PELAJARAN SEDERHANA DARI ANAKKU (1)

Apa reaksi Anda ketika hampir sebagian besar waktumu dipaki untuk bekerja di luar rumah, dan suatu saat mendapatkan anak Anda memiliki perilaku-perilaku tertentu di luar dugaan atau perkiraanmu? Pertanyaan ini relevan untuk orang seperti saya yang setiap hari menghabiskan sekitar 12 jam berada di luar rumah alias bekerja (8 jam) dan selebihnya berada di jalan. Sementara putriku semata wayang menghabiskan hamper seluruh hari bersama ibunya. Istriku seorang guru SD dan anakku yang kelas 3 SD itu—namanya Cecilia Angeline de Urupia—bersekolah di tempat istriku. Dengan demikian, kedua perempuan itu—istri dan putriku—berangkat ke sekolah bersama, pulang bersama, dan bermain dan bersenda gurau bersama-sama.

Kalau dikatakan anakku telah berubah sikap, saya kira itu terlalu berlebihan. Dia tidak berubah sikap atau lebih menyeramkan lagi (amit-amit deh, semoga ini tidak terjadi) dia berontak terhadap keadaan. Mungkin terlalu dini untuk mengatakan hal ini. Yang terjadi justru sebenarnya hal-hal yang sederhana dan masih bisa dimenej. Misalnya, jika tahun-tahun kemarin anakku masih mengikuti seluruh rangkaian aktivitas harian yang kami (saya dan istri saya) inginkan, sekarang tidak demikian. Kami menginginkan hal yang sangat tradisional dan teratur. Misalnya, anak harus bangun jam 5 pagi, membereskan tempat tidurnya, mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Di sekolah dia tidak boleh lupa makan siang. Setiap hari dia membawa makanan sendiri dari rumah yang disiapkan ibunya. Selain ini merupakan kewajiban sekolah, masalah gizi dan kesehatan makanan bisa dipantau dan dikendalikan. Sepulang dari sekolah (sekitar pukul 13.00 WIB), dia harus beristirahat sejenak setelah makan, lalu harus tidur siang. Bangun tidur dia boleh bermain sebentar (mungkin 30-45 menit), setelah itu mandi, dan siap mengerjakan pekerjaan rumah dan/atau belajar. Makan malam bisa disela sebelum atau sesudah mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah itu kami boleh menonton televise, dan harus sudah tidur malam tidak boleh lewat dari jam 22:00 WIB.

Keteraturan semacam ini sekarang mulai agak terusik dan dikeluhkan ibunya. Misalnya, anak tidak mau tidur siang pada jam yang dijadwalkan. Dia memilih untuk bermain terlebih dahulu, setelah itu baru tidur. Kadang-kadang terjadi bahwa ibunya yang karena sudah capeh bekerja lalu tidur siang lebih dahulu, ketika bangun anaknya belum tidur siang. Kadang juga terjadi bahwa dia baru tidur siang ketika mengetahui bahwa saya sebentar lagi akan tiba dari tempat kerja (sekitar pukul 16:30 WIB). Itu namanya tidur sore kan? Herannya, anakku itu tidak harus bermain dengan teman-teman sebayanya di lur rumah seusai sekolah itu. Dia bisa sangat asyik bermain dengan alat-alat permainannya sendiri. Lebih sering adalah membongkar-bangkir buku sekolah, memindahkannya ke tas yang lain (anak saya maniak tas sekolah. Dia mengoleksi tas sekolah seabrek) atau bermain-main dengan kertas filenya sendiri yang warna-warni itu. Kadang juga menulis dan mewarnai. Yang menggembirakan adalah dia tidak terlalu lama menonton televise atau maniak dengan satu program atau tayangan tertentu—kecuali ibunya yang maniak sinetron.

