PETA PENGETAHUAN DAN SIKAP KITA

E.F. Schumacher

Peziarahan hidup ini memiliki 2 sisi. Di satu pihak peziarahan hidup berdasarkan pola-pola hidup yang sudh ada dan jelas terungkapkan. Dan di lain pihak peziarahan hidup dengan selalu mengkritisi kemapanan.

      Untuk peziarahan hidup yang pertama, manusia itu diberi PETA. Dan PETA itu adalah peta kehidupan. Peta itu memuat eksistensi hidup, yakni asal dan finalitas kehidupan itu sendiri. Peta itu memuat hanya hal-hal yang telah jelas. Hal-hal yang belum jelas tidak akan tampak pada peta, kecuali kalau dimuseumkan (dijadikan jelas/sengaja dianggap jelas?). Dan untuk itu orang tidak berani mengkritisi peta falsafi itu.

      Schumacher yang membongkar kemapatan cara hidup seperti itu. Ia menunjukkan bahwa Peta falsafih itu dibuat atas nafas utilitarian: hamper-hampir  tidak diperlihatkan adanya barang sesuatu apapun kalau tak dapat ditafsirkan sebagai menyumbangkan bagi kesenangan hidup manusia atau bermanfaat di dalam perjuangan umum untuk mempertahankan hidup (hlm. 4).

      Fungsi peta falsafih yang utilitarian itu bahkan dimutlakkan dengan akibat bahwa orang hidup begitu saja atas petunjuk tersebut. Demikian kalau kita mau membagi periode kehidupan manusia tas 2 periode yang dipetakan:

  1. Periode imperialism teologik (istilah Dr. Frankle).
  2. Periode keilmuan (scientism).

      Periode imperialism teologis memetakan kehidupan dengan asal dan finalitas yang jelas, yakni TUHAN. Manusia pada zaman ini mengetahui kalau hidup itu mesti berbakti kepada Yang Ilahi. Demikianlah Schumacher melukiskan hal ini, katanya:

“Di mana-mana beribu-ribu orang yang sehat walfiat tunduk kepada pembatasan-pembatasan yang tidak berarti, seperti berpuasa secara sukarela, menyiksa diri dengan berwadat, membuang-buang waktu untuk berziarah, menyelenggarakan upacar-upacara keagamaan yang bukan-bukan, untuk doa mengulang-ulang, berpaling dari kenyatataan … karena ketidaktahuan dan kebodohan. … Bukan main kisahnya menganggap sebagai kenyataan apa-apa yang oleh tiap anak masa kini dipandang sebagai sama sekali tidak ada dan khayal” (hlm. 2).

      Apa yang hendak dikatakan Schumacher adalah bahwa orang beriman begitu saja menerima dan percaya pada apa yang telah dipetakan tanpa mengkritisinya. Anehnya, orang mempertahankan cara hidup mereka secam itu sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal peta falsafih teologik itu sendiri masih bias dibantah. Sal sj asas pertama dari para pembuat peta falsafih, yakni “kalau ragu, tinggalkanlah atau masukkanlah ke dalam museum” kita ganti dengan “kalau ragu, tunjukkanlah!”

      Demikianlah, kebenaran yang mau dipertahankan tersebut dapat dipatahkan dengan argument ini (kisah ini):

