MENANTANG OBJEKTIVITAS SURVEI

Menanggapi perbedaan hasil survei yang diselenggarakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Riset Informasi (LRI) Johanspolling tentang elektabilitas calon presiden dan wakil presiden, Bima Arya menegaskan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam setiap jajak pendapat (Kompas, 8 Juni 2009). Penegasan Bima Arya seakan merumuskan seluruh keprihatinan selama ini tentang kiprah lembaga survei di Indonesia. Tidak dipungkiri, berbagai lembaga survei telah menunjukkan tingkat akurasi yang luar biasa ketika memprediksi siapa yang akan menang dalam pemilihan kepala daerah atau pemilihan anggota legislatif yang baru lalu. Tetapi ketika hasil survei yang dipublikasikan LSI berbeda jauh dengan “temuan” LRI Johanspolling serta fakta bahwa survei yang dilakukan LSI didanai oleh Fox Indonesia sehingga objektivitas hasilnya diragukan, wacana pun berkembang ke arah penggiringan opini publik. Bahwa survei yang dilakukan dan publikasi yang masif atas hasil-hasilnya dapat menggiring opini publik dalam memilih presiden dan wakil presiden.

Perdebatan akan menjadi sangat panjang dan melelahkan kalau diletakkan dalam konteks metodologi penelitian. Kedua kubu pasti bersikukuh telah mengoperasikan metodologi penelitian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Pentingnya merefleksikan perbedaan pendapat dan kepentingan antara kedua kubu terletak pada apakah nilai-nilai etika perlu diperhatikan dalam pelaksanaan setiap penelitian atau survei? Apa alasan-alasan yang mendasari pertimbangan tersebut?

Objektivitas Hasil Survei

Siapa saja yang mempelajari filsafat ilmu—kajian filosofis atas metodologi penelitian—sadar betul bahwa objektivitas hasil survei atau penelitian diragukan bahkan bisa salah karena persoalan metodologi dan objek kajian.

Pertama, secara metodologis, survei selalu dilakukan secara induktif. Karena itu, berapa pun sampel yang digunakan, survei tidak pernah bisa menjelaskan secara pasti hasil temuannya. Yang bisa dilakukan survei adalah membeberkan temuannya secara probabel (probability) sambil mencoba memprediksi tren tertentu ke depan berdasarkan abstraksi terhadap tren yang ditemukan saat ini. Dalam konteks survei pemilihan presiden dan wakil presiden, misalnya, benar tidaknya prediksi—tingginya elektabilitas calon menjamin kemenangan dalam pemilu—sangat ditentukan oleh sejauh mana pilihan politik masyarakat yang disurvei tidak mengalami perubahan.

Itulah sebabnya mengapa tingginya pilihan politik warga negara terhadap capres dan cawapres yang disurvei akan terus dipertahankan baik oleh lembaga survei itu sendiri maupun oleh tim sukses pemenangan pemilu. Pemberitaan yang masif mengenai tingginya elektabilitas capres dan cawapres menjadi bagian dari cara mempertahankan pilihan politik warga negara sambil terus merebut suara masyarakat yang belum menjatuhkan pilihan politiknya.

Bahwa rapuhnya pendekatan induktif dalam penelitian dan survei masih bisa diperdebatkan, justru karena apa yang dikritik Karl Popper, bahwa dibutuhkan hanya satu bukti yang berbeda untuk meruntuhkan seluruh kesimpulan dan penemuan penelitian induktif sanggup dihindari setiap survei. Yang dipersoalkan dalam pendekatan induktif adalah interpretasi data dan penyajian hasil survei. David B. Resnik, Ph.D dalam artikelnya berjudul What is Ethics in Research and Why is It Important? (2008) berpendapat bahwa setiap peneliti harus menjunjung tinggi objektivitas, karena itu wajib menghindari segala jenis bias, jujur dalam melaporkan dan menginterpretasi data, terbuka kepada kritik dan menyatakan secara terbuka sumber dana atau kepentingan pribadi ketika melakukan penelitian.

Kalaupun data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden memilih pasangan capres dan cawapres tertentu, ini tidak lantas berarti bahwa lebih dari 70 persen pemilih Indonesia akan memilih capres dan cawapres tersebut. Menggeneralisasi hasil temuan sebuah penelitian induktif tidak hanya memperlemah objektivitas penelitian itu sendiri, tetapi juga mendegradasikan integritas peneliti yang seharusnya jujur dan objektif (David B. Resnik, 2008).

Kedua, survei memiliki kerumitan tersendiri justru ketika objek yang diteliti adalah manusia. Kalaupun mengandaikan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam survei tidak mengarahkan ke jawaban tertentu sehingga objektivitas penelitian terjamin, fakta bahwa responden adalah manusia justru menggerogoti objektivitas penelitian itu sendiri. Sejauh mana jawaban para responden tidak dipengaruhi oleh opini publik yang berkembang, misalnya mengenai elektabilitas capres dan cawapres tertentu.

Lagi-lagi dalam laporan hasil survei, publik tidak pernah diberitahu apakah pemilihan sampel merupakan sebuah partisipasi sukarela (voluntary participation) dari mereka yang disurvei atau terlibat karena terpaksa. Dipertanyakan apakah memanfaatkan nomor telpon yang tersedia di buku telpon dalam melakukan survei bisa menempatkan responden sebagai subjek yang kooperatif, yang siap menjawab seluruh pertanyaan secara sukarela (partisipasi aktif)? Atau, responden terpaksa menjawab karena nomor telponnya kebetulan ditekan (dialled)? Padahal partisipasi aktif responden menjadi salah satu tuntutan etis dalam penelitian selain tuntutan informed consent, bahwa responden harus diinformasikan secara rinci prosedur penelitian dan kemungkinan risiko jika dia dilibatkan dalam penelitian tersebut.

David B. Resnik, Ph.D (2008) mengajukan lebih dari sepuluh prinsip etika yang harus dijunjung tinggi dalam setiap survei dan penelitian. Beberapa di antaranya adalah kejujuran (honesty), partisipasi sukarela (voluntary participation), informed consent, objektivitas, integritas, keterbukaan, menghargai karya orang, publikasi yang bertanggung jawab, tanggung jawab sosial, dan non-diskriminasi. Prinsip-prinsip ini harus dilaksanakan secara taat asas dalam setiap penelitian dan survei.

Kalau saja prinsip-prinsip etika ini dijunjung tinggi, silang pendapat sebagaimana terjadi hari-hari ini bisa dihindari, kecuali kalau memang penelitian dilaksanakan pertama-tama dengan tujuan menggiring opini publik.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s