Kerja oh Kerja

“Pa, sudah siang. Ayo bangun!” bisik istriku perlahan. Waktu menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, pagi-pagi sekali. Agak malas untuk bangun memang, karena cuaca pagi ini agak dingin. Di luar rintik-rintik hujan membasahi bumi.

Ya, aku harus cepat bangun, mandi lalu berangkat kerja. Kalau sedikit terlambat keluar dari rumah pasti akan macet sekali dan sulit mencapai tempat kerja pada waktunya. Maklumlah, aku harus menembus pagi yang dingin, memacu sepeda motorku menuju Pluit, tempat aku mengajar. Jarak dari tempat tinggalku di Bekasi Timur ke Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya mencapai nyaris 50 kilometer. Kadang kalau lagi malas naik motor, aku menitipkan motor di tempat penitipan motor dekat pintu tol lalu duduk manis di bis kota yang membawaku ke Grogol. Nanti di sana nyambung lagi. Begitulah keseharianku!

Pertanyaan mendasarnya tentulah mengapa harus kulakukan ini semua? Apakah sekadar kewajiban seorang suami dari satu istri? Apakah saya harus melakukan sebagai bentuk konkret tanggung jawab saya kepada kehidupan aku sendiri, kehidupan istriku dan putriku? Jika kerjaku hanya dilandasi oleh tuntutan tanggung jawab atas kehidupan, lantas apalah artinya kehidupanku itu sendiri? Apalah artinya kerja bagi hidupku sendiri?

Jangan-jangan kerja hanyalah siksaan semata karena kejatuhan manusia pertama di Taman Eden. Ketika Tuhan mendapatkan manusia Adam dan Hawa memakan buah terlarang, dan Tuhan tahu bahwa yang memberi buah itu kepada Adam adalah Hawa, istrinya, Tuhan berkata kepada laki-laki ciptaanNya itu, bahwa dia akan berkeringat dan berpeluh supaya bisa mempertahankan hidupnya. Dan saya kira inilah dimensi paling mendasar dari kerja, yakni dengan peluh dan keringat saya “menaklukkan” dunia demi melanjutkan kehidupan.

Tetapi kerja tentu memiliki makna lebih mendalam dari semuanya itu. Mungkin kedengaran berlebihan atau malah menghibur diri sendiri, tetapi kerja adalah bentuk konkret dari realisasi diri dan kebebasanku. Hanya melalui kerja, aku–juga orang lain–menunjukkan bahwa dia mampu merealisasikan kemampuan-kemampuannya. Hasil dari kerja, dengan demikian, tidak akan mengasingkan seseorang seperti yang diklaim Marx, karena kerja dipilih dan dijalankan sebagai bagian dari realisasi kemampuan diri tersebut. Selain itu, kerja juga mengungkapkan dimensi kebebasanku. Saya memilih untuk bekerja sebagai pengajar dan peneliti, dan itu adalah pilihan sadar. Pilihan itu menyisakan ruang untuk dialog, baik dengan diri sendiri maupun denagn orang lain. Pilihan itu pun memberi ruang bagi koreksi diri, bagi pemurnian motivasi, dan bagi pemaknaan kerja yang semakin mendalam dan manusiawi.

Tanpa itu semua, saya kira, ritual bangun pagi dan berangkat kerja akan menjadi turinitas tanpa makna. Bahwa pada akhirnya seseorang menerima apa yang menjadi haknya alias penghasilan bulanan, saya kira itu menjadi reward yang akan terus memacu seseorang untuk terus berkarya. Tentu setiap orang yang bekerja pantas memperoleh apa yang menjadi haknya.

Satu pemikiran pada “Kerja oh Kerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s