Agama di Pikiran Seorang A.N. Whitehead

A.N. Whitehead

Whitehead berbicara mengenai agama sebagai institusi karena itulah yang sesuai dengan kekayaan manusia lebih daripad kalau ia dipandng sebagai seorang teolog yang mau membuktikan adanya Realitas Ilahi. Institusi-institusi keagamaan itu selain historis, juga di dalamnya manusia mengalami apa yang disebut PENGALAMAN RELIGIUS.

         Seseorang semakin menyadari apa artinya agama pada momen-momen sebagai berikut.

  1. Ketika seseorang merenungkan makna dari suksesi waktu yang terus mengalir ke arahnya menuju ke keabadiannya.
  2. Kualitas/mutu kereligiusan dari momen-momen perubahan dapat ditunjukkan manakala seseorang berda pada kehadiran kelahiran dan kematian.

         Kalau seorang Whitehead disapa sebagai seorang filsuf agama, harus diingat bahwa ia memahami agama sebagai yang terus menerus tanggap terhadap kejadian-kejadian (juga yang terus menerus mengalir). Bisa jadi agama yang statis tidak masuk dalam pemahamannya (ia menolak pemahaman demikian). Tetapi ini tidak berarti juga bahwa pengalaman-pengalaman masa lalu ketika orang menghadapi kejadian-kejadian tertentu ditolak. Justru dengan membaca kitab-kitab besar masa dulu, misalnya, seseorang bias mendapatkan insight tertentu demi pemaknaan kejadian-kejadian kini.

         Whitehead menerangkan masa lalu dan mengartikulasikannya bahwa masa sepanjang 12 ribu tahun sebelum munculnya para nabi Bangsa Ibrani hingga kematian Agustinus menyumbang insight tertentu.

a.      Penemuan Plato bahwa unsure-unsur keilahian dunia ini dipahami sebagai perantara yang persuasive dan bukannya koersif.

b.      Pemahaman ini lebih dimaknakan oleh Yesus dari Nazareth, seorang anak tukang kayu ketika mengajarkan tentang damai dan cintai.

c.      Usaha-usaha para teolog Kristen untuk mengawinkan insight Plato dan kehidupan Yesus dalam teori metafisik tentang imanensi yang Ilahi.

         Menurut Whitehed, baik Plato maupun para teolog Kristen gagak menunjukkan siapa yang Ilahi itu sebenarnya. Plato hanya berhasil menunjukkan bahwa ada realitas mutlak tetapi tealitas mutlak itu tetap jauh dari hal-hal yang temporal. Hal-hal yang temporal merupakan turunan (kopi) dari idea mutlak. Sementara para teolog Kristen seudah berhasil “mendaratkan” Allah yang jauh di alam idea Plato itu kepada hal-hal temporal ketika menempatkan keimanenan Allah dalam diri Yesus. Tetapi par teolog itu tetap gagal karena menolak Allah sebagai pengatur hal-hal yang temporal ini. Mereka tetap menempatkan Allah semata-mata sebagai yang maha sempurna dan maha kuasa (the primordial nature of God).

         Whitehead melihat problematika ini sebagai pengulangan dari dualism lama Plato. Menjembatani dualism itu lewat pandngan tentang kosmologi. “… we cannot understand the hopes and fears of our own inner life until we understand the world of which they are part.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s