DI HADAP KETERBATASAN AKAL BUDI

the-limits-of-reason
Beyond the limits of reason

Dalam buku Ilmu Pengetahuan dan Kitab Suci, Sean P. Kelly, CSsP (Kanisius, 1994) mengatakan bahwa dewasa ini tlah terjadi rekonsiliasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi (teologi). Dalam arti di satu pihak keduanya menyadari keterbatasan metodologi masing-masing dalam memahami realitas secara menyeluruh. Sementara di lain pihak keduanya “sepakat” untuk bergandengan tangan dalam memahami realitas demi kebahagiaan manusia. Pamrih terhadap kebahagiaan manusialah yang—antara lain—memungkinkan adanya rekonsiliasi itu.

Rekonsiliasi yang menggiring ilmu pengetahuan dan teologi ke panggung kerja sama itu sekaligus “mengakhiri”perdebatan metodologis yang dipihaki keduanya sebagai cara kerja mereka dalam menghasilkan pengetahuan. Ialah rasionalisme di satu pihak yang mengutamakan rasio manusia sebagai yang mampu memperoleh pengetahuan murni, yang lewat peranan ituisi samplah orang pada satu idea dasar sebagai basis dari realitas yang terus berubah. Sementara di lain pihak berdirilah empirisme yang mengutamakan pengalaman empiris (pengamatan terhadap objek) sebagai satu-satunya jalan untuk menghasilkan pengetahuan murni.

Debat panjang antara rasionalisme dan empirisme yang dasarnya diletakkan Plato dan Aristoteles, dalam sejarahnya mendapatkan banyak pengikut, yang pada gilirannya menjadikan debat itu terus berkepanjangan. Dari sejarah pemikiran Barat kita kenl mereka yang berdiri di pihak Plato adalah Rene Descartes, Malebranche, Spinoza, Leibniz, dan Wolff. Sementara di kubu Aristoteles ada Thomas Hobbes, John Locke, Berkeley, dan David Hume.

Masih dalam prespektif sejarah dikatakan bahwa puncak dari pertarungan antara rasionalisme dan empirisme adalah positivisme, dengan August Comte (1798–1857) sebagai aktor utamanya. Tentang hal ini F. Budi Hardiman menulis, “Positivisme menganggap pengetahuan mengenai fakta objektif sebagai pengetahuan yang sahih. Dengan menyingkirkan pengetahuan yng melampau fakta, positivisme mengakhiri riwayat ontologi atau metafisika, karena ontologi menelaah apa yang melampaui fakta indrawi (1990: 23).

Biaya yang harus ditanggung karena pemikiran ini amatlah besar. Ketika dimanifestokan bahwa di luar hal-hal yang positif seperti klaim-klaim moral, ungkapan religius, ucapan-ucapan estetis dan ontologi dianggap sebagai non sence, maka di sana pula kita menemukan semacam jalan buntu untuk keluar dari kepungan positivisme yang menganggap refleksi dan ungkapan religiositas manusia sebagai non sense pula. Verifikasi lalu menjadi ukuran bagi kesejatian suatu pengetahuan.

Akibatnya sangat terasa dalam ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan. Oleh karena anggapan positivis, bahwa kesahian pengetahuan diperoleh lewat metode-metode ilmu alam—observasi, hipotesa, eksperimentasi, teori, hukum—maka ilmu-ilmu sosial-kemanusian pun memiliki tendensi untuk menjadi positivis. Waktu ini diyakini bahwa dengan menemukan satu hukum dasar bisa menjelaskan aneka ragam perilaku manusia, sama seperti yiperbuat ilmu alam terhadap alam semesta.

Sejalan dengan F. Budi Hardiman yang mengevaluasi positivisme dan kesadaran-kesadaran yang menyertainya sebagai yang bukan sekadar teori pengetahuan yang perna ada dalam sejarah, tetapi terlebih suatu kesadaran manusia Barat yang kemudian merasuki cara berpikir manusia sejagat (hlm. 24), maka mengertilah kita akan danya penurunan gairah beragama manusia modern. Pasalny, refleksi dan ungkpan agma terhadap asal dan tujuan musia serta alam berada di luar kesadaran positivisme. Manusia modern secara sadar menggeser term-term seperti misteri, transendensi, dan mukjizat dari kus kehidupan mereka. Kalaupun ada kehidupan keagaman, penjelasan-penjelasan rasional-positivis agama terhadap alam yang dipihaki. August Comte hanyalah salah satu contoh sosok manusia modern yang mendambakan agama yang melulu rasional, yang bahkan “objek” yang disembah pun harus bisa diamati.