“Sekali, dalam pelajaran Perjanjian Baru Bahasa Yunani pada hari Minggu, yang diberikan oleh kepada sekolah, sekalipun tergagap saya berani menanyakan apa arti sesuatu dongeng perumpamaan. Jawaban yang saya peroleh sedemikian membingungkan sehingga saya benar-benar menghayati saat pertama kesadaran saya—yaitu saya tiba-tiba menyadari bahwa tidak seorang pun tahu apa-apa … dan sejak saat itu saya mulai berpikir bagi diri sendiri atau tepatnya tahu, bahwa saya sanggup berpikir sendiri … Saya ingat dengan terang ruang kelas itu, jendela-jendela tinggi yang dibangun sedemikian rupa sehingga tidak dapat keluar melaluinya, bangku-bangku pentas tempat kepala sekolah duduk, wajahnya yang kurus dan kelimis, kebiasaannya menyerangaikan mulut serta mengentakkan tangannya—dan sekonyong-konyong penyingkapan batin berupa pengetahuan bahwa ia tidak tahu ap-apa—barang sesuatu yaitu tentang apapun yang sungguh-sungguh berarti. Inilah pembebasan batin saya yang pertama terhadap kekuatan hidup dari luar. Sejak itu saya tahu dengan pasti—dan itu berrti selalu lewt pencerapan sahih batin sendiri yang merupakan satu-satunya sumber pengetahuan sejati—bahwa segenap kebencian saya terhadap agama sebagaimana itu diajarkan kepada saya adalah benar” (hlm. 4-5).

      Kekurangan lain pada zaman imperialism teologis adalah bahwa sesuatu yang lebih tinggi mau dibuktikan dengan sesuatu (tingkat pemahaman) yang lebih rendah. Lebih jelek lagi kalau pembuktian itu diklaim sebagai mutlak benar. Mengapa? Schumacher berkata, “Kalau saya membatasi diri pada pengetahuan yang saya anggap benar dan yang tidak mungkin diragukan, saya memperkecil risiko kekeliruan, tetapi bersamaan dengan itu saya memperbesar pula risiko kehilangan hal-hal yang mungkin paling halus, paling penting dan paling menguntungkan dalam hidup” (hlm. 3).

      Menurut  Schumacher, periode scientisme ditandai dengan tragedi ini:

  1. Persoalan menyangkut tujuan hidup manusia dibiarkan tidak terjawab. Manusia menyibukkan diri dengan sarana-sarana kehidupan, bukan tujuan manusia. Padahal sarana itu hanya dapat menjawab apa yang saya perlukan secara material, sementara kebutuhan untuk selamat atau untuk bahagia lebih menyangkut tujuan hidup. Dan kalau sarana-sarana itu membantu keperluanku, kadang-kadang saya tidak tahu apa yang saya perlukan. Demikianlah kalau orang meminta roti, jangan diberi batu.
  2. Tendensi scientisme yang atas dasar objektivitas ilmu malah mengklaim bahwa nilai-nilai dan makna-makna tidak lain daripada mekanisme-mekanisme pertahanan dan bentukan-bentukan reaksi. Kata Schumacher, “Mereka meminta-minta nasihat tentang apa yang harus mereka lakukan ‘agar selamat’. Sedang mereka diberitahu bahwa gagasan keselamatan tidak punya makna yang masuk akal dan karenanya tidak lebih dari suatu penyakit saraf kekanak-kanakan” (hlm. 6).

      Era scientisme mewahyukan spesialisasi di berbagai bidang kehidupan tetapi bahwa para spesialis melakukan generalisasi itu perlu disayangkan. Demikian kalau melihat realitas Schumacher menekankan pengalaman secara menyeluruh. Pemahaman secara menyeluruh itu tetap menggunakan jasa peta. Hanya saja peran peta di sini tidak sebagai pemecah “misteri-misteri” tetapi sebagai sarana mengenali misteri itu. Dan pada peta itu akan diletakkan tonggak-tonggak penting yang menyangga realitas. Dan Schumacher menunjukkan 4 tonggak penting yang perlu bagi sebuah peta, yakni (1) dunia; (2) manusia—perlengkapan yang digunakan untuk berhadapan dengan dunia; (3) caranya belajar tentang dunia; (4) apa yang dimaksud dengan kehidupan di dunia.

Sumber: E. F. Schumacher, Keluar dari Kemelut. Sebuah Peta Pemikiran. Penerbit LP3ES, Jakarta, 1981 (Cetakan ke-2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s