KANT MENSINTESA UNSUR APRIORI DAN APOSTERIORI PENGETAHUAN

kant_2-2
Immanuel Kant

Immanuel Kant lahir di Konigsberg pda tanggal 22 April 1724 dan meninggal pada tahun 1804. Pemikirannya digolongkan ke dalam periode praktis/dogmatis (1755-1770) dan periode kritis (pasca 1770). Apa yang terjadi pada periode dogmatis? Seperti yang terjadi pada para filsuf pada umumnya sebelum kemunculan pemikiran skeptis David Hume, Immanuel Kant juga menerima begitu saja penjelasan metafisika atas realitas.

Ini berbeda dengan pemikiran Kant pada masa kritis. Setelah dibangunkan dari tidur dogmatis leh pemikiran David Hume, Kant mengembangkan pemikiran yang lebih kritis mengenai realitas dan pengetahuan. David Hume menolak peran rasio dalam menggerakkan atau mengendalikan perilaku. Bagi Hume, perilaku manusia tidak digerakkan oleh rasio tetapi oleh perasaan.

Kant bangun atau bangkit lalu mempertanyakan otoritas metafisika dalam memberikan penjelasan atas realitas. Kant bertanya, apakah metafisika dapat diandalkan dalam memberikan jawaban yang pasti mengenai Allah, kebebasan, dan keabadian? Jenis pengetahuan metafisika bersifat apriori (pengetahuan murni dihasilkan oleh akal budi). Karena itu, mempertanyakan metafisika sama saja dengan mempersoalkan pengetahuan apriori. Pertanyaannya, bagaimana pengetahuan apriori mungkin?

Dengan mengajukan pertanyaan ini, Immanuel Kant lalu membedakan jenis-jenis putusan menjadi dua jenis yang selama ini diterima umum. Kedua jenis putusan itu adalah (1) putusan analitis, dan (2) putusan sintetis. Pada putusan analitis, predikat sudah terkandung dalam subjek. Di sini predikat dalam putusan adalah analisis atas subjek, karena itu tidak ada unsur baru dalam putusan itu. Sifat putusan analitis adalah apriori murni, disebut juga pengetahuan murni. Disebut demikian karena konsep-konsep yang membangun pengetahuan tidak diturunkan dari pengalaman, melainkan berasal dari struktur-struktur pengetahuan subjek sendiri (kosong dari pengaman empiris). Contoh: “Semua peristiwa ada sebabnya”. Putusan ini adalah jenis pengetahuan murni karena predikat sudah terkandung dalam subjek yang ingin dijelaskannya.

Sementara dalam putusan sintetis, predikat tidak terkandung dalam subjek. Predikat memberikan informasi baru yang sifatnya aposteriori. Jenis putusan sintetis adalah aposteriori. Ilmu alam memiliki karakter putusan sintetis ini. Misalnya: “Semua benda itu berat”, konsep “berat” dalam predikat tidak termuat dalam konsep “benda” sehingga bukanlah keterangan atas “benda”. Di sini predikat (berat) merupakan informasi baru dalam putusan ini.

Kembali ke pertanyaan yang diajukan Kant di atas: apakah metafisika dapat diandalkan dalam menjelaskan realitas? Metafisika tidak bisa diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas karena sifatnya yang apriori murni. Penjelasan-penjelasan metafisika bukanlah penjelasan-penjelasan yang menghasilkan suatu pengetahuan baru. Sementara di lain pihak, penjelasan-penjelasan metafisika tidak mungkin berkarakter sintetis aposteriori, terutama ketika menjelaskan Allah, kebebasan, dan keabadian.

Itu artinya harus ada jenis pengetahuan lain yang tidak bersifat apriori murni tetapi juga bukan sintetis aposteriori. Jenis putusan ketiga inilah yang diusulkan dan menjasi sumbangan terbesar Immanuel Kant, yakni putusan sintetis apriori. Bagi Kant, metafisika hanya mungkin atau hanya bisa diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas jika penjelasan-penjelasannya bersifat sintetis apriori. Di sini langsung tampak sumbangan pemikiran Kant, bahwa pengetahuan yang diandalkan dalam memberikan penjelasan mengenai realitas mengandung unsur apriori (aspek rasionalisme) sekaligus unsur aposteriori (aspek empirisme). Pertanyaannya lalu menjadi, bagaimana pengetahuan sintetis apriori ini mungkin? Bagaimana menjelaskannya?

