MENDISKUSIKAN KAUSALITAS

Tesis:

Dengan bantuan argument-argumennya yang agak meyakinkan, Sextus Empiricus, David Hume, dan Immanuel Kant menolak adanya kausalitas yang sebenarnya tidak dapat disangkal dalam kenyataan.

Jawab:

A.     Apa itu kausalitas?

Kausalitas menyatakan hubungan yang niscaya (necessary) antara satu kejadian (cause) dengan kejadian lainnya (effect) yang adalah konsekuensi langsung dari yang pertama.

Ini adalah pengertian sehari-hari. Dalam filsafat, diskusi mengenai kausalitas tidak menjadi jelas dengan sendirinya. Diskusi panjang tentang kausalit ditarik kembali ke masa Aristoteles.

Bagi Aristoteles, dalam kejadian mengoperasikan 4 penyebab, yakni penyebab efisien, penyebab final, penyebab material, dan penyebab formal.

Dalam penyebab efisien (causa efficiens), sumber kejadian menjadi faktor yang menjalankan atau menggerakkan kejadian. Dalam penyebab final (causa finalis), tujuanlah yang menjadi sasaran sebuah kejadian. Dalam penyebab material (causa materialis), bahan dari mana benda tertentu dibuat menjadi penyebab kejadian. Sementara dalam penyebab formal (causa formalis), bentuk tertentu ditambahkan pada sesuatu sehingga sesuatu itu memiliki bentuk tertentu.

Misalnya, seorang tukang kayu mengubah kayu menjadi kursi. Sang tukang kayu adalah penyebab efisien. Dia mengubah kayu menjadi kursi yang tujuan finalnya adalah sebagai tempat duduk. Kayu adalah penyebab material. Sementara itu, bentuk kursi yang semula ada dalam pikiran sang tukang kayu (penyebab formal), kini telah ditranformasikan ke dalam materi tertentu yang disebut kursi (yang nyata sebagai materi).

Aristoteles sangat yakin, bahwa kausalitas ada dalam setiap kejadian atau perubahan. Bagi dia, setiap perubahan atau kejadian terjadi karena tiga faktor, yakni ada sesuatu yang tetap (substratum), ada keadaan sebelumnya, dan ada keadaan kini.

B.     Diskusi Para Filsuf

Tidak semua filsuf menerima adanya kausalitas. Tiga filsuf besar dapat dikemukakan di sini.

Sextus Empiricus

Dia meragukan validitas induksi. Dia juga meragukan segala hal yang berhubungan dengan penalaran dan kausalitas. Jadi, jauh sebelum dikemukakan oleh David Humen, sebenarnya Sextus Empiricus telah meragukan kausalitas.

Bagi dia, berbagai pengetahuan mengenai realitas tidak bisa diterima begitu saja secara dogmatis. Pengetahuan ap pun tidak bisa lolos dari kritik skeptisisme. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa pengetahuan sama sekali mustahil. Bagi dia, proyek skeptisisme memang bersifat ad infinitum karena kebenaran selalu harus bisa diuji, karena itu perlu kriteria-kriteria kebenaran. Tetapi ketika klaim pencapaian kebenaran tertentu karena sudah melalui test dan aplikasi kriteria kebenaran pun masih harus dipersoalkan, misalnya sejauh mana bisa diandalkan? Karena itu perlu pengujian selanjutnya dan realisasi kriteria-kriteria kebenaran lainnya, dan seterusnya sampai tak berhingga. Pengetahuan tetap mungkin dicapai, karena Sextus Empiricus tidak menegasikan pengetahuan. Yang diperjuangknnya adalah menunda putusan mengenai sesuatu supya kita bisa mencapai ataraxia (peace of mind).

Sextus Empiricus misalnya, menegaskan bahwa kita bisa saja menyatakan sesuatu mengenai pengalaman kita, misalnya kita menyatakan perasaan atau sensasi kita. Misalnya, “saya merasa bosan” (Yeremias Jena). Pernyataan atau putusan ini sebenarnya berbunyi: “Tampak bagi saya sekarang bahwa saya merasa bosan” (It seems to me now that X). Meskipun demikian, iti tidak langsung berarti bahwa putusan ini menyatakan objektivitas realitas mengenai realitas eksternal. Alasanny, ini tetap bersifat subjektif, karena rasa bosan itu sebetulnya tidak menyatakan sesuatu mengenai bosan itu  sendiri.