Selama kurang lebih satu abad—semenjak August Comte memanifestokan positivismenya selalu metode “resm” dalam ilmu pengetahuan hingga perdebatan metodologis ilmu pengetahuan antara Karl Popper dan Hans Albert di satu pihak melawan Theodor W. Adorno dan Jurgen Habermas di lain pihak di tahun 1961-1965—manusia dan kebudayaan Barat terjebak dalam cara berpikir yang positivis. Tentu saja kalau ini hanya sekadar cara berpikir tidak terlalu menimbulkan banyak persoalan serius di bidang kemanusiaan, sejauh cara berpikir itu memenuhi, untuk sementar, dorongan batin manusia untuk mengetahui. Masalahnya lebih dari itu, ketika cara berpikir positivistis diarahkan kepada pengusaan alam demi kepentingan teknis, dengan akibat manusia malah dikuasai oleh teknologi buatannya sendiri. Krisis lingkungan hidup, kelaparan, mewabahnya penyakit maut tertentu seperti aids, memudarnya semangat keagamaan, hedonisme, dan sebagainya hanyalah sederetan kecil tragedi kemanusiaan semenyak kejayaan positivisme.

Tanpa meremehkan sumbangan positif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kemanusiaan, Pater Sean Kealy menulis: “Akhir-akhir ini ilmu pengetahuan yangselama tiga ratus tahun mempunyai reputasi yang tinggi dan tak bercacat, sebagai obat mujarab bagi semua penyakit manusia, mengalami kemunduran dalberbagai medan perjuangan” (hlm. 81). Hal senada dikatakan juga oleh Herbert Mercuse, salah seorang pendiri teori kritis di Jerman bersama Adorno dan Horkheimer, “Ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menjelma di dalam industi telah memproduksi barang konsumsi secara berlimpah-limpah sehinggsebenarnya idaman-idaman manusia untuk menciptakan welfare state telah terwujud dan dengan jalan itu manusia dapat merealisasikan kebahagiaan dan kebebasannya. Akan tetapi kebahagiaan dan kebebasan itu tidak berwujud karena ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi itu bukannya mengabdi manusia, melainkan justu manusia yang dikendalikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (dikutip dalam F. Budi Hardiman, hlm. 66).

Uraian di atas membawa kita kepada satu kesimpulan penting yang menjadi misi dari wacana ini: kemampuan akal budi yang terejawantah dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa memahami realitas, imanen maupun transenden, secara tuntas-menyeluruh. Dengan kata lain, masih tersisa realitas yang belum terpahami sepenuhnya, yang kemudian kita sebut sebagai misteri.

Satu contoh menarik bisa kita ambil dari buku karangan Pater Kealy tentang pemahaman realitas berdasarkan teori atom. Sejak zaman Demokritos (filsuf Yunani yang mengemukakan teori atom kuno) pada abad ke-4 masehi sampai John Dalton (seorang guru di Manchester/Inggris yang mengemukakan teori atom modern) di abad ke-19, manusia percaya bahwa asal usul semua materi adalah atom. Kesimpulan ini bisa dilihat dari definisi atom sebagai “bagian terkecil dari suatu unsur yang masih memiliki sifat unsur tersebut.” Selain itu, prinsip-prinsip teori atom sebagaimana dikemukakan John Dalton dalam bukunya New System of Chemical Philosophy mendukung hal ini (lihat misalnya buku Pelajaran Kimia SMA Jilid I, Ganeca Exact Bandung, 1986, 36).

Akan tetapi teori atom bukanlah penjelasan yang final tentang asal usul alam semesta. Dari Pater Kealy kita membaca, “Dulu umumnya dipahami bahwa atom merupakan partikel material paling kecil. Pada awal abad 20 penemuan dan eksplorasi radiasi telah menggugurkan teori tersebut. Sejak itu telah diketahui bahwa atom-atom terdiri dari partikel-partikel yang lebih kecil yang membentuk suatu inti (nukleus) yang dikelilingi oleh partikel-partikel yang lebih ringan yang disebut elektron. Partikel-partikel ini pada dasarnya ada dua, yakni proton dan neutron, yang digabungkan secara erat oleh enersi. Enersi ini dapat dilepaskan dalam dua cara, yakni melalui pemecahan atom menjadi bagian-bagian (fission) dan penggabungan inti-inti atom yang lebih kecil menjadi inti yang lebih besar (fussion)” (hlm. 45-46).

Bahkan dewasa ini, menurut Pater Kealy, minat ilmuwan bergeser kepada analisi tentang quark. Quark merupakan salah satu jenis partikel dari materi yang dinggap sebgai bongkah-bongkah yang membentuk proton, neutron, dan komponen-komponen berat lainnya, sedangkan jenis partikel dari materi lainnya dalah lepton: partikel-partikel ringan seperti elektron. Ilmuwan berharap bahwa dengan analisa terhadap quark itu akan diperoleh jawaban terakhir terhadap rahasia terakhir dari materi. Akan tetapi, menurut Pater Kealy, pertanyaan-pertanyaan seperti kapan quark itu muncul, belum bisa dijawab para ilmuwan (hlm. 46).