Jika kaum empiris berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman, bagi Kant, tidak seluruh pengetahuan berasa dari pengalaman. Ketika suatu objek menampakkan diri pada pikiran, subjek menerima representasi objek tersebut lewat intuisi langsung. Dengan intuisi langsung, Kant tidak memaksudkan sebagai pengetahuan yang murni subjektif. Kant mau menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan mengindrai, sehingga pikiran tidak menerima begitu saja objek yang menampakkan diri, tetapi menerimanya menurut kategori pemikiran subjek yang berpikir. Memang dalam pengindraan atau dalam intuisi langsung, subjek dipengaruhi dalam taraf tertentu oleh objek, tetapi subjek memiliki kategori-kategori tertentu dalam mengindrai dan memahami objek tersebut.

Demikianlah, menurut Kant, selalu ada dua unsur dalam setiap penampakan objek, yakni unsur materi (materia) dan unsur bentuk (forma). Unsur materi selalu berhubungan dengan isi pengindraan, sementara unsur bentuk memungkinkan berbagai penampakan tersusun dalam hubungan-hubungan tertentu. Di sini forma atau bentuk merupakan unsur apriori dari pengindraan sementara materi merupakan unsur aposteriori. Dalam setiap pengindraan, selalu beroperasi dua kategori ini dalam rasio manusia, yakni forma ruang (raum) dan forma waktu (Zeit).

Di sini jelas Kant menunjukkan adanya sintesis jenis pengetahuan rasionalisme dan pengetahuan empirisme. Bagi Kant, subjek tidak pernah menangkap objek pada dirinya (das Ding an sich). Objek pada dirinya sendiri tidak bisa diketahui. Yang ditangkap dan diketahui subjek adalah objek yang menampakkan diri dalam rasio dan telah ditata dalam forma ruang dan waktu. Dalam rasio subjek yang berpikir terjadi pengindraan internal terhadap objek yang menampakan diri itu. Dalam pengindraan internal inilah beroperasi forma ruang dan forma waktu. Forma ruang merupakan bentuk pengindraan internal, sementara forma waktu adalah penampakan itu sendiri.

Demikianlah, dalam pemikiran Immanuel Kant jelas diperlihatkan bagaimana unsur jenis pengetahuan analitis apriori (rasionalisme) dan sintetis aposteriori (empirisme) dapat didamaikan. Konsep das Ding an sich dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan sintesis ini. Bahwa objek yang menampakkan diri hanya bisa diketahui karena telah terjadi apa yang disebut pengindraan internal. Dan bahwa melalui pengindraan internal inilah pengetahuan dihasilkan melalui membuat putusan atas pengetahuan. Bagi Kant, putusan-putusan yang adalah pengetahuan tidak lain adalah sintesis antara aspek aposteriori (benda yang menampakan diri dan yang sudah melalui proses pengindraan internal) dengan aspek apriori. Ada 12 kategori dalam pikiran manusia (3 kategori kuantitas, 3 kategori kualitas, 3 kategori relasi, dan 3 kategori modalitas) yang ibarat kacamata merah, membuat subjek melihat benda-benda sebagai berwarna merah. Benda-benda pada dirinya tidak bisa diketahui. Yang diketahui adalah benda-benda berwarna merah karena adanya kategori dalam rasio manusia.

Demikian seterusnya proses ini terjadi dalam setiap kegiatan mengetahui manusia (Untuk informasi lebih jelas dan memuaskan, baca F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietsche. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2007, hlm. 128-153).

Satu pemikiran pada “KANT MENSINTESA UNSUR APRIORI DAN APOSTERIORI PENGETAHUAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s