yang mengumbar kebencian, kat-kata kasar, kekerasan terhadap anak-anak, sifat pembangkang terhad orang tua dan lingkungan, dan sebagainya. Itulah sebabnya mengapa sebagai orang tua kita diminta untuk selalu berhati-hati memilih tontonan (apa yang perlu ditonton dan apa tidak bolah). Dalam kasus saya, istri saya sangat senang menonton sinetron. Bukan karena saya tidak suka sinetron sehingga saya dengan mudahnya melarang istri dan anak-anakku menonton sinetron. Saya biasanya menyimak jalan cerita dari sinetron tertentu. Jika jalan ceritanya tidak jelas, mutar-mutar, atau disengaja untuk diperpanjang, atau mengandung dialog-dialog yang mengandung kekerasan, pembangkangan terhadap orang tua, masyarakat, agama, dn sebagainya, bagi saya sinetron-sinetron semacam itu tidak perlu ditonton. Tentu hal yang sama juga terjadi dengan tontonan berita. Tidak semua berita boleh ditonton. Saya biasanya mengganti channel TV jika ada berita mengenai kejahatan, prostitusi, perselingkungan, dan sebagainya.

Dari sini tampak jelas bahwa dunia anak-anak yang kita persepsi sebagai serba enak dan membahagiakan ternyata mengandung potensi stres dan membebani hidup anak-anak kita. Bagi saya, dunia akan menyenangkan bagi anak-anak, dan itu sangat tergantung pada kita orang tua. Dunia yang menyenangkan itu harus kita ciptakan dalam rumah kita, antara lain dengan membangun keluarga yang minim stres, terutama stres pada anak-anak. Kasihan anak-anak yang masih kecil harus melewati hari-hari mereka dalam baying-bayang beban, ketakutan, dan stres.

Mengurangi Stres

Bagaimana kita bisa membantu anak-anak kita mengurangi stres? Para psikolog umumnya menganjurkan pentingnya istirahat yang cukup, memperhatikan gizi anak, dan pola pengasuhan yang baik. Sebagai orang tua kita dianjurkan untuk memiliki waktu yang cukup bagi anak-anak kita, tidak hanya ketika mereka ingin berbicara atau mendiskusikan sesuatu kita, tetapi bahkan ketika kita sekadar berada di kamar mereka atau di dekat mereka, tanpa kata atau instruksi apa pun. Yang terpenting adalah kita memperlihatkan diri sebagai dalam keadaan siap kapan saja mereka membutuhkan kita.

Bakan ketika anak-anak kita semakin bertumbuh dan besar, kualitas waktu bersama mereka sangat penting. Mungkin bagi sebagian dari kita orang tua mengalami kesulitan untuk segera berada di rumah seusai bekerja, lalu menyediakan seluruh waktu kita bermain dan bersenda gurau dengan mereka, atau mengobrol dengan anak-anak kita. Lebih sulit lagi ketika pada hari itu kita membawa pulang beban pekerjaan dan stres dari tempat kerja. Dalam keadaan demikian, marilah kita tidak lupa bahwa menunjukkan minat dan kesediaan bersama mereka itu sangat penting. Baik kalau kita memosisikan diri sebegitu rupa sehingga anak-anak kita merasa bahwa kita dekat dan memperhatikan mereka. Bahwa waktu kita berada di rumah, meskipun singkat, dapat dimanfaatkan secara maksimal dan positif untuk membimbing dan mengarahkan mereka.

Ketika anak-anak kita sedang mengalami tekanan berlebihan atau stres, sebagai orang tua, apa yang bisa kita lakukan? Para psikolog anak menganjurkan kepada kita supaya kita bisa membantu anak-anak kita menghadapi keadaan yang membebani dan stres itu. Misalnya, kita mengajak mereka untuk membicarakan dan menemukan alasan mengapa mereka stres. Dari obrolan itu kita bisa menemukan jalan keluar secara bersama-sama. Kalau stres itu disebabkan oleh beban belajar yang terlalu besar, kita bisa membicarakan bagaimana mengurangi beban itu. Perspektif anak dalam pembicaraan itu penting diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Kalau dia menginginkan perubahan waktu belajar atau perubahan jenis les dan sebagainya, keinginan ini harus diakomodasi sambil mencari solusi terbaik. Sebagai orang tua, sekarang saatnya kita menghindari memaksakan ego dan keinginan kita tanpa mempertimbangkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan anak-anak kita.

Selain membantu anak-anak kita menghadapi keadaan stres dan menolong mereka keluar dari sana, kita sebagai orang tua juga bisa membantu mereka mengantisipasi situasi-situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Misalnya, anak kita yang sedang sakit akan mengalami stres jika harus dibawa ke klinik. Dan kita sudah mengetahui lama bahwa anak kita akan stres kalau menghadapi dokter atau tenaga medis lainnya. Sebagai orang tua kita perlu berbicara dengan anak kita, menjelaskan pentingnya memeriksakan di ke dokter, dan sebagainya. Yang penting juga untuk diingat adalah bahwa kita tidak perlu terlalu banyak memberikan informasi kepadanya, karena terlalu banyak informasi mengenai pentingnya berobat ke dokter juga dapat menyebabkan atau memperdalam stres.

Tentu yang kita usahakan bukan menghilangkan stres sama sekali dari kehidupan anak-anak kita. Bahkan beberapa ekspresi stres seperti kemarahan, ketakutan, perasaan kesepian, atau kekecewaan bisa menjadi pengalaman yang berharga bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Yang penting masih dalam batas kewajaran dan tidak menimbulkan efek-efek lain yang membahayakan perkembangan anak, stres dalam keadaan tertentu bisa menjadi momen pembelajaran yang baik bagi anak-anak.

Merupakan pengalaman yang indah dan menyenangkan jika kita mengikuti perkembangan dan pertumbuhan anak kita secara dekat. Meskipun bukan seorang psikolog, rasanya begitu menantang jika berbagai pengalaman dan sikap anak memicu keinginan tahu dan niat untuk menemukan jawabannya. Tulisan yang Anda baca ini adalah salah satu jawaban dan keinginantahu saya, apakah anak bisa mengalami stre? Apa yang menyebabkan terjadinya stres pada anak? Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s