Contoh di atas diangkat untuk mendukung tesis kami sebagaimana dirumuskan sebelumnya. Kalau dikatakan bahwa kemampuan akal budi yang terejawantah dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa memahmi realitas, imanen maupun transenden, secara tuntas-menyeluruh, maka masih ada satu persoalan penting yang harus dijawab, bagaimana menyikapi keterbatasan akal budi itu?

Ada tiga sikap yang dapat dikemukakan secara tentatif. Pertama, sikap takjub dan kagum bahwa pemahman yang “njlimet” tentang alam semesta membawa kita kepada sebuah ruang misteri yang belum bisa kita pahami. Sikap ini juga ternyata mulai dipihaki oleh para ilmuwan saat ini, karena mereka sadar bahwa realitas merupakan sesuatu yang lebih kompleks daripada serangkaian masalah untuk dipecahkan secara ilmiah.

Bagi orang beriman, hal ini sudah cukup untuk mengembangkn rasa religiositas sebagaimana diungkapkan Pater Teilhard de Chardin, SJ dalam bukunya The Divine Milieu: “Dalam kehidupan yang mekar dalam diriku dan dalam materi yang mendukungku, aku menemukan lebih banyak lagi dari sekadar anugerah-anugerahMu. Engkau, Engkaulah sendiri yang aku temukan ymembuatku ambil bagidalam Ada-Mu, Engkaulah yang membentukku” (dikutip dari Sean P. Kealy, hlm. 47). Sementara bagi mereka yang tidak beriman bisa berpendirian bahwa ruang “misteri”nitu suatu ketika akan bisa dipahami akal budi. Tetapi kepada mereka kita tawarkan tesis G.K. Chesterton ini: “Dunia tak akan kekurangan kekaguman, tetapi hanya ada kekurangan keinginan untuk mengagumi.”

Kedua, kekaguman akan misteri yang membangkitkan perasaan religiositas bagi orang beriman itu sekaligus mengundang mereka untuk berpartisipi terhdapnya tanpa kehilangan identitas individual. Mengapa tanpa kehilangan identitas individual? Oleh karena Ia yang mengundang adalah Pribadi-Penuh-Kasih, yang membiarkan kasihNya dialami secara gratis, di mana pengalaman kasih itu semakin membut orang menemukan dan menghayati identitas pribadinya. Teilhard de Chardin dalam bukunya Hym of the Universe menyerukan, “Sesungguhnya mustahil untuk selalu memusatkan perhatian kita kepada cakrawala begitu luas yang dibuka oleh ilmu pengetahuan tanpa merasakan getaran-getaran dari suatu keinginan yang masih samar untuk melihat manusia semakin ditarik untuk mendekat bersatu bersama berkat pengetahuan dan simpati yang semakin bertambah sampai akhirnya dalam ketaatan terhadap suatu daya tarik ilahi, maka yang tinggal hanyalah satu hati dan satu jiwa di atas muka bumi ini” (dikutip dari Sean P. Kealy, hlm. 27).

Ketiga, karena keterbatasan daya akal budi dalam memahami realitas maka sebaiknya kita sedapat mungkin menghindari “kesombongan intelektualisme”. Istilah ini dimaksudkan untuk menggambarkan tendensi manusia dalam memahami realitas dengan mengandalkan kemampuan akal budi semata-mata. Dan memang “kesombongan intelektualisme” ini sudah tidak dipihaki lagi oleh para ilmuwan abad ini.

Satu pelajaran yang arif kita dapatkan dari kebudayaan Yunani. Sejak munculnya Pythagoras di abad ke-6 masehi, orang Yunani memakai kata “phylosophos” untuk menyebut mereka yang mencintai dan mencari kebijaksanaan, dan bukan mereka yang telah memiliki kebijaksanaan. Alasannya jelas terungkap dalam dialog Plato ybernama Phaidros, “Nama orang bijak terlalu luhur untuk memanggil seorang manusia dan lebih cocok untuk seorang allah. Nama ini lebih berpautan dengan makhluk insani” (Dikutip dari Dr. K. Bertens, 1994: 13).

Demikianlah kia bukanlah orang-orang bijaksan yang memiliki pengetahuan definitif tentang realitas. Kita adalah orang yang tak jemu-jemunya mencintai dan mencari kebijaksanaan. Dan bahwa dalam pencarian itu selalu saja ada ruang ytidak bisa terpahami akal budi. Akhir kata, marilah kita merenungkan kata-kata bijak dari Elizabeth Barret Browning ini: “Bumi penuh dengan hal-hal surgawi, dan setip semak bernyalakan Tuhan; Dan hanya Ia yang melihat, membuka sepatunya. Sedangkan semua yang lain duduk-duduk di sekitarnya dan memetik buah beri” (dikutip dari Sean P. Kealy, hlm. 44).[]

Satu pemikiran pada “DI HADAP KETERBATASAN AKAL BUDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s