Pancasila Bisa Menjadi Antitesis untuk Menghadang Terorisme

hendropriyono
A.M. Hendropriyono

AM Hendropriyono: SOSOK DAN PEMIKIRAN

Bom kembali mengguncang Jakarta pada 17 Juli lalu di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. Modus lama kembali dipilih teroris: bom bunuh diri. Sembilan 9 tewas dan lebih dari 50 orang terluka akibat peristiwa teror itu. Banyak pertanyaan kembali bermunculan, terutama bagaimana Indonesia bisa menjadi sasaran terorisme kembali.

Kegelisahan itu juga dialami mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. Sebagai orang yang menggeluti intelijen, ditambah sederet bidang keilmuan yang dipelajari, ia mengaku punya tanggung jawab mencari penjelasan, akar permasalahan, dan cara menanggulanginya.

Pendekatan filsafat analitika bahasa pun dipilih untuk mengurai terorisme dalam disertasinya yang berjudul Terorisme dalam Filsafat Analitika, Relevansi dengan Ketahanan Nasional di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hendropriyono meraih gelar doktor secara cum laude.

Berikut percakapan Kompas dengan pria yang punya gelar akademis mulai dari sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana administrasi negara dan niaga, sarjana teknik industri, sampai magister hukum militer, pekan lalu di Jakarta.

Apa yang coba Anda sampaikan dalam disertasi ini?

Semua berangkat dari kegelisahan saya untuk mencari tahu apa itu terorisme, bagaimana menjelaskan dan mengatasinya. Terorisme terbukti membuat orang sulit memperoleh dan menikmati kesejahteraannya, terutama karena tidak ada jaminan keamanan.

Terorisme tidak mengenal sasaran. Bahkan pelakunya bersedia mengorbankan diri. Siapa saja bisa tiba-tiba terbunuh dan kehilangan segalanya.

Dari apa yang saya ketahui, sulit menjelaskan terorisme secara konsisten karena ia bisa diinterpretasi dan didefinisikan secara berbeda, dengan elemen waktu dan keadaan yang juga berbeda. Pada satu waktu, mereka bisa menjadi pahlawan.

Contohnya, kelompok teroris Yahudi, Palmach (1940) dan Irgun (1944), dengan tokohnya, Yitzhak Shamir dan Menachem Begin. Pada masanya, mereka sangat dibenci Inggris dan dunia internasional. Jika sampai tertangkap, bukan tidak mungkin mereka dihukum mati. Namun, semua berbalik ketika Israel berdiri. Mereka menjadi pahlawan, bahkan menjabat Perdana Menteri Israel.

Lalu, kenapa memilih pendekatan filsafat?

Justru lewat filsafat saya bisa mendapat penjelasan, bagaimana terorisme terbentuk dari perbenturan dua ideologi besar saat ini. Untuk mempelajari itu, kita harus paham ideologi, yang menjadi salah satu hal yang dipelajari dalam studi filsafat.

Secara eksplisit, teror yang selama ini dilakukan jaringan teroris global Al Qaeda pascaserangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC dan Pentagon terjadi akibat penolakan terhadap modernitas dan sekularisasi yang muncul akibat ideologi demokrasi. Filsafat demokrasi yang kini masih digandrungi masyarakat non- Barat sejak abad XX, sayangnya, tidak selalu bisa menghadirkan komitmen damai.

Pada masa pemerintahan George W Bush, Amerika Serikat (AS) sebagai penjuru demokrasi justru memicu kebangkitan fundamentalisme Islam, yang mencoba melawan kebijakan AS untuk menerapkan kekuasaan keras (hard power). AS memaksa agar demokrasi diterapkan dan diterima semua orang, dengan cara apa pun. Padahal, kebaikan sekalipun tidak boleh dipaksakan, apalagi dengan menghalalkan segala cara.

Perlawanan fundamentalisme Islam dilakukan secara semesta dengan menggunakan dalih patriotisme dan spirit keagamaan. Buat Al Qaeda, dengan tokohnya, Osama bin Laden, demokrasi adalah keyakinan orang tolol.

Dari kondisi itu, sampai kapan pun kedua ideologi itu tidak akan pernah mencapai perdamaian. Padahal, seharusnya keduanya bisa saling mengoreksi sehingga proses dialektika berjalan dan kedamaian tercipta.

Mengapa orang bisa tertarik menjadi teroris?

Pelaku teror bukan orang gila. Mereka mengalami kegalatan kategori (category mistake) sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan yang salah serta cenderung hanya menggunakan cara, ungkapan, dan bahasa sendiri sebagai pembenaran. Teroris adalah sosok yang mengalami kepribadian terbelah (split personality), salah satunya tampak dari bahasa yang digunakan, baik Osama bin Laden maupun George W Bush. Mereka sama-sama mencampuradukkan bahasa ”mengancam” dengan bahasa ”berdoa”.

Osama bilang, bunuh semua orang Yahudi dan AS, termasuk warga sipil, baik orang tua maupun anak-anak. Mereka bertanggung jawab telah memilih presiden yang menggunakan mesin perang untuk membunuh kaum Muslimin di Afganistan. Hal serupa juga dilakukan Bush yang mengatakan, siapa saja yang menerima dan membantu Osama adalah musuh AS dan harus membayar mahal. Dengan klaim itu, mereka mengebom Afganistan dan membunuh rakyatnya. Mereka juga mengklaim apa yang dilakukan itu direstui dan diberkati Tuhan.

Lantas, apa bisa dilakukan?

Dalam konteks Indonesia, ideologi Pancasila bisa menjadi antitesis dari kedua tesis yang saling bertentangan tadi. Setiap bangsa memiliki ideologi masing-masing. Sekarang tinggal kita koreksi dan ambil yang bagus serta tolak yang buruk, dari ideologi luar tadi.

Pancasila bisa menjadi filter. Dengan begitu, sebagai bagian dari negara dan bangsa di dunia ini, kita bisa sama-sama berdiri berdampingan. Koeksistensi secara damai seperti di masa Perang Dingin. Namun, kalau kita memilih ikut salah satu, kita bisa jadi bagian perbenturan tadi.

Terorisme itu ibarat monster imajiner mitologi Yunani, Hydra, atau Candabirawa dalam pewayangan yang sama-sama berbentuk makhluk ganas yang akan selalu muncul dan malah tumbuh menjadi banyak setiap kali dibunuh.

Terorisme bisa diberantas, salah satunya dengan menghapus ”habitat” tempat teroris bisa diterima dan terlindungi. (dwa)

Diambil dari: HarianKOMPAS,Selasa, 4 Agustus 2009 | 03:49 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s