MENYAMBUT KEMATIAN (KONYOL)

Jika sosok yang menenteng tas hitam seperti yang terekam kamera CCTV benar pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton tanggal 17 Juli lalu, kita sebetulnya sedang menyaksikan bagaimana dengan dingin dan meyakinkan para teroris menyambut kematian mereka. Sikap serupa tampak dalam pengakuan para pelaku bom Bali II yang begitu yakin, jiwa mereka langsung menikmati kebahagiaan surgawi.

Benarkah mereka menyongsong kematian dengan sukacita? Apakah kematian bagi mereka sungguh sebuah pengalaman puncak penghayatan eksistensi diri di dunia? Apakah mereka telah menghayati seluruh perjalanan hidup sebagai “mengada menuju kematian” (being towards death)?

Pertanyaan terakhir ini pernah menjadi preokupasi pemikiran Martin Heidegger (1889–1976) lebih dari delapan puluh tahun lalu. Menurut Heidegger, ada dua cara menghayati hidup di dunia, yakni secara otentik dan secara tidak otentik. Manusia sendiri hidup dalam dunia (umwelt) melalui tiga cara (moda). Manusia tidak hanya hidup dengan sesama (Being-with-others), tetapi juga hidup berdampingan dengan benda-benda (being-alongside-things) dan bereksistensi pada dirinya (Selbstein).
Ketidakotentikan penghayatan hidup terjadi ketika pertama, manusia hanyut dalam dunia benda-benda dan dikuasai sepenuhnya oleh alat yang diciptakannya sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memosisikan manusia semata-mata sebagai objek menjadi salah satu bukti ketidakotentikan penghayatan hidup manusia. Manusia mengalienasikan dirinya dalam teknik atau alat buatannya sendiri. Sementara ketidakotentikan yang lain terletak pada bagaimana manusia membiarkan dirinya dikuasai oleh massa. Moda Selbstein hilang lenyap dalam massa (das Man) di mana individu ditelan habis oleh kerumunan (the They).

Bagi Heidegger, lenyapnya individu dalam kerumunan (das Man) akan menyulitkan individu itu sendiri membebaskan diri darinya persis ketika perangai massa yang begitu menenangkan (tranquillizing/beruhigend). Massa atau kerumunan dengan seluruh kekuatan ideologisnya tidak hanya membelenggu individu, tetapi sekaligus mengalienasikan (entfremdung) dan mendekap (self-entangling). Mengalienasikan diri (individu) dalam kerumunan ibarat menikmati candu yang membawa kepada ketagihan dan ketergantungan.

Tidak mudah membebaskan diri dari perangkap kerumunan dan ideologi yang membentenginya. Dibutuhkan usaha keras supaya bisa sampai pada level menghayati keseharian sebagai kekhawatiran (angst/anxiety), sekurang-kurangnya rasa resah bahwa seseorang sedang terperangkap dan teralienasi, entah dalam dunia alat atau dalam ideologi tertentu. Perasaan resah seperti inilah yang akan mendorong individu melakukan diskursus (logos), dan dengan demikian membebaskan dirinya dari perangkap dunia benda maupun ideologi tertentu.

Kematian merupakan keresahan terbesar (anxiety) yang akan terus mengusik individu saat menghayati kehidupannya. Kematian menampakan diri sebagai faktisitas yang “memaksa” individu menghayati dan memaknakan hidupnya dalam diskursus (logos) serta perumusan berbagai kepentingan bersama dengan orang lain (Being-with-Others) dengan memanfaatkan berbagai alat yang tersedia (being-alongside-things). Menghayati kehidupan sebagai eksistensi menuju kematian (being towards death) membangkitkan tanggung jawab individu untuk memahami dirinya sebagai “ada” (being) tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bersama orang lain di dalam dunia fisik.

Pertanyaannya, apakah para teroris menghayati kematian mereka sebagai puncak dari keotentikan penghayatan hidup (being towards death) tanpa mengobjekkan atau mengorbankan orang lain? Kalau tidak mau dibilang kekonyolan, kematian yang dihadapi para teroris tidak pernah lebih dari rusak atau hancurnya sebuah benda. Kematian mereka justru terjadi tanpa identitas persis ketika individualitas mereka (Selbstein) dikerangkeng oleh ideologi radikal tertentu yang mereka anut. Kematian justru mereka hayati secara nihilistik sebagai alat atau sarana untuk menghancurkan sesama maupun dunia fisik itu sendiri.

Di sini epistemologi penghayatan hidup (Dasein) dalam pemikiran Heidegger mengingatkan betapa kematian dihayati kaum teroris sebagai semata-mata alat untuk membebaskan diri dari ketidaksanggupan “mengada bersama orang lain”. Ideologi yang mereka anut adalah candu yang memberangus nalar (diskursus atau logos), dan karena itu memutus jembatan penghubung dengan sesama. Ketidaksanggupan membuka ruang dialog dengan sesama diganti dengan semacam nazar untuk memperjuangkan ideologi radikal sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran. Padahal kebenaran yang dimaksud tidak pernah difalsifikasi persis ketika ruang diskursus (logos) telah lebih dulu diberangus.

Karena itu, langkah tegar nan meyakinkan dari para teroris menyambut kematian sambil menenteng tas berisi bom sebenarnya adalah langkah kelompok yang gagal berelasi dengan dirinya sendiri. Mereka tidak lebih dari sekelompok benda atau alat tanpa rasa (without mood), tanpa kekhawatiran (without anxiety). Kematian mereka pun ibarat membuang sebuah kerikil kecil di lautan lepas. Seperti kerikil, mereka hilang tak berbekas. Mereka mati tanpa meninggalkan jejak individualitas.[]

3 pemikiran pada “MENYAMBUT KEMATIAN (KONYOL)

  1. Thanks ya. Ya, sebetulnya pilihan menggunakan pemikiran Heidegger hanyalah salah satu cara memilih cantolan teori untuk menjelaskan keseharian. Anda benar, otentisitas para pelaku teror bom masih bisa diperdebatkan. Tapi paling kurang saya melihat bahwa ada pemikiran alternatif yang bisa disumbangkan untuk menjelaskan fenomena-fenomena di sekeliling kita daripada “menggantungkan diri” pada pemikir2 yang itu-itu saja.

    Apakah Anda lulusan STF Driyarkara? Aku memang alumni STF Driyarkara (S-1 dan S-2).

  2. Dan lebih mengejutkan lagi ternyata tulisan Anda dimuat di harian Kompas pagi ini. Seharusnya saya mengenal lebih banyak siapa saja dosen-dosen filsafat selain di STF Driyarkara….🙂

  3. Ulasan yang menarik tentang Heidegger. terima kasih.

    Memang Heidegger selalu menekankan dalam Sein Und Zeit-nya, bahwa otentisitas manusia muncul ketika ia sadar akan kematiannya dan mempersiapkan dirinya menuju kematian tsb.

    Saya sendiri belum menilai apakah tindakan para teroris tsb dapat dianggap penghayatan hidup yang tidak otentik. Namun, jika Anda menghubungkan analisis Anda dengan ketidakmampuan mereka untuk merawat/memelihara (Fursorge) dengan orang-orang lain (Mitdasein), saya kira itu suatu contoh kasus yang menarik.

    Terima kasih.
    Boleh bertukar link? link Anda sudah saya sertakan dalam blogroll wordpress saya.
    http://hirekaeric.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s