SILANG PENDAPAT SOAL PEMBAJAKAN BUKU

Menarik sekali mencermati tukar-menukar gagasan di Forum Pembaca Kompas (FPK), terutama salah satu topik yang khusus membahas masalah pembajakan buku (akses: http://www.forum.kompas.com/bincang-buku/12269-setujukah-dengan-pembajakan-buku-bagi-kalangan-bawah-3.html). Seseorang bernama Inichaja mengajukan sebuah pertanyaan untuk didiskusikan di FPK tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah para anggota FPK setuju pembajakan buku untuk kalangan bawah alias kaum miskin? Tidak sulit mencermati pemikiran di balik pertanyaan semacam ini. Tampaknya si empunya pertanyaan berangkat dari kenyataan dasar, bahwa setiap orang memiliki hak yang sama dalam mengakses pe-ngetahuan dan berbagai informasi lainnya. Bahwa setiap orang berusaha memenuhi hak dasar ini de-ngan berbagai cara. Mereka yang mampu membeli buku alias kalang-an menengah ke atas barangkali tidak menganggap mahalnya harga buku sebagai halangan dalam memenuhi kebutuhan membaca ini.

Lain halnya dengan mereka yang penghasilannya pas-pasan, di mana membeli buku masih dianggap sebagai suatu kemewahan. Secara implisit pertanyaan ini ingin menggiring FPK untuk menye-tujui, bahwa kaum miskin “diperbolehkan” membeli buku bajakan. Apakah seluruh anggota FPK menyetujuinya? Sampai tanggal 4 April 2009 ketika saya terakhir kali mengakses situs FPK ini, sudah ada 32 anggota yang “nimbrung” mendiskusikan pertanyaan tersebut. Paling sedikit terdapat tiga pandangan yang mengemuka.

Pertama, membeli buku bajakan diperbolehkan, terutama bagi kalangan bawah. Beberapa anggota FPK menyederhanakan persoalan dengan pandangan bahwa orang miskin boleh membeli buku bajak-an demi memenuhi kebutuhan membaca mereka. Sementara orang yang mampu secara ekonomi sebaiknya membeli buku asli. Henrythe, salah seorang anggota FPK berpendapat demikian, “Setuju, kayak di China nih, buku-buku banyak banget bajakannya. Orang miskin kan juga perlu baca. Tapi kalau yang punya duit, tolonglah sadar diri, beli yang asli, sebagai apresiasi pada karya sastra dan penulisnya.”

Kedua, sebagian anggota FPK tampaknya menyadari bahwa masalah pembajakan buku di Indonesia sebetulnya merupakan potret dari tidak adanya perhatian peme-rintah terhadap industri perbukuan itu sendiri. Ada anggota FPK yang jelas-jelas mengatakan bahwa buku tidak akan mahal harganya jika pemerintah mensubsidi industri buku, apa yang sesungguhnya menjadi bagian dari cita-cita dan perjuangan Ikapi agar pemerintah mensubsidi kertas. Inichaja dari Ciputat memberi komentar jitu, “Buku-buku teks untuk belajar memang mahal sekali. Saya tidak mengerti mengapa pemerintah tidak mensubsidi buku, atau ja-ngan-jangan industri buku memang sudah dimonopoli oleh perusahaan raksasa?”

Ketiga, hak membaca buku bagi kaum miskin dapat terpenuhi tanpa harus membeli buku bajakan. Nanapeko, anggota FPK justru mengusulkan agar buku-buku diterbitkan dalam dua versi, yakni versi luks yang harganya mahal dan versi sederhana yang harganya terjangkau. Menurut Nanapeko, “Soal pembajakan buku sebaiknya ja-ngan, itu kan soal hak cipta. Mungkin lebih baik disiasati pemakaian kualitas kertas yang berbeda sebagai alternatif agar kebutuhan akan buku bacaan bagi masyarakat bawah tetap terpenuhi dengan edisi biasa dan edisi “kinclong” dengan kualitas kertas yang bagus untuk pembaca yang mampu secara ekonomi.”

Yang jelas, para anggota FPK melihat bahwa pembajakan buku dan kecenderungan membeli buku bajakan di Indonesia terjadi karena mahalnya harga buku. Meskipun demikian, tidak semua anggota FPK menyetujui praktik pembajak-an buku dengan alasan semulia apapun. Hak membaca dan meng-akses informasi tidak seharusnya dipenuhi dengan membolehkan pembajakan buku, karena langkah-langkah politis tertentu seperti mensubsidi industri perbukuan di Indonesia dapat mengurangi pembajakan buku, selain tentu saja usulan edisi luks dan edisi biasa dalam setiap penerbitan buku. Sesederhana apapun, cara pandang sebagian masyarakat semacam ini patut menjadi masukan yang bagus bagi Ikapi untuk terus memerangi aksi pembajakan buku di Indonesia.[]

3 pemikiran pada “SILANG PENDAPAT SOAL PEMBAJAKAN BUKU

  1. Mungkin solusinya adalah setiap penerbit membuat dua versi yaitu versi orisinal dan versi ekonomis. Dengan demikian rakyat yang tidak mapu tetap bisa membeli buku dengan harga yang murah sementara yang kaya bisa membeli buku yang sama namun dengan penampilan yang lebih menarik seperti halaman berwarna, kualitas kertas yang lebih bagus dll.
    Contoh yang nyata sudah diterapkan pada majalah komputer, sebut saja PC Media dan PC Chip yang selalu membuat versi ekonomis dengan harga terjangkau tanpa mengurangi isi bacaan.
    Menurut saya harga buku memang sudah kelewat mahal!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s