HIDUP DI BUI ENAK RASANYA

“Hidup di bui bagaikan burung, bangun pagi makan nasi jagung. Tidur di ubin pikiran bingung, apa daya badanku terkurung” (D’Lloyd)

Terkejutkah kita ketika satgas pemberantasan mafia hukum menemukan Ayin dan Aling menggunakan kamar tidur nan nyaman dilengkapi fasilitas mewah di rutan Pondok Bambu? Temuan ini mungkin hal biasa bagi mereka yang sudah tahu adanya perlakuan khusus terhadap napi yang punya kekuasaan dan/atau duit. Mereka sudah tahu kalau “hidup di bui bagaikan burung, bangun pagi makan nasi jagung” berlaku hanya bagi kaum kere yang tak punya kekuasaan.

Bagi masyarakat kebanyakan, perlakuan khusus terhadap napi tertentu semakin melukai perasaan keadilan. Betapa tidak, temuan satgas seakan melengkapi logika berpikir masyarakat awam tentang sandiwara penegakan hukum di republik ini. Masyarakat disadarkan bahwa kaum berduit atau berkuasa tidak perlu takut berhadapan dengan hukum. Di pengadilan akan ada pengacara yang siap “pasang badan” membebaskan dia dengan memanfaatkan jaringan luas dengan para penegak hukum lainnya, sogok sana sogok sini, semuanya diuntungkan asal sang kuat-kuasa bisa bebas dari jeratan hukum. Kalau pun hukuman dijatuhkan—misalnya karena perkaranya terlanjur diketahui publik atau karena diliput media secara luas, sang terdakwah yang kuat-kuasa itu tidak perlu takut masuk bui. Tinggal di penjara akan sama nyamannya dengan tinggal di rumah sendiri; yang berbeda hanya tempat saja.

Melanggar Substansi Hukum

Inikah wajah penegakan hukum kita? O my god! Ketika mata kamera menyorot saudara-saudara kita yang tidur berhimpit-himpitan dalam rungan kecil nan pengap, tegakah kita membiarkan segelintir orang menikmati kenyamanan sambil berkaroke ria atau berselancar di dunia maya dalam ruangan yang mewah nan dingin?

Selain aspek keadilan, prinsip retribusi menjadi salah satu sifat hukum yang harus dijunjung tinggi. Prinsip ini mengatakan bahwa siapan yang terbukti bersalah di pengadilan harus menjalankan hukuman sebagai retribusi terhadap kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya (Andre Ata Ujan, 2009: 120-122). Memanjakan seorang napi dengan berbagai privilese jelas melanggar prinsip retribusi. Penegak hukum kita lupa bahwa hukuman terhadap mereka yang melakukan kejahatan adalah cara untuk mengembalikan keteraturan sosial.

Selain asas retribusi, asas fairness juga sengaja dilanggar para penegak hukum kita. Asas ini menegaskan bahwa siapa pun juga yang terbukti melanggar hukum harus diperlakukan secara sama (equl treatment). Perlakuan yang sama terhadap setiap pelanggar hukum selain dimaksudkan sebagai cara menegakkan prinsip retribusi hukum, juga sebagai upaya mentaati hukum sebagai alat penegak yang imparsial terhadap setiap pelanggaran hukum. Sementara setiap perlakuan yang berbeda terhadap para tersangka, terdakwa, atau narapidana jelas mengorbankan prinsip keadilan hukum sekaligus menempatkannya di mulut jurang yang licin sebegitu rupa sehingga membahayakan prinsip-prinsip hukum objektif itu sendiri.

Mengistimewakan napi tertentu juga berarti menelanjangi aspek moral dari penegakan hukum. Tujuan tertinggi penegakan hukum yang retributif yang menjunjung tinggi asas keadilan (prinsip fairness) adalah mencapai kebaikan. Dalam setiap penegakan hukum, kebaikan sebagai tujuan finalnya selalu tertuju pada kebaikan individu—sang pelanggar hukum—dan kebaikan masyarakat. Hukuman yang dijalankan secara fair tentu memenuhi rasa keadilan masyarakat, sementara individu sendiri belajar mengoreksi diri dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya di masa depan. Dalam arti itu, perlakuan istimewa terhadap napi tertentu melukai rasa keadilan masyarakat sekaligus gagal menjadi sarana memperbaiki akhlak si pelanggar hukum.

Menodai Rasa Keadilan

Perlakuan khusus terhadap Aling dan Ayin jelas melukai rasa keadilan masyarakat. Rasa keadilan dalam tradisi pemikiran Rawlsian dipahami sebagai kemampuan untuk merasa atau memahami apa yang adil. Bagi Rawls, rasa keadilan adalah “the capacity to understand, to apply, and normally to be moved by an effective desire to act from (not merely in accordance with) the principles of justice as the fair terms of social cooperation” (Erin M. Cline, 2007: 362). Kalau pun diasumsikan bahwa ruang super mewah yang digunakan oleh Aling, Ayin, atau para napi spesial lainnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, memperlakukan mereka secara istimewa tetap melanggar rasa keadilan persis ketika tindakan itu menegasikan prinsip fairness dan kesetaraan dalam memperlakukan setiap warga negara di hadapan hukum. Perlakuan yang berbeda jelas menghancurkan social cooperation yang telah menetapkan prinsip-prinsip keadilan yang mengatur kehidupan sosial itu sendiri.

Satu pesan sangat kuat kita dapatkan dari pengungkapan kasus Aling dan Ayin di Rutan Pondok Bambu. Prinsip-prinsip hukum yang penetapannya merupakan wujud kerja sama sosial (social cooperation) dalam menegakkan kedamaian dan keteraturan masyarakat justru dihancurkan oleh para penegak hukum sendiri. Membacanya dari kacamata pemikiran John Rawls, setiap upaya penghancuran kesepakatan bersama mengenai penegakan keadilan menghancurkan kehidupan bersama sekaligus menuntut diadakannya kontrak sosial baru demi penetapan prinsip-prinsip keadilan baru. Selama para penegak hukum masih mempermainkan hukum, kerja sama sosial yang stabil, yang menjunjung tinggi keadilan tidak akan pernah tercapai. Dan selama itu pula upaya membentuk sebuah kehidupan bersama yang setara hanya akan menjadi impian semata. Dan ketika kita bangun tidur keesokan hari, kita menemukan bahwa syair lagu “Hidup di bui bagaikan burung, bangun pagi makan nasi jagung, telah digubah menjadi “Hidup di bui bagaikan raja, pagi, siang, malam makan enak. Tidur di kamar mewah pikiran tenang, sungguh enak meski badan terkurung.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s