David Hume

Bagi Hume, tidak ada pengetahuan yang benar-benar murni dari akal budi, lepas dari pengalaman. Isi segala kesadaran berasal dari pengalaman indrawi. Jadi, kesadaran mengenai “lapar” atau “indah” berasal dari pengalaman “lapar” atau pengalaman keindahan.

Ada dua pengertian yang dilibatkan di sini. Pertama, pengaman indrawi, berasal dari luar dan berasal dari perasaan-perasaan batin atau impresi-impresi. Kedua, isi-isi asosiasi impresi-impresi (ideas). Jadi, gagasan (ideas) terbentuk karena adanya asosiasi impresi-impresi, pengalaman-pengalaman indrawi dan batin manusia. Ini yang disebut psikologisme.

Dalam arti ini tidaklah mungkin menghasilkan atau mencapai sebuah kebenaran mutlak. Kebenaran yang murni akal budi pun tidak ada. Pernyataan bahwa jumlah sudut segitiga adalah seratus delapan puluh derajat tidak berarti bahwa ada segitiga (nyata). Yang kita alami sehari-hari adalah kesan-kesan indrawi tentang sesuatu. Kesan-kesan tersebut tidak bersifat satu-satu, tidak ada hubungan dengan kesan-kesan dan hal-hal lainnya.

Bagi David Hume, tidak ada pengetahuan yang memberi kepastian. Yang ada adalah kemungkinan atau probabilitas. Hume sendiri menolak KAUSALITAS karena impresi mengenai sesuatu bersifat satu-satu (tidak ada relasi dengan impresi-impresi tentang hal-hal lainnya). Misalnya, kita perhatikan sebuah bola bilyar menyodok bola bilyar di depannya. Bola bilyar yang ada di depan bergerak maju, bola bilyar yang ada di belakang berhenti. Kita mengatakan bahwa bola bilyar 2 bergerak karena disodok oleh bola bilyar 1, karena itu mestinya ada kausalitas (penyebaban).

Hume menolak pandangan semacam ini. Bagi dia, tidak ada kausalitas. Yang kita lihat hanyalah post hoc, dan bukan propter hoc. Artinya, kita memang melihat bahwa kedua bola bilyar bergerak setelah saling bersentuhan. Tetapi kita tidak melihat bahwa gerakan bola 2 adalah karena bola 1. Pengamatan empiris selalu mengandung pengertian urutan dalam waktu, dan bukan sebuah hubungan internal. Ketiadaan hubungan internal dari pengamatan empiris inilah yang menyulitkan kita menyimpulkan adanya kausalitas.

Immanuel Kant

Hume memang membangunkan Kant dari tidur dogmatisnya. Kritik Hume atas dogmatisme, terutama metafisika dapat diterima. Metafisika ditolak karena bersifat murni a priori (analitis a priori) dalam arti predikan bukanlah suatu unsur baru. Bagi Kant, menerima kritik Hume atas pengetahuan akan menyulitkan kita untuk pertama, memahami konsep a priori dari konsep-konsep murni pengertian. Kedua, validitas dari hukum-hukum umum dari alam sebagai hukum-hukum berpikir.

Kedua hal ini harus dipakai secara tepat supaya: (1) penggunaannya hanya dibatasi pada pengalaman; (2) posibilitas mereka memiliki dasar hanya dalam relasi antara pemahaman dan pengalaman; (3) mereka tidak diturunkan atau dihasilkan dari pengalaman; (4) pengalaman justru diturunkan dari kedua hal itu.

Bagi Kant, hubungan antara sebab dan akibat jika dipahami melulu (sekadar) bersifat a priori pasti ditolak karena itu juga hal yang ditolak David Hume. Kant berpendapat bahwa sebab dan akibat tidak diturunkan dari pengalaman sebagaimana ditakutkan Hume tetapi dari pure understanding. Jadi, preokupasi Kant selanjutnya bukan membuktikan bagaimanpengetahuan analitis a priori atau sintetis a posteriori itu mungkin, tetapi bagaimana pengetahuan sintetis a priori itu mungkin?

Memahami konsep sebab dan akibat tidak bisa mengandalkan penjelasan konsep-konsep analitis. Jadi, hubungan keduanya juga tidak bersifat analitis, tetapi harus bersifat sintetis. Tetapi karena keduya tidak diturunkan dari pengalaman, maka keduanya harus bersifat sintetis a priori.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s