Kalau hanya ini tentu bukan masalah, kan! Saya kira ini bukan masalah besar. Yang mungkin menjadi kerepotan ibunya adalah bahwa anak kami di usianya ini mulai mencoba mengatur dirinya sendiri dengan memilih jam tidur siang yang dia inginkan. Tentu ada konsekuensi, misalnya jika tidur terlalu sore dan bangun sekitar magrib, maka dia akan sulit tidur malam di jam yang sudah kami tentukan. Di sini saya salut dengan anakku. Meskipun dia tahu dia masih belum mau tidur malam tetapi bapa dan ibunya menginginkan dia dan kami semua harus tidur tidak lewat dari jam sepuluh malam, dia mencoba tidur pada waktu yang ditentukan itu. Dan syukurlah bahwa sejauh ini dia tidak ada masalah dengan tidur malam. Begitu tidur pada waktu yang sudah ditentukan, sambil sedikit waktu mendengar lagu-lagu kesenangannya dari handphone, dia segera tertidur. Yang penting keningnya dicium dan rambutnya dielus-elus oleh bapanya sambil berkata, “Tidur yang pulas ya nak. Semoga kita dijauhi dari segala mimpi buruk dan semoga Tuhan Yesus memberkati malam kita, agar kita bisa bangun keesokan hari dengan tubuh dan jiwa yang segar.” Jadi, sekali lagi perubahan waktu tidur siang, menurut saya, mungkin bukan masalah besar. Jika istriku berkeberatan dengan hal ini, mungkin karena dia sudah capeh dan ingin tidur siang tetapi anaknya belum mau tidur. Mungkin diakomodasi saja apa yang dia inginkan. Beberapa kali kami mencoba mengingatkan anak kami, bahw dia harus tidur pada jam 15.00, misalnya, dan itu harus dia putuskan sendiri tanpa desakan ibunya karena pada jam segitu ibunya sudah tidur siang, biasanya dia taat. Menurut saya, ini modal yang baik di mana jika dia diberi kepercayaan untuk mengatur dan mengelola waktunya sendiri, dia bisa memanfaatkan kepercayaan ini sebaik-baiknya.

Hal lain yang menurut saya juga wajar terjadi adalah kecendrungan anak kami membantah perintah atau menanyakan hal-hal yang menurut dia tidak masuk akal. Yang paling sering misalnya mengapa dia tidak boleh main pada sore hari dan harus mengerjakan tugas-tugas sekolah sementara teman-teman sebayany sedang bermain di sekitar rumah? Mengapa dia harus tidur siang seperti yang dijadwalkan sementara dia sendiri merasa tidak mengantuk? Mengapa ketika memerintah atau menginstruksikan sesuatu, ibunya atau saya sendiri bersuara keras seakan-akan marah? Mengapa orang tuanya harus marah-marah jika dia tidak well performed? Bahkan kalau harus ke gereja pagi-pagi di hari minggu, mengapa harus bangun pagi-pagi dan berangkat ke gereja? Dan sebagainya.

Bagi saya, semua ini masih dalam batas kewajaran. Sebagai orang tua, saya dan istri saya harus siap menghadapi berbagai perubahan tingkah laku anak kami. Saya kira ini belum apa-apa. Waktu masih panjang dan perubahan tingkah laku masih akan terjadi. Sambil menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai perubahan yang dibawa anak kami, satu hal yang kami pelajari sekarang adalah bahw kami sebagai orang tua tidak harus ngotot dengan seluruh pola dan peraturan yang kami tetapkan sepihak. Mungkin sudah waktunya untuk memperhatikan juga keinginan dan keluwesan anak. Jika peraturan rumah bisa ditetapkan secara luwes dan tidak merugikan siapa-siapa, mengapa kami harus ngotot mempertahankan cara hidup yang teratur sebegitu rupa tetapi dirasakan sebagai terlalu kaku dan tradisional oleh anak?

Semoga di hari-hari ke depan, berbagai perubahan yang dibawa anak kami masih bisa dan mampu kami hadapi dan kelola. Tentu dengan keyakinan akan bantuan yang ilahi dari Sang Guru dari Nazareth, semuanya bisa kami hadapi dengan senyum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s