MEREFLEKSIKAN SIAPA MANUSIA

Bukunya Kasdin

Tiada makhluk yang lebih paradoksal selain manusia. Semakindia dipahami, semakin dia menjadi misterius. Kita memang bisa memahami siapa manusia, apa tujuan hidup dan makna hidupnya, dan sebagainya. Tetapi pemahaman kita selalu bersifat terbatas. Itulah sebabnya Gabriel Marcel, sang filsuf eksistensial dari Prancis jauh-jauh hari mengingatkan kita untuk tidak mereduksikan manusia sebagai alat atau benda semata. Manusia adalah tubuhnya (materi/benda) sekaligus melampui tubuhnya, karena dia juga makhluk spiritual, demikian Marcel menegaskan.

Jika kemudian Kasdin Sihotang menulis sebuah buku filsafat manusia, karya itu harus ditempatkan dalam semangat memahami manusia yang tiada habisnya itu. Kalaupun buku ini selesai ditulis, sang penulis sendiri akan merasa bahwa pemahamannya mengenai siapa manusia masih tetap terbatas. Secara fenomenologis, manusia menampakkan diri untuk diketahui, tetapi penampakan diri itu sekaligus menyisakan ruang “misteri” yang tak sanggup dijelaskan secara tuntas.

Melalui buku ini, Kasdin Sihotang, pengajar filsafat di Universitas Katolik Atmajaya ingin menunjukkan bahwa manusia bukanlah data-data statistik atau benda yang bisa dijelaskan secara tuntas. Kasdin melihat, bahwa manusia cendrung diposisikan sebagai alat, benda, atau barang untuk mencapai sesuatu kepentingan tertentu (hlm 11). Aura magis nan misterius pada manusia telah ditelanjangi oleh berbagai kepentingan manusia, utamanya kepentingan ekonomi (maksimalisasi keuntungan dengan mengeksploitasi manusia) dan politik (masyarakat diposisikan sebagai massa yang bisa dimanipulasi untuk meraih kekuasaan). Kesadaran akan “kejatuhan manusia ke alam benda” inilah yang mendorong Kasdin Sihotang menulis buku ini, yang bagi dia akan menjadi sarana “penyadaran” (hlm 12), bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki harga diri. Refleksi atas jiwa dan badan manusia (bab 2) sudah barang tentu langsung membuktikan dimensi badani dan rohaniah manusia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, apalagi direduksikan ke salah satu dimensi saja.

Ada banyak tema yang bisa digarap ketika merefleksikan manusia secara filosofis. Kasdin Sihotang memilih merefleksikan tema-tema manusia sebagai persona (bab 2), manusia sebagai badan dan jiwa (bab 3), manusia dan kebebasannya (bab 4), manusia dan pengetahuannya (bab 5), dimensi sosialitas manusia (bab 6), dimensi historis manusia (bab 7), dan aspek kerja manusia (bab 8). Tentu pilihan tema-tema ini mengeksklusikan tema-tema lain seperti masalah bahasa, manusia sebagai animal simbolicum, manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbukaan kepada realitas mutlak (Ultimate Reality), dan sebagainya.

Refleksi manusia sebagai persona sebenarnya ingin mengingatkan kita akan keunikan manusia. Bahwa di balik berbagai peran yang dimainkan di masyarakat, manusia memiliki identitas tertentu yang mampu menjelaskan secara tuntas siapa dirinya. Identitas diri inilah yang menjadikannya unik (hlm 35) tiada duanya. Bahwa keunikan manusia itu menjadi menonjol ketika dibandingkan dengan makhluk infra human, misalnya, persis ketika manusia memiliki kesadaran diri, otonomi, kemampuan melampaui ruang dan waktu, serta keunggulan komunikasi yang membuatnya mampu mengadaptasi diri, merefleksikan diri dan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri, merancang masa depannya yang lebih baik, dan sebagainya (hlm 41-47).

Pembaca utama buku ini adalah mahasiswa non-filsafat di fakultas-fakultas yang mempelajari filsafat manusia, antara lain fakultas psikologi dan fakultas kedokteran. Menarik bahwa penulis buku ini menyitir pemikiran B.F Skinner, seorang pemikir behaviorist yang memahami manusia secara simplistis sebagai rangkaian perilaku sebagai tanggapan atas rangsangan tertentu (hlm. 57). Akan jauh lebih menarik jika pemikiran Skinner dideskripsikan agak panjang dan dramatis dengan fokus pada upaya menolak pemahamannya yang mekanistis tersebut, sembari menunjukkan bahwa kalau pengandaian Skinner itu benar maka seluruh jati diri manusia tidak lebih dari sekumpulan organ (materi) yang mudah dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Bahwa Gabriel Marcel atau filsuf lainnya yang direferensi untuk mendebat pandangan Skinner, itu hanyalah pilihan senjata saja untuk menembak dan mematikan musuh.

Tentu kebebasan tidak bisa tidak dibicarakan dalam setiap risalah filsafat manusia. Yang sudah menjadi pakem adalah membedakan berbagai kebebasan, antara lain kebebasan horizontal versus kebebasan vertikal (hlm 76) serta kebebasan eksistensial versus kebebasan sosial (hlm 77). Ciri khas filsafat manusia adalah menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan melampaui berbagai determinisme—pandangan yang meragukan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas berdasarkan alasan-alasan fisik-biologis, psikologis, sosial, ataupun teologis. Ujung dari “pembuktian” ini adalah penegasan bahwa manusia hanya mampu menjadi dirinya sendiri dalam arti membentuk dan menentukan diri kalau dia memiliki kebebasan (hlm 76). Menegasikan kebebasan sama artinya dengan mendestruksi dimensi sakral dan misterius manusia, dengan konsekuensi mendehumanisasi manusia sampai ke taraf benda atau alat semata.

Pertanyaan yang menarik untuk direfleksikan adalah mengapa penulis buku ini mengikutsertakan dimensi kerja dalam refleksi manusia? Mengapa kerja termasuk aspek atau dimensi yang mendefinisikan kekhasan manusia? Ditempatkan dalam konteks keinginan mengkritik berbagai pandangan yang mereduksikan manusia hanya sebagai alat, kerja direfleksikan sebagai cara berada manusia. Bagi penulis, kerja tidak sekadar “mengoperasikan” pikiran dan tenaga untuk menghasilkan uang (hlm 147-148). Jika kerja dipahami demikian, maka kerja hanya menjadi beban yang mengalienasikan (hlm 144-145). Padahal melalui kerja manusia justru merealisasikan potensialitas dirinya. Dengan bekerja, manusia tidak hanya membentuk kebudayaan, tetapi juga memanusiakan dirinya (hlm 151). Dengan bekerja manusia juga menunjukkan dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kesejahteraan sesama dan masyarakat (hlm. 152-153). Dan dengan memperhatikan perealisasian nilai-nilai etis kerja (keadilan, tanggung jawab, dan kejujuran), kerja membebaskan manusia dari berbagai kepentingan pribadi atau sosial yang menghancurkan manusia itu sendiri (hlm. 154-155).

Judul kecil buku ini adalah Upaya Membangun Humanisme. Seharusnya penulis menyediakan sebuah bab penutup sebagai usaha tentatif menunjukkan bagaimana humanisme dikonstruksi dan dibangun kembali setelah kejatuhan. Memang penulis memilih merenungkan “siapa manusia” secara tematis (hlm 28), tetapi membiarkan pembaca merenungkan dan menyimpulkan sendiri berbagai gagasan dalam buku ini tanpa sebuah refleksi penutup hanya akan membiarkan buku ini menjadi pemikiran yang terfragmentasi. Padahal salah satu tugas filsafat adalah menarik benang merah dari berbagai pemikiran yang tercerai-berai.Sebagai langkah awal, penulis cukup berhasil menunjukkan berbagai persoalan filsafat manusia dan merefleksikannya secara runtut. Dengan melengkapi buku ini dengan sebuah bab penutup, saya yakin buku ini akan menjadi lebih lengkap dan memfokus pada tujuan yang ingin dicapai penulis sendiri: Upaya Membangun Humanisme